Katanya, virus Corona (Covid-19) itu hanya konspirasi ya? Selamat datang untuk ahli-ahli teori konspirasi yang kalau ngomong udah kayak ahlinya ahli, intinya inti. Pokoknya paling benar dah.
Show & Tell

blake kathryn
ojovivo
Sade Olutola

pixel skylines
art blog(derogatory)

JVL
DEAR READER

oozey mess
will byers stan first human second
Game of Thrones Daily
TVSTRANGERTHINGS
cherry valley forever

Kiana Khansmith
Cosimo Galluzzi
hello vonnie

Janaina Medeiros
Keni

tannertan36
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from France
seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Poland

seen from TĂĽrkiye
seen from United Kingdom

seen from Algeria

seen from TĂĽrkiye

seen from South Korea
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from Switzerland
@chave-key
Katanya, virus Corona (Covid-19) itu hanya konspirasi ya? Selamat datang untuk ahli-ahli teori konspirasi yang kalau ngomong udah kayak ahlinya ahli, intinya inti. Pokoknya paling benar dah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nomor Telkomsel Lama yang Hilang Aktif Lagi
Beberapa tahun yang lalu, saya kehilangan nomor ponsel yang waktu itu menggunakan Telkomsel. Entah kartu As atau Simpati, saya lupa tepanya yang mana.
Penyebab hilangnya juga sudah gak ingat lagi karena apa. Yang jelas, kalau bukan karena kartu/hpnya yang hilang, mungkin saya ganti dan sembrono saat menyimpannya.
Bertahun-tahun kemudian, karena nomor tersebut tidak aktif lagi namun masih tersimpan di kontak hp yang saya gunakan, saya baru sadar bahwa nomor tersebut aktif kembali yang dulunya tidak lagi bisa dihubungi.
Dari sini saya kemudian berpikir bahwa kemungkinan besar, pihak Telkomsel pasti memproduksi kembali nomor tersebut dan akhirnya ada yang membelinya. Pemikiran tersebut memang hanya sebuah perkiraan saja, tapi menurut saya cukup masuk akal.
Karena meskipun sistem telekomunikasi itu bisa diakali (namanya juga sistem), sangat sedikit kemungkinan akan ada orang atau individu yang memproduksi kartu Telkomsel sendiri di dalam rumahnya lalu mengaktifkannya, kan?!
Jadi asumsi saya cukup logis bahwa pasti penyedia utama kartu saya yang hilang lalu tidak aktif tersebut diproduksi ulang dan diaktifkan kembali.
Coba saja ingat kembali nomor Telkomsel yang anda gunakan bertahun-tahun yang lalu dan sudah tidak aktif lagi saat itu. Kemudian coba kirim SMS, dihubungi, atau periksa apakah nomor tersebut memiliki akun Whatsapp yang saat itu belum ada WA. Bisa jadi nomor lama anda mengalami hal yang sama dengan nomor saya yang aktif kembali ini.
Apa perlunya memeriksa hal itu?
Sebenarnya memang gak perlu-perlu amat. Namun, bisa jadi nomor lama tersebut didaftarkan ke akun online yang aksesnya harus mengirimkan kode tertentu ke nomor tersebut.
Contohnya saya yang bertahun-tahun yang lalu mendaftar ke PayPal (sistem pembayaran online) dengan menyertakan nomor Telkomsel saya yang lama. Email dan passwornya masih tersimpan di laptop saya. Tapi untuk login, harus memasukkan kode dulu yang dikirimkan ke nomor tersebut.
Mungkin waktu itu saya memang mengaktifkan sistem keamanan semacam itu (mengirim kode login ke nomor hp) atau bisa jadi adalah langkah keamanan baru yang diterapkan oleh PayPal.
Alhasil, tetap saja saya tidak bisa login ke akun karena saya tidak lagi menggunakan atau memiliki nomor Telkomsel yang lama meskipun email dan passwordnya masih saya miliki.
Tapi kalau tidak mau diperiksa juga ya tidak apa-apa. Toh kalaupun mengecek nomor lama semacam ini hanya untuk iseng-iseng saja jika tidak ada keperluan apa-apa. Anggap saja hal ini sebagai pengetahuan atau informasi baru jika sebelumnya belum tahu.
Coba informasikan juga keluarga, teman-teman, tetangga atau kenalan anda mengenai hal ini. Barangkali jika bukan anda yang membutuhkannya, mungkin orang lain di sekitar anda berpikiran sebaliknya.
Kalau tertarik tes aktif-tidaknya nomor lama anda, jangan cuma nomor Telkomsel saja. Bisa jadi nomor dari provider lain seperti Indosat (mungkin kartu Mentari lama?), dan penyedia lainnya juga menerapkan hal yang sama yaitu memproduksi kembali nomor lama yang memang tidak aktif lagi saat itu.
Ok, bosku? - Chave-Key
Pembohong yang Bodoh Itu Bernama "Saya"
Hidup jujur adalah sebuah kehidupan yang selalu ingin saya jalani setiap hari. Namun, terkadang tujuan tersebut terhalang oleh beberapa kondisi yang saya temui dan juga orang yang saya kenal.
Pada keadaan tertentu, berbohong bisa menjadi solusi yang harus diambil dalam hidup. Apalagi yang mengancam nyawa sendiri meskipun tidak selamanya hal itu bisa saya benarkan.
Hari ini, saya kembali membenarkan sebuah kebohongan kecil yang tidak seharusnya saya maklumi. Namun beberapa saat kemudian, saya menyadari bahwa hal itu salah.
Parahnya lagi, kebohongan tersebut tidak menguntungkan saya sama sekali.
Salah satu penjaga kos saya seringkali berada di rumah tetangga kala kosan sepi atau tidak ada pencari kos yang datang. Entah apa yang dilakukannya, itu bukan urusan saya.
Maghrib tadi, pemilik kos menghubungi saya untuk memberitahu penjaga kos tersebut bahwa ada yang sedang berada di kos untuk mencari kamar. Setelah pemilik menghubunginya, hpnya tidak diangkat karena tertinggal di kamar sementara ia sedang berada di rumah tetangga.
Dan, hal itu juga yang saya sampaikan kepada pemiliknya setelah bertanya ke tetangga kos saya melalui WA.
Eh, si ibu penjaga kos setelah ketemu saya malah menyarankan untuk lain kali, kalau ada kasus serupa, beritahu saja pemilik kos bahwa ia sedang berada di kamar mandi.
Dia yang kerja dan dapat gaji, saya yang harus berbohong dan berdosa.
