noise dept.
DEAR READER
Mike Driver

oozey mess
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
NASA

blake kathryn
styofa doing anything
Claire Keane

@theartofmadeline
RMH
Xuebing Du
Jules of Nature
Today's Document
Monterey Bay Aquarium

Janaina Medeiros
hello vonnie
ojovivo
seen from Germany

seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from Italy

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Canada

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Poland

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Mexico

seen from Australia
@daminatilada

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Perang Uhud
Kisah Kemenangan yang Berubah Menjadi Luka
Di kaki Gunung Uhud, angin pagi saat itu terasa seperti kabar gembira.
Pasukan muslim berbaris rapi, penuh keyakinan.
Mereka baru saja memenangkan Perang Badar setahun sebelumnya—
kemenangan besar yang mengguncangkan jazirah Arab.
Nama Islam mulai menggema.
Harapan tumbuh.
Semangat membuncah.
Namun…
di balik dada-dada itu, ada sesuatu yang halus, kecil, dan nyaris tak terlihat: rasa cukup.
Rasa telah berhasil.
Rasa: “Allah pasti beri kita kemenangan lagi.”
Lalu peperangan dimulai.
Dan seperti yang diperkirakan, kemenangan tampak begitu dekat.
Quraisy terpukul mundur.
Pasukan musyrik berlarian meninggalkan medan.
Kemenangan seolah turun dari langit—tanpa syarat, tanpa ujian.
Di sebuah bukit kecil—Jabal Rumat—Rasulullah ﷺ mengamanahkan lima puluh pemanah.
Perintahnya jelas, sangat jelas, tanpa tafsir:
“Jangan tinggalkan tempat ini.
Apapun yang terjadi.
Menang atau kalah.
Tetaplah di sini.”
Namun hati manusia…
ah, hati manusia sering tidak sanggup menjaga pesan yang suci.
Ketika melihat musuh mundur,
ketika melihat harta rampasan terpampang,
ketika kemenangan tampak sudah dalam genggaman,
sebagian pemanah berkata:
"Ini sudah usai. Kita turun. Kita juga berhak atas kemenangan."
Mereka mengira kemenangan itu hasil usaha mereka.
Bukan karunia Allah.
Dan saat tempat itu kosong,
musuh melihat celah.
Khalid bin Walid—yang saat itu masih musyrik—memutari bukit dan menyerang dari belakang.
Kemenangan berubah menjadi kekacauan.
Sorak berubah menjadi jeritan.
Bahu-bahu mulai roboh.
Darah mengalir.
Tubuh sahabat mulia berguguran.
Rasulullah ﷺ terluka.
Gigi beliau pecah.
Wajah beliau berdarah.
Beliau hampir terbunuh.
Dan umat Islam menangis—
bukan hanya karena kalah,
tetapi karena mereka menyadari sebab kekalahan itu berasal dari hati mereka sendiri.
Mereka jatuh bukan karena musuh lebih kuat,
tetapi karena mereka lalai dari Allah.
Kadang hidup kita pun seperti Uhud.
Kita pernah menang.
Kita pernah kuat.
Kita pernah merasa langkah kita diberkahi.
Tapi kemudian… kita mulai sedikit bangga.
Sedikit merasa aman.
Sedikit merasa “Aku sudah baik.”
Sedikit menjauh dari Allah—pelan, tapi pasti.
Hingga suatu hari kita jatuh.
Begitu keras, begitu sakit, begitu memalukan.
Dan kita pun bertanya:
"Kenapa aku kalah padahal dulu aku kuat?"
Jawabannya sama seperti di Uhud:
Sebab kemenangan bukan hilang.
Tapi Allah menariknya sementara,
agar kita kembali merunduk.
Uhud bukan tentang kekalahan.
Uhud adalah pelajaran cinta dari Allah:
Bahwa jalan menuju kemenangan
selalu dimulai dari tunduk,
bukan dari merasa mampu.
Dan setiap kali hidupmu runtuh,
ingatlah:
Kau pernah diangkat.
Dan kau bisa diangkat lagi.
Jika kau kembali bersandar hanya kepada Allah.
