Kita mungkin akan bertemu,
di waktu yang salah,
di tempat tak terduga,
Namun yang setia,
akan tetap berada di tempatnya.
Untuk Satu Hari Saja
Untuk satu hari ini saja
Aku ingin mengingatmu dengan sesadar-sadarnya
dengan pikiran yang memang hanya tentang kamu
dengan hati yang dipenuhi cinta kepadamu
dengan suara yang selalu menyebutkan namamu
dengan ingatan yang sepenuhnya hanya ada sosokmu
Untuk satu hari ini saja
aku akan menghabiskan waktu ku
untuk mengharu biru
mengenang mu
merindumu
Karena esok ku tak yakin,
Apakah hati ku masih rela
mencintamu
yang memang bukan untukku
~Astari~
Aku menutup halaman demi halaman buku kumpulan puisiku itu. Sudah cukup untuk malam ini, pikirku. Sambil tak lupa membaca doa sebelum tidur, terselip juga sebuah doa agar aku tak memimpikan dia lagi. Tolong, Tuhan. Aku mohon.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sania menatap deretan-deretan angka kalender yang tergantung di dinding kamarnya, hembusan angin yang masuk melalui jendela kamarnya membuat kerudung berwarna merah yang sedang ia kenakan tertiup dengan perlahan, Sania menarik nafas panjang sembari merapikan kerudungnya yang di terpa angin, ia berjalan menuju meja belajarnya. Ia mengambil sebuah buku mungil bersampul biru lalu membuka lembaran demi lembaran buku itu, ia membaca halaman demi halamannya semacam mengingat sebuah kejadian yang dulu pernah terjadi, sembari membaca ada seutas senyum yang ia sunggingkan di bibir mungilnya ketika kata demi kata yang ada didalam lembaran buku itu ia eja.
Dulu, Sania adalah gadis terkenal di kampusnya tak hanya cantik ia juga pintar dan berbakat dalam berbagai bidang. Tak heran, jika banyak lelaki yang dulu mencoba untuk mendekatinya. Sania memiliki berbagai prestasi mengagumkan, ia pernah menang dalam sebuah acara foto model, fashion show, dan kejuaraan-kejuaraan lainnya, bahkan ia pernah di daulat sebagai duta pendidikan dan budaya di tempat ia tinggal. Sania gadis yang periang, ia pandai dalam bergaul tak heran jika ia memiliki banyak teman di berbagai tempat. Tapi, itu dulu sebelum Sania mengenal sebuah kain penutup yang saat ini selalu ia kenakan.
Sania memang memiliki segalanya, ia punya banyak teman, cerdas, orangtua yang kaya raya, ia juga memiliki seorang kekasih yang sangat mencintainya, beserta hal-hal lainnya yang sangat di impikan oleh para gadis diluar sana. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di benak Sania meskipun orang-orang beranggapan bahwa hidupnya sempurna Sania tetap merasa ada yang kurang. Ada sesuatu yang terasa begitu kosong di sudut hatinya.
Hingga suatu hari, Sania di kenalkan pada sebuah kegiatan yang selama ini enggan sekali ia ikuti, alasan Sania orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut terlihat begitu cupu dan tak modis dalam hal berpakaian “masa pakek kerudung sampe sepanjang gitu banget, kenapa gak sekalian aja pakek tuh mukena”. Ketus Sania,
Meskipun dengan keterpaksaan Sania terus mengikuti karena rasa penasarannya. Entah kenapa, Sania justru merasa sangat tenang ketika berada di dalam lingkaran kegiatan itu. perasaan yang begitu damai yang tak pernah ia dapatkan saat ia acapkali berhura-hura dengan teman-teman lainnya. Sania tersadar inilah yang selama ini membuat hatinya terasa kosong, ia tak pernah mengenal islam secara lebih dalam hanya sebatas tahu hal-hal pada umumnya seperti kewajiban untuk shalat. Sania sadar selama ini ia begitu jauh dengan Tuhannya.
Perlahan, Sania memantapkan diri untuk mengenakan penutup kepala itu, ia mulai belajar banyak tentang islam. Ia mulai memperbaiki diri. Ia mulai menjaga interaksi dengan lawan jenisnya.
Aneh memang, Sania yang dulu terkenal heboh berubah total menjadi Sania yang begitu kalem dan santun. Ia selalu menundukkan kepalanya ketika berjalan, ia juga tak mau lagi sekedar bersalaman dengan lawan jenisnya. Teman-teman di kampus Sania heran, apa yang terjadi dengan Sania? Cara berpakaiannya pun berubah. Sania yang dulu berpakaian sangat modis dan terkesan sexy kini berubah menjadi Sania yang setiap hari mengenakan gamis juga kerudung yang begitu panjang. Sania juga tak aktif lagi dalam foto model, ia mengundurkan diri meski saat itu karirnya sedang bersinar terang. Sania lebih memilih untuk aktif dalam sebuah organisasi dakwah di kampusnya.
Ada yang menilai Sania kelihatan lebih cantik dengan pakaian seperti itu, namun ada juga yang berpikiran yang tidak-tidak tentang Sania. Tapi Sania acuh, ia tetap istiqamah pada pilihan yang sudah ia jatuhkan karena ia merasa inilah jati dirinya yang selama ini ia cari-cari.
Bahkan ia juga membuat keputusan paling pahit dalam hidupnya. Ia korbankan perasaannya hanya demi Sang Maha pencipta. Ia mengakhiri hubungan yang sudah ia bangun selama 5 tahun bersama lelaki yang sangat ia cintai. Sania sadar ia harus menempatkan cinta tertingginya pada Sang Pencipta, sebelum ia mencintai makhluk yang diciptakan oleh-Nya. Sakit memang, sakit sekali.Tapi ia percaya Tuhan tau mana yang terbaik untuknya, ia percaya jika berjodoh mereka akan di persatukan kembali, dan jika tidak Tuhan pasti akan memberikan ganti yang jauh lebih baik. Karena, apapun yang kita tinggalkan karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik, percayalah.
Sania menutup buku mungil itu, ada linangan airmata disudut mata indahnya.
Abi, Umi. Amang lelah, tapi Amang tidak mau berhenti.
Abi, Umi. Amang sedih, tapi Amang percaya ini hadiah terbaik buat Umi dan Abi.
Amang mencarinya, Umi. Dibalik sajadah, di tiap halaman Al-Quran. Kata orang berjanggut putih itu, hadiah untuk Umi ada di sana. Tapi nihil. Amang tak menemukannya, meskipun sepanjang hari Amang membolak-balik kedua benda itu, menelaah satu demi satu huruf yang tertera di keduanya.
Abi, kata Abi hadiah yang Abi inginkan ada dibalik orang-orang yang bertasbih di dalam masjid tiap malam. Tapi Amang tidak menemukannya, Abi. Amang memandangi bagian belakang jubah putih orang-orang penggemar masjid itu tiap malam.
Tapi, tak ada apa-apa.
Abi, Umi. Sebenarnya hadiah untuk kalian, hadiah yang sangat diinginkan Umi dan Abi itu ada di mana?
Amang mencari di seluruh kota, di majelis-majelis masjid yang sering Abi bicarakan, di pengajian yang sering Umi datangi. Panti asuhan tempat para yatim piatu yang sering kalian kunjungi pun sudah Amang cari. Tapi tak ada hasil.
Lalu, Amang mesti cari ke mana, wahai Abi, Umi?
Amang tak tahu mesti ke mana lagi mencarinya, Abi, Umi. Amang boleh kan tidur sejenak di atas sajadah ini? Amang mau tidur dulu, besok Amang lanjutkan lagi mencari hadiahnya
***
Abi, Umi. Pagi ini terlihat terang sekali saat Amang bangun. Ah, itu seperti Abi dan Umi melambaikan tangan dari kejauhan. Amang ke sana ya, Abi?
Dan itu benar, itu engkau, Abi, bersama Umi di sebelahmu! Senang tak terkira bertemu denganmu, tapi sekaligus kecewa karena Amang belum menemukan hadiah untuk Abi dan Umi.
Ah, tangan Umi tiba-tiba membelai. Amang melihat Umi tersenyum.
“Terimakasih, Amang. Ini hadiah terbaik untuk kami”
Hadiah? Amang belum menemukannya, Umi.
“Kamu sudah menemukannya, anakku. Kamu menemukannya lewat telingamu yang mendengarkan kajian-kajian Islami di pengajian dan majelis masjid. Kamu menemukannya lewat mulut dan lisanmu yang tiada henti membaca dan menghapalkan isi dan makna Al-Qur’an. Kamu menemukannya lewat tubuhmu yang selalu tergerak menuju masjid, bersimpuh pada Allah swt bersama orang-orang alim di tengah malam di atas sajadahmu. Kamu menemukannya lewat tanganmu yang selalu berbagi dengan anak yatim dan mereka yang membutuhkan. Kamu menemukannya lewat hatimu yang tulus dan ikhlas melakukan itu semua”
Tapi, Umi. Amang tidak membawa apa-apa sekarang.
“Kamu mungkin tidak membawa apa-apa. Tapi lihatlah, Amang. Apa yang telah kamu lakukan telah membawa kami ke tempat penuh kebahagiaan ini”
Ah, iya. Amang melihatnya. Tempat ini sungguh damai dan tenang.
“Kamu tahu tempat ini, Amang? Ini adalah janji Allah swt. pada orang-orang yang taat dan beriman pada-Nya”
Iya, Abi. Jadi ini hadiah yang Abi dan Umi sangat inginkan?
“Iya. Dan tetaplah dengan keimanan dan ketaqwaanmu, Amang. Abi dan Umi ingin kita semua berkumpul lagi di sini, saat tiba waktunya”
Amiin, Insha Allah, Abi.
***
Amang terbangun.
Ah, hadiah terindah untuk mereka ternyata tempat itu.
Amang tersenyum di sepertiga malam itu. Segera terbangun lalu mengambil wudhu. Sudah masuk waktu Tahajjud.
***
Amang menengadahkan tangannya ke langit. Robbigfirli wa lii walidayya warhamhuma kamaa Robbayaani shogiiroo.
Yaa Allah, Maha Pencipta Langit, Bumi dan seluruh isi di dalamnya. Tempatkanlah orang tuaku di surga-Mu.
Surga-Mu lah, hadiah terindah untuk semua mukminin di seluruh bumi ini.
Atas nama cinta,
ketidaksengajaan adalah apa yang kusebut anugerah.
Dan pertemuan denganmu,
adalah sesuatu yang sanggup kusyukuri,
seumur hidupku.
‘Sa, kamu kok kayanya cape banget, apa ga sebaiknya kamu istirahat dulu?’
Terdengar sebuah kalimat pertanyaan saat aku menata ulang konde yang terlihat sedikit berantakan di depan kaca yang terdapat di dalam kamar sepupuku, Intan.
‘Oh, emang muka gue parah banget ya, Ra?’ tanyaku pada Rara, adik satu-satunya Intan.
‘Ga kok, tenang, lo masih sangat cantik. Cuma keliatan aja tuh muka lo kaya yang kecapean gitu. Lo beneran ga tidur ya semaleman?’ tanyanya lagi. Aku masih menatap kaca dan merapihkan make up, berharap mukaku tidak separah yang dikatakan Rara.
‘Iya, abis gimana dong, Ra. Gue kan panitia acara nikahan kakak lo itu. Ga bisa gue tidur nyenyak kalo semuanya belum oke. Semalem aja kan masih berantakan gitu’ jawabku, kali ini aku menguap besar sekali.
‘Tuh kan, pasti ngantuk banget deh. Kasian lo. Gue aja adenya ga gitu-gitu amat, haha’ jawab Rara seenaknya. Anak ini memang anggota keluarga yang boleh dikatakan paling cuek dalam hal persiapan resepsi pernikahan kakak semata wayangnya ini.
‘Iya, ngantuk banget emang. Haooam. Ah gue balik dulu deh kesana, siapa tau ada yang butuh bantuan gue’ seruku, membuka pintu kamar dan kembali ke acara.
Aku bersin sedari tadi melawan penyakitku sendiri, alergi debu, demi tertatanya kamar baruku. Entah sudah berapa jam aku berkutat dengan tumpukan kardus dan barang-barang berserakan. Tinggal sedikit lagi semuanya selesai.
Kriiinnggg..
Telpon genggamku berbunyi. Kulihat tertera nama Ibu pada layarnya.
"Halo..", sapaku.
"Halo May. Gimana di sana, Nduk? Sudah makan?", tanya ibuku.
Selalu pertanyaan itu yang mengawali, pikirku.
"Baik, Bu. Belum, masih beres-beres. Kurang sedikit lagi selesai. Ibu lagi apa?"
"Kalo sudah selesai, ndang beli makan biar nggak lemes. Ini lagi nonton tv. Ada yang kurang, Nduk? Apa Ibu perlu ke sana buat bantu kamu?"
"Nggeh Bu, Untuk sementara ini belum ada Bu. Nggak perlu Bu, Ibu di rumah saja. Lagian belum musim libur juga. Ibu nggak perlu khawatir kan Maya sudah besar bu. Hihihi. Ibu nonton tv sama Ayah?"
"Ya udah kalo gitu. Nggak, Nduk. Ayahmu ada walimah di rumah temannya. Jadi ibu sendirian. Kamu baik-baik ya di sana. Jaga diri. Jangan lupa makan."
"Nggeh Bu, siap."
"Ya udah kalo gitu, teruskan aktivitasmu."
"Nggeh, Bu."
Aku tersenyum sambil mematikan sambungan telpon dengan ibu. Ibu selalu begitu. Mengkhawatirkan anak-anaknya. Aku memaklumi karena Ayah dan Ibu sekarang hanya tinggal berdua. Masku sudah berumah tangga dan tinggal di kota sebelah bersama istrinya. Dan aku masih melanjutkan studiku di tengah pulau Jawa. Tiba-tiba kangen rumah.
***
Kuedarkan pandanganku. Kamar baruku ukuran 3x3. Tidak terlalu luas memang, tapi setidaknya di sini lebih nyaman dari kos kemarin. Pandanganku terhenti pada meja kamarku. Di sana ada beberapa pigura tertata. Aku melangkah ke arah meja. Mengambil salah satunya. Ada sebuah foto yang menarik hatiku.