Hal-hal kecil seperti ini yang terkadang membuat saya muak terhadapnya dan juga terhadap diri saya sendiri karena awalnya menyetujui kebohongan tersebut.
Apa sih ruginya jujur saja dan tidak melibatkan orang lain? Tidak mungkin juga dipecat hanya karena ia sedang berada di rumah tetangga. Toh kejadian seperti ini tidak sering terjadi setiap hari. Jadi masih bisa dimaklumi meskipun kena marah dikit dari pemilik kos.
Tapi yang salah juga adalah saya meskipun tadi saya mengatakan yang sejujurnya. Saya salah karena mau saja mengiyakan bahwa ketika hal ini terjadi lagi, maka bilang saja bahwa penjaga kos lagi di kamar mandi.
Bodoh banget saya.
Tapi kalau kondisi seperti ini akan terjadi lagi, bodoh amatlah si penjaga kos mau dimarahi atau dipecat, saya pokoknya mau bilang secara jujur saja.
Sehari yang lalu, saya baru saja menginstall aplikasi peta yang disebut Waze. Tujuannya sebenarnya 1 saja, yaitu untuk menghindari razia kendaraan oleh polantas.
Maklum saja, saya belum pernah bikin SIM sebelumnya dan pekerjaan saya saat ini yah harus muter-muter di jalan terus karena sebagai tenaga marketing salah satu perusahaan yang ada di Bali.
Untuk kebutuhan kerja marketing lapangan seperti saya, Google Maps sebenarnya sudah sangat membantu untuk kesana kemari. Namun setelah mencari informasi online mengenai cara menghindari jalan tempat razia kendaraan, banyak informasi yang direkomendasikan untuk menggunakan Waze saja.
Akhirnya, ini adalah hari kedua saya menggunakan Waze dan ketika tulisan ini diturunkan, saya sementara beristirahat di Indomaret yang ada di Gianyar.
Beberapa waktu yang lalu ketika baru saja mau keluar dari warung setelah ditawari produk, saya kembali membuka aplikasi Waze untuk mengetahui kemana lagi akan mencari prospek atau pelanggan.
Dan, tidak terlalu jauh dari tempat saya barusan, tampak ikon pak polisi di salah satu ruas jalan yang tentu saja harus saya hindari dan memilih ruas jalan lain.
Saya sih belum tahu banyaj apakah ikon polisi itu karena memang ada razia atau bukan, yang jelas kan gak mungkin juga saya sok2 berani kesana untuk membuktikannya. Nanti malah benar-benar kena tilang.
Menghargai Proses
Hidup mengajarkan saya banyak hal. Bertemu banyak orang yang tidak pernah disangka-sangka, mengalami banyak hal yang tak terduga bahkan yang tidak seharusnya dan berjuta pengalaman lain yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Saya terkadang berpikir, mungkin ini juga yang banyak orang lain alami meskipun hal-hal yang terjadi tidak sepenuhnya sama. Meski berbeda hal, tidak dipungkiri bahwa ada kesamaan pada banyaknya kejutan yang dihadapi dalam hidup.
Terlebih ketika berada di perantauan dimana mau tidak mau dan suka tidak suka, semua orang harus dianggap sebagai keluarga meski tanpa ikatan darah atas nama bertahan hidup di negeri orang.
Jatuh seringkali saya alami. Dan akan ada yang mendukung untuk bangkit lagi atau tidak, saya mulai belajar bagaimana memotivasi diri.
Hal itu saya lakukan karena tidak semua impian dan rencana yang saya jalani tidak selalu semulus bayangan dalam pikiran saya.
Tapi inilah proses dalam hidup yang harus saya jalani. Kegagalan terkadang tidak se-mengkhawatirkan pikiran saya awalnya hingga beberapa diantaranya menjadi hal yang biasa dan tidak lagi menakutkan.
Saya ditempa oleh kegagalan dari diri saya sendiri dan mungkin campur tangan takdir yang telah digariskan. Dan saya bersyukur bahwa hingga saat ini, saya masih bisa melakukan banyak hal. Tak peduli apakah saya bisa sukses atau akan kembali menemui kegagalan, saya selalu meyakinkan diri untuk selalu siap menghadapi banyak hal.
Saya mulai terbiasa membuka diri untuk menghargai diri saya sendiri dan segala proses yang sudah direncanakan oleh Tuhan. Meskipun dalam beberapa perjalanan saya sesekali berada pada titik terendah dalam hidup, saya memilih untuk menjadi teman atas segala hal tersebut dan mulai memperbaiki diri secara perlahan.
Kalau saja saya menyerah dan tidak menikmati segala macam proses dalam hidup, saya tidak akan bisa sampai hingga hari ini. Tuhan masih memberikan saya kesempatan dan semoga saya bisa memanfaatkannya dengan baik.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Masa Depanku Akan Seperti Apa?
Saya termasuk orang yang sesekali merenung tentang akan seperti apa masa depan yang akan saya jalani kelak. Salah satu penyebab kenapa saya berpikir begitu adalah karena saya merasa sudah berusaha sekeras dan semampu yang saya bisa, namun hasil dari perjuangan saya tersebut selalunya tidak sesuai dengan yang saya harapkan.
Bukannya tidak bersyukur, tapi pernah tidak berada dalam posisi yang sama dengan saya? Usaha seolah sudah dikerahkan semua, tapi hasil seolah mengkhianati proses.
Saya kadang berpikir apa sebenarnya hal yang salah atau keliru dari apa yang pernah saya jalani? Namun jika merunutnya, seolah saya tidak mendapatkan petunjuk apapun. Segalanya tampak sempurna di mata dan pikiran saya, tapi lagi-lagi, semua itu tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Terlalu percaya dirikah saya terhadap apa yang saya lakukan?
Jika harus menanyakannya pada orang lain, apa yang sudah saya lakukan bahkan melebihi apa yang dikerjakan orang lain. Apa jangan-jangan saya memang terlalu berlebihan jika mengerjakan sesuatu hingga tanpa sadar sebenarnya hal itu justru salah?
Pernahkah anda mencintai seseorang sepenuh hati atau pernahkah ands bekerja semampu yang anda bisa namun semua hal itu seolah tidak ada gunanya saat ini?
Mungkinkah saya harus bersabar karena saat ini bukanlah momen yang tepat untuk menikmati segala perjuangan yang sudah pernay saya lakukan? Lalu kapan sebenarnya momen tersebut? Memang haruskah se-menderita ini agar suatu saat kebahagiaan yang menghampiri pun bisa benar-benar membahagiakan dengan cara yang tak terbayangkan?