Tren TikTok
Akhir-akhir ini sering lewat fyp TikTok tentang “POV: dia akad pagi ini.” Banyak banget komen senada, tentang mereka yang juga pernah ditinggalkan, dan itu pedih banget. Hal itu secara ga sadar membawa aku ke kejadian beberapa tahun lalu, terus aku mikir,
‘hmm ternyata waktu itu aku gak sendiri ya…’
Beberapa tahun lalu itu juga menjadi hal yang paling menyakitkan bagi aku, perih banget. Perasaan campur aduk antara sedih, marah dan rasanya pengin menghilang aja dari dunia ini. Pada waktu itu aku liat fotonya dengan posisi aku lagi rebahan seolah males banget melanjutkan hidup, kalo dipikir lagi sekarang lucu juga, tapi perasaan saat itu tetap valid, kok, aku mengakuinya.
Setelah beberapa waktu berlalu dan aku pun perlahan melangkah ke depan. Inget banget, waktu itu lagi masa skripsi, lagi males-malesnya buat ngerjain revisian dan ngelanjutin bab empat. Alasannya sih, patah hati. Tetapi, itu cuma alasan kecil. Setelahnya aku mencoba bangkit, ngebut banget. Kerja dari 07.30-16.30, sampe rumah jam lima sore abis itu bersih-bersih sekalian makan malem. Lanjut ngerjain skripsi ba’da isya sampe jam sembilan malem, lalu tidur. Bangun jam jam tiga subuh lanjut nulis skripsi. Semester itu juga sibuk-sibuknya soalnya sambil ngerjain laporan KP.
Akhirnya berhasil yudisium di bulan Agustus dan wisuda di bulan November di tahun yang sama. Kalo dipikir-pikir kok bisa ya. Ternyata ilmu kepepet tuh emang ada.
Setelah dijalani, aku paham kenapa pada saat itu Allah SWT ga ngejawab doaku sesuai dengan harapanku, karena Allah SWT tahu aku masih punya banyak mimpi yang bisa jadi bakal menggoyahkan kehidupan rumah tanggaku sebab egoku.
Kalo aku nikah pada saat itu, aku ga akan pergi ke Bali sama besti kandungku.
Kalo aku nikah pada saat itu, bisa jadi aku ga ke Malaysia.
Kalo aku nikah pada saat itu, mungkin aku ga bakal nekat pergi sendiri ke Thailand karena ga tega ninggalin suami dan anakku.
Dan kalo aku nikah pada saat itu, aku ga akan dipertemukan dengan dia. Orang yang akan jadi suamiku beberapa minggu lagi…
Ceritanya sudah usai dari beberapa tahun yang lalu. Tapi rasanya masih tertinggal menjadi cerita yang seolah tak pernah usai.
Kenangan yang selalu terngiang di kepala. Kadang dia menghilang, tetapi saat yang tidak terduga ingatan itu datang.
Tanggal-tanggal yang seharusnya kulupakan seolah menjadi mantra yang tak bisa dilupakan
08 April
03 Agustus
29 Oktober
15 Mei
Setiap tahun tak pernah terlewat dalam ingatan seperti kembali pada masa-masa yang seharusnya terhapus dalam ingatan.
Ya Allah kalau boleh menawar, boleh kah aku berjodoh dengannya?
30 Mei besok akhirnya dia melepas masa lajangnya, tetapi bukan denganku.
Jujur, perih. Pada doa yang kebanyakan meminta perihal dunia, dia selalu ada di dalamnya. Tapi ga juga sih, aku selalu meminta diberi yang terbaik dulu baru nawar boleh sama dia atau engga.
Dan jawaban Allah itu engga, dia lebih baik sama orang lain dan aku sama orang lain yang belum tau siapa. Ternyata perihal jodoh itu sederhana, kalo jodoh ya nikah kalo ga jodoh ya ditinggal nikah.
Yaa gimana, emang dari awal udah beda prinsip, dia yang pengen nikah muda, tapi aku yang rada keberatan buat nikah di usia muda, meskipun pernikahan itu tidak selalu tentang usia, tapi menurutku menikah di usia 23 itu terlalu muda. Cuma kadang kalo udah dibutakan oleh cinta, kita ga melihat red-flag yang sudah nampak dari awal, aku yang akhirnya mengalah buat menikah muda, meskipun akhirnya berpisah karena beberapa alasan.
