Memberi Contoh adalah Komunikasi Terbaik untuk Anak.
Anak Burung Belajar Terbang dari Induk      Â
      Mengajari terbang merupakan proses panjang bagi induk burung. Butuh kesabaran ekstra si induk melatih anak agar bisa terbang dan mencari makan sendiri. Mulai dari, membuat sarang burung sampai mengerami telurnya. Dibutuhkan sekitar 3 minggu untuk telur menetas. Namun, perjuangan induk burung tidak berhenti di fase telur menetas, ke depannya masih ada fase perjalanan yang lebih menantang. Anak burung yang baru menetas tidak memiliki bulu tebal pada tubuhnya. Warna kulit mereka cenderung merah atau hitam tergantung dengan jenis burung. Selama bulu belum tumbuh sempurna, induk harus memberi kehangatan bagi anak-anaknya agar dapat bertahan hidup.
      Peran induk pada fase memberi kehangatan sangatlah pentingnya, karena induk akan mengerahkan segala tenaganya untuk memberi kehangatan dan juga mencari makan untuk keberlangsungan dirinya dan anak-anak. Di waktu pagi induk mencari makan dan memberikan hasil tangkapannya kepada anak-anak yang berada di sarang. Anak burung hanya bisa menerima makanan yang diberikan oleh induk. Jika, induk mereka lalai untuk memberi makan, anak burung  akan kelapran, lalu mati.
      Selanjutnya adalah fase bertumbuhnya bulu pada tubuh dan sayap anak burung. Induk burung memberikan kehangatan pada anak dengan cara mengeraminya, dari kehangatan yang diberikan, bulu anak burung mulai tumbuh sebagian di badan dan sayap. Semakin hari bulu tumbuh memenuhi tubuh serta bulu sayap mulai tumbuh sempurna. Namun, fase ini tidak membuat induk burung meninggalkan mereka untuk mencari makan sendiri, anak burung belum bisa mencari makan dan keluar dari sarangnya. Mereka masih butuh disuapi oleh induk. Proses tersebut berlangsung sekitar sepuluh sampai sebelas hari lamanya.
      Pada fase bulu anak burung tumbuh sempurna, mereka tidak serta merta langsung bisa terbang. Setiap hari mereka belajar mengepakkan sayapnya agar ototnya kuat. Mereka mengepakkan sayap dengan cara melihat induknya, bagaimana cara mengepakkan sayap yang benar? Tubuh anak burung perlahan mulai bisa berjalan dan melompat kecil di sekitar sarang. Mereka masih belum bisa melompat terlalu jauh, hanya dari ranting dekat sarang.
      Fase induk burung mengajari anaknya terbang. Dari mana anak burung belajar mencengkram dengan kuat dan belajar terbang? Tentunya dari induk mereka sendiri. Induk yang memberikan peran penting terhadap anak burung. Anak burung mencontoh apa yang diajarkan oleh induknya. Induk mereka mengajarkan untuk setiap waktu mengepak-ngepakkan sayap agar terbentuk otot sayap yang kuat. Dirasa sayap anak burung kuat, induk mereka mengajarkan untuk lompat dan terbang dari ranting satu ke yang lainnya yang lebih jauh dari sarang. Proses anak burung belajar terbang mencontoh perilaku dan tingkah laku induknya.
      Induk burung merasa anak mereka sudah dapat bertahan hidup di alam liar. Setiap burung juga memiliki naluri alamiah, yaitu terbang bebas mencari makan. Dari naluri ini, induk burung mengajarkan kepada anak burung untuk terbang agar nantinya dapat mencari makan sendiri. Fase belajar terbang bagi anak burung adalah fase sulit yang pertama. Mereka harus belajar perlahan, tidak mudah untuk menyeimbangkan tubuh dan arah angin. Induk burung akan terus memantau dan tetap memberi makanan anak-anaknya. Yang tidak kalah penting adalah cara belajar terbang dengan jarak yang jauh serta berburu makanan. Proses yang membutuhkan insting yang kuat serta tenaga dan otot kaki. Berburu lebih sulit dilakukan, karena mereka harus menggunakan instingnya serta cengkraman yang kuat agar buruan atau makanan mereka tidak terlepas. Setelah dirasa anak burung kuat dan lancar terbang dari satu dahan ke dahan lainnya tanpa terjatuh, selanjutnya induk burung mulai akan meninggalkan anak-anak mereka.
