Ketika Kehadiran Menjadi Bayangan
Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini mulai mengakar. Seberat apapun usahaku menjadi sahabat yang baik, sebanyak apapun bantuan yang kuberikan, semuanya terasa belum cukup. Seolah keberadaanku tidak pernah pantas mendapat tempat di mata mereka. Ketika ada sosok lain yang lebih menarik, lebih berkilau, atau lebih dikenal, dengan mudah mereka merayakannya. Foto diunggah, pujian bertebaran, perhatian mengalir. Namun untukku? Kekosongan. Seakan aku tidak pernah ada di sana.
Yang membuatku semakin lelah, ini bukan hanya dari satu orang. Banyak. Terlalu banyak. Aku bukan mencari puja-puji berlebihan, sungguh. Yang kuinginkan hanya pengakuan sederhana. Sedikit saja, bahwa aku ada, bahwa aku berarti.
Sejujurnya, aku tidak pernah yakin seberapa pentingkah diriku dalam kehidupan mereka. Aku tidak mengerti apa yang membuat mereka tidak bisa dengan tulus merasa bahagia memiliki aku sebagai teman. Padahal aku sudah mencoba. Sungguh, aku sudah berusaha keras. Aku selalu hadir saat mereka membutuhkan, selalu menjadi tempat bersandar ketika mereka terpuruk. Lalu apa yang kudapat sebagai balasannya? Hampa. Atau mungkin lebih buruk dari itu, karena rasanya seperti dimanfaatkan. Sekarang, aku hanya merasa sangat lelah. Pertemanan ini sudah sampai pada titik dimana aku lebih sering merasa terkuras daripada bahagia. Aku tidak tahu lagi harus mengharapkan apa.
Aku tidak akan memutuskan hubungan begitu saja, tetapi aku pasti akan mengurangi interaksiku dengan mereka. Mereka menguras habis energiku, secara emosional, mental, bahkan fisik. Aku tidak ingin terus berada di lingkungan yang membuatku merasa sekecil ini. Aku bukan tipe orang yang mudah mengakhiri pertemanan, tapi jika hanya aku seorang yang berinvestasi di sini, lalu apa gunanya? Persahabatan seharusnya berjalan dua arah. Kalau yang melangkah hanya aku sendiri, itu bukan lagi persahabatan, melainkan beban yang kulukis sendiri.
Aku sadar kok, aku bukan perempuan yang memukau mata. Aku bukan yang sangat mempesona atau sangat modis. Mungkin itulah sebabnya mereka tidak terlalu ingin memamerkan kehadiranku sebagai teman. Sepertinya aku tidak cukup estetik untuk unggahan mereka. Tapi tahukah? Aku sudah tidak peduli lagi. Aku sudah selesai berusaha menyesuaikan diri dengan standar mereka. Jika untuk dianggap sebagai teman saja aku harus memenuhi kriteria tertentu, maka lupakan saja. Aku layak mendapat yang lebih baik. Lebih baik aku berteman dengan orang yang benar-benar menghargai kehadiranku, bukan yang hanya memanfaatkanku saat mereka membutuhkan sesuatu.
Tahukah apa yang paling membuatku kesal? Ada satu orang. Orang ini berada di level yang berbeda dalam hal tidak tahu berterima kasih. Aku sudah membantunya berkali-kali, mulai dari urusan akademis hingga hal-hal sepele, tapi pernahkah dia memberikan satu apresiasi saja? Tidak pernah. Dengar, aku tahu aku bukan yang tercantik atau yang terkeren, tapi siapa sebenarnya dirimu? Kau selalu meminjam pakaian orang lain setiap waktu hanya untuk terlihat keren. Kau bersikap seolah kau luar biasa padahal kau bahkan tidak mampu membangun citramu sendiri. Setidaknya jika kau ingin dikelilingi orang-orang yang keren dan menarik, samakan dulu levelmu dengan mereka. Berhenti hidup dari estetika pinjaman dan mulailah membangun sesuatu untuk dirimu sendiri.
Sampai di titik ini, aku sudah berhenti mengeluh tentang mereka. Aku sudah terlalu lelah. Jika suatu saat mereka memutuskan untuk menjauhiku, biarlah. Aku tidak akan mati hanya karena kehilangan pertemanan yang beracun. Aku masih memiliki orang-orang yang benar-benar mendukungku. Yang sungguh peduli, yang tidak hanya datang saat butuh bantuan. Mereka mungkin tidak populer atau trendi, tetapi mereka nyata. Dan pada akhirnya, hanya itulah yang benar-benar penting.