Dan akhirnya, dia menikah dengan yang lain, yang siap menjadi ibu
——
Update 2025!
Waktu cepet banget berlalunya, ya. Iseng buka draft, eh nemu tulisan empat tahun yang lalu. Kalo dibaca lagi malu dikit, eh banyak deng wkwk.
Dan insya Allah aku akan menikah dengan laki-laki yang baik. Sejujurnya, ceklis kriteria aku ke dia itu hampir penuh. Hal-hal yang wajib ada dalam sosok suami dan calon ayah dari anak-anaku insya Allah sudah terpenuhi. Dan aku berusaha selogis dan serasional mungkin dalam menjalani setiap proses menuju pernikahan ini.
Semoga pernikahan kami dilancarkan serta dimudahkan dan kami bisa sehidup sesurga. Aamiin🌻🤲🏻
Semoga kita cukup sembuh untuk mengenali cinta saat dia datang, dan cukup utuh untuk bisa memberi balik.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dari banyaknya hal dalam hidup yang sedang dikhawatirkan, barangkali perasaan khawatir itulah yang patutnya kita khawatirkan.
Tidak ada penawar kekhawatiran selain sebuah keyakinan, dan keyakinanlah yang kelak mengantarkan kita pada perasaan yang kita sedang cari, yaitu rasa tenang.
Coba ingat, kenapa kita tidak khawatir ketika masuk ke rumah makan tanpa melihat daftar harga?
Kenapa kita tidak khawatir memasukkan ragam barang saat sedang berbelanja?
Kenapa kita tidak begitu khawatir masuk taksi tanpa menanyakan berapa argonya?
Itu semua karena kita yakin. Kita yakin memiliki dana yang cukup, sehingga kita mampu untuk nanti membayarnya.
Lantas, mengapa pada urusan kehidupan, kita tidak punya keyakinan yang sama?
Apa mungkin karena kita tidak cukup yakin, kalau diri kita tidak mampu menghadapi hal-hal yang kita khawatirkan?
Apa mungkin karena kita tidak cukup yakin, bahwa bekal yang kita siapkan tidak akan bisa melawan yang sedang kita khawatirkan?
Atau lebih buruknya, apa mungkin kita tidak cukup yakin, bahwa Allah—Yang Maha Mengetahui—tidak mampu untuk mengatur, menolong, menjaga kehidupan kita?
Itulah mengapa, kadang-kadang yang perlu dikhawatirkan itu adalah perasaan khawatir itu sendiri.
Kekhawatiran yang ternyata menegasikan Allah yang berkuasa akan kehidupan kita.
Kekhawatiran yang ternyata membuat kita lupa bahwa tak pernah ada daya upaya selain karenaNya.
Kekhawatiran yang ternyata... selalu menjadi sebab tidak turunnya ketenangan pada hati kita, karena rasa khawatir kita begitu penuh hingga menjelma menjadi bentuk ketidak-yakinan kita padaNya.
Maka, semoga Allah selamatkan kita dari kekhawatiran yang jauh lebih besar daripada mengimani kuasaNya atas segala sesuatu dalam hidup kita.
Biar nanti keyakinan—keimanan itu menjadi jalan. Menjadi sebab turunnya ketenangan dari Allah yang dituangkan ke dalam hati kita. Tidak peduli bagaimanapun kondisi dunia yang sedang kita menghadapi, karena kita tau ada Allah yang selalu membersamai.
@creativemuslim
Dari dulu aku selalu pengen punya kisah di mana bisa jatuh cinta bukan sama orang yang aku kenal, tapi sama orang yang aku kenal secara alami, ga dikenalin atau ga diajak kenalan.
Gak dari dulu deng, tapi beberapa tahun ke belakang lah.
Agak sanksi sama cerita cinta pada pandangan pertama, mungkin memang ada cuma aku ga merasakannya, wkwk. Bisa jadi juga karena semakin dewasa, semakin mikir ribuan kali buat jatuh cinta.
Entah sejak kapan, aku mikir cinta itu adalah akumulasi dari sikap baik melalui ucapan dan perbuatan.