Dalam pigura ukuran 3R itu terdapat fotoku dan beberapa teman SMAku. Aku bertemu mereka dua bulan lalu saat libur panjang. Bisa dibilang kami mengadakan reuni saat itu. Dalam foto yang kupegang, terdapat dua barisan yang dibuat teman-teman. Baris yang berdiri adalah barisan laki-laki dan yang duduk adalah barisan perempuan. Kami berfoto di sebuah tempat makan lesehan. Seperti biasa, ngumpul-ngumpul tanpa makan itu bagai teh tanpa gula. Aku berada dipojok kanan memegang pundak teman sebangkuku yang saat itu tepat berada di sebelah kiriku sambil tersenyum. Aku melihat mereka satu per satu sampai aku terhenti pada sosok laki-laki yang berada tepat di atasku. Sosok laki-laki berambut cepak, berkulit sawo matang, dengan tinggi rata-rata laki-laki pada umumnya, dan memasang wajah sumringah saat itu. Namanya Arif, Arif Wicaksono. Pikiranku kembali ke masa itu.
Sehari setelah reuni berlangsung kudapati sebuah pesan dalam Facebookku. Arif? Tumben, pikirku.
May?
Iya, Rif. Ada apa?
Tinggal di mana kamu sekarang?
Di Jogja, Rif.
Kamu di mana sekarang?
Aku kerja di Surabaya May. Nggak jauh-jauh. hehe.
Kamu di sana sama suamimu ta?
Hey! Ngawur. Kapan aku nikah?
Haha.. ya mungkin May.
Lha liat sendiri kemarin temen-temen kita rata-rata
udah pada nikah jadi banyak yang nggak bisa dateng.
Yang datengpun udah pada lamaran.
Lha aku kan dateng Rif.
Berarti aku belum nikah kan?
Udah lamaran berarti?
Belum juga. hahaha..
Kapan lamaran May?
Nunggu Rif.
Nunggu Apa?
Emang anak mana?
Nggak tau.
Lha ko' nggak tau?
Hanya Allah yang tau.
Bilang aja jomblo May,
susah amat. hahaha..
Dasar. Lha kamu kapan nikah Rif?
Bentar lagi May. Do'ain ya.
Hwee.. selamat-selamat.
Undang-undang lho Rif.
Beres
Anak mana?
Deket rumah May :D
Enak dong.
Haha,, begitulah.
Kamu di rumah sampai kapan?
Dua minggu lagi sebenernya.
Tapi Minggu mau balik ke Jogja bentar
buat KRSan.
Lha kamu masih kuliah toh?
Iya Rif lanjut S2.
Ya udah kalo gitu.
Aku mau off dulu.
Oke
Percakapan terhenti. Dan aku masih heran. Walau kami sekelas, tapi kami hanya bercakap seperlunya saja karena aliran kami berbeda. Reuni kemarin kami hanya bertegur sapa. Entahlah, akupun kembali ke Jogja untuk KRSan beberapa hari. Sesampainya di rumah aku makan sambil menonton tv.
Aku melahap cepat makananku. Penasaran dengan perkataan Ayah. Setelah itu aku langsung menghampiri ayah.
"Yah, ceritanya gimana?"
"Waktu itu, setelah Ayah sama Ibu nganter kamu ke stasiun, ada yang ketuk-ketuk pintu rumah. Ternyata anak laki-laki. Dia memperkenalkan diri, namanya Arif teman SMAmu. Ya Ayah bilang kalau kamu nggak ada. Tapi ternyata dia malah jawab kalo dia nggak nyari kamu tapi nyari Ayah."
"Terus, Yah?"
"Ya dia bilang, kalau kedatangannya ke sini mau ngelamar kamu, Jadi dia minta izin dulu ke Ayah. itu katanya. Ya Ayah agak kaget juga. Kamu nggak pernah cerita apa-apa tapi tiba-tiba ada laki-laki datang ke Ayah mau minta kamu. Akhirnya Ayah tanya dia siapa, latar belakangnya gimana, banyak lah. Sampai akhirnya Ayah bilang. Kalau Ayah terserah Maya, kalau Maya setuju ya Ayah sama Ibu cuma bisa ngedo'ain dan ngasih restu. Dan Arifnya bilang kalo sebenernya kedatangan dia ke sini kamu nggak tahu apa-apa. Dia datang atas inisiatifnya sendiri. Kalau Ayah memperbolehkan dia bakal datang ke sini lagi buat nemuin kamu. Tapi kalo nggak ya dia bakal stop sampai di sini karena tujuan dia ke sini minta izin dulu ke Ayah sebagai walimu."
"Terus Ayah jawab apa?"
"Setelah Ayah ngobrol sama Arif, sepertinya dia anak baik, Nduk. Lha caranya seperti ini aja sudah ngasih nilai plus di mata Ayah. Sekarang tinggal kamu saja yang memutuskan. Dia temanmu kan? Setidaknya kamu tau dia bagaimana. Dia bilang ke Ayah mungkin hari Sabtu dia mau ke sini."
"Iya, Yah"
Setelah percakapan dengan Ayah, pikiranku kacau. Banyak pertanyaan yang membuatku bingung. Mau kirim pesan ke Arif, tapi dia sepertinya adem ayem aja. Akhirnya kuurungkan.
***
Dan tibalah hari Sabtu. Aku semakin gelisah. Tak tau jam berapa dia datang. Aku sudah beberapa kali tanya ke Ayah tapi Ayah tetap dengan jawaban yang sama, Ayah tidak tau.
Sampai pada akhirnya.
Tok tok tok,
Aku hampir terlonjak karena kaget.
"Tuh May, buka gih.", kata Ayah.
"Nggak ah, Ayah saja."
"Lha yang dari tadi tanya jam berapa dia ke sini siapa?", Ayah setengah menggodaku.
Aku memasang wajah cemberut.
"Iya deh Ayah yang buka."
Ayah bergegas membuka pintu.
Terdengar samar-samar suara Ayah.
"Masuk Le, sudah ditunggu daritadi."
Aku menepuk jidat.
Ayah bercakap dengan Arif. Entah apa yang dibicarakan aku tak bisa mendengarnya.
"Nduk, sini!", tiba-tiba Ayah memanggilku.
Jantungku berdegup kencang rasanya mau copot. Perasaan kemaren waktu reuni biasa aja kenapa sekarang seperti ini?
Aku mengampiri Ayah dan duduk di sebelah Ayah. Arif memandangku sekilas dan tersenyum. Aku membalasnya dengan senyum canggung.
"Nah, Ayah tinggal ke belakang dulu ya. Biar kalian bisa ngobrol."
"Nggeh, Pak.", hanya Arif yang menjawab. Aku cuma terdiam.
Keadaan hening pada detik berikutnya. Tidak ada yang membuka percakapan. Aku semakin kikuk.
Aku hanya memandang meja, bayangan Arif terpantul di sana, dia memandangku. Sial. Apa yang harus aku lakukan? Pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di kepalaku serasa menguap oleh perasaan gugupku sendiri. Pingin lari rasanya.
"Kamu masih tetep ya?", katanya sembari tersenyum. Aku sedikit lega karena dia lebih dulu membuka obrolan.
"Tetep apanya?", aku memasang wajah bingung.
"Diem, seperti dulu."
Aku hanya tersenyum.
Kami memang berbeda. Kata orang, aku adalah seorang yang pendiam. Sebenarnya bukan seperti itu. Aku hanya perlu waktu adaptasi untuk bisa 'bicara' dengan orang yang baru aku kenal. Ya bisa dibilang aku sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan hanya beberapa orang yang bisa akrab denganku. Tidak seperti dia yang bisa membawa diri dan hiperaktif waktu sekolah dulu.
"Aku bingung.", kataku.
"Bingung kenapa?"
"Bukannya kamu bilang akan menikah?"
"Iya benar."
"Terus kenapa kamu ke sini menemui Ayah dan bilang bahwa kamu mau melamar aku?"
"Karena wanita yang akan dan ingin aku nikahi adalah kamu."
Lidahku keluh. Pikiranku terbang saat kami chating di Facebook.
"Kamu nggak keliru?"
"Nggak, sama sekali nggak.", jawabnya tegas.
"Kenapa? Aku sama kamu seperti langit sama bumi. Kamu yang bisa membawa diri, kamu dengan kepercayaan diri yang tinggi dan kamu yang menurutku mempunyai selera tinggi apa nggak salah memilih orang yang miskin kosakata dan dingin seperti aku?"
Dia tersenyum.
"Apa kamu sadar kalau kita masih berpijak di bumi yang sama? Oke, aku akan membuat sebuah pengakuan."
Arif membenarkan posisi duduknya.
"Aku mengenalmu bukan sehari dua hari. Kita pernah satu kelas saat kelas 3. Kamu bagiku unik. Di kelas miskin kosakata seperti katamu, tapi kalo di dunia maya selalu pasang status dengan kata-kata yang nggak biasa. Sebenarnya sedari dulu aku memperhatikanmu, tapi karena kamu terlalu pendiam, aku jadi mengurungkan niatku. Aku juga pernah berpikir bagaimana jadinya kalau nanti aku menjalin hubungan denganmu? Bisa jadi aku yang banyak cerita, atau bisa jadi pula kita yang sama-sama diam. Tapi lambat laun aku sadar bahwa diammu nggak mutlak. Kamu masih bisa bercanda, tertawa dan berbagi cerita dengan orang lain. Seperti Dian, teman sebangkumu, Raya, dan Doni. Dan ketertarikanku memuncak pada malam itu. Kamu ingat waktu kita kerja kelompok di rumah Adi sampai maghrib?"
Aku mengingatnya sebentar.
"Iya, aku ingat. Kenapa?"
"Saat itu hujan, dan kerja kelompok sudah selesai. Kamu dan Dian entah berbicara apa aku tak tau. Dan aku bertanya pada kalian,
"Nggak pulang?"
"Bentar nunggu hujan reda." jawabmu.
"Kenapa?"
"Ini si Dian kan motornya rusak. Lha dia tadi ke sekolah naik becak. Kalo dia pulang sekarang, susah. Pangkalan becak diujung sana, sedangkan dia nggak bawa payung. Pinjem payung ke Adipun hujan kayak gini. Di depan genangan air di mana-mana, takutnya kalo ada lubang dia nggak tau. Sepatunya tinggal satu. Yang satunya kemarin kehujanan. Jadi ya mending nunggu terang."
"Lha kan ada Adi, tinggal minta tolong anter pulang aja pakek jas hujan. Terus itu sepatu dikresekin. Kan beres.", jawabku saat itu.
"Hehe.. sungkan Rif, udah ngerepotin Adi. Kita tadi aja udah dikasih makan segala macem masak ya disuruh nganter aku pulang?", jawab Dian.
"Ya elah, repot amat kalian berdua. Ya udah, biar Dian aku anter sampek rumahnya. Terus kamu sekarang pulang, keburu malem. Berani kan pulang sendiri?"
"Ya berani, biasanya juga pulang sendiri. Tinggal nyegat angkot aja dari sini."
"Dari kejadian itu aku berpikir bahwa kamu adalah orang yang perhatian dan itu menambah ketertarikanku. Apa kamu tau? Apa yang sebenernya ingin aku lakukan saat itu?"
"Apa?", tanyaku.
"Saat itu aku hendak menawarkan tumpangan untukmu. Karena aku tau rumahmu adalah rumah terjauh diantara kita. Tapi niat itu urung karena kejadian itu. Setelah kejadian itu, aku semakin tidak tau bagaimana mencari celah untuk bisa mendekatimu. Dan sampai akhirnya aku menyerah. Aku berpikir mungkin kamu hanya dihadirkan sebagai teman sekelasku."
Arif berhenti sejenak, dia meminum air mineral yang diberikan Ayah, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Perasaanku pelan-pelan sudah tidak bergejolak karena kesibukan kita menghadapi ujian ditambah lagi jarak kita yang semakin jauh. Aku tau kamu diterima di perguruan tinggi di Bandung sedangkan aku harus menempuh studiku di Surabaya. Kita terpisah, lost kontak sampai acara kemarin. Jujur aku agak terkejut melihat kedatanganmu. Ternyata aku masih memandangmu dengan perasaan yang sama. Tapi lagi-lagi aku tidak dapat mencari celah, hehe. Malang ya nasibku?"
Aku ikut tersenyum mendengarnya.
"Tapi ada satu cara yang setidaknya bisa membuatku sedikit bahagia."
"Oh ya, apa itu?"
"Waktu kita foto bersama, aku berusaha tepat di atasmu. Itu bukan sebuah kebetulan, tapi tak-tikku. Aku menuju barisan paling akhir pura-pura masih menghabiskan minum, padahal aku ingin melihat posisimu ada di mana. Ternyata dipojokan, hal itu lebih memudahkanku karena saat itu yang hadir juga tidak seberapa."
"Terus, apa yang membuatmu sampai ke sini?"
"Hmm.. sehabis acara reuni itu aku berpikir keras. Bagaimana cara mendekatimu. Aku takut kamu sudah punya pendamping hidup. Akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri mengirimmu pesan via Facebook. Eh, ternyata kamu pas online. Ya sudah terjadilah percakapan seperti kemarin. Aku jadi semakin yakin dan akhirnya aku datang ke sini."
"Kamu dapet alamat rumahku dari mana? Bukannya sebelumnya kamu belum pernah ke sini?"
"Kamu lupa ya kalau kita punya album kenangan? haha.."
"Oh iya ya."
"Jadi gimana?"
"Apanya?"
"Ya permintaanku ke Ayahmu? Kata Ayahmu aku disuruh tanya kamu langsung?"
"Aku boleh minta waktu nggak buat jawab ini? Ini semua terasa begitu tiba-tiba buatku."
"Nggak. Aku maunya sekarang. Aku mau kamu jawab dari kamu sendiri. Aku nggak mau kalo aku ngasih waktu akan ada banyak faktor yang mempengaruhi jawabanmu, entah itu internal atau eksternal. Kalo kamu mengijinkan aku menjadi bagian hidupmu, aku akan mempersiapkan diri mulai dari sekarang. kalo memang kamu menolak, aku akan menerimanya. Aku nggak apa-apa."
Aku terdiam, berpikir sejenak. Memejamkan mata sejenak.
"Rif..."
"Ya?"
"Aku harap kamu nggak menyesal dengan apa yang kamu perbuat seperti ini. Dan aku memberimu kesempatan buat jadi bagian dari hidupku."
Matanya terbelalak, senyumnya mengembang dan sepertinya dia kehabisan kata.