      Fase induk meninggalkan anaknya. Induk burung harus tega meninggalkan anak burung agar mereka belajar untuk bertahan hidup, nantinya anak burung akan terbang bebas bersama kawanan burung lainnya. Anak burung dapat terbang bebas di alam liar dan bertahan hidup tanpa induk.
Orang Tua adalah Contoh Terbaik Bagi Anaknya
      Dari kisah burung di atas, kita dapat menganalogikan dengan parenting yang cocok untuk buah hati kita, generasi alpha. Saya teringat dengan materi seminar parenting dari Psikolog Wina Risman. Hari itu saya mengikuti kelas zoom yang diadakan oleh salah satu grup kajian. Dalam kajian parenting ini, ia mengusung tema Mendidik Anak Generasi Alpha, Are U Ready Moms? Tema yang dibutuhkan untuk mendidik buah hati yang kebetulan mereka adalah generasi alpha. Menurut Wina Risma Generasi Alpha adalah grup pertama yang “terbenam” dalam teknologi seumur hidupnya. Mereka juga dikenal dengan “The Glass Generationa” karena layar kaca akan menjadi medium utama cara berkomunikasi mereka. Untuk mendidik dan menjadi orang tua di generasi ini ternyata gampang-gampang sulit. Generasi yang menyukai serba instan dan membuat mereka menjadi anak multitasking. Kita sebagai orang tua generasi alpha, rata-rata lahir di Generasi Y dan Z, di mana teknologi mulai berkembang dan bukan menjadi barang langka.
      Beda dengan generasi Y dan Z, generasi alpha cenderung menyukai pengakuan dan hal yang menarik. Mereka senang dengan sistem pembelajaran yang banyak berinteraksi, menyukai pembelajaran lewat visual, dan suka bercerita. Untuk itu kita sebagai orang tua generasi alpha seharusnya menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Banyak contoh yang sering kita temui di lingkungan sekitar, orang tua asyik dengan smartphone-nya dan anaknya juga asyik dengan smartphone-nya. Terkadang suatu suasana, ayah, ibu, dan anak-anak asyik sendiri dengan smartphone. Teknologi yang membuat kita terbuai melupakan peran orang tua adalah contoh untuk anak-anaknya. Sering kita mendengar bahwa orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Namun, perilaku orang tua yang baik maupun yang buruk, pasti akan ditiru oleh buah hatinya.
      Orang tua yang memiliki kebiasaan buruk, jangan mengharap anak yang kita didik akan menjadi baik. Anak kita adalah peniru ulung setiap tingkah laku maupun sikap kita. Contohnya saja, jika kita menemui orang tua yang suka berteriak-teriak dan berkata kasar, maka tidaklah heran buah hati mereka akan sedikit banyak meniru sikap dan sifat orang tuanya. Jangan mengharap anak kita bisa berkata lemah lembut, jika si orang tua sendiri tidak bisa berkata lembut.  Demikian pula, dengan mengharap anak untuk candu membaca, mengaji atau belajar, coba cek dan renungi, apakah kita sebagai orang tua sudah memberi contoh kepada anak-anak kita? Apakah kita sudah membaca buku di depan mereka? Apakah kita sudah mengaji di depan mereka? Atau apakah kita bisa mengontrol untuk tidak memegang smartphone saat bersama mereka? Kalau jawabannya belum, mari kita sama-sama untuk instropeksi diri terlebih dahulu sebelum menginginkan anak kita baik.
      Apalagi di era teknologi canggih seperti sekarang, kita sebagai orang tua tidak sadar dengan kebiasaan buruk memegang smartphone berjam-jam di depan anak. Dampak buruknya, mereka akan menggap hal yang lumrah ketika kita melihat berjam-jam di layar kaca smartphone. Kita tidak bisa serta-merta melarang mereka memegang dan melihat smartphone. Mereka akan memberontak dan protes. Sebgai orang tua yang bijak, kita harus dapat memberikan contoh kepada mereka terlebih dahulu, agar anak kita dapat mengerti bagaimana seharusnya menggunakan smartphone sesuai kebutuhannya.
