Perempuan dan Potret Wajahnya
Catatan ini ditulis setelah beberapa hari lalu kena semprot dari beberapa kawan gara-gara pajang-pajang muka (padahal cuma di instastory, padahal cuma iseng, padahal sudah sangat sangat jarang), tapi iyya, yang komen cowok semua. Siapa suruh.
Bukan kali pertama ini perdebatan soal foto terjadi, dan saya sebenarnya sudah selesai dengan ini, sebelum dulu memutuskan untuk menutup akun instagram karena kebanyakan foto selfie (tapi tak tega juga menghapus momen-momennya dan waktu itu belum ada fitur archieve kayak sekarang), lantas membuat akun yang baru. Jadi kalau ada yang nanya muasal kenapa akunya ada dua, begitu ceritanya.
Saya bersyukur sekali punya sahabat-sahabat yang posesif, karena saya memang harus dibegitukan saking labilnya. Allah memang paling penyayang, paling tahu saya cocoknya diberi teman-teman yang seperti apa.
Baiklah. Jujur, ada saat keinginan untuk tidak dipusingkan dengan orang lain begitu dominan dalam diri saya, meski konteksnya sering kala tidak pada sesuatu yang tepat, seperti persoalan pajang-memajang foto ini. Saya bukannya lupa pernah mendapatkan bertubi-tubi masalah hingga stress berat hanya karena urusan foto dan pandangan laki-laki. Repot sekali. Saya bukannya lupa kalau perempuan itu sumbernya fitnah, bukan sengaja mengabaikan kenyataan bahwa bagaimana lelaki memandang wanita tidak serupa ketika wanita memandang lelaki. Saya bukannya hendak bersembunyi di belakang statement, “Saya kan tidak cantik-cantik amat. Kenapa mesti lebay,” Lantas melupakan fitrah utama seorang perempuan, bahwa ia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang indah, dan dielak sebagaimanapun, tidak akan mengubah fakta kalau perempuan selalu menarik dari sisi-sisi yang bahkan tidak disadari dan duga. Saya pun tak hendak, lebih-lebih menamengi ungkapan popular kalau yah itu urusan dua belah pihak. Bukan cuma perempuan yang mesti menghijabi dirinya, tapi laki-laki juga harus tahu menundukkan pandangan. Ya kali kita ngarep mereka nundukkan pandangan kalau kamu sengaja majang-majang dirimu di depan mata mereka.
Iya, saya bukannya lupa kok. Hiks. Saya khilaf dan sembrono. Satu dua kali tiap gagal menahan diri upload-upload foto (yang close up terutama), saya selalu menunggu postingan itu kosong dari komenan makhluk bernama lelaki, tapi sayang itu jarang sekali terjadi. Kalau yang wajar atau lucu-lucu sih tidak masalah, tetapi yang kerap terjadi tidak demikian. Reaksi-reaksi yang mayoritas saya terima lebih terkesan “mengerikan”, membuat saya ketakutan sekali sekaligus heran sendiri. Tidak sedikit mereka yang merespon dengan ungkapan-ungkapan kekaguman yang berlebih, dan bahkan ada yang terang-terangan bilang kalau saya memicu “sesuatu yang tidak perlu disebutkan” di dirinya. Belum cukup sampai di situ, ada yang pernah meneror saya, menjadikan ‘muka’ saya wallpaper komputernya yang segede-gede dinding terus dipamer ke sosial media dengan caption yang naudzubillah, boro-boro yang mengaku sering screenshoot. Saya pernah dimaki-maki istri orang, pernah diancam bakal diguna-guna, ditaksir teman perempuan, dan banyak hal-hal ekstrim lain yang sungguh gagal saya mengerti.
Tapi yah, di sinilah kita, mendapati saya masih melakukannya lagi dan lagi, saya masih juga bergidik mendapat respon demikian lagi dan lagi, saya masih mengulang itu meski satu-dua kali dan kena semprot lagi dan lagi.
Akhirnya saya kembali menelusur dalam ke lubuk. Iya, saya sedang jauh. Tak sadar memanjangkan jarak dari-Mu.
Tiba-tiba malam ini perasaan saya kembali kacau, kristal-kristal pecah lagi di mata. Hendak rasanya menampar wajah sendiri, dan memaki kebodohan dan kelemahan saya mempertahankan keyakinan.
Konyol barangkali bagimu, kenapa menyusahi pikiran dan dibuat sebegitu menderita oleh hal-hal sesepele itu, tapi kamu akan tahu begitu memutuskan untuk belajar dan hijrah, lalu bermacam ujian mendadak datang menggebuk. Hal-hal yang saya ceritakan di atas tidak seberapa. Kamu bisa berkilah dengan lebih banyak argumen kontra dan menyatakan saya berlebihan. Tetapi, setidaknya Tuhan sudah memperingatkan gambaran lugas mengenai makhluk ciptaan-Nya. Dan saya, serendah-rendahnya, sebobrok-bobroknya berlaku, masih meyakini Tuhan dan tuntunan yang Ia turunkan.
Ingin saya menutup catatan berantakan ini dengan sebuah kalimat yang entah siapa pertama kali menulis, yang entah kapan mulanya terbaca;
Setiap perempuan tetaplah keturunan Hawa!

