"A..a..a..ku boleh numpang ke kamar mandi May?"
"Iya, kamu masuk aja. Nanti belok kiri. Kamar mandinya dipojok sebelah kanan."
Dia bergegas dan sedikit salah tingkah.
Aku hanya tersenyum. Semoga pilihanku tidak salah.
Tak berapa lama dia kembali ke ruang tamu. Kulihat dia mengusap sudut matanya kemudian kembali duduk.
"Aku speechless.", katanya.
"Kenapa harus speechless?"
"Aku masih nggak percaya."
"Berarti kita seri?"
"Maksudnya?"
"Kita sama-sama nggak percaya dengan apa yang lawan bicara kita lakukan, haha.."
"Haha.. iya betul. Makasih ya May. Aku nggak bisa menjanjikan apa-apa ke kamu. Mungkin hubungan kita tidak seperti yang lain. Aku mengharap komitmen dari kamu. Kita akan terpisah oleh jarak demi kehidupan yang lebih baik. Aku akan mempersiapkan diriku untuk kehidupan kita mendatang. Mungkin aku nggak bakal sering-sering menghubungimu, aku harap kamu mengerti dengan rutinitasku. Aku akan mengambil banyak lembur. Jika aku rasa waktunya sudah tepat, aku akan kembali ke sini, as soon as possible."
"Baiklah, jika itu maumu. Tapi jangan pernah lagi ngelakuin hal semacam ini ya! Bikin jantungan anak orang."
"Surprise itu perlu dilakukan, May. hahaha.. Tapi boleh ku tanya satu hal?"
"Dasar. Mau tanya apa?."
"Apa yang membuatmu mengijinkanku bersamamu?"
"Mau tau?"
"Iyaaa.."
"Caramu. Aku suka caramu memperlakukanku. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan dan kamu berjuang untuk itu. Aku tau, pasti membutuhkan nyali yang besar untuk bisa sampai ke sini dan itu tidak mudah. Kamu mengawali semua ini dengan cara yang baik. Karena itu, apakah aku punya alasan untuk menghalangi niat baikmu? Tidak ada."
Arif tersenyum menatapku.
"Minta tolong panggil Ayah bisa?"
"Iya, tunggu sebentar ya?"
Aku beranjak memanggil Ayah. Setelah itu kami bertiga berbincang. Arif mengutarakan niatnya untuk membawa orang tuanya besok. Sekedar untuk memperkenalkanku pada orang tuanya. Dia bilang kalo ini adalah acara informal. Acara formalnya nanti setelah semuanya siap.
Esoknya semua berjalan sesuai rencana. Aku masih merasa ini sebuah mimpi.
***
Ting..
Sebuah pesan masuk di telpon genggamku, membuyarkan semua lamunanku.
Kubuka dan kubaca. Aku tersenyum membacanya. Pesan dari Arif.
'Satu bulan dari sekarang, bersiaplah. Aku akan kembali ke rumahmu.'
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Cerita ini telah dimuat dalam sebuah buku berjudul Gara-gara Facebook, yang diterbitkan oleh Penerbit Leutika, Yogyakarta.
Tidak ada yang kebetulan.
Bahkan ketika kita bertemu secara tidak sengaja,
aku tetap percaya,
: Tuhan telah mengatur semuanya.
‘Argh! Facebook sialan!’, makiku seharian ini. Hanya dalam hati tentu. Bagaimana lagi, tidak mungkin aku akan berteriak penuh emosi ketika sedang berada di kantor seperti sekarang. Terlebih lagi, mungkin aku hanya akan menjadi bahan tertawaan semua teman-teman kantorku, jika mereka tahu apa yang sedang terjadi denganku.
Setiap saat aku melihat profile cowok itu, hatiku meringis. Sangat-sangat meringis. Dia mantan pacarku. Baru saja satu bulanan ini kami putus, dan semuanya menjadi tampak seperti mimpi buruk buatku. Facebooknya, facebook wanita itu, dan semua hal yang sepertinya memang selalu saja menjadi masalah dari hubunganku dengannya. Aneh juga kalau dipikir-pikir. Mengapa sebuah situs sosial seperti Facebook mampu membuat hubungan runyam seperti hubunganku dengannya.
‘Dor! Bengong terus sih daritadi’, sapa seorang teman kantorku yang kebetulan sedang sibuk merapikan kertas-kertas laporan.
‘Hah?’ jawabku sambil berusaha kembali fokus ke urusan kerjaan.
Aku hanya tersenyum getir sambil memencet tombol alt+f4 di keyboard laptopku.
*
Jam pulang kantor pun tiba. Aku masih terpaku di depan laptopku, dan seperti biasa masih dengan Yahoo Messenger dengan beberapa teman yang sempat menyapa di sela-sela menunggu jam pulang kantor tiba. Seorang sahabat bernama Sisi, yang selama ini selalu khawatir akan keadaanku, menyempatkan menegurku di sela-sela kesibukannya.
‘Hai, Darling. Gimana kabar lo hari ini? Membaik?’
‘Baik-baik kok. Menurut lo?’
‘Jangan pura-pura membaik kalo emang belum. Akuin aja, toh nanti akan ada waktunya lo pasti membaik’.
‘Whatever. Thanks, Si.’
Aku sign off secepat kilat. Rasanya tidak nyaman sekali. Setiap teman rasanya selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Sama dan berulang-ulang. Aku risih. Dan tentu saja, ingin menghindar. Tapi sepertinya itu bukan ide terbaik, tidak untuk orang seperti aku.
Terima kasih atas partisipasi kalian dalam Proyek Menulis Cerpen, yang diadakan sejak bulan Juli sampai dengan nanti, akhir September ini.
Proyek menulis ini harus dihentikan karena dua alasan. Satu, minat teman-teman yang sepertinya sudah mulai berkurang, terlihat dari email yang masuk ke inbox saya, yang sudah sedikit sekali beberapa waktu terakhir ini. Dua, mungkin kita bisa mencoba proyek menulis lain, dengan tema berbeda. Nantikan saja infonya ya.
Mohon maaf, karena seminggu kemarin saya off posting cerpen kalian di sini. Ada urusan di luar kota, tidak membawa laptop, dan sulit posting via ponsel untuk jenis tulisan sepanjang cerpen. Mulai hari ini sampai tanggal 31 nanti, insya Allah akan terus posting.
Jangan berhenti menulis, minimal untuk dirimu sendiri.
Akhir kata, semoga ada kesempatan lagi untuk kita bertemu di lain proyek.
Nantikan pengumuman cerpen favorit di akhir bulan nanti, untuk mendapatkan sebuah buku KPII Jilid 2 free.
Pesawat itu baru saja take off, dengan derung bising mesin yang seolah memberitahu langit bahwa ia akan datang berkunjung, sejenak. Aku memutuskan untuk sejenak pergi keluar kota demi menghadiri pelatihan kepemimpinan yang telah lama ku impikan. “Mari berhenti, kau punya banyak hal untuk diperjuangkan. hari ini contohnya, kau tak ingin membuatnya kecewa untuk kesekian kalinya, kan?” ujarku ketika bertemu diriku yang lain di cermin pagi itu. Iya, berhenti untuk berharap lebih pada sesuatu, apalagi seseorang. Kadang kau hanya butuh luka agar peka dan terinjak untuk menjadi bijak. Aku hanyalah seorang pemimpi, yang selalu percaya nasihat ayaku bahwa sehebat apa pun impianmu, ia selalu layak untuk diperjuangkan. Kadang kau hanya perlu rentetan kekalahan untuk belajar kehidupan.
Acara itu dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari universitas lain seolah sama-sama ingin menunjukkan kedigdayaan mereka. Sebuah video mengenai perjuangan awal tentang semua orang yang duduk di sebelahku diputar, tanda dimulainya semua kisah ini. Senyum ku, yang biasanya tak pernah terlihat, lepas tanpa aturan pada scene dimana seorang dengan tatapan hangat memperkenalkan diri. Iya, tatapan itu berhasil mendiamkan sejenak gravitasi. Sesaat kemudian, semua orang di dalam ruangan berdiri untuk mencari satu sama lain sesuai dengan nama yang ada di daftar kelompok mereka. Mata ini seolah bergerak sendiri, diam-diam, mencari tatapnya diantara lalu lalang seolah tak peduli apa yang harusnya aku lakukan.
Hari itu, semesta seolah bersatu mendukung untuk memberi ku sebuah kesempatan.
“Wah, ternyata ia berada dalam daftar kelompok ku”, batinku dalam hati.
Sebuah percakapan pertama, formalitas belaka tentunya, dimulai dengan menyebut nama dan asal universitas/institut tempat mereka belajar. Tentu saja, aku hanya menunggu ia memperkenalkan diri. Terkadang, kau hanya harus menanti semua jawaban itu datang sendirinya. Tak semua orang punya kemampuan yang baik untuk bicara dengan baik di depan seorang yang ia kagumi. Aku jelas sama sekali tak punya hal itu. Iya, semua pendiam kadang hanya disuruh menahan diri oleh takdir, walau ia punya kesempatan untuk bicara.
Tatapannya menyuruhku ikut bicara. Sayangnya lidahku kelu. Hampir tak mampu berucap sepatah kata pun.
“Hei, kau yang sedang bicara dengan orang lain sambil menatap ku sesering yang kutangkap!”
“Alihkan pandanganmu segera, tak kuat ku melihatnya terlalu lama.”
Semua perkataan tersebut tentu saja semu, mana mungkin aku berani ber-kode sekeras itu.
Perkenalan itu akhirnya mau tak mau terjadi ketika kau membutuhkan koneksi internet untuk mencari data untuk kelompok.
“Hei, bisa kah kau membantu ku?”, beberapa kata pembuka yang membuat ku sejenak berani beranjak dari diam. Iya, akhirnya kesempatan itu datang juga. Percapakan sangat singkat itu hampir saja berakhir ketika aku memberinya password untuk menggunakan koneksi milikku, nama belakang ku. Keberanian untuk memulai sesuatu mungkin memang salah satu hal yang sulit untuk dilakukan, termasuk mulai untuk mengenal seseorang. Iya, akhirnya aku pun memberikan nama ku, tanda percakapan singkat itu sudah usai.
Sebuah perkenalan terkadang hanya menjadi klise dalam hidup ku. Hanya segelintir orang yang pada akhirnya akan tetap mengenaliku, terlepas dari bagaimana momen perkenalan tersebut bisa terjadi. Aku hanya memaknai pertemuan singkat itu dengan sangat, sama sekali tak berharap lebih. Iya, tak seperti manusia pada umumnya, aku terlahir dari seorang guru ngaji di desa. Beliau pernah menasihatiku sekali, berhenti dan janganlah terus mencari tulang rusuk, apabila cintamu kepada Sang Pencipta rusuk masih saja belum sampai. Beliau selalu mengingatkan ku, sebagai anak pertama, untuk menjadi seorang pemberi teladan dan menjadi inspirasi bagi kedua adikku sekaligus semua orang disekitar ku. Tak hanya kedua orang tua ku tentunya, kakek ku juga pernah berkata, seorang pemimpin adalah seorang yang sudah selesai dengan dirinya.
Sesaat sebelum senja menyapa, ia berada di sebelah ku saat makan. Saat itu ia malah menanyakan kediaman ku dan tampak tak puas saat aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Mungkin aku tak kan pernah tau apakah ia sengaja salah menyebut jurusanku, tapi yang pasti, akhirnya aku angkat bicara untuk menyalahkan nya.
Hanya ingin mendengar suaraku, katanya.
Kakiku sudah lelah untuk sengaja lari, dan aku tak memintamu untuk mencari. Aku hanya merasa perlu berhenti, rehat, selamanya atau esok mulai lagi. Aku bertemu denganmu dalam satu keadaan yang tak pernah jadi rencanaku, tapi rencana Tuhan selalu lebih hebat. Barangkali kau memang rencana Tuhan untukku, atau mungkin semesta sedang bercanda. Tak ada yang pernah tau. Hanya saja, terima kasih telah mengingat namaku. Itu saja.
Mungkin Tuhan tidak sedang menitipkan harapan pada nasib dan masa depan, tetapi pada tiap momen kini dalam hidup.
Selalu didalam do’a gadis ini, ia bertanya kepada Allah,”Adakah seorang Imam yang mencintaiku karena kekuranganku dan mencintaiku karenaMu Ya Allah…?”. Wajar gadis ini mengatakan itu kepada Sang Rabbi, karena ada sesuatu yang selalu membayangi perasaannya. Banyak para adam yang telah dicalonkan kepada dirinya tidak menyukai kekurangan yang ada padanya. Itu yang membuat gadis ini merasa sedih. Di sisi lain sang ayah mengharapkan pernikahan untuk anak gadisnya itu, tetapi catatan kisah anaknya telah tertulis di lahuh mahfuz Allah tak ada yang tahu apa yang terjadi.
3 tahun yang lalu, kejadian yang tidak bisa kulupakan sampai saat ini yang sudah melumpuhkan salah satu kakiku. Sangat berat sekali aku dapat menerima semua ini. Sempat aku putus asa melihat kondisi ku saat ini. Aku sangat malu untuk berada dikeramaian, aku merasa asing, merasa tidak berguna lagi. 2 hari aku berdiam diri didalam kamar tidak melakukan kegiatan apapun, abi dan umi sangat khawatir melihat kondisiku saat itu. Tapi aku tidak peduli sama sekali tentang kekhawitran mereka, karna dalam fikiranku saat itu aku seorang wanita lumpuh yang tidak bisa melakukan apapun dan aku tidak berguna.
Tapi, semangat yang luar biasa dari sahabatku Aray sangat ampuh. Dia mampu melunakkan hati ku yang saat itu telah mengeras seperti batu. Aku masih ingat saat dirumah sakit, dia selalu meyakinkan aku, menyemangati aku, dan sangat sabar saat berhadapan dengan ku yang saat itu sudah mulai membenci sebuah kehidupan. Kekuatan Cinta persahabatanlah yang memberikan semangat yang luar biasa. Alhamdulillah, sekarang aku sudah bisa menerima keadaanku dan kondisiku. Aku yakin Allah tidak akan menimpakan kesulitan kepada HambaNya tanpa Kenikmatan dan Hikmah yang membahagiakanku nantinya.
“Zahra, anakku kemarilah,” abi memanggilku keruangan keluarga.