Atau jangan-jangan saya lagi stress?
Jika kewajiban saya adalah berusaha, kapankah waktunya saya bisa menikmati masa-masa lelah yang belum terbayarkan itu? Jika saya harus bersabar, apakah saya harus terus melakukannya tanpa adanya jaminan akan perubahan yang lebih baik dalam hidup saya?
Sepertinya ada yang salah dengan diri saya sendiri dan saya belum tahu cara untuk menemukan kesalahan tersebut agar bisa diperbaiki.
Disaat orang lain mungkin sudah menikmati indahnya kebahagiaan, sepertinya saya masih harus terus-terusan berjuang untuk impian yang entah kapan akan tercapai.
Belagu di Sosial Media
Saya sebenarnya ingin memberi judul tulisan ini menjadi “Baru Punya Sosial Media Saja, Tingkahnya Sudah Kayak yang Punya Sertifikat Bumi,” tapi karena kepanjangan, cukuplah Belagu di Sosial Media saja yang saya anggap sudah merepresentasikan apa yang saya pikirkan.
Saya sebenarnya ingin curhat saja mengenai perasaan saya sendiri tentang perilaku kita dalam ber-media sosial. Karena banyaknya pengguna, maka banyak pula jenis pikiran dan tingkah laku yang bisa saya saksikan.
Dan harus saya akui bahwa perbedaan itu memang harus dihargai, tapi terkadang, ada batasan dimana saya sendiri menjadi muak dengan apa yang saya saksikan.
Tentu saja tidak semua konten atau informasi yang diunggah di internet melalui akun media sosial ini bisa saya senangi semuanya. Itu sudah pasti. Namun tetap saja kita diberikan pilihan untuk menjadi bijak atas setiap informasi yang kita publikasikan.
Meskipun kebebasan berpendapat itu juga dilindungi oleh Undang-Undang, tetap saja ada aturan tak tertulis yang harus kita ikuti jika “rasa” yang tertanam dalam diri kita memang ada.
Sayangnya, egoisme justru terkadang mengambil alih akal pikiran kita sendiri hingga tak pelak saya bisa menyaksikan orang-orang yang merasa benar sendirinya seolah kebenaran yang ia yakini itu bersifat mutlak. Padahal, bisa jadi ia pun ragu dengan apa yang dikatakannya.
Tapi mau bagaimana lagi, ada saja yang ingin terlihat cerdas dan menang atas argumen orang lain tanpa mencari tahu informasinya lebih jauh. Mungkin biar terlihat keren karena debat secara online tidak akan memperlihatkan ketakutannya sendiri. Dan memenangkan argumennya sendiri sepertinya menjadi salah satu tujuan nekatnya seseorang menjatuhkan pihak lain.
Apa yang bisa didapatkan dengan berperilaku seperti itu? Gajinya dinaikkan atau kesejahteraan hidupnya bertambah? Atau jangan-jangan malah semakin terperosok dalam penderitaan.
Sosial media memang tak bertelinga. Namun kita tetap dituntut untuk bisa mendengarkan dan menyerap dengan baik pernyataan pihak lain, terlebih yang berbeda dengan diri kita sendiri.
Dengan sedikit kesabaran saja, bisa jadi orang yang kita ajak berdiskusi mau untuk lebih mengeluarkan pemahamannya untuk dbagikan, begitu juga dengan pengalamannya.
Namun jika sudah memang keras kepala, bagaimana bisa ilmu dari pihak lain akan sampai kepadanya jika mendengarkan saja tidak mau. Apalagi jika percaya bahwa pendapatnya dan kelompoknya adalah yang terbaik. Makin tambah runyam. Bahkan, lanjut berdiskusi dengan orang yang keras kepala itu justru akan membuat kita semakin bodoh. Tidak banyak yang bisa kita ambil dari dirinya atau jangan-jangan memang tidak ada sama sekali.
Sosial media memang bukan platform untuk mencari ilmu atau tempat khusus untuk menjadi bijak meskipun sebenarnya hal itu memungkinkan. Tapi bukan juga tempat yang khusus untuk menjadikan kita sebagai seseorang yang bodoh.
Beberapa konten yang pernah saya konsumsi di sosial media menyarankan bagi yang melihatnya bahwa “jika tidak suka, tidak usah dilihat.” Kalimat ini biasanya cukup ampuh untuk mendiamkan orang lain. Namun bagi saya, kenapa tidak sekalian saja mengatakan kepada orang lain untuk menon-aktifkan dirinya sendiri dari platform yang digunakan.
Algoritama sosial media saat ini sudah semakin canggih. Kita tidak bisa mengontrol informasi apa yang seharusnya muncul di beranda sebuah platform. Kalaupun bisa dikendalaikan, tidak banyak yang mau melakukannya.
Karena itu, saya sedikit berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat karena bisa saja apa yang saya katakan menjadi hal yang buruk bagi pengguna lainnya.
Apalagi pada banyak kesempatan, saya menjadi follower atau berteman dengan sesama keluarga sendiri, maka kebebasan mengeluarkan pendapat harus lebih dipikirkan lagi dengan baik. Karena jika tidak, maka keluarga saya sendiri juga yang bisa mengkonsumsi konten buruk yang saya produksi.
Menggunakan platform blog yang dikombinasikan fungsi sosial media seperti Tumblr juga tidak menurunkan sisi kehati-hatian saya. Padahal jika dipikirkan, siapa yang tahu diri saya sendiri ketika memutuskan menjadi anonim di platform ini?
Karena itu saya memang mencari jalan aman, yaitu menyadarkan diri saya sendiri mengenai konten seperti apa yang harus saya hadirkan. Jika apa yang saya bagikan tidak memiliki manfaat bagi orang lain, setidaknya saya tidak berkontribusi untuk menambah penyebaran informasi yang bisa merusak.
Saya benar-benar tidak ingin menjadi orang yang bahkan saya sendiri membencinya. Belagu dalam bermedia sosial bukanlah diri saya baik di dunia nyata maupun di internet.
Mending saya fokus untuk menginvestasikan waktu saya dalam memerbaiki kualitas menulis saya. Ketimbang harus tampil keren dan bisa dianggap sebagai orang yang sangat pantas untuk dikutuk.
Baca juga: Kita Dikelilingi Oleh Kematian
Jika ada informasi yang saya publikasikan dan dianggap salah di blog sederhana ini, silahkan untuk disampaikan. Barangkali itu juga bisa bernilai kebaikan untuk kita semua. Selamat malam Sabtu.