      Untuk menjadikan anak-anak sesuai dengan yang kita inginkan, ada beberapa hal kekeeliruan dalam komunikasi yang dilakukan orang tua kepada anak-anak menurut Psikolog Elly Risman, di antaranya:
1.    Memerintah
Tujuan orang tua adalah untuk mengendalikan situasi dan menyelesaikan maslah dengan cepat, sedangkan pesan yang ditangkap anak adalah mereka harus patuh dan tidak punya pilihan.
2.    Menyalahkan
Prang tua ingin menunjukkan kesalahan si anak, sedangkan tanggapan si anak adalah mereka tidak pernah benar atau baik.
3.    Meremehkan
Tujuan orang tua menunjukkan ketidakmampuan anak dan orang tua lebih tahu, anak menangkap bahwa dirinya tidak berharga atau merasa tidak mampu.
4.    Membandingkan
Orang tua ingin memberi motivasi dengan memberi contoh tentang orang lain, tetapi anak menanggapi bahwa dia tidak sayang, pilih kasih, dan merasa dirinya memang selalu jelek.
5.    Mencap
Maksud orang ingin memberitahu kekurangan agar anak berubah, anak menanggapi dengan merasa itulah saya.
6.    Mengancam
Orang tua melakukan agar anak menurut atau patuh dengan cepat, tetapi anak akan merasa cemas dan takut.
7.    Menasehati
Maksdunya agar anak tahu, mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi anak menganggap bahwa orang tuanga sok tahu, bawel, dan membosankan.
8.    Membohongi
Maksudnya agar urusan menjadi gampang, tetapi anak akan menilai bahwa orang dewasa tidak dapat dipercaya.
9.    Menghibur.
Tujuan orang tua adalah agar anak tidak sedih atau kecewa, sehingga anak jadi senang dan tidak larut dalam kesedihan. Namun, anak akhirnya akan lupa dan melarikan diri dari masalah.
10. Mengkritik
Orang tua menginginkan agar anak memperbaiki kesalahan dan meningkatkan kemampuan diri, tetapi anak akan merasa bahwa dirinya selalu kurang dan salah.
11. Menyindir
Memotivasi, mengingatkan agar tidak selalu melakukan seperti itu dengan cara menyatakan yang sebaliknya, anak akan menganggap hal nini menyakiti hati.
12. Menganalisa
Orang tua ingin mencari penyebab positif atau negative anak atau kesalahannya dan berupaya mencegah agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi, tetapi anak akan menganggap orang tua sok pintar.
       Dari kesalahan di atas, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan orang tua terhadap anak, meliputi:
-Â Â Â Â Â Â Tidak tergesa-gesa ketika bicara, atur kalimat, jangan emosi sehingga anak sebagai lawan bicara mengerti apa yang kita komunikasikan.
-Â Â Â Â Â Â Kenali lawan bicara kita, setiap individu berbeda, perlakukan anak sebagai pribadi yang unik. Sadari dan pahami bahwa keinginan dan kebutuhan tiap individu itu BERBEDA!
-Â Â Â Â Â Â Baca bahasa tubuhnya, tandai pesan dari gelagat dang jangkau perasaan lawan bicara.
-Â Â Â Â Â Â Buka komunikasi dengan menjaga perasaan lawan bicara, pikirkan bahwa anak perlu berfikir, memilih, dan mengambil keputusan.
-Â Â Â Â Â Â Menjadi pendengar aktif akan membuka komunikasi dan hubungan yang harmonis dengan anak.
      Dari solusi tersebut, kita sebagai orang tua dituntut memberi contoh terlebih dahulu kepada anak-anak. Marilah kita terus menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Dengan gemarnya orang tua menuntut ilmu, menjadikan kita untuk menjadi orang tua yang lebih baik.
 Daftar Pustaka
Risman, Elly. 2016. “12 Gaya Populer Kekeliruan dalam Komunikasi”. Youtube. 29 Februari 2016, dilihat pada 9 November 2011. < https://www.youtube.com/watch?v=z6a1kImCVtM>.
Wening, Tyas. 2019. “Tidak Bisa Langsung Terbang, Bagaimana Cara Anak Burung Belajar Terbang?”. Bobo.id, 8 Agustus 2019, dilihat pada 7 November 2021. <https://bobo.grid.id/read/081811991/tidak-bisa-langsung-terbang-bagaimana-cara-anak-burung-belajar-terbang?page=all>.
Sumber gambar: canva