‘Aku gamau jatuh cinta sebelum menikah, aku bakal mencintai orang yang jadi suamiku, siapapun itu’
Menurutku, jatuh cinta dengan kepala akan membuatku lebih berpikir jernih untuk berpikir berbagai pertimbangan yang lebih baik untuk kedepannya. Karena aku pernah jatuh cinta memakai hati, dan akhirnya aku patah hati, patah yang benar-benar entah.
Ada Dimana Letak Kenikmatan Itu?
Saya pernah membaca sebuah nasihat yang sederhana, tapi maknanya jika ditelisik mendalam, akan menimbulkan decak kagum betapa Allah itu Maha Sempurna atas segala kehendak-Nya. Bunyinya seperti ini:
"Nikmat itu letaknya pada batas, bukan pada kelimpahan."
Sederhana bukan? Tapi bagi mereka yang mampu memahaminya, akan memahami makna filosfis di dalamnya. Misalnya seperti ini, adanya nikmat beristirahat adalah tatkala kita lelah setelah berusaha. Adanya nikmat makan, setelah kita berhasil menahan rasa lapar selepas berpuasa, dsb.
Bayangkan betapa Maha Bijaksana-Nya Allah memberikan ke tiap-tiap hamba-Nya pada jumlah yang sesuai porsinya. Bayangkan jika kita tidak pernah ditimpa kesedihan, apakah kita akan tahu bahwa ternyata hikmah di balik kesedihan seringkali jauh lebih dalam daripada hikmah di balik kebahagiaan?
Kesedihan membuka ruang perenungan, mendidik hati untuk lebih lembut, dan memaksa jiwa untuk lebih dekat dengan Sang Pemilik Kehidupan. Atau juga pada keterhimpitan yang seringkali lebih mendekatkan kita pada Sang Maha Memiliki Segalanya.
Maka, jangan buru-buru mengeluh saat merasa kekurangan. Bisa jadi, di sanalah letak kenikmatan yang Allah titipkan. Bukan dalam tumpukan harta, bukan dalam kenyamanan yang terus-menerus, melainkan dalam keterbatasan yang membuat kita belajar, berjuang, dan akhirnya bersyukur.
Sebab nikmat sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa dalam kita mampu merasakan makna dari setiap yang Allah beri meski tampak sedikit, bahkan ketika terasa menyakitkan.
“Kesempurnaan tidak terletak pada tanpa celanya kehidupan, tetapi pada kebijaksanaan dalam kita menerima, mencoba memahami akan keterbatasan itu sebagai bagian dari nikmat.”
Cerpen : Jatuh Cinta di Umur Matang
Lebih rasional.
Langsung menganalisa, apa tujuan dari jatuh cinta ini. Kalau hanya sekedar bermain rasa, lebih baik bekerja aja mencari uang buat membeli kesenangan. Karena jika jatuh cinta hanya untuk menerka-nerka mau ke mana ujungnya, lebih baik beli tiket kereta dan pergi berkelana sendirian, lebih minim risiko daripada jatuh cinta. Langsung mengkonfirmasi, apa aja yang kamu miliki dan aku miliki serta apa yang tidak. Untuk hal-hal yang tidak kamu miliki, bagaimana kamu mengupayakannya? Apakah kamu termasuk orang yang tidak peduli dengan harta halal dan haram selama bisa mendapatkannya atau orang yang hati-hati? Sebab aku sangat hati-hati. Untuk hal yang sudah kamu miliki, apakah kamu bersedia untuk berbagi? Langsung menyaksikan, bagaimana tabiatmu yang terbentuk selama puluhan tahun. Karena aku tidak bersedia jika aku menjadi alasanmu untuk berubah menjadi lebih baik, apalagi jika kamu berharap aku bisa menjadikanmu lebih baik. Bagiku sejak awal sangat realistis, aku ingin jatuh cinta pada orang yang baik. Karena tidak ada jaminan aku bisa mengubahmu yang telah hidup dengan caramu selama puluhan tahun dalam sehari semalam apalagi beberapa hari saja. Aku memang tidak cukup sabar untuk menemanimu berubah, silakan berubah dulu menjadi baik kalau kamu memang berniat. Langsung pada intinya, tidak perlu terlalu banyak seremoni yang uangnya bisa kita pakai untuk pergi umroh atau membeli rumah. Daripada harus lelah menyiapkan banyak ritual, bagaimana kalau kita beramal saja, misal berbagi kebahagiaan dengan mengundang keluarga dan juga berbagi ke orang-orang fakir dan miskin. Biar doa-doanya buat kita, tidak ada penghalang untuk sampai kepadaNya.