“iya abi, ada apa abi memanggil Zahra,” tanyaku. “sayang, abi sangat menyayangimu, abi dan umi sangat ingin melihatmu bahagia,” ucap abi.“Zahra tahu akan itu abi, abi dan umi selama ini selalu sayang dengan Zahra dan selalu menyemangati Zahra,” jawabku.“Zahra, abi dan umi berniat untuk menikahimu.”
“apa abi…??” perkataan abi mengejutkanku. Tapi Zahra belum ingin menikah abi, Zahra tidak mau menyakiti perasaan abi dan umi lagi. Abi lihatkan!, sudah banyak calon imam yang abi jodohkan dengan Zahra, tapi tidak ada yang mau dengan Zahra. Zahra tidak mau mengecewakan orang lain dengan kondisi Zahra seperti ini abi.”
“Tapi sayang, Insya Allah dia jodoh yang terbaik untukmu,” ucap umi.
“mungkin dia memang terbaik untuk Zahra umi, tapi Zahra bukan yang terbaik untuk dia. Maaf abi umi Zahra tidak setuju dengan perjodohan ini, biarlah takdir cinta itu yang mempertemukan 2 insan yang melandasi cintanya karna Allah. Abi umi, Zahra janji tidak akan mengecewakan abi dan umi lagi. Kalau begitu, Zahra pamit dulu ya abi umi.”
“Kamu mau kemana nak…?” Tanya abi. Aku pun mengambil tas,”ketoko Aray bi. Zahra berangkat dulu ya abi umi. Assalammu’alaikum,” sambil menyalami abi dan umi.
Tiba ditoko buku aray. “Assalammu’alaikum Aray,” salamku untuk Arasye. “Wa’alaikumsalam Zahra, eh.. ada apa tumben jam segini sudah main ketoko,,,??” Tanya Aray. “hemmm… aku kangen sama kamu ray. ini aku bawakan sarapan, kita sarapan dulu yuk…” ajakku.
Setelah sarapan, Aray kembali bertugas dikasir sambil melayani pembeli dan aku memulai melanjutkan sebuah cerita didalam monitor laptopku. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki yang wajahnya tidak asing bagiku. Tapi, aku tidak berani memanggilnya takut salah orang. Setelah itu Aray mendatangiku.
“Zahra, kamu kenal tidak dengan lelaki itu…??”, Aray menunjuk ke arah lelaki yang baru datang itu. “nggak ray. Memangnya kenapa…??,” tanyaku kembali. “masak kamu nggak tau Zah!! Itukan Rasyid Abdurrahman yang penulis novel “Kau Bidadariku” yang novelnya pernah kamu baca itu loh.”
“hemmm, jadi dia Rasyid Abdurrahman. Wah, masih muda banget ya ray. Kenapa dia kesini…??”. Tanyaku sambil melihat sosok yang sedang berdiri diantara buku-buku Fiksi.
“Dia memang suka kesini. Dia kan melaunchingi novelnya itu ditoko ini zah .”
“Jadi kamu sudah kenal sama dia ray?? Kok nggak pernah cerita sama aku!!”
“ kamu kan nggak pernah Tanya.” Sambil melemparkan senyum.
“hemm,,, !!!”
“Kang Rasyid, mari kesini,” Aray memanggil dia ketempat dudukku.
“Assalammu’alaikum,” Suara nan lembut yang melafazkan salam kepadaku dan Aray.
“Wa’alaikumsalam,” kami menjawab salamnya.
“kang Rasyid ini teman saya namanya Zahra. Dia sangat suka dengan novel yang akang buat.”
“Alhamdulillah, trimakasih sekali ternyata dek Zahra menyukai novel saya.”
“Kang saya pamit dulu ya, mau melayani pembeli dulu akang ngobrol-ngobrol saja dengan Zahra.” Aray pun pergi meninggalkan kami berdua. Saat itu terjadilah percakapanku dengan kang rasyid.
Ternyata kang Rasyid adalah kakak kelasku dulu waktu di SMA. Pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajah itu. Dia memang jago menulis cerita Fiksi, karena disekolah dulu dia sering juara dan ceritanya selalu terpampang dikoran. Anaknya juga pintar dan shaleh. Untuk beberapa bulan, aku akan tinggal dibandung untuk melanjutkan pengobatan kakiku.
Keesokkan harinya kang Rasyid datang kembali ke toko buku Aray. Ternyata ia mencariku. Dan disana Aray menceritakan semuanya tentangku tanpa sepengetahuanku. Setelah mendengar cerita dari Aray, kang Rasyid mengutarakan niatnya untuk menikahiku.
Dan pernyataan itu sangat mengejutkan Aray. Ternyata selama di SMA dulu kang Rasyid memang sudah memiliki rasa istimewa kepadaku. Tapi ia khawatir, karena dulu ia belum yakin untuk mengikat seorang wanita dengan sebuah pernikahan. Dan ia mengatakan,” tak akan ku temui cinta sempurna, jika ku melihat kesempurnaan yang terletak pada fisiknya, tapi terletaknya sebuah cinta yang sempurna itu saat aku mencintai ketidak sempurnaan yang pada dirinya”. Ucapnya tegas.
Ia pun memberanikan diri bertemu dengan orangtuaku untuk mengutarakan niatnya. Abi dan umi sangat senang sekali ternyata ada juga lelaki yang menerima kekurangan anaknya dengan ikhlas dan karena Cintanya kepada Allah. Niatnya kang Rasyid pun diterima abi dan umi. Tapi semua terjadi tanpa sepengetahuan ku dan mereka merahasiakannya dariku. Sudah hampir sebulan aku berada dibandung akhirnya esok ku kembali lagi ke rumah tercinta.
Saat tiba di rumah suasana rumah sedikit berbeda, terasa nyaman apalagi melihat abi dan umi tersenyum menyambut kehadiranku di rumah. Ternyata, Aray juga datang dan ia membawa sebuah undangan.
“Selamat datang kerumah lagi Zahraku sayang”, merasakan peluk kerindunan dari seorang sahabat.
“Terimakasih sahabatku tersayang. Tahu darimana kalau aku mau balik kerumah…??”tanyaku.
“Tadi umi menelponku, makanya ku datang. Aku sangat rindu sama kamu jelek. O iya, ini ada undangan dari kang Rasyid.” ujar Aray sambil memberikan undangan itu kepadaku.
“Undangan pernikahan kang Rasyid ya ray.”sembari ku ambil undangan itu dari tangan Aray.
“Bukan zah, ini undang untuk kita datang ke launching bukunya kang Rasyid. abi dan umi juga diundang.”jawab Aray sambil tersenyum.
“Aku nggak mau pergi ray.” Undangan itu ku balikkin ke Aray.
“Kenapa zah,,,?? Kan kita diundang sama kang Rasyid, masak kamu nggak pergi,,??”
“Tapi aku malu kesana ray, lihat kondisiku seperti ini.”
“Zahra, sudah !! jangan berfikiran seperti itu lagi!! Besok kita tetap pergi sama-sama. Oke” desak Aray.
“Baiklah” jawabku.
Setibanya ditempat launching bukunya kang Rasyid yang ke-2. Terlihat ramai sekali yang hadir, terlihat begitu hebatnya seorang kang Rasyid (penulis novel Best Seller). Saat itu aku melihat sosok sang motivator yang menyemangati para pembaca dan menyampaikan dari mana ia mendapatkan inspirasi dari novel yang ia buat. Judul novel yang kini sedang dilaunching “Karena CintaNya ku Mencintaimu”.
Dan yang mengejutkan ku saat itu, kang Rasyid mengatakan inspirasi dari novel ini adalah aku “Zahra Khairunnisa”. Dan yang paling mengejutkan lagi ia mengatakan jika ia akan menikahiku. Saat itu terdengar sebuah pertanyaan dari pembaca kepada kang Rasyid,”Mengapa kang Rasyid ingin menikahinya, apa yang membuat kang Rasyid menyukainya,,??”salah seorang wartawan melemparkan pertanyaan itu kepadanya.
“Karena dia adalah wanita yang hebat dan shalehah. Saya menyukainya karena kesempurnaan yang terdapat pada dirinya. Mencari cinta yang sempurna itu bukan pada fisik yang sempurna tetapi Akhlaknya yang mampu menyempurnai kekurangannya” Jawab kang Rasyid sembari melemparkan senyum kepada mereka.
Saat itu aku tidak tahu, airmataku sudah jatuh membasahi pipi dan tatapanku hanya tertuju pada kang Rasyid. aku masih tidak yakin dengan semua ini. lalu kang Rasyid datang mendekatiku dan mengajakku kedepan, ia mendorong kursi rodaku. Dan ia mengatakan didepan semua orang yang saat itu hadir,” Zahra, aku tahu kamu pasti terkejut dengan kejadian saat ini. Tapi percayalah aku mencintaimu karena Cintaku kepada Allah. Dan aku mencintai kekurangan yang ada pada dirimu. Aku harap kamu mau menerima niatku untuk menikahimu.”ucap kang Rasyid yang saat itu berada dihadapanku..
(aku masih tidak percaya dengan kejadian yang sedang ku alami ini, semoga kang rasyid memang sosok lelaki yang tulus mencintai kekuranganku,” ucapanku didalam hati.)
“Insya Allah kang, Zahra menerima niat kang Rasyid.”jawabku dengan airmata yang sedari tadi membasahi pipiku. Terlihat saat itu senyum nan indah menghiasi wajah abi dan umi. Insya Allah, aku tidak mengecewakan mereka lagi.
Sampailah pada hari yang dinanti pertemuan yang penuh keberkahan dan keRidhan dari Allah. Sangat nikmat sekali, semuanya sangat bahagia apalagi ku melihat kebahagian pada abi dan umi. Saat itu kang Rasyid pun membisikiku “kini kaulah bidadariku yang selama ini ku nanti dinda Zahra”. Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya kang Rasyid. Alhamdulillah, kini kami telah terikat dalam sebuah ikatan yang suci dan memulai membentuk sebuah keluarga kecil.
Pada suatu malam, aku dan kang Rasyid duduk ditaman rumah sambil merasakan kesejukan angin malam. Saat itu aku masih tidak percaya dan aku masih mempertanyakan kepada kang Rasyid.
“Kang, mengapa akang memutuskan untuk menikahi dinda??”tanyaku sambil menatap wajah suamiku.“Karena, akang tidak ingin bintang bersinar dimalam hari sendirian tanpa ditemani sang rembulan.” Jawab kang Rasyid sambil menggombaliku.
“Dinda serius akang,,,!!” jawabku.
“kan akang sudah menjawabnya. Karena, akang tidak ingin dinda sendirian tanpa akang,”jawab kang Rasyid sambil tersenyum kepadaku. “mengapa, akang tidak melabuhkan layar intan ini ke tempat samudera yang berisikan permata-permata nan indah,,,??”tanyaku lagi.
“karena disamudera ini akang menemukan sebuah berlian nan berkilauan yang tidak dimiliki oleh permata-permata itu,” jawab kang Rasyid sambil mencium keningku. “bagaimana akang bisa langsung yakin menikah dengan dinda?? Kita kan baru bertemu saat ditoko Aray dan itu pun hanya sekali??” tanyaku kembali.
“cinta ini sudah lama berseminya dinda. Saat masa di SMA dulu. Tapi akang belum berani untuk mengungkapkannya kepada dinda saat itu. Jadi, akang hanya bisa meminta kepada Allah untuk menjagakan dinda dan semoga suatu saat nanti Allah mempertemukan kita kembali. Dan Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan kita.” Jawab kang Rasyid.
“walau dinda seperti ini,,,??”tanyaku. “iya dinda, akang tidak melihat fisik dinda. Tapi, hati dinda yang lembut dan keshalehannya dinda.” Jawab kang Rasyid sambil memelukku dengan hangat.
“trimakasih, akang sudah mau menerima kekurangan dinda.”ucapku dalam pelukannya.
“sama-sama dindaku sayang. O iya, akang mau melihatkan sebuah tulisan yang akan akang buat novel. Ini khusus tentang kisah kita akang buat judulnya “AKU MEMILIHMU UNTUK KE SYURGA”.
“Masya Allah, kang ini tulisan yang sangat indah. Ini kisah kita?? Insya Allah, dinda akan berusaha menjadi seorang istri yang shalehah, yang seperti akang inginkan. Jaga dinda ya kang”.
“Insya Allah dinda, kita akan mengarungi perjalan kisah kita ini dengan Cinta karena Allah. Mencintai kekurangan pasangan dan menyempurnai kekurangan satu sama lain. Akang mencintai dinda karena Allah.”tegas kang Rasyid sambil mencium keningku.
“Selamat Pagi Langit, Matahari akan kembali bersanding denganmu. Menghiasi ruangmu yang tak terbatas, dengan kehangatannya”
***
Udara segar kota Bandung begitu khas, menyuguhkan kedamaian dan ketenangan. Ini kali pertama aku berkunjung di kota kembang yang dingin ini. Kali ini, tujuan utamaku bukan untuk berlibur dan melihat-lihat keindahan alam dan tempat wisata Bandung. Ada hal lain yang ingin kulakukan, tapi berlibur tetap jadi kedokku. Ada sesuatu yang ingin kupastikan dari hatiku sendiri, dan ada sesuatu yang harus kutanyakan padanya, sekaligus aku ingin mengintip keadaan dirinya di tanah rantau ini.
Tak terasa empat tahun sudah kami terpisahkankan oleh jarak dan waktu. Aku akhirnya memutuskan untuk datang karena merasa ini saat yang tepat untukku berkunjung dan menyaksikan bagaimana reaksinya dengan kehadiranku. Saat dimana aku harus mengambil keputusan agar tidak terus terpuruk dalam penantian yang tak berujung. Aaaah, aku tak sabar bertemu dengannya.
***
“Repot-repot banget za, pake dijemput segala. Hehehe. Tapi terima kasih sih.”
“Yaelah ra, nggak seberapa kok ini, kita langsung ke basecamp aja ya. Anak-anak nunggu di sana, termasuk Angga. Kamu kangen ama dia kan?” Aku dan Kanza memang teman satu SMA, aku lanjut kuliah di Surabaya, Kanza dan beberapa teman SMA lain, termasuk Angga, melanjutkan studi di kota Kembang ini.
“Hah? Kanza, kamu tahu dari mana? Ups, salah. Aah, aku salah tingkah deh jadinya.”