Memang Perlu Ya Beli Nama Domain Blog?
Dalam dunia para blogger terkhusus yang berkembang di Indonesia hingga hari ini, mereka yang sudah lebih dulu terjun di bidang ini banyak yang biasanya menyarankan untuk membeli domain terutama bagi blogger lainnya yang masih saja menggunakan sub-domain selama bertahun-tahun maupun untuk para blogger baru.
Bukannya tanpa sebab, ada banyak alasan yang melatar-belakanginya.
Membeli nama domain blog bisa menjadi kepuasan tersendiri. Coba saja bandingkan “keren” mana antara chavekey.com dengan chavekey.tumblr.com. Dengan menghilangkan ekstensi dari sub-domainnya saja, sudah sangat berbeda dalam mengucapkannya karena menjadi lebih pendek. Akhirnya, semakin mudah diingat, semakin mudah diketik dan sebagainya.
Dan sebenarnya, memiliki nama domain blog sendiri itu tidak sekedar keren-kerenan saja. Nama domain bahkan bisa menjadi awal bagaimana seseorang terutama blogger membangun brand baik branding blog itu sendiri maupun dirinya sendiri secara online.
Selain itu, bukan hal yang asing lagi bahwa kepercayaan
(trust)
yang didapatkan secara online bisa sedikit mudah untuk didapatkan. Termasuk dengan mendapatkan penghasilan itu sendiri.
Hal ini bisa dibuktikan dimana pelaku bisnis online atau yang memanfaatkan website sebagai media utama pemasaran digitalnya kerap kali membutuhkan blogger untuk bertindak sebagai influencer yang akan bercerita banyak tentang suatu bisnis dan menyarankan sebuah produk atau layanan dari bisnis tersebut.
Imbasnya, semakin sering dan banyak blogger bercerita lewat kontennya mengenai suatu bisnis, semakin mudah pula tujuan kegiatan brand awareness suatu bisnis tersampaikan.
Belum termasuk dengan ketentuan para blogger menyertakan link menuju website bisnis tersebut sebagai langkah optimasi dari situs bisnis yang sedang dikembangkan.
Sayangnya, kebanyakan pelaku bisnis di dunia digital juga pasti akan melakukan seleksi terhadap blog apakah akan memenuhi kriteria yang mereka tetapkan atau tidak. Hal ini dilakukan karena pelaku bisnis tersebut akan mengeluarkan biaya agar para blogger mau menulis tentang bisnis mereka.
Informasi lebih lanjut mengenai hal ini, anda bisa mulai mempelajari mengenai apa itu Post Placement. Pelaku industri dunia digital menciptakan konten atau menyuruh blogger untuk menuliskan sendiri tentang suatu bisnis dengan imbalan harga tertentu.
Dan pada kebanyakan kasus, pelaku bisnis tersebut akan menjadikan blog yang sudah memiliki nama domain sendiri sebagai salah satu standar utama bagi para blogger tersebut untuk menjadi bagian dari bisnis mereka.
Tidak heran di Indonesia sendiri sudah banyak registrar untuk membeli nama domain tingkat atas yang biasa disingkat sebagai TLD (Top Level Domain). Yang paling populer bahkan di seluruh dunia, blog dengan ekstensi .com selalu menjadi bisnis yang masih cukup menggiurkan.
Blogger pun kebanyakan menggunakan .com sebagai ekstensi utama blognya yang awalnya masih menggunakan sub-domain seperti tumblr.
Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan juga bahwa blog yang masih gratis ini dimanfaatkan sebagai bagian dari optimasi bisnis digital yang dijalankan. Hanya saja, peluangnya tidak sebesar blog yang sudah TLD.
Namanya juga promosi, pelaku bisnis pasti ingin menyebarkan kontennya di blog-blog yang sudah premium terutama penamaan domainnya serta ketentuan lainnya seperti Domain Authority blog yang tinggi maupun jumlah pengunjung.
Namun, bukan hal yang wajib bahwa seorang blogger harus membeli nama domain. Terserah meraka mau melakukan apa terhadap blognya. Banyak yang ngeblog hanya untuk berbagi dan mengeluarkan keluh-kesah kesehariannya tanpa harus repot menargetkan penghasilan online. Dan banyak juga yang sebaliknya.
Tetap saja, jika berniat ingin mendapatkan uang secara online, akan lebih baik untuk mengganti blog gratisan anda saat ini yang masih menggunakan sub-domain dengan membelikannya nama domain blog baru dan mengarahkannya kesana.
Bahkan, harga domain pun masih terbilang cukup terjangkau karena dengan hanya 100 ribuan saja, anda sudah bisa memiliki nama domain sesuai yang anda butuhkan. Harga tersebut merupakan harga awal yang berlaku pada tahun pertama. Untuk memperpanjangnya di tahun berikutnya, biasanya harganya sedikit naik misalnya menjadi 120 ribu. Tapi tetap saja, saya kira hal itu masih cukup terjangkau.
Bahkan, tempat beli domain blog saat ini di Indonesia sudah ada beberapa yang memungkinkan untuk membeli nama domain selama 5 tahun dan bahkan lebih.
Bagi yang modalnya cukup, beli domain selama 5 tahun bisa dilakukan saat pertama kali dan tidak perlu lagi memikirkan biaya perpanjangan selama 5 tahun tersebut. Perpanjangan domainnya ya dipikirkan saja menjelang tahun ke-6.
Meskipun pembelian nama domain blog ini tidaklah wajib, namun ada hal menarik kenapa banyak orang yang masih mempertimbangkannya. Nama domain beserta blog dan keseluruhan kontennya termasuk dengan jumlah pengunjungnya bisa dijadikan sebagai aset online.
Jika tidak ingin lanjut untuk mengelolanya, bisa dijual ke blogger lainnya atau siapapun yang membutuhkannya. Hal yang sama bisa dilakukan juga terhadap blog yang masih gratisan. Akan tetapi, blog yang sudah memiliki nama domain tentu lebih brandable dibandingkan yang selainnya.
Jadi, semua ada pada keputusan anda apakah masih tetap setia menggunakan blog yang gratisan dengan embel-embel sub-domainnya maupun memutuskan untuk menggantinya dengan nama domain yang akan anda beli.
Sekali lagi yang perlu saya tekankan adalah hal ini tidak berlaku wajib. Tidak ada keharusan untuk membeli nama domain blog kecuali anda setidaknya berencana untuk mendapatkan penghasilan online maupun untuk membangun personal brand diri anda sendiri. Bagaimana?