Tidak perlu banyak basa basi, kalau kamu memang berniat untuk jatuh cinta. Jelaskanlah tujuanmu hingga sejauh mana, kalau kamu tidak ada tujuan, lebih baik hilang.
Karena aku tidak punya banyak waktu untuk mengulang-ulang kesedihan yang serupa. Karena aku pun sekarang lebih rasional, bukan lagi rupa menawan yang membuatku terpesona dan berkata "iya". (c)kurniawangunadi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Tuhan, jika aku bertemu jodoh yang baik, maka jatuhkanlah aku sejatuh-jatuhnya. Jika tidak, jauhkanlah aku sejauh-jauhnya.”
— @cindyjoviand (via kunamaibintangitunamamu)
Jika sudah pada waktunya. Kumohon kabulkan, Tuhan:)
Mari membangun cinta
“Aku mencintaimu sebanyak tetes hujan,” terlalu naif jika aku mencintaimu sebanyak itu. Karena nyatanya aku tidak bisa. Biarlah aku mencintaimu seujung kuku, walaupun ia dipotong tapi ia akan tetap tumbuh.
Halah halah
“Atas kerinduan untuk yang selalu dirindukan”
—
Kala rindu ini menderu, apa yang bisa aku lakukan selain hanya melihatmu, tanpa berani menyapa.
Ah, angin, bisakah kau sampaikan rinduku padanya, barang sedikit saja. Aku tak berani melihat matanya.
Ini buag siapa si?
“I still want to do a lot things with you”
—
Pagi ini yang keliatannya cerah kalo dari kamar aku jadi hoream nyeuseuh karena banyak orang yang berlalu lalang di depan kamar, bukan risih sih cuma gamau aja gitu ketemu orang dulu. Jadi mungkin nyucinya itu kudu ditunda sampai waktu yg tidak dapat ditentukan.
Lazimnya nyeuseuh itu dilakukan di hari jum'at atau sabtu agar hari libur terasa libur. Idealnya sih setiap pulang itu nyuci tapi hari kemarin terasa lelah sehingga enggan.
Dan karena sabtunya disuruh masuk oleh kaka om jadilah hari minggu harus mencuci dan berharap cemas agar tidak turun hujan supaya besok kering.
Pas lembur kemarin itu sebenarnya fisik tidak lelah, tetapi otak dan pikiran itu terkuras. Engga deng, aku mah sekarang tuh lagi sosoan banyak pikiran, yha so sibuk gitu otak teh.
Karena semenjak hari itu si aku lamun ngahuleng pasti teringat sesuatu. Ya bisa jadi masih belum move on lah.
Yang selalu membuat lebih dalam menyibukkan pikiran adalah artian dari move on secara pribadi dengan orang lain. Mereka-orang lain-kebanyakan mengartikan move on adalah melangkah dengan mengganti hati siapa untuk dirindukan, istilah sederhananya belum move on kalo belum menemukan yang baru.
Padahal menurut aku mah bukan itu da.
Menurut si aku move on itu adalah bagian dari mengikhlaskan. Maksudnya, bukan berarti dengan move on kita harus mencari seseorang yang baru, bukan. Tapi mengikhlaskan, esensinya adalah kita dapat belajar meningkatkan kualitas diri tanpa harus mencari yang lain untuk mengganti hati yang lama, yang pernah mengisi hari-harimu (eaaa samaruk good day). Eh bener teu sih? Ah sabodo teuing da menurut aku mah gitu.
Tapi bersyukur juga kemarin disuruh lembur sama kaka om, setidaknya diriku telah berjuang eh malah nyanyi hehe3×, setidaknya hari sabtu aku lebih berfaedah gitu meskipun pusing liat banyak warna nepi keun ka seolah tergradasi di dalam otak hehe alay. Daripada di kamar ngahuleng sendirian gaada temen, temennya pada diajak pergi sedangkan aku gaada yg ngajak kan sedih ya kalo gitu. Yaa alhamdulillah we gitu jadi ga sendiri teuing ari disuruh masuk mah.