“Hahaha, aku nggak sengaja nemu blog kamu Ra, awalnya aku pikir salah orang, tapi pas kamu nulis postingan tentang penulis favorit kamu, aku jadi tambah yakin kalo itu beneran kamu yang nulis, dan “Si Langit” yang kamu maksud, itu Angga kan?”
“Aaaah, kok bisa nemu sih za?”
“Hahaha, bisa dong, lagipula tulisan kamu kan pasti gitu, ada unsur mataharinya. Tetep sama kayak empat tahun yang lalu. Cuma bedanya, setelah SMA, nambah satu tokoh lagi yang nggak pernah absen, Langit, iya kaan?”
“Oke za, itu belum kamu ceritain ke siapapun kan? Kalau memang belum, mungkin kamu orang yang tepat untuk tau keseluruhan kisah ini.”
Aku memberanikan diri menceritakan segala rasa dan kisah yang diperankan olehku, Sang Matahari, dan Angga, Sang Langit, pada Kanza. Aku berharap Kanza bisa menjadi malaikat penjaga kisah itu.
***
Jakarta, empat tahun yang lalu
“Ra, pas acara perpisahan, orang tua lo hadir nggak?” Kak Andri tiba-tiba bertanya saat hening menyerang kami waktu makan siang di salah satu kafe dekat sekolah.
“Hmm… belum tahu pasti juga sih kak, palingan Mama aja yang datang, Ayah lagi sering keluar kota.”
“Emang kenapa kak?” Aku bertanya heran.
“Hahaha, kali aja, ada orang yang mau minta restu” Kak Andri menjawab sambil cengar-cengir, lalu kembali melajutkan makannya.
“Hah? Maksudnya?” Aku makin heran.
“Aduuuh, lemot banget sih. Tuh, orang depan aku nih”
“Apaan sih kak. Kalau Ayahnya belum datang yaa jadinya nanti aja sekalian”. Setelah menatap aku dan Kak Andri yang sangat jelas terlihat sedang menunggu jawaban, Angga langsung menimpali, lalu kembali tunduk dan khusyuk dengan makanannya.
Aku sontak terbelalak menatap sosok yang sedang makan seolah-olah tak terjadi apa-apa itu. Kak Andri makin kepancing. “Oooh, jadi mau langsung ke Ayahnya aja nih? Gue tunggu ya aksi lo, Anggara Prasetya”. Angga tak bergeming dan masih sibuk dengan makanannya. Aku pun sama diamnya.
“Aku udah selesai nih makannya, ada urusan bentar, duluan ya Kak, Ra!”, Angga membayar makanannya dan langsung berlalu. Aku hanya diam seribu bahasa, seolah kehilangan gairah untuk berucap. Jantung berdegup kencang dan hati udah nggak karuan, hanya karena satu kalimat dari Angga. “Yaa ALLAH, kok tegang banget denger dia ngomong kayak gitu?”, aku bergumam dalam hati, sibuk dengan letupan rasa dalam diriku sendiri. “Ra, kamu tetep mau disini atau gimana? Gue harus balik ke kampus nih. Oh iya, nggak usah dipikirin kata-kata Angga, dia emang suka ngelantur, gue juga sih. Anggap aja tadi bercandaan gue ama dia ya!”
“Hah, cuma candaan?” Aku kecewa dalam hati, tapi yang terucap bertolak belakang. “Oalah, iya nggak apa-apa kak. Candaan kayak gitu aja, nagapain dipikirin.”
“Oke deh, klo gitu, gue duluan yaa”. Kak Andripun pergi meninggalkan aku yang termenung sendiri di pojok Kafe. Kak Andri dan Angga tahu, kalau aku bukan cewek yang tidak tertarik dengan hubungan sejenis pacaran yang tanpa arah. Aku menantikan keseriusan dari orang yang berani mengambil komitmen. Mungkin karena itu, candaan Kak Andri bukan lagi seputar pacaran, tapi malah yang lebih jauh, hubungan yang melibatkan restu orang tua.
Satu kalimat itulah yang melahirkan sosok “Langit” dalam tulisan-tulisan di blogku. Langit yang tak pernah tahu isi hati matahari. Langit yang senantiasa tenang dan lapang. Langit yang senantiasa tercahayai hangatnya cahaya matahari tapi tak sedikitpun menoleh pada matahari. Langit yang senantiasa berteman dengan awan, burung-burung, bulan dan bintang, tapi tak pernah menyapa matahari dengan kehangatan yang sama. Langit yang membuat matahari jatuh hati hanya karena biasa, biasanya mereka tersandingkan, meski tak pernah saling bersentuhan.
***
Satu hari, hanya satu hari, aku berharapa dia bisa ikut menemaniku mengunjungi sebuah tempat di Bandung, dimanapun itu. Bukan pergi berdua, kuyakin dia tak akan mau jika hanya berdua, aku pun tak suka berduaan. Maka kuajak teman-teman yang lain sebagai kedok. Dalam chat grup:
“Hai, guys. Masih pengen jalan-jalan sehari lagi di Bandung nih, ada rekomendasi nggak? Trus, ada yang mau nemenin nggak?”
“Floating Market? Tangkuban perahu? Gue pengen nemenin sih Ra, tapi masih ada kuliah nih. Sorry yaa.” Rian menjawab.
“Hmm… Alun-alun? Boscha? Tapi, Boscha lagi tutup deh kayaknya hari ini. Gue juga mau nemenin Ra, tapi udah terlanjur janji mau bimbingan ama dosen. Si Kanza bisa nemenin kan?” Doni ikut menjawab.
“Museum Geologi?” Angga menjawab.
“Katanya nggak bisa Don, makanya kali aja kalian ada yang mau join, biar aku nggak sendirian. Liat apa di Museum, Angga? Batu?”
“Taman Bunga?” Angga memberi saran lagi, tanpa merespon pertanyaanku.
“Aaah, itu kayaknya seru tuh Ra. Maaf belum bisa nemenin.” Kanza baru online dan langsung nyahut.
“Waaaah, bunga, Ok deh, kayaknya itu the best choice buat hari ini. Jadi, yang bisa ikut siapa aja nih?”
“Aku bisa” Angga menjawab datar.
“Gue juga bisa Ra jadinya, baru aja dosen nge-email ganti schedule bimbingan jadi besok. Ngajak pacar gue juga, boleh yaaa? Hahaha” Doni menjawab dengan semangat.
“Okay sip, kita berangkat J”
Awalnya tak kusangka dia berminat untuk ikut. Selama yang kutahu, dia tak terlalu suka bepergian, tak terlalu tertarik dengan bunga, tak terlalu senang berjalan-jalan, dan tak terlalu nyaman dengan keberadaanku di sekitarnya. Semuanya hanya menurutku, karena tak pernah kudengar dari mulutnya sendiri, bahwa dia tak suka semua itu, aku hanya sekedar menebak.
Aku begitu bahagia dengan dua kata yang dia tuliskan dalam chat. Kupikir dia akan dengan mudahnya menolak, seperti yang dulu sering dilakukannya, saat aku dan Kak Andri mengajaknya untuk pergi ke tempat-tempat yang menarik di Jakarta.
Tapi, akhirnya aku yakin saat ia benar-benar datang, saat ia muncul dengan Doni, lengkap dengan pacarnya Doni. Mereka berjalan mendekatiku yang sedang duduk menunggu di depan gerbang taman. Setelah membeli tiket, kami langsung masuk dan menikmati suasana taman bunga yang membuat hati ikut berbunga-bunga.
Doni asyik dengan pacarnya, dan tinggallah kami berdua, berdampingan berjalan mengelilingi taman bunga yang cukup luas.
“Setelah wisuda, rencananya mau kemana ngga?” Aku membuka percakapan.
“Yaa, seperti lulusan yang lain, nyari kerja.” Jawabmu singkat.
“Oooh, nggak ada niatan lanjut S2?”
“Masih banyak yang perlu dikerjain sebelum ke tahap itu.”
“Hmmm… Wisudanya tanggal berapa?”
“25 Mei”
“Berarti dua minggu lagi ya. Maaf kayaknya aku nggak bisa hadir. Hehehe”
“Iya, nggak apa-apa” Jawabmu.
Aku masih ingin bertanya lebih banyak, tapi kurasa tiga pertanyaan itu saja, sudah cukup mengganggumu. Kau masih sama, hanya menanggapi seperlunya. Itulah dirimu. Seadanya. Dan itulah yang kusuka, andai kau tahu.
Akhirnya, kita pun terpisah, kau asyik bersama kameramu, merekam setiap keindahan yang tersaji di taman ini. Sedangkan aku juga sibuk berfoto selfie bersama bunga-bunga warna-warni yang sedang bermekaran. Tak terasa hari mulai sore, jalan-jalan kita ditutup dengan foto bersama di tengah taman bunga yang penuh warna.
“Don, Angga, dari sini aku langsung balik yaaa. Travelnya berangkat 2 jam lagi. Thanks, untuk hari ini. Aku seneng banget.” Aku akhirnya mengucapkan kata perpisahan yang tetap harus dihias dengan senyuman.
“Nggak mau dianter Ra? Kan belum pamitan juga sama yang lain.”
“Hmm… Nggak usah don, kemarin juga udah jalan-jalan ama mereka kan, udah cukuplah. Ntar aku pamitan di grup aja. Oke deh, aku pamit yaa. See you.”
Aku pun beranjak, melangkah pergi dari kota ini. Sepertinya akan menjadi kota terakhir yang menjadi saksi pertemuan kita.
***
“Angga, nih, surat Naura buat kamu”
“Hah, Oh, Ok, makasih ya Za”
Assalamu ‘Alaykum.
Hai Angga, jangan sedih apalagi nangis pas baca surat ini yaaa. Itu bukan kamu banget. Lebih baik kamu bahagia dan ketawa karena dalam surat ini, aku benar-benar jadi Naura melankolis yang kamu benci.
Aku menitipkan cerita dan sebuah surat pada Kanza. Surat yang kamu baca saat ini dan cerita singkat tentang matahari dan langit. Matahari yang jatuh hati pada langit. Jatuh hati hanya karena biasa. Biasa yang melahirkan rasa. Matahari yang selalu sendiri menikmati rasa yang dimilikinya tanpa hasrat menyampaikannya pada sang langit. Karena matahari hanya percaya pada kata “jodoh” dan skenario Tuhan, matahari ingin tetap setia menantikan langit menyapa di waktu yang tepat, meski rasanya waktu itu tak kunjung datang.
Aku seorang wanita, aku tahu itu. Katanya kodrat wanita adalah menunggu, aku percaya itu. Maka aku memutuskan untuk menjadi matahari yang setia menunggu. Aku datang kali ini bukan untuk mengungkap isi hati dengan kata, aku hanya sekedar ingin memastikan rasa. Rasa yang dulu pernah bersemi, rasa yang bertahun-tahun lalu hadir hanya sebagai hasil dari biasa. Biasa saat kita bertemu, biasa saat aku diajar Fisika olehmu, biasa saat kamu membelikan minum setelah jam olahraga, biasa saat kamu meminta catatan biologiku, dan banyak lagi biasa yang sebenarnya biasa saja. Namun, begitu luar biasa terekam kuat dalam benakku. Rasa yang sejak dulu tak mau beranjak hingga kini. Rasa yang tak bersambut namun juga enggan tercabut. Aku hanya ingin memastikan apakah rasa itu masih sama ataukah sudah berubah menjadi sekedar cerita yang terbawa masa. Setelah melihatmu menyambut kedatanganku di kota ini, aku semakin yakin, rasa itu masih sama untukku, entah bagaimana untukmu. Aku tak perlu tahu, karena saat kau baca surat ini, aku sudah memutuskan pergi untuk menghapus rasa.
Terima kasih untuk perjalan terakhir di taman bunga yang indah, maafkan aku yang tak bisa menunggu lebih lama. Maafkan karena semua rasa yang tak sanggup kuungkap, aku lebih mencintai diam. Aku akan berhenti menunggu. Jadi, tak usah khawatir tentang rasa yang terungkap hanya lewat surat ini. Terima kasih sudah menjadi ‘langit’ dalam tulisanku. Selamat tinggal, aku akan meninggalkan semua kenangan itu saat ini di sini, tempat yang menjagamu dari jangkauanku. Tapi di masa depan, jika kau teringat pada sosok Naura “sis sok kuat” ini, datanglah sewaktu-waktu ke matahari dan langit (nama blogku).
Terima kasih untuk akhir dari cerita kita yang selama ini terus nyaman bersembunyi dalam diamku. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang J
Salam Hangat Matahari,
Naura Adinda
“Sebenarnya Naura kesini mau ngasih tau kamu langsung Angga, kalau dia harus lanjut S2 ke Jerman, mungkin sekaligus ngasih tau tentang rasa yang udah dia pendam. Tapi niatnya kayaknya urung, karena pas hari pertama dia datang, sebelum kita ke basecamp, kita singgah di Salman dulu buat shalat. Di lobby, ternyata Naura liat kamu lagi ngobrol asyik dengan cewek yang ada di Profile picture Line kamu. Kata Naura, kamu kayaknya bahagia banget pas ngobrol sama cewek itu, lepas, dan nggak kaku. Beda kalau lagi sama Naura. Trus, kata Naura juga, sepanjang yang dia tahu, kamu nggak pernah masang foto cewek di profile picture, boro-boro foto Naura, foto mama kamu aja nggak pernah. Tapi, bisa-bisanya kamu pasang foto cewek itu. Jadi, menurut Naura, artinya cewek itu pasti spesial buat kamu Angga, dan itu bikin Naura yang empat tahun nggak move on, akhirnya memutuskan move on dan mengakhiri kisah matahari langit di taman bunga. Aku sebenarnya bingung, kok bisa-bisanya Naura yang ceria, hangat dan penuh pesona itu malah milih kamu yang kaku, nggak peka, dan aaah, sudahlah, itu sudah jadi pilihan Naura. Aku udah nyampein semua, bahkan yang nggak diminta Naura. ”
Kau hanya terdiam mendengarkan setiap detail yang diceritakan Kanza. Mungkin kau juga sedang berfikir, betapa bodohnya seorang Naura yang bisa menunggu tanpa kepastian dan malah mengakhirinya tetap tanpa kepastian.
***
Ping!
Sebuah email masuk. Dari Angga?