Kita Dikelilingi Oleh Kematian
Pagi tadi, ketika sedang berada diatas kendaraan, seperti biasa saya harus melewati lampu lalu lintas yang mengarah ke tujuan saya. Lampu merah. Kendaraan yang saya tumpangi harus berhenti sejenak karena saat itu bukan giiran kami untuk melaju maju maupun berbelok kearah kanan.
Mata saya menatap ke sebelah kanan, bagian bawah. Tepat diatas aspal. Ada seekor makhluk Tuhan yang kecil. Berwarna hitam dan seperti dikelilingi oleh bulu yang berwarna agak kekuningan. Pikiran saya mengatakan bahwa itu adalah ulat bulu. Mirip sekali.
Ulat tersebut tampak sedang mengarah ke bagian kanan jalan dari arah saya melihatnya. Menuju trotoar atau mungkin rerumputan yang tumbuh disebelahnya. Dalam bahasa yang saya pahami, ulat tersebut sedang menyeberangi jalan. Entah ia tahu apa yang sedang dilakukannya atau tidak, saya mana tahu hal itu.
Yang jelas, ia tampak sedang melakukan penyeberangan.
Kendaraan dari arah lain yang tidak terhenti oleh lampu merah tentu juga banyak yang menuju jalur jalan sebelah dimana saya menunggu lampu hijau. Berdesak-desakan oleh lalu lintas pagi.
Hal tak terduga terjadi di depan mata saya.
Salah satu mobil yang menggunakan jalur tersebut menabrak ulat tersebut. Atau lebih tepatnya melindasnya. Mati.
Kendaraan dibelakangnya pun melakukan hal yang sama, tidak semuanya, namun beberapa mobil selanjutnya juga melindas ulat tersebut yang sebenarnya telah mati pada lindasan pertama.
Ulat yang tadinya tampak agak sedikit tebal, terlihat hampir rata dengan aspal. Hanya menyisakan warna hitam dan kekuningan seperti warna awalnya. Dalam kondisi demikian, bagi yang tidak tahu bagaimana kejadiannya, ia mungkin tidak akan pernah menyangka bahwa itu awalnya adalah seekor ulat.
Saya tidak tahu apakah pengendara lainnya memperhatikan hal ini, namun saya menjadi saksi atas kejadian tersebut. Mengenaskan.
Disaat kita melakukan sesuatu, ada begitu banyak kejadian yang mengelilingi kita. Dan kebanyakan tidak kita sadari. Sama seperti para pengendara mobil tadi, mereka tidak tahu bahwa mereka tidak sesederhana mengendalikan laju kendaraan dan mengoperasikan kemudi.
Ada ulat yang tanpa sengaja telah dilindasnya. Bagaimana dengan sekumpulan semut kecil yang mungkin juga kita lewati, hewan-hewan kecil yang mungkin terbunuh oleh asap kendaraan? Ah, saya sudah terlalu ngelantur kemana-mana.
Namun seperti itulah kehidupan. Disadari atau tidak, kita dikelilingi oleh kematian makhluk hidup.
Disaaat ulat tersebut terlindas, didetik dan pagi cerah yang sama mungkin saja ada seekor anjing yang dilempar oleh seseorang, ada paus besar yang sedang diburu untuk dimakan, ada burung yang tertembak sayapnya dan masih banyak lagi. Belum termasuk kematian yang dialami oleh manusia yang tidak pernah kita kenal.
Begitu banyak kejadian yang terjadi hanya dalam hitungan detik yang mengingatkan saya bahwa kematian bisa terjadi pada siapa dan apa saja jika telah datang waktunya.
Selamat datang di blog Chave-Key.
5 posts! Yeay.
Ketika menyelesaikan artikel kelima mengenai dampak negatif pariwisata Bali, saya mengecek email saya dan melihat ada pesan baru di Kotak Masuk dengan subjek pesan: Hooray! You've made 5 posts on chave-key!
Akhirnya, saya buka dan bacalah pesan tersebut yang saya anggap sebagai motivasi dan “hadiah” dari Tumblr atas pencapaian saya hari ini.
Pencapaian ini memanglah hal yang kecil, tapi saya jadi berpikir bahwa semoga dengan adanya ini, saya jadi bisa termotivasi untuk menulis. Entah kapan lagi saya akan melakukannya, saya akan berusaha semampu saya.
Dengan adanya pesan ini, saya juga berharap bahwa 5 artikel yang sudah saya terbitkan sebelumnya bisa memberikan manfaat kepada orang lain, kepada para pembaca yang menemukannya.
Meskipun hanya 1 manfaat, namun jika itu bisa dirasakan oleh banyak orang, saya kira saya akan senang jika bisa mengetahuinya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bisnis yang Menyasar Pasar Gay Sebagai Dampak Negatif Pariwisata Bali
Jika kita membicarakan mengenai dunia pariwisata di Bali, bukan hal yang asing lagi jika kebanyakan akan kagum dan berusaha untuk menyamainya. Pariwisata Bali berkembang sudah begitu lama dan mengalami perkembangan yang begitu cepat.
Namun, ada hal yang mungkin belum anda tahu bersama bahwa perkembangan dalam banyak hal juga akan memiliki dampak yang sifatnya negatif. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada dunia pariwisata di Bali yang mungkin begitu anda kagumi.
Salah satu dampak yang menurut saya bersifat negatif karena adanya perkembangan pariwisata di Bali adalah ada dan berkembangnya bisnis yang secara khusus menjadikan kaum gay sebagai pasar utamanya.
Ingin bukti?
Saya melakukan pecarian sederhana di Google dengan menggunakan kata kunci dalam bahasa inggris yaitu Gay bar in Bali. Dan lihat beberapa link yang menjadi hasil pencarian yang muncul di Google pada gambar berikut ini.
Nama situs sengaja saya blog dengan kotak kuning pada gambar diatas. Tidak usah tanya kenapa saya melakukannya.
Ingat! Saya bukanlah alim-ulama maupun petugas medis yang paham mengenai dunia kesehatan ya. Tapi harus diakui bahwa dengan bermunculannya bar atau cafe yang bertemakan khusus untuk para gay, maka hal ini bisa saja semakin menambah faktor penyebab bertambahnya jumlah pengidap virus HIV/AIDS.
Belum termasuk larangan dari ajaran agama yang saya yakini dimana homoseksual haruslah menjadi hal yang wajib dihindari oleh siapapun.
Namun, tampaknya hal itu tidak berlaku di Bali dimana bisnis yang mendukung kegiatan kaum Gay semakin mendapatkan tempat dimana mereka bisa secara bebas berekspresi.