Jadi gini, klo misal kemarin itu ga masuk mungkin aku udah sedih, galau-galau di pojokkan gara-gara inget yang udah-udah. Apalagi si temen yang satunya itu adalah orang yang pernah membuat aku iri (sekarang mah udah engga, alhamdulillah) karena diajak main terus sama si temennya itu. Ari aku merasa sendiri di sini itu, sendiriiiiii banget. Sampe orang yang pernah aku udah tergantung sama dia eh dianya begitu kayak yg memusuhi hiks padahal apa salah aku ya, menurut aku seharusnya dia itu bertanggung jawab karena dia dulu bilang kalo ada apa-apa bilang, begitu. Sekarang pas udah lepas gitu yha begitulah membuat aku merasa dihempas ke bagian terdalam batu-batu yang runcing dengan pakai baju tipis aja. Tapi aku jadi paham ungkapan, sakit tapi gak berdarah itu yang gimana hahaa. Sebenernya aku juga salah sih naro harapan itu, ga seharusnya begitu. Tapi di sini ada dua jawaban. Pertama, gaada yang harus disalahkan. Kedua, perempuan selalu benar. Tapi aku mah pusing mikirannya juga mending mamam baso, wareg.
Nah setelah itu aku harus bersyukur lagi, karena dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Aku merasa ini adalah doa yang aku panjatkan, bukan doa sih tapi lebih ke hasil dari aku membatin ke Allah. Dan Allah kabulkan itu sekarang, jazakallah khoiron katsir.
Daan yaa emmm tapi perasaan aku masih sama dan sepertinya bakal gitu terus deh. Still want to do a lot of things, around the world, jajan pinggir jalan, showing you my silly face, melihat wajahmu yang kurang terkontrol, give you a hug when the world cannot give you justice, melihat muka bantal dengan cileuh dan sudut bibirmu yang kering karena iler wkwk dan menua bersamamuu hehe33×.
Mari kita sudahi sesi curhat ngalor ngidul pagi ini.
And it’s been years, you have moved on, you do. You have been doing well and next year you will go solo traveling and build another goal in 2025. Congrats!🫣🥳
Kuharap suatu saat kita berdua bisa menghabiskan sabtu pagi di teras kecil belakang rumah kita sendiri.
Tak mewah mungkin bagi sebagian orang. Hanya ada teh, pisang goreng, gema lagu ukulele Kaze ni Naru.
Tapi buatku, asal sama kamu, itu sudah lebih dari cukup.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
لو علمت السرعة التي سينساك بها الناس بعد موتك، لن تعيش لإرضاء أحد سوى اللّه."
“Andai kau tahu betapa cepatnya orang-orang melupakanmu setelah kematianmu, niscaya kau tak akan hidup untuk mencari keridhaan siapapun kecuali hanya keridhaan Allah.”
Tafsir Ibn Kathir: Surah Al-Kahf Ayah 1-5
In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.
18:1 All praise is due to Allah, Who has sent down to His servant the Book, and has not placed therein any crookedness.
18:2 (He has made it) straight to give warning of a severe punishment from Him, and to give good news to the believers, who do righteous deeds, that they shall have a fair reward.
18:3 They shall abide therein forever.
18:4 And to warn those who say, "Allah has begotten a child.''
18:5 No knowledge have they of such a thing, nor had their fathers. Mighty is the word that comes out of their mouths. They utter nothing but a lie.
The Revelation of the Qur'an brings both Good News and a Warning
Allah praises His Holy Self;
All praise is due to Allah, Who has sent down to His servant the Book, and has not placed therein any crookedness.
