Memberi Ruang
Baru hampir 8 bulan jadi ibu, tapi pagi ini aku semakin diberi pemahaman kalau jadi ibu harus berani kasih ruang untuk anaknya.
Tadi pagi, waktu siap-siap berangkat kerja, Uwak --yang membantu kami di rumah, tiba-tiba teriak senang "eeeeehhhhh bisa naik sendiri diaaa!!!!" Aku buru-buru keluar kamar dan lihat anakku sudah di atas kasur :)) "Yang bener wak? Naik sendiri? Gak dibantuin?," karena memang selama ini dia sudah bisa naik kasur, tapi pasti masih dibantu dan dijagain belakangnya. "Iyaaa bener loh! Saya gak pegang apa-apa," "Coba, ulangi-ulangi!" sambungku.
Bener aja! Ternyata dia udah bisa!! WKWKWK JAGOAAANNN! Kami berusaha se-diam-mungkin, se-tidak-berisik-mungkin, dan aku berusaha tidak ketahuan kalau sedang merekam dari belakang, supaya dia FOKUS menggapai