Anggara Prasetya 25 Oktober 2014
“Assalamu ‘alaykum
Selamat Pagi Matahariku,
Maaf, terlalu lama membuatmu menunggu dalam penantian. Terima kasih sudah datang. Maaf, karena tidak peka membaca rasamu, dan maaf telah membuatmu kecewa waktu itu. Aku akan lebih peka dan serius kali ini. Oh iya, Aku Rindu. Bagaimana denganmu? Aku juga ingin menjelaskan beberapa hal.
Pertama, kamu harus tahu, siapa cewek spesial di foto itu. Dia adalah Naura kecil, anak SD yang pernah kamu perkenalkan padaku. Anak kecil dari panti asuhan samping sekolah yang sangat kamu sayangi. Dia baru saja duduk di bangku SMA saat kamu melihatnya bercengkrama denganku. Dia diadopsi oleh seorang dosen di fakultasku, dan dia mengenaliku saat berkunjung ke kampus. Aku memasangnya di profile picture berharap kamu bisa melihatnya, mengenalinya, dan mengingat memori kita. Saat itu kamu membawa Naura kecil menemuiku, mengajakku bermain dengannya, tapi malah kamu yang asyik sendiri dengannya dan mengabaikanku, saat itu matamu begitu berbinar dan wajahmu begitu cerah karena bahagia bermain dengan anak kecil itu, saat itulah dimana aku pertama kali benar-benar merasa ada sesuatu yang istimewa dari sang matahari. Saat pertama kali aku berjanji bahwa kamu adalah matahari pertama sekaligus yang terakhir untukku. Foto itu sebenarnya, untukmu. Dan, aku yang lebih dulu menghadirkan rasa itu di antara kita.
Kedua, sebulan ini aku sudah membaca semua isi matahari dan langit, dan sebagai hadiah, kamu juga boleh membaca Langit Menjawab. Aku menjawab semua sapaanmu dan semua rasamu di sana. Salah satunya untuk yang ini.
“Selamat Pagi Langit, Matahari akan kembali bersanding denganmu. Menghiasi ruangmu yang tak terbatas, dengan kehangatannya”
Aku sudah menjawabnya:
“Selamat Pagi Matahari, terima kasih sudah bersedia hadir kembali seperti biasa. Tetaplah istimewa seperti biasa, mengizinkanku merasakan hangatmu meski dari jauh”
Ketiga, beranjaklah dari tempat tidurmu, berpakaian yang rapi, dan bukulah pintumu saat ini juga.
Aku menunggu,
Anggara Prasetya.
“Hah? Menunggu?” Aku begitu bahagia membaca email itu. Serasa ingin terbang, setelah hampir limat tahun, akhirnya rasa itu terjawab juga. Tapi, aku agak bingung dengan kata yang terakhir, apa maksud Angga dengan ‘menunggu’. Tanpa pikir panjang aku pun bersiap, merapikan baju, memakai jilbab dengan baik, memasang syalku, memasang sepatu, bercermin dan akhirnya siap membuka pintu. Pintu pun kubuka. Tapi, tak ada apa-apa di sana selain seorang supir dengan stelan jas hitam yang rapi, lengkap dengan sepatu yang hitam mengkilat. “Selamat Pagi Nona, Hari yang indah, silahkan ikut dengan saya, ada seseorang yang sedang menunggu anda”, pria rapi itu menyapaku dengan Bahasa Jerman yang fasih. Aku pun akhirnya ikut, sambil mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan jebakan, kasus kebetulan apalagi salah orang.
Taksi melaju denganku di dalamnya, tanpa tahu kemana tujuannya. Sampai pada akhirnya aku mulai heran dengan arah yang dituju oleh taksi ini. Bandara? “Kenapa kita ke Bandara Pak? Saya nggak ada keberangkatan kemana-mana”. Supir itu hanya diam dan akhirnya berhenti di salah satu pintu keberangkatan bandara. Dia membukakan pintu untukku dan mengisyaratkanku untuk memandang sesuatu yang seketika bagai berseluncur di depan pintu bandara. Spanduk, banner, atau apalah itu namanya, bertuliskan “Will You Marry Me, Naura?” Seorang laki-laki dengan ukuran tubuh proporsional, memakai kacamata, berstelan jas, dan lengkap dengan sebuah kotak berwarna putih di tangannya, muncul setelah tulisan itu terbentang dengan jelas. Dia mendekatiku dan rasanya aku sangat mengenal orang itu. Sekarang, dia tepat berada di depanku.
“Selamat Pagi Matahariku, berbahagialah, penantianmu sudah berakhir. Izinkan langit menyapamu hari ini. Maukah kau menikah denganku, cowok kaku, sombong, bodoh, dan pengecut ini?”
Aku terdiam, masih tak percaya dengan apa yang diindrakan mata dan telingaku, masih meraba-raba apakah semuanya bukan sekedar mimpi. “Ra? Naura?”
Aku tersadar dari lamunan dan menyunggingkan senyum girang lalu berucap dengan lantang “Yes, I Do, Iya, aku mau”, setelah menjawab aku hanya bisa menangis sambil menangkupkan dua tangan di depan wajahku. Aku masih malu di depannya. Aku yang pertama kali mengungkap rasa, tapi aku tak menyesal dengan itu. Setidaknya dia tahu, bahwa rasaku ada, dan ternyata rasa yang kukira bertepuk sebelah tangan, telah tertepuk sejak dulu olehnya. Hanya saja, seolah kami bersepakat untuk menjaga rasa, hingga tiba saat pertemuan doa-doa kami di langit mewujud menjadi pertemuan yang menyatukan kami di waktu yang tepat.
“Tapi, secepat ini? Karir kamu bagaimana? Kuliahku?” Aku baru kepikiran.
“Aku tahu, kamu pasti nggak akan mau kalau diajak pacaran, jadi kata Papa kamu, kalau serius, sekalian jemput aja. Papa kamu udah setuju, kamu boleh cuti dulu.”
“Trus, satu lagi, kenapa di Bandara?” Tanyaku heran.
“Loh, kamu jawab iya kan? Kalau iya, berarti ayo balik ke Indonesia dan meresmikan semuanya. Aku udah nyiapin semua, sisa nunggu kamu aja.” Jawabmu datar tapi dengan senyuman tipis yang membuatku kembali jatuh hati.
“Udah PD banget bakal diterima ya?”
“Hmmm… Mungkin karena matahari masih bersinar mendampingi langit hari ini, makanya aku yakin, kamu juga bersedia mendampingiku hingga akhir. Iya kan?”
“Iya” Aku hanya bisa tersipu, masih tak percaya, Angga, Langitku, yang kusuka dengan segala kekakuan dan kesederhanaannya, ternyata juga bisa sangat romantis dan penuh kasih sayang seperti ini. Aku tak menyesal menantikanmu selama ini. Terima kasih sudah menjadi yang pertama mencipta rasa, sekaligus jadi yang terakhir untuk menghadirkannya dalam dunia nyata seperti saat ini. Terima kasih langitku.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hari ini tidak ada jadwal kuliah. Ami memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Keaktifannya di organisani kampus membuatnya sering terlibat kegiatan-kegiatan yang menguras tenaga. Kemarin organisasinya baru mengadakan bakti sosial. Ami sendiri baru tiba di rumahnya pukul sebelas malam. Hari ini ia memutuskan untuk istirahat.
Deru mobil terdengar di kejauan. Semakin dekat, hingga akhirnya berhenti di depan rumah Ami. “Mobil siapa itu?” batin Ami. Pertanyaannya segera terjawab ketika mamanya mengetuk pintu.
“Ami, boleh mama masuk?”
“Masuk aja, Ma. Gak dikunci kok.” Ami masih berbaring di tempat tidur. Kemudian mamanya masuk dan duduk di kasur Ami.
“Lho kamu belum mandi? Om Hadi dan keluarganya sudah menunggu di bawah.” Tanya mama Ami heran.
“Emang ada acara apa sih, Ma? Kayaknya formal banget.”Ami mengubah posisinya dari tiduran menjadi duduk di samping mamanya.
“Mama juga gak tau pasti. Tapi, kalau mama lihat dari raut wajah Ahmad, dia sepertinya tegang sekali. Mirip ekspresi papa kamu saat kakek mengkhitbah mama untuk papa kamu.”
“Maksud Mama?” kening Ami berkerut menyerupai lipatan kipas yang dibuat dari kertas. Mamanya hanya menyambut keheranan Ami dengan senyuman. “Ma, jangan bilang kalau kedatangan Om Hadi mau mengkhitbah aku.”
“Kalau iya memangnya kenapa? Om Hadi itu kan teman papa sama mama. Lagipula kamu kan sudah berteman dengan Ahmad sejak kecil.”
Ami hanya menunduk sambil menggigit bibir. “Aku gak mau dijodohin. Apa aku harus bilang kalau aku sudah punya pilihan?” batinnya.
“Ma, kalau aku nolak gimana?” tanya Ami takut-takut.
“Ami, papa sama mama tidak memaksa kamu untuk menerima Ahmad. Kamu boleh saja menolak, asalkan kamu punya alasan yang bisa kami terima.” Ami terdiam sejenak. “Lebih baik sekarang kamu siap-siap. Kami menunggu di bawah. Apapun jawaban kamu nanti, itu adalah pilihan kamu, dan kamu harus siap dengan segala konsekuensinya.”
“Iya, Ma. Aku ngerti.” Ami mengangguk mantap.
“Mama ke bawah dulu. Kamu jangan lama-lama, ya.”
Ami tidak mandi dulu. Mungkin takut tamunya keburu pergi. Ia hanya mencuci mukka dengan facial foam kemudian mengambil wudhu. Sebelum turun ia mnyempatkan diri untuk shalat dua raka’at. Meminta pertolongan agar diberi kelancaran ketika nanti dimintai jawaban.
Ami sebenarnya sudah punya pilihan sendiri. Fikri. Dia adalah kakak tingkatnya di kampus. Aktif di organisasi yang sama. Itu juga yang menjadi awal mula kedekatan mereka. Cinlok? Mungkin. Tapi, apapun itu jenisnya, cinlok lah, cimol, atau cireng sekalipun, Ami sudah berniat untuk serius. Meskipun sampai sekarang Fikri belum siap untuk bertemu orang tua Ami.
Ami kini sedang duduk di samping mamanya. Kepalanya masih menunduk. Benaknya dipenuhi rancangan jawaban penolakan yang akan dia berikan. Bukan karena tidak yakin, melainkan lebih karena takut menyakiti hati Ahmad yang sudah dia anggap sebagai kakak sendiri.
“Islam menganjurkan untuk bermusyawarah dalam mengambil keputusan. Jadi, sekarang pun saya tidak akan mengambil keputusan sendiri. Karena ini menyangkut masa depan Ami, maka keputusan juga akan saya serahkan padanya.” Terdengar suara ayah Ami yang berwibawa.
Ami mengangkat kepalanya. Matanya berkeliling menatap orang-orang di ruang tamu itu. Kemudian menarik napas perlahan.
“Sebelumnya, Ami mau bilang terima kasih sama Papa, yang sudah memberikan kesempatan kepada Ami untuk menjawab. Ami minta maaf jika jawaban Ami nanti kurang berkenan di hati Om Hadi dan keluarga, terutama Mas Ahmad. Ami juga minta maaf sama Mama dan Papa karena Ami belum memberi tahu tentang hal ini. Maaf sekali, tapi Ami tidak bisa menerima Mas Ahmad. Ami sudah memiliki pilihan lain. Mama dan Papa juga belum mengenal orangnya. Jadi, ini adalah murni keputusan Ami sendiri. Sekali lagi Ami minta maaf. Itulah jawaban yang Ami berikan. Semoga semuanya bisa maklum.”
“Sebenarnya Mas kecewa dengan jawabanmu, tapi Mas tidak bisa memaksa. Mas hanya bisa mendo’akan, semoga dia memang yang terbaik untukmu.” Ahmad angkat bicara.
“Terima kasih, Mas. Saya juga berdo’a, semoga Mas akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari saya.”
Setelah mendengar jawaban Ami, keluuarga Om Hadi pamit pulang. Tinggal Ami yang bingung dengan perasaannya. Ia sudah mengutarakan jawaban sesuai dengan hatinya. Tapi, rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Entah apa itu. Ami mengusir pikiran-pikiran buruk tentang hubungannya dengan Fikri.
***
Beberapa bulan setelah itu, mama Ami memberi kabar bahwa Ahmad sudah mendapatkan calon istri. Namanya Syifa. Ami ikut senang. Itu berarti do’anya terkabul. Hari-hari Ami berjalan seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Hingga tiba saatnya pada hari itu. Hari yang membuat Ami serasa jatuh ke dasar jurang.
Hari itu, Fikri mengajak Ami makan siang di sebuah rumah makan di dekat kampus. Raut mukanya tampak gelisah. Dengan susah payah, akhirnya Fikri mampu memulai pembicaraan.
“Ami, aku mau bilang sesuatu yang sangat penting. Tapi aku mohon, kamu jangan marah.”
“Bilang aja, Fik.” Ami berusaha tenang meskipun firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Aku....... Mamaku sudah menjodohkanku dengan anak temannya. Aku tidak bisa mengelak. Mamaku punya penyakit jantung. Aku tidak mungkin membiarkan penyakit mama kambuh gara-gara aku menolak permintaannya. Aku harap kamu bisa ngerti dan memaafkan ketidakberdayaanku.”
Saat itu, kepala Ami terasa berat. Bak ditimpa bongkahan batu yang jatuh dari langit. Air matanya sudah berkumpul. Namun Ami tak berkedip. Ia tahu, berkedip sekali saja, air matanya akan tumpah. Ami masih mmenatap Fikri. Bibirnya tertutup rapat. Ia tak mampu berkata-kata.
“Ami, bicaralah. Jawab aku. Kamu bisa memaafkan aku, kan?” pinta Fikri.
Sekarang Ami mengerti kenapa ada rasa yang mengganjal saat ia menolak Ahmad. Ternyata keputusannya untuk menolak Ahmad salah. Ia sendiri tidak menyangka Fikri akan meninggalkannya.
“Ami, aku mohon. Maafkan aku,” Fikri manatapnya dalam.
“Baiklah. Aku memaafkanmu. Tapi aku mohon, sekarang biarkan aku pergi. Aku ingin sendiri.” Ami beranjak keluar meninggalkan rumah makan itu.