In the beginning of this Tafsir, we mentioned that Allah, praises His Holy Self at the beginning and end of matters, for He is the One to be praised in all circumstances, all praise and thanks be to Him, in the beginning and in the end. He praises Himself for revealing His Mighty Book to His Noble Messenger Muhammad, which is the greatest blessing that Allah has granted the people of this earth. Through the Qur'an, He brings them out of the darkness into light. He has made it a Book that is straight, neither distorted nor confusion therein. It clearly guides to a straight path, plain and manifest, giving a warning to the disbelievers and good news to the believers. This is why Allah says:
and has not placed therein any crookedness.
meaning, there is nothing twisted or confusing about it. But He has made it balanced and straightforward as He said;
(He has made it) straight, meaning straightforward,
to give warning of a severe punishment from Him,
meaning, to those who oppose His Prophet and disbelieve in His Book, He issues a warning of severe punishment hastened in this world and postponed to the world Hereafter.
(fromHim).
means, from Allah. For none can punish as He punishes and none is stronger or more reliable than Him.
and to give good news to the believers,
means, those who believe in this Qur'an and confirm their faith by righteous actions.
who do righteous deeds,
that they shall have a fair reward. means, a beautiful reward from Allah.
They shall abide therein,
means, in what Allah rewards them with, and that is Paradise, where they will live forever.
forever.
means, for always, never ending or ceasing to be.
And to warn those who say, "Allah has begotten a child.''
Ibn Ishaq said:
"These are the pagan Arabs, who said, `We worship the angels who are the daughters of Allah.'''
meaning, this thing that they have fabricated and made up.
No knowledge have they of such a thing,
nor had their fathers.
meaning, their predecessors.
Mighty is the word,
This highlights the seriousness and enormity of the lie they have made up.
Allah says:
Mighty is the word that comes out of their mouths.
meaning, it has no basis apart from what they say, and they have no evidence for it apart from their own lies and fabrications.
Hence Allah says:
They utter nothing but a lie.
Reason why this Surah was revealed
Muhammad bin Ishaq mentioned the reason why this Surah was revealed. He said that an old man from among the people of Egypt who came to them some forty-odd years ago told him, from Ikrimah that Ibn Abbas said:
"The Quraysh sent An-Nadr bin Al-Harith and Uqbah bin Abi Mu`it to the Jewish rabbis in Al-Madinah, and told them: `Ask them (the rabbis) about Muhammad, and describe him to them, and tell them what he is saying. They are the people of the first Book, and they have more knowledge of the Prophets than we do.'
So they set out and when they reached Al-Madinah, they asked the Jewish rabbis about the Messenger of Allah.
They described him to them and told them some of what he had said.
They said, `You are the people of the Tawrah and we have come to you so that you can tell us about this companion of ours.'
They (the rabbis) said, `Ask him about three things which we will tell you to ask, and if he answers them then he is a Prophet who has been sent (by Allah); if he does not, then he is saying things that are not true, in which case how you will deal with him will be up to you.
- Ask him about some young men in ancient times, what was their story For theirs is a strange and wondrous tale.
- Ask him about a man who traveled a great deal and reached the east and the west of the earth. What was his story?
- And ask him about the Ruh (soul or spirit) -- what is it?
If he tells you about these things, then he is a Prophet, so follow him, but if he does not tell you, then he is a man who is making things up, so deal with him as you see fit.'
So An-Nadr and Uqbah left and came back to the Quraysh, and said: `O people of Quraysh, we have come to you with a decisive solution which will put an end to the problem between you and Muhammad. The Jewish rabbis told us to ask him about some matters,' and they told the Quraysh what they were. Then they came to the Messenger of Allah and said, `O Muhammad, tell us,' and they asked him about the things they had been told to ask.
The Messenger of Allah said, (I will tell you tomorrow about what you have asked me), but he did not say `If Allah wills.' So they went away, and the Messenger of Allah stayed for fifteen days without any revelation from Allah concerning that, and Jibril, peace be upon him, did not come to him either.
The people of Makkah started to doubt him, and said, `Muhammad promised to tell us the next day, and now fifteen days have gone by and he has not told us anything in response to the questions we asked.'
The Messenger of Allah felt sad because of the delay in revelation, and was grieved by what the people of Makkah were saying about him.
Then Jibril came to him from Allah with the Surah about the companions of Al-Kahf, which also contained a rebuke for feeling sad about the idolators. The Surah also told him about the things they had asked him about, the young men and the traveler.
The question about the Ruh was answered in the Ayah; (And they ask you concerning
the Ruh (the spirit); say: "The Ruh...''). (17:85)