suatu hari, ada seorang puan terjebak dalam hujan di jalan tepi kota, bersama seseorang yang mengisi cerita di setiap tahun dalam hidupnya.
petir menggelegar dan hujan turun begitu deras tanpa ampun, tuan itu mengajak nona untuk duduk di sebuah kursi kayu dan menawarkan secangkir minuman hangat untuk diminum, terlarut dalam hujan, sang nona tanpa sadar meneteskan air mata, lalu ia bersembunyi di balik topeng wajahnya untuk menyeka setiap air mata yang turun, sama derasnya seperti hujan.
lantas di dalam hatinya ia bergumam
aku ingin dicintai dengan baik, dengan penuh budi pekerti, jika tuan di sampingku tidak dapat mengabulkan nya sekarang, maka aku menegaskan bahwa hanya ingin dialah tuannya, yang mencuri semua degup jantung dan pusat perhatian hidupku, apapun lukanya, aku sampai berdarah-darah dan patah kaki untuk mendapat peluknya, jika hari ini ia tidak bisa, semoga suatu saat ia hadir dengan cinta yang lebih baik, dan aku akan terus menunggu dengan bodoh dan keras kepala.
kamu kedinginan? bajumu basah nanti sakit, kamu ngantuk ya? bentar ya nunggu hujan reda.
tak lama tuan mengelap kursi kayu dengan lengan bajunya dan meminta nona yang basah kuyup untuk duduk di kursi kayu kering agar nona tak basah, padahal ia sudah tau bahwa tidak ada lagi kering di baju nona.
tuan itu menatap lurus ke depan, memandangi hujan dan terdiam.
nona pun demikian, hanya riuh hujan yang terdengar pada malam itu.
tak lama setelah hujan reda, tuan dan nona mengendarai sepeda motor dan kembali tertawa sepanjang perjalanan pulang dan membicarakan hal-hal yang pernah mereka lalui, sebelum kembali ke rumah masing-masing.
terguyur hujan bersama tuan, bagi nona, hal itu adalah hal paling indah yang terjadi, rasanya seperti berjalan di karpet merah atau rasanya seperti kencan di resto yang sangat mahal, bahagia bersama tuan adalah bahagia sama rata.
membaca kisah nona dan tuan, apakah kamu masih bertanya mengapa si nona bodoh rela patah kaki mendaki gunung dan berdarah-darah demi sebuah senyuman?