Di jagat raya yang gemanya tak pernah sampai ke telinga Tuhan,
di antara dentuman supernova dan bisikan semut pada daun gugur,
kau berdiri—sebutir debu di padang keabadian,
tak tercatat, tak dicatat, tak juga diingat oleh angin.
Dan justru di sanalah letak kemegahanmu.
Karena ketika dunia tak menunjukmu dengan jari emasnya,
kau bebas menari di bawah hujan tanpa diminta membuktikan apa-apa.
Kau bisa gagal, jatuh, lalu diam—
tanpa perlu membuat pertunjukan dari luka.
Apa gunanya menjadi matahari,
jika setiap pagi kau harus membakar dirimu sendiri demi tepuk tangan?
Bukankah lebih mulia menjadi bayangan yang tak pernah disebut,
namun selalu setia menemani langkah?
Menjadi tidak penting adalah anugerah yang tak ditawar,
karena di dalam ketidakpentingan itulah,
kau bisa mencintai tanpa syarat,
berbuat baik tanpa dokumentasi,
dan menangis tanpa kamera.
Lihatlah rumput yang diinjak setiap hari—
ia tumbuh tanpa marah, hijau tanpa ingin dikenal.
Ia tahu, dunia ini tak perlu saksi bagi kebaikan kecil.
Dan kau pun tahu: menjadi biasa adalah bentuk tertinggi dari kebebasan.
jika suatu hari kau bangun dan merasa kecil,
hilang di tengah hiruk pikuk manusia yang sibuk menjadi penting.
Karena mungkin, hanya yang merasa tak penting,
yang mampu benar-benar hidup.
Salam Abadi dalam Pengabdian