***
Ami merasa hari-harinya berjalan bergitu berat. Sesekali ia teringat Ahmad. Dulu, sebelum Ahmad melanjutkan kuliah ke Bandung, mereka sering jalan bersama. Umur Ahmad yang terpaut tiga tahun lebih tua membuatnya bersikap lebih dewasa. Saat Ami membutuhkan bantuan, Ahmad selalu ada. Tapi sekarang.......Kemudian rasa sesal menyusup ke relung hatinya. Ia terlalu mementingkan Fikri tanpa memikirkan Ahmad dan semua kebaikannya.
Hari ini Ami tidak membawa motor. Ia berjalan menuju halte terdekat. Ia ingin segera pulang dan mengistirahatkan pikirannya. Sudah dua minggu sejak kejadian di rumah makan. Ia masih belum bisa melupakan Fikri sepenuhnya. Saat ia bercerita pada mamanya, mamanya hanya tersenyum.
“Kamu harus kuat, Ami. Kamu lihat, Ahmad sekarang sudah punya calon istri berkat kesabarannya. Kamu juga pasti bisa, asal kamu mau bersabar dan terus berdo’a. Semua pasti ada hikmahnya,” ujar mama Ami saat itu.
“Assalamu’alaikum,” terdengar seseorang menyapa Ami.
“Wa’alaikumsalam warohmatulloh. Tia? Nunggu bis juga?” tanya Ami. Ternyata yang menyapanya adalah Tia, teman sekelasnya.
“Iya. Kamu gak bawa motor?”
“Lagi di bengkel.” Jawab Ami.
“Oh. Gimana kabar Fikri?” Ami terdiam. Pertanyaan seperti ini yang malas ia jawab.
“Kami sudah putus.” Tia mengerutkan keningnya.
“Gimana ceritanya?” Ami menatap Tia sekilas. Ia tahu, Tia bukan tipe wanita yang banyak bicara. Jadi ia tidak ragu untuk bercerita pada Tia. Mulai dari kedatangan Ahmad untuk mengkhitbahnya hingga kejadian di rumah makan dua minggu yang lalu.
“Lalu, sekarang perasaanmu gimana?”
“Entahlah. Aku sendiri bingung. Terkadang aku menyesal telah menolak Mas Ahmad. Mungkin itu adalah kesalahan terbesarku. Tapi aku tak ingin mengganggunya, apalagi memintanya kembali. Aku dengar dia sudah punya calon istri. Kalau tidak salah, namanya Syifa.” Tia hanya tersenyum.
“Memang, terkadang kita menyadari betapa berartinya orang itu saat ia telah pergi.”
“Menurutmu aku egois?” tanya Ami.
“Kamu tidak egois. Hanya saja, kamu terlalu yakin dengan perasaanmu. Kamu sibuk memikirkan orang yang kamu cintai, tanpa memikirkan siapa yang mencintaimu. Padahal cinta manusia itu terbatas. Cinta Fikri padamu, begitupun sebaliknya. Tapi kamu harus ingat, di atas segala-galanya, Dia-lah yang selalu mencintaimu dengan cintanya yang hakiki. Dan dengan cintanya pula, kelak kamu akan mendapat penjelasan siapa cintamu yang sebenarnya.”
“Semoga penjelasan itu segera datang.” Jawab Ami. “Kamu sendiri, apa kamu sudah mendapatkan penjelasan itu?”
“Bisku sudah datang. Selamat berjuang. Tentang pertanyaanmu, jawabannya ya. Aku sudah mendapatkan penjelasan itu.” Tia menyodorkan sebuah amplop yang terlihat seperti sebuah undangan. Kemudian ia masuk ke dalam bis tersebut.
Ami menerima amplop pemberian Tia. Bis itu sudah melaju saat Ami membukanya. Ternyata benar, isinya undangan pernikahan. Ami penasaran, siapa pria yang beruntung mendapat calon istri sebaik Tia. Di bukanya undangan itu. Matanya membelalak tak percaya. Di sana tertulis:
Minko mau kasih info lagi nih. Kali ini terkait lomba menulis yang akan KITA adakan (lagi). Sudah memasuki lomba menulis yang ke 5 dan masih setia ditemani dengan gelombang.co. Siapa yang masih belum tahu gelombang? Yap! Gelombang ini adalah yang mensponsori KITA dari awal untuk lomba tulis menulis, loh! Siapa yang sudah dapatkan hadiahnya? Bentuknya wallframe dengan kualitas boleh saing. Pilihan cerdas untuk menghiasi kamar atau ruang kerja. Untuk melihat bagaimana wallframenya, Tuan Nona bisa menengok sebentar atau memfollow Instagram gelombang di gelombang.co. Niscaya tergiur, terlebih harganya yang cukup bersahabat dengan dompet. Hehehehe
Dan satu lagi kabar yang mengasyikkan lainnya, di proyek ini pemenang tidak hanya mendapatkan wallframe, namun juga akan mendapatkan hadiah plus plus lainnya. Pemenang akan mendapatkan buku juga. Dua hadiah langsung loh! Siapa yang tak mau?! Bukunya, Karena Puisi Itu Indah Jilid II a.k.a KPII Jilid II. Siapa yang belum punya buku karyanya Mamah Tia karenapuisiituindah?! Bukunya oke loh, sayang ga punya. Mau beli? Mending ikutan lombanya KITA deh, siapa tahu kalian menang dan dapatkan bukunya. GRATIS!! Belum dapat plus juga berupa wallframe. Ah kurang baik apalagi sih Minko? *kibas jakun*
Ga usah panjang lebar, kali ini Minko jelaskan saja teknis lomba menulis KITA yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 2000 followers line official KITA; @tumbloggerkita.
Lomba ini bertajuk : ‘Senandung Aksara’
Detail teknisnya bisa dilihat di bawah ini:
Minko akan share 3 lagu di tumblr, setelah tulisan ini diluncurkan.
Tuan Nona cukup pilih 1 lagu yang akan dijadikan tema tulisan. Tulisan ini dalam bentuk apa pun, mau puisi, prosa, cerpen fiksi, artikel, dan lain-lain. Minko bebaskan untuk kalian berekspresi dengan lagu yang akan kalian pilih sebagai tema tulisan kalian.
Tulis karya kalian menggunakan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
Tentukan untuk siapa lagu tersebut diajukan, sertakan: ‘tumbloggerkita (harus memention KITA), lagu ini aku tujukan untuk (sebutkan nama).’ Misal: ’tumbloggerkita, lagu ini aku tujukan untuk Pricilia.’ Lalu ceritakan senandungmu melalui aksara.
Posting di blog pribadimu, pastikan memention tumbloggerkita di awal kalimat. Karena, tanda karya sudah masuk adalah memention KITA dan dapatkan like dari Minko, jika belum juga dilike ingatkan Minko melalui ask.
Tiga pemenang terbaik akan direpost oleh Minko. Penilaian selanjutnya diserahkan kepada followers dengan melihat notes terbanyak.
Lama waktu adalah satu minggu, terhitung hari ini Jumat, 11 September 2015 pukul 15:00 WIB sampai dengan 18 September 2015 15:00 WIB. Jangan terlambat terlebih terlewat ya :)
Sekian teknis perlombaan yang Minko jelaskan. Sejauh ini ada yang ingin ditanyakan? Jika ada via ask tumblr atau chat di official line saja ya. Karena pertanyaan melalui reply tak akan pernah Minko balas.
Terima kasih.
Akan ada seseorang,
yang datang, kemudian pergi,
memberikan sesuatu padamu,
: kebesaran cinta, barangkali.
atau lebih besar daripada itu.
Hari ini adalah genap hari ke tiga aku di opname di Rumah Sakit besar ini. Rasanya semuanya begitu membosankan. Bau obat-obatan, latar belakang serba putih, orang-orang hilir mudik di setiap jam besuk. Ah, aku bosan. Ingin keluar, ingin pergi, ingin kabur. Tapi seperti kebanyakan pasien lainnya, aku belum bisa. Penyakitku lah yang membawaku sampai kesini. Demam berdarah dan tipes. Dua kombinasi yang sepertinya memang bersahabat. Dan aku adalah salah satu yang tidak beruntung karena mereka mampir ke tubuhku. Ya, tubuh yang memang sepertinya membutuhkan istirahat total dari semua rutinitas harian yang membuat tubuh ini kelelahan.
Ruang tempat ku dirawat tidak terlalu besar. Ruang ini cukup dihuni oleh tiga orang pasien dengan luas ruangan perpasien ala kadarnya. Yah, inilah kelas medium. Bukan VIP. Ah tak penting memang, karena mau seluas dan seleluasa apapun, aku toh memang tidak suka Rumah Sakit. Tidak suka semuanya. Karena disini itu tempat kesedihan, kesakitan. Atau mungkin beda kasus bila RS nya RS Bersalin.
Ah ada yang lupa aku sampaikan, di hari ketiga ini pula, si kamar rawat ku ini mendadak saja menjadi penuh. Para pasien berdatangan. Awalnya aku pikir, aku bisa istirahat dengan baik disini. Dengan situasi yang lebih tenang tentunya. Namun mungkin tidak lagi setelah hari ini. Kamar yang tadinya hanya dihuni oleh ku seorang, kini mulai dihuni oleh dua orang. Dan bahkan di subuh hari keesokan harinya, kamar ini resmi penuh. Sungguh tak nyaman untuk beristirahat diruangan penuh seperti ini.
*
Salah satu wanita yang menemaniku di kamar inap itu bernama Liliana. Wanita separuh baya itu tersenyum simpul menatapku dengan sangat ramah. Dari sejak kedatangannya, tak pernah ku lihat sedikitpun raut muka kesedihan seperti kebanyakan pasien yang datang ke sini di hari-hari awal mereka. Dia selalu tersenyum. Entah sedang sakit atau tidak. Senyum itulah yang setiap hari selalu aku lihat. Senyum itu pula, tak pernah absen setiap hari dari wajah yang sudah keriput itu. Nenek Liliana juga tipikal wanita yang memperhatikan penampilan. Sungguh dia terlihat segar dan cantik setiap hari. Dengan make up yang teroles di wajahnya, dia tak tampak seperti sedang sakit.
Setiap pihak (suster terutama, dimana dengan mereka lah aku banyak berinteraksi) di Rumah Sakit ini selalu merahasiakan apa penyakit pasiennya. Begitupun dengan penyakit yang di derita oleh Nenek Liliana. Entah kesamaan apa yang dapat membuat kami begitu cepat akrab satu sama lain. Padahal, aku berani bersumpah aku sudah hampir mati kebosanan berada disini. Trombositku yang makin hari makin menurun juga di tambah dengan keadaan perut akibat tipes yang tak semakin membaik. Itu saja bisa membuatku bosan setengah mati. Dan bantuan novel-novelpun rasanya sama sekali tidak membantu. Rasa bosan itu memang bisa kukatakan hampir membunuh hari-hariku. Bosan sekali. Dan kehadiaran nenek Liliana bisa sedikit menghiburku.
Saat itulah si Nenek itu menawarkan beberapa hal baru yang mampu menghilangkan rasa bosanku. Ya, dia itu seorang nenek yang unik. Seorang nenek tua yang masih sangat enerjik. Seorang nenek yang masih sangat bersemangat untuk hidup. Walau sampai detik aku menulis inipun aku masih belum tau apa penyakitnya, dia tetap ajaib buatku.
Akhirnya.. kesampaian juga membuat sebuah … katakanlah proyek menulis untuk diikuti oleh teman-teman yang lain. Proyek ini tidak saya beri nama special, tapi boleh saja disebut dengan PROYEK MENULIS CERPEN - TIA AND FRIENDS.
Teman-teman yang ingin ikut serta, silakan baca dulu aturan mainnya ya :
1. Follow dulu tumblr http://ceritapendektia.tumblr.com, karena nanti cerpen kalian akan dipost di sana. Insya Allah satu cerpen setiap dua hari (bisa jadi berubah tergantung partisipasi kalian). Proyek ini akan dimulai Senin nanti, 29 Juni 2015. Tapi boleh mulai mengirimkan email saat ini juga.
2. Kirimkan cerpen kalian ke email saya : [email protected]. Kirimkan email dengan judul email : CERPEN (JUDUL CERPEN) - NAMA LENGKAP PEMBUAT CERPEN. Di badan email tolong tuliskan alamat blog tumblr kamu ya.
3. Cerpen bertema bebas, asal isinya tidak mengandung unsur SARA, pornografi, dan tentu tidak plagiat karya orang lain.
4. Cerpen tidak harus belum dipublikasikan. Jadi bila sudah pernah dipost di blog manapun, atau bahkan sudah pernah diterbitkan di sebuah kumcer, boleh juga.
5. Cerpen kamu sendiri, tentu tidak dicantumkan dalam badan email, ya. Namun diattach dalam bentuk file Ms. Word. Disarankan, cerpen maks 6 halaman A4.
6. Setiap partisipan tentu boleh mengirimkan cerpen lebih dari satu. Bebas.
7. Akan ada hadiah kecil dari saya setiap satu bulan sekali, berupa sebuah buku KPII Jilid II untuk satu pengirim cerita favorit versi saya. 🙆🙆🙆
Saya sudah sempat share cerpen-cerpen saya di sana, fiksi dan nonfiksi. Kalian bisa menilai sendiri, sepertinya. Memang masih jauh dari sempurna, karena itu saya ingin kita bisa belajar bersama dengan berlatih untuk menulis, menulis, dan menulis, lalu berbagi.
Semoga niat ini akan terus terlaksana kedepannya, tentu saja dengan partisipasi kalian semua.
Terima kasih. Info ini, bisa kalian share ke teman yang kebetulan suka menulis dan punya tumblr.
Boo! punya fiksi bergenre horor? share dengan mention ke @_020189 dengan format seperti di gambar di atas. Deadline maks tgl 20 tiap bulannya. Berhadiah pulsa 50rb rupiah untuk fiksi horor terbaik tiap bulannya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Memilih menjalani dengan dia. Mengiyakan ajakannya untuk berjalan bersama.” Jelasnya
“Selamat. Semoga kamu menemukan sepotong hati yang baru sesuai dengan yang kamu inginkan.” Jawabku
“Terima kasih. Semoga akhirnya kamu juga menemukan penggantiku yang bisa menerima segala kekuranganmu.” Ucapnya untuk terakhir kali. Setelah itu kami tidak lagi saling berkirim kabar. Kisah kami usai sudah.