Anda masih yakin bahwa kita harus menghargai kebebasan berekspresi siapapun? Tunggu hingga anak anda sendiri terkena virus HIV/AIDS yang bersumber dari hubungan terlarang sesama jenis.
Dan juga pada titik ini, masihkah pejabat pemerintahan di kota anda atau bahkan anda sendiri memimpikan daerah anda berkembang dengan menetapkan Bali sebagai kiblat pariwisata di Indonesia?
Itulah harga dari sebuah perkembangan pariwisata yang tak terkendali. Kita bisa saja melarang hal itu terjadi, namun keuntungan finasial dari bisnis pariwisata sepertinya mencegah kehidupan di Bali untuk menjadi lebih sehat. Setidaknya agar tidak terdampak virus HIV.
Lebih lanjut, saya mencoba mengetikkan di Google mengenai jumlah pengidap HIV di Bali dan ini hasil yang saya dapatkan.
Tidak ada satu pun artikel di link gambar diatas yang saya baca. Tapi ada kejelasan informasi bahwa jumlah pengidap HIV secara keseluruhan di Bali mengalami perkembangan. Sayangnya, perkembangan ini bukanlah sesuatu yang positif, tapi justru yang negatif.
Saya juga tidak lebih jauh mencari tahu pengidap baru yang terindikasi karena kegiatan seksual sesama jenis, namun sudah pasti bahwa tidak ada manusia yang sempurna dimana kegiatan tersebut tidak akan memunculkan pengidap HIV baru karena hadirnya para Gay.
Mungkin ini juga yang harus menjadi fokus pemerintah dan masyarakat untuk menghadirkan pariwisata yang menyehatkan di Bali. Karena untuk apa uang yang melimpah namun warga justru menjadi pesakitan?
Menyembuhkan pengidap HIV itu juga biayanya jauh lebih mahal dan masyarakat kita belum tentu siap dengan itu. Makan sehari-hari saja terkadang masih susah, apalagi harus membayar biaya pengobtan berjuta-juta dimana persentase kesembuhannya belum tentu ada.
Sekian dampak negatif pariwisata di Bali ini saya sampaikan. Saya cuma berharap bahwa wadah bertemunya para kaum Gay di Bali semakin berkurang dimana semoga hal itu juga akan mengurangi jumlah penderita HIV/AIDS di Bali. Apa pendapat anda?
Naik-Turun Sebuah Kehidupan
Ada ungkapan yang sepertinya sering kita dengar dalam hidup kita yaitu “hidup seperti roda yang berputar. Kadang diatas, kadang dibawah.”
Ucapan tersebut sepertinya bukan hanya diamini oleh kita orang Indonesia, namun saya yakin bahwa kebanyakan manusia akan setuju dengan hal tersebut.
Bukan karena siapa yang mengatakannya pertama kali. Namun sepertinya, semua manusia mengalami hal yang sama. Kita memiliki satu kesamaan dalam hidup yang sulit terbantahkan, yaitu adanya perputaran roda kehidupan ini.
Pada satu waktu, kita pernah merasakan kebahagiaan yang teramat sangat menyenangkan. Namun pada kehidupan selanjutnya, mungkin tidak lama setelah kebahagiaan yang baru kita rasakan tersebut, kesedihan menjadi hal utama yang kita rasakan setiap hari. Setelah itu, bahagia menyapa kembali.
Begitu seterusnya perjalanan hidup manusia. Kita.
Kita terkadang menganggap bahwa seseorang sepertinya tidak akan pernah jatuh miskin dalam hidupnya karena saking banyaknya aset yang ia miliki. Waktu menjelang dan tidak lama kemudian kita mendengar kabar bahwa orang tersebut bangkrut. Semua asetnya disita dan bahkan meninggalkan utang finansial yang nilainya sangatlah besar.
Bangkit lagi, kaya lagi lalu mempertahankan kembali kekayaan tersebut atau melakukan hal lainnya yang dianggap perlu.
Begitu terus skenarionya. Terdengar membosankan, namun pada kenyataannya, drama kehidupan memanglah begitu manis, biasa saja, atau malah pahit sekali.
Dari sini kita belajar banyak hal. Memetik hikmah atau malah menjadi-jadi. Semua pilihan ada pada diri kita sendiri. Bahkan Tuhan mengatakan pada kita lewat firman-Nya bahwa kita bisa merubah hidup kita sendiri menjadi siapapun. Jika ingin menjadi orang baik, berniat dan berperilakulah seperti orang baik. Begitu juga sebaliknya.
Tuhan memberikan kita kendali dan kekuatan untuk merubah nasib diri kita sendiri.
Takdir memang sudah ditetapkan, namun kita tidak tahu takdir seperti apa yang telah ditetapkan untuk hidup kita sendiri. Karena itu, kita selalu berusaha sebaik mungkin dalam banyak hal yang kita lewati.
Saya pun tidak tahu apa yang telah menunggu saya beberapa detik ke depan meskipun saya sendiri sudah memiliki rencana untuk waktu tersebut. Penuh dengan rahasia dimana apa yang terjadi di masa depan dalam hidup kita tidak bisa kita pastikan dengan tepat.
Tapi meskipun demikian, kita tetap melakukan yang terbaik dalam banyak hal. Karena kita percaya, bahwa di ujung perjalanan sebuah kehidupan, sekelam apapun lorong yang kita lewati, akan ada cahaya kebahagiaan yang bisa kita rasakan.
Kapan kebahagiaan itu bisa diraih dan seberapa lama kita bisa menjalaninya, tetap saja hal itu menjadi rahasia Tuhan. Jodoh, rejeki, dan kematian adalah takdir yang selalu dirahasiakan agar kita lekas membenahi diri dalam sebuah kehidupan.
Mari sama-sama tetap menjadi orang yang baik, hingga naik-turunnya sebuah kehidupan pun selalu menjadi pelajaran hidup yang berharga untuk kita ambil hikmahnya.
Segala Hal Dalam Hidupmu Bisa Dijadikan Konten Blog
Hari ini, 1 atau 2 jam yang lalu saya baru saja membuat blog ini dan artikel yang anda baca ini adalah tulisan ketiga yang Alhamdulillah bisa saya publikasikan.
Beberapa atau banyak blog yang pernah saya kunjungi, memiliki artikel yang sepertinya dikhususkan bagi blogger baru yang baru memulai belajar membuat dan menulis di blog. Artikel tersebut bernada saran mengenai artikel seperti apa yang harus dipublikasikan karena ada beberapa blogger yang masih kebingungan akan menuliskan apa.
Saya pun awalnya merasakan kebingungan yang sama ketika mulai menulis di blog. Pertanyaan mengenai “mau menulis apa?” membayangi pikiran saya karena saya awalnya tidak terbiasa dengan hal itu. Saya dulunya bukanlah penulis artikel, blogger atau semacamnya. Jadi menjadi wajar jika hal itu membuat saya kebingungan.
Karena itu, saya ingin menambahkan 1 saran kecil dari apa yang sudah diinformasikan oleh blogger lainnya terkait hal ini. Yaitu saya ingin menyampaikan kepada anda bahwa:
“ Segala hal dalam hidupmu bisa dijadikan konten blog.”
Apapun yang menurut anda bisa diceritakan, maka sampaikanlah dalam bentuk tulisan di blog anda.
Meskipun saya bukanlah seorang profesional dalam bidang ini, tapi setidaknya saat membuat blog ini, saya sudah mampu membuat 2 tulisan sebelumnya selain apa yang anda baca saat ini.
Apa yang saya lakukan sederhana saja. Karena saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat, maka hal itu kemudian menjadi ide artikel pertama blog ini dimana saya berharap bisa berguna dengan memanfaatkan blog sebagai salah satu media untuk menyebarkan kebaikan yang saya yakini.
Saya bisa saja memulainya dengan menuliskan apa latar belakang yang membuat saya memilih nama Chave-Key sebagai nama dan alamat URL blog ini, namun saya akhirnya tidak melakukannya karena artikel pertama yang telah saya publikasikan sebelumnya lebih nyaman untuk saya tuliskan dan sampaikan.
Dari kedua hal itu saja, saya sudah bisa memiliki 2 konten blog untuk saya jadikan artikel. Belum lagi, kedua hal itu juga yang seolah mendominasi pikiran saya ketika memikirkan mengenai akan menulis apa setelah baru saja membuat blog ini.
APa yang ingin saya sampaikan adalah, apapun itu, bisa dijadikan artikel atau konten di blog anda. Kita telah hidup sekian tahun, mengalami banyak hal dalam hidup, gelisah memikirkan sesuatu, dan kesemuanya itu bisa anda curahkan dalam bentuk tulisan.
Tidak masalah jika anda akan mempublikasikan mengenai belanjaan atau snack apa yang baru saja anda beli di mini market, berapa harga sapu yang baru saja anda beli di pasar, gelas model apa yang ingin anda miliki, semua itu adalah apa yang ada dalam hidup dan pikiran anda yang bisa anda bagikan ke orang lain dalam bentuk sebuah konten (tulisan).
Yang perlu anda lakukan sebenarnya adalah dengan tidak membatasi diri bahwa anda harus belajar menulis konten yang berkualitas dulu baru kemudian mempublikasikannya di blog. Anda bisa kok mempublikasikan 100 kata untuk artikel pertama anda dulu sembari belajar secara langsung. Bisa jadi, minggu depan anda sudah akan mampu mempublikasikan 200 kata per artikel.
Begitu selanjutnya sehingga tanpa anda sadari, ternyata kualitas menulis anda sudah berkembang seiring waktu yang anda manfaatkan.
Kalau mau disederhanakan, proses yang saya sarankan untuk anda lakukan sejak awal adalah sebagai berikut:
Buat blog > Tulis apa saja > Publikasikan > Lakukan itu kapanpun anda sempat
Itu saja!
Coba perhatikan ketika anda menggunakan Facebook atau media sosial lainnya, hal itu sebenarnya sudah memacu anda untuk mulai menulis. Meskipun itu hanyalah menulis status galau yang tidak berkesudahan. Meskipun status tersebut hanyalah terdiri dari 5 atau 10 kata saja. Yang terpenting dari hal tersebut adalah anda sebenarnya sudah mulai menulis. Anda hanya belum memotivasi diri sendiri saja untuk melakukan yang lebih dari itu.
Karena itu, pening juga untuk memberikan dukungan bagi diri anda sendiri untuk menulis di blog, melebihi dari apa yang sudah pernah anda bagikan di Facebook. Namun jika hal itu masih sulit untuk anda lakukan, menulislah di blog sebagaimana yang anda lakukan di Facebook.
Tidak usah peduli dulu mengenai jumlah katanya. Tidak ada kewajiban bagi anda untuk menulis hal-hal yang ingin anda bagikan di blog dalam jumlah kata yang mencapai hingga ratusan atau ribuan. Tidak ada larangan pula bahwa di blog itu tidak boleh menulis 1 kata saja. Tidak ada.
Yang ada adalah bagaimana anda membatasi diri anda. Padahal, blog sendiri paling hanya melarang untuk mempublikasikan konten terlarang sebagaimana pedoman mutu yang telah dikeluarkan oleh Google maupun platform blog yang anda gunakan.
Hei, tidak ada larangan bagi anda yang ingin menuliskan mengenai bagaimana menjadi pasangan yang tidak galau, membagikan cara membersihkan kamar yang lebih praktis, atau sesederhana menginformasikan apa warna favorit anda.
Anda memegang kendali atas apa yang ingin anda publikasikan di blog. Karena itu, manfaatkan pula kendali tersebut untuk tidak menghalangi anda menuliskan apapun yang terjadi dalam hidup anda.
Jika hidup anda memang anda anggap sangat berarti, bukankah akan ada banyak cerita yang bisa anda tuliskan di blog?
Pakaian Kotor dan Sifat Malasku
Saya jarang sekali menggunakan jasa laundry untuk mencuci pakaian yang sebelumnya saya gunakan. Bukan karena menganggap layanannya akan membuat saya semakin boros, tapi saya selalu berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih bisa saya lakukan sendiri.
Selama bertahun-tahun, setidaknya untuk 2 atau 3 tahun belakangan, berapa kali saya menggunakan jasa laundry sepertinya masih bisa dihitung jari. Alhasil, dalam seminggu saya bisa mencuci pakaian kotor hingga 2 atau 3 kali.
Sepulang kerja, saya terkadang merendamnya dahulu hingga beberapa menit sampai hitungan jam lalu mulai mencuci hingga menjemurnya. Seringkali, rendaman pakaian kotor itu juga bisa sampai semalaman hingga harus saya selesaikan esok harinya. Bukan karena banyak, namun sepertinya karena malas yang selalu menghinggapi diri saya sendiri.
Melihat diri saya yang seperti ini, sangatlah tidak cocok dengan peribahasa yang mengatakan bahwa “Jangan tunda pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini.”