Kami memulai kisah ini di tahun 2006, sama-sama masih berada di bangku SMP. Ia adalah teman sekelasku yang selalu membantuku dalam belajar. Anak yang tidak rajin tapi ya dia memang pintar. Segala hal bisa ia serap dengan sempurna. Tujuh tahun kami menjalani kehidupan bersama.
Jogja, 17 Februari 2015
Lepas dua tahun tak bersama dan tak mendengar kabarnya tidak membuat hati ini berubah. Seandainya setiap kupejamkan mata bukan wajahnya yang terlintas, mungkin transisi ini akan semakin mudah. Mungkin aku tak perlu merasa semua berat dan sesak. Sering kali kugapai telepon genggamku hanya untuk melihat apakah ada pesan singkat dari dia seperti dahulu. Dia yang selalu mengingatkanku untuk beribadah ataupun makan. Tak juga ada kabar. Sejenak ingin tak beranjak. Tak lagi ada jejak bersanding pasir yang kutapak. Langkahku masih sendiri.
Hari telah berlalu, lembayung senja telah menyapa, langit merah dengan ukiran awan jingga tertatah hiasi mentari yang mulai lenyap ditelan bumi. Aku masih terduduk sendiri disini, menatap ombak. Entah mengapa, semakin lama semakin terasa janggal. Ini terlalu lama, sangat lama hingga semua terasa biasa saja.Langit pun berangsur gelap, aku beranjak. Melangkahkan kaki untuk kembali ke kehidupan nyata, dimana aku juga tak menemukan kamu. Aku lelah bersandiwara dalam raut wajah. Aku lelah mengatakan aku baik-baik saja. Dalam rintihan doa aku pun masih merapal namamu. Aku lelah, lelah bermain kata dalam rindu yang menyiksa.
Depok, 4 Maret 2015
Bermula dari sapa lembayung senja. Gelap pun siap mendekap dengan dinginnya hawa. Waktu telah cukup kejam merajam. Enggan melepas penat dalam kerinduan. Aku putuskan untuk meninggalkan kota kenanganku dengan kamu. Berjuta harap kan kutemukan pengganti kamu.
Aku bertemu lelaki baru. Anak pertama dari 4 bersaudara, berbeda dengan kamu yang merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara. Ia merupakan tulang punggung keluarga, ayahnya tiada di usianya 22 tahun.
Ia mengajarkanku banyak hal mengenai kehidupan. Bagaimana bertahan dalam kondisi sulit. Ia memiliki sifat humoris seperti yang kamu miliki. Sanggup membuatku tertawa dan membuatku semakin mengingat kamu. Aku mulai berjalan dengannya. Aku mulai dengan kelabu. Aku mulai dengan ragu.
Ia mencoba meyakinkanku. “ Jangan takut mencoba lagi. Cinta yang dewasa memberi kesempatan” ucapnya. Aku tak mau keliru. Benar dia kah? Betulkah ia akan menjadi bahagiaku?
Bogor, 9 September 2015
Enam bulan sudah. Kamu mengenggam tanganku untuk melewati hidup ini bersama. Aku menemukan ketenangan dalam matamu. Binar matamu selalu meneduhkan hati yang sepi akan kasih sayang. Kita belum lama bersua untuk berbagi kisah hidup ini. Tapi ada satu hal darimu, meruntuhkan segala keraguan. Bukan janji namun lebih dari sekedar berarti.
Kita memiliki kegemaran yang sama. Mengajar. Aku selalu tersenyum di saat melihat kamu mengajar. Semakin aku mengagumi kedewasaanmu. Terlihat sabar dan telaten dalam menghadapi anak-anak yang berteriak memanggilmu ‘Bapak Guru’. Tawa riang anak-anak membuat pikiran menjadi segar, ucapmu ketika aku menanyakan mengapa kamu suka mengajar.
Depok, 25 Oktober 2015
“Pagi. Aku akan menikah bulan depan. Mohon doanya. Kalau bisa kamu datang, datanglah. Resepsi akan dilaksanakan di Magelang” isi pesan singkat di telepon genggamku.
Jantungku bergemuruh. Dadaku sesak. Air mataku seketika itu juga menetes. Aku tak sanggup berdiri. Bahkan aku tak mampu lagi menggenggam telepon genggamku. Teleponku terhempas menatap lantai dan berserakan. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Orang yang selama ini berusaha aku lupakan hadir kembali membawa berita gembira yang tidak ingin aku dengar.
Mungkin terlalu dalam kau berpijak atau aku yang abadikan jejak.
Serasa saat bersama.
Andai aku miliki waktu.
Hanya lika-liku langkah lama.
Maka ini ucap bibirku.
Selamat tinggal kamu.
Biar saja kurapatkan perahu.
Tanpa navigasi atas tujuanku.
Biar kujalani dengan yang baru.
Mungkin hantarku lewati gelap.
Papah aku akhiri ceritaku.
Tanpa perlu perahu mrapat, sudah cukup, tanpa bertemu lain yang ubah sikap.
Di ruang periksa, seorang dokter muda tampak sedang berbicara dengan sepasang suami istri. Sambil menggenggam tangan istrinya, si suami tampak serius memperhatikan apa yang disampaikan dokter tersebut. Sambil membetulkan posisi kacamatanya, dokter itu melanjutkan menyampaikan hasil diagnosanya.
“Tidak ada yang aneh, pak. Semua fungsi organ bekerja normal, tekanan darah normal, dan kadar lemak atau gula pun baik-baik saja.”
“Padahal dokter adalah harapan terakhir saya tapi dokter pun tidak mampu mengetahui apa yang membuat istri saya seperti ini.”
“Saya sudah melakukan tes menyeluruh, pak. Sudah saya usahakan yang terbaik untuk mendiagnosa kondisi istri anda ini. Memang saya masih muda tapi saya sudah berkonsultasi dengan dokter-dokter yang telah anda temui sebelumnya dan kami sepakat bahwa istri anda baik-baik saja.”
Si suami menatap istrinya. Istrinya balik menatap suami. Tidak ada cahaya dari mata coklat istrinya yang dulu penuh energi itu. Pipinya cekung. Rambutnya telah banyak yang rontok dan lengannya sangat lemah.
“Ayah, aku sudah capek. Mungkin benar kata dokter, aku baik-baik saja.”
Dokter muda dan suami hanya bisa terdiam. Si suami mempererat genggamannya. Tidak adakah yang bisa ia lakukan untuk menolong istrinya? Dia sudah datang ke dokter-dokter lulusan terbaik dan sejumlah dokter senior lainnya yang terkenal di negeri ini. Semua berkata Istrinya baik-baik saja. Darimana ‘baik-baik saja’-nya? Semua orang yang melihat istrinya pasti bisa langsung menilai tanpa punya latar belakang pendidikan medis bahwa istrinya.. sakit.
“Kalau saya boleh menyarankan, apakah Bapak sudah mencoba ke psikiater?”
“Belum. Apakah ini ada hubungannya dengan kejiwaan? Istri saya tidak gila.”
“Bukan itu, ada beberapa penyakit yang timbul dari pikiran, Pak.”
Ia kembali menatap istrinya. Kali ini istrinya hanya menunduk ke bawah.
“Siapa psikiater terbaik di negeri ini?”
“Ini, saya catatkan alamatnya. Beliau adalah psikiater terbaik dari kampus saya. Beliau membuka praktik di luar kota. Saya kenal betul dengan beliau. Semoga ini jalan terbaik untuk anda dan istri anda.”
“Semoga.”
Segera setelah menerima catatan dari dokter tersebut, si suami pamit dan tidak sabar untuk bertemu psikiater tersebut. Ia hanya ingin istrinya cepat sembuh.
***
“Yah..”
“Ya, Bunda?”
“Kenapa Ayah dulu memilih Bunda?”
Sambil tetap mempertahankan fokusnya menyetir, ia teringat semua alasan memilih istrinya ini.
“Banyak bunda.”
“Apa saja?”
“Senyum Bunda paling indah. Bunda adalah wanita yang tidak akan kutemui lagi penggantinya. Bunda mampu meredam sikap liar Ayah. Bunda mampu jadi tempat ternyaman bagi Ayah. Banyak alasannya, Bunda. Ayah akan tulis sebanyak mungkin nanti setelah kita periksa.”
“Jangan nanti. Aku takut tidak akan bertemu lagi dengan Ayah.”
Tiba-tiba mobil berhenti dan berbelok ke bahu jalan. Si Suami melepas sabuk pengamannya dan memegang lengan kurus istrinya, matanya marah.
“Bunda! Bunda tatap mata Ayah! Bunda akan baik-baik saja. Bunda tidak akan pergi kemana-mana!”
Penuh dengan emosi suami itu menyampaikan hal itu. Istrinya sempat terkejut dan kemudian segera kembali ke kondisinya sebelum itu. Menunduk ke bawah, tidak bersemangat. Seakan daun di musim gugur yang tampak rapuh di ujung dahan, menunggu saatnya gugur.
Si suami memasang kembali sabuk pengamannya dan melaju kembali. Ia sangat berharap pada psikiater ini. Istrinya menatap kosong ke depan selama perjalanan. Wajahnya tidak beremosi tapi genangan air mata mengalir tanpa diketahui pria di sampingnya.
***
“Apa yang anda lakukan di sini?”
Seorang berrambut putih dan berpakaian rapih sambil menenteng kantong plastik belanja menyapa pasangan suami istri yang duduk di depan pintu ruang praktik.
“Apakah anda dokter Pramudito?”
“Iya, itu saya. Apakah anda tidak tahu jadwal praktik saya? Hari ini saya libur.”
“Saya tahu tapi saya butuh bantuan anda dan kami tidak bisa menunggu hingga besok.”
“Siapa yang sakit? Oh. Baiklah, silahkan masuk. Saya bereskan dulu belanjaan saya, anda tunggu saja di sofa di dalam”
Pasangan tersebut masuk ke dalam ruangan itu. Ada sofa warna abu cukup panjang dan nyaman. Di dinding terpampang sejumlah berita dan penghargaan yang mengakui tangan dingin pemilik tempat ini. Di ruangan sebelah, tempat psikiater itu tinggal. Ia memasukkan sejumlah barang belanjaan pada tempatnya. Ia kemudian mengambil papan kertas dan pena untuk mencatat. Ia dengan tenang menghampiri pasangan tersebut.
“Silahkan, ibu bisa duduk di sofa warna ungu ini. Rileks. Bapak bisa mendampingi Ibu. Tapi, tolong Bapak jangan menyela dan mengganggu jalannya pemeriksaan.”
***
“Waktu itu, dia memeluk saya dengan eratnya. Tanpa saya tahu itu adalah pelukan terakhirnya.”
“Kemana kemudian dia pergi?”
“Ia mengikuti wajib militer. Lalu tidak ada kabar sama sekali.”
“Siapa dia bagi anda?”
“Dia cinta pertama dan terakhir saya.”
Si Suami tercekat. Siapa lelaki ini? Cinta pertama dan terakhir bagi istri tersayangnya.
“Lalu, apakah anda kemudian ingin bertemu dengannya?”
“Iya. Saya sangat ingin bertemu. Kemarin dan kemarin dan kemarin lalu kemarinnya pula saya seakan mendengar suaranya. Ia masih hidup, saya tidak pernah percaya dia sudah meninggal. Dia hanya lupa memberitahukan kabarnya. Di suatu tempat dia mampu bertahan hidup dan menunggu saya datang.”
“Apa!”
Si suami terbangun dari duduk dan mencoba mengguncangkan istrinya tapi psikiater segera tanggap dan menghentikannya.
“Ingat anda tadi bersedia untuk tidak mengganggu proses ini. Ia bisa saja mengalami disorientasi jika anda secara kasar membangunkannya sekarang!”
Mata sang psikiater menyala dan marah. Lebih marah dari si suami.
“Tapi..”
“Kita dengarkan lebih lanjut hingga saya rasa cukup. Lalu kita bangunkan.”
Suami terduduk kembali dan memegang kepalanya dengan kedua tangan. Rambutnya acak-acakan. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya selama sesi hipnotis ini. Psikiater itu pun memulai kembali.
“Apakah anda masih dapat membayangkan wajahnya?”
“Tidak.”
“Kenapa? Kata anda, anda sangat merindukannya?”
“Saya punya fotonya. Disimpan di dalam buku yang sering saya baca. Tapi, entah kenapa saya tidak bisa mengingat-ingat wajahnya.”
“Bisa anda coba tahu apa penyebabnya?”
“Ada seseorang.”
“Siapa?”
“Suamiku. Aku hanya ingat wajahnya.”
“Tapi, kau masih mencintai pria yang tadi.”
Perempuan itu bergetar hebat. Badannya seperti kedinginan. Matanya masih terpejam namun ia mulai menangis. Air matanya mengalir.
“Rasanya lebih baik disiksa. Aku tidak tahan.”
Psikiater itu berbalik dan menatap suami wanita itu.
“Saya kira saya tahu apa yang kita hadapi.”
***
“Bunda..”
“Anda mau kue ini? Enak.”
Laki-laki itu mengambil sepotong kue. Ia menangis. Yang dikatakan psikiater itu tepat. Istrinya kembali berenergi. Semua bagian tubuh istrinya seakan tumbuh sehat kembali. Senyum sangat lebar dan berbeda dengan saat ia sakit. Bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Setelah sehatnya dia selalu berlari dari kamarnya dan berkeliling di sekitar rumah sakit. Siangnya dia berbagi kue yang ia buat pada malam sebelumnya. Ia juga kini seperti tidak ingat siapapun.
“Kenapa bisa seperti ini, Pak Pram?”
“One of the keys to happiness is a bad memory. Rita Mae Brown pernah berkata seperti itu dan benar adanya. Semudah itu untuk bahagia. Dia hanya perlu lupa dan melupakan kenangan yang tidak dia inginkan. Perlu proses melupakan dan penanganan seperti ini adalah jalan singkatnya.”
Lelaki itu menatap istrinya yang menari di antara tanaman bunga. Ia terdiam dan hanya menatap istrinya kemanapun ia pergi hingga berjam-jam. Ia kemudian pergi ketika langit semakin gelap.
“Dia sudah pergi.”
“Ini yang terbaik?”
“Ya. Kembali dalam pelukku, sayang.”
TAMAT
Cerpen ini sudah diposting di http://rinaldyusuf.wordpress.com dan diikutkan dalam proyek menulis fiksi 31 hari di kampungfiksi.com untuk prompt 5, Kenangan.