Sifat malas yang saya miliki dalam menyelesaikan pekerjaan kecil seperti ini kerap kali berimbas menumpuknya pekerjaan dalam hunian. Belum termasuk pekerjaan lain yang saya lakukan diluar kantor. Semua menumpuk.
Saya jadi berpikir, mungkin sifat malas ini juga yang membuat saya lebih lama mencapai atau mendukung impian saya untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi. Bagaimana mungkin saya akan mampu menciptakan hal-hal besar jika hal kecil yang beginian saja saya belum mampu mengemban tanggung jawabnya?
Mengatakan hal seperti itu, bukan berarti saya meyakini bahwa tidak akan ada “orang besar” jika tidak mampu melakukan hal-hal yang kecil karena garis hidup setiap orang akan berbeda-beda.
Namun, itulah yang sering saya katakan terhadap diri saya sendiri bahwa saya harus memulainya dari hal-hal yang kecil karena ketika semua itu digabungkan, maka banyaknya hal-hal kecil akan bisa ditumpuk menjadi satu hal besar.
Ingatkan saya jika pemikiran tersebut keliru. Tapi itulah yang saya yakini meskipun bisa saja saya salah dalam hal tersebut.
Pakaian kotor hanyalah satu dari sebagian banyak hal kecil dalam hidup saya dimana saya belum bisa konsisten untuk menanganinya. Seprei kasur masih jarang saya cuci, handuk yang saya gunakan kadang 2 minggu sekali saya bersihkan, ngepel lantai kamar tidak setiap hari saya lakukan, sepatu kerja yang sudah berbulan-bulan tidak lagi saya gunakan belum juga saya cuci dan masih banyak hal lainnya yang sebenarnya remeh-temeh.
Ujung-ujungnya, saya malah menumpuk banyak hal-hal kecil yang akhirnya malah menjadi beban tersendiri bagi diri saya sendiri dimana saya seharusnya melakukan yang sebaliknya.
Saya tidak tahu apakah saya terlalu mendramatisir dan mengada-ada mengenai hal ini. Apalagi menghubungkannya dengan berbagai impian lainnya yang berusaha saya capai. Tapi begitulah hidup saya berjalan, terutama bagaimana saya memikirkan sesuatu.
Saya juga jadi berpikir dan mengamini perkataan bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Buktinya rasa malas yang menghinggapi saya, harus bisa saya lawan setiap hari. Seolah tidak ada waktu untuk istirahat agar ego yang ada dalam diri saya benar-benar bisa saya kendalikan.
Anda punya saran untuk saya atau mau membagikan cerita bagaimana anda mengatasi rasa malas ini? Beritahu saya ya. Terima kasih.
Saya Ingin Menjadi Manusia yang Bermanfaat
Tidak tahu malu memang saya ini. Berani-beraninya menuliskan deskripsi di blog Tumblr ini sebuah harapan saya sendiri mengenai “ingin menjadi manusia yang bermanfaat.”
Hidup saya itu bisa dibilang sederhana atau bahkan terbilang sangat tidak menarik menurut orang kebanyakan. Mungkin ya. Tidak banyak hal besar yang terjadi meskipun saya berusaha untuk mensyukuri semuanya.
Teman-teman saya sudah jadi seorang bapak dan ibu, saya belum. Mereka sudah memiliki anak, saya pasangan saja belum ada. Beberapa yang lainnya sudah bisa dianggap sukses dengan pekerjaan atau karirnya yang mampu menghasilkan uang hingga belasan dan puluhan juta. Saya masih setia dengan gaji kantor yang mungkin kebanyakan orang sudah mencapainya bertahun-tahun silam.
Tapi, saya tetap mensyukurinya.
Perjalanan hidup membawa saya mengalami banyak hal. Bertemu dengan banyak orang baru, mendapatkan teman baru dan sebagainya. Masih samalah dengan kebanyakan orang lainnya.
Tapi semakin lama, saya merasa tidak ada perubahan besar yang mampu saya ciptakan sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Tidak ada pencapaian baru yang benar-benar berdampak serius secara positif bagi diri saya maupun orang lain.
Karena itu, saya menganggap bahwa hidup saya belumlah seberguna yang saya harapkan. Namun demikian, saya akan tetap hidup sebagaimana yang telah ditakdirkan sembari mencari “celah baru” untuk memulai sesuatu yang “besar.”
Saya tidak tahu akan sebermanfaat apa di masa depan, namun saya akan berusaha untuk melakukan sesuatu yang baik dan tidak merugikan pihak lain.
Tentunya sebisa saya sendiri.
Saya juga masih masih bingung hal besar apa yang akan saya lakukan, saya pikir saya akan tetap menjaga diri untuk menjadi orang baik sambil berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan manfaat yang kemungkinan bisa saya bagikan.
Awalnya saya pikir bahwa dengan tidak mengganggu orang lain saja, maka saya sudah mulai menjadi bermanfaat bagi mereka. Namun saya juga berpikir bahwa pola pikir saya seperti itu hanya akan membuat saya menjadi manusia yang pasif.
Disisi lain, saya ingin berpartisipasi aktif untuk mewujudkan kebaikan dan manfaat apapun yang ada dalam benak saya.
Jika ini adalah curhat, seingat saya ini mungkin yang pertama kali yang saya lakukan. Hal ini sepertinya belum pernah saya katakan kepada teman-teman saya mengenai impian kecil ini.
Blog ini pun saya maksudkan untuk menjadi manusia yang bermanfaat karena siapa bisa menyangka bahwa hal itu bisa mendukung cita-cita kecil saya. Maaf juga jika masih bersifat anonim karena saya bukan atau belumlah bisa menjadi orang yang sanggup dikenali oleh orang baru. Tahu sendirilah di internet ini banyak sekali orang yang bisa saya temui.
Karena itu, saya ingin berbagi secara sembunyi-sembunyi tanpa harus berpikir bahwa orang lain wajib mengetahui siapa saya. Dan sepertinya itu juga bukan hal yang penting untuk anda lakukan dengan mengenal siapa diri saya.
Cukuplah saya belajar menulis disini sembari berbagi cerita dan mungkin sedikit pemikiran yang saya dapatkan tentang kehidupan ini. Mohon untuk mendukung apa yang saya lakukan ini karena bisa saja dukungan anda akan menguatkan saya untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Tapi pastikan bahwa dukungan tersebut tidak akan membuat anda merasa kerepotan karena hal itu sangat tidak ingin saya ciptakan.
Terima kasih sudah membaca ini dan semoga anda pun bisa menjadi manusia bermanfaat sebagaimana yang anda dan keluarga anda harapkan, aamiin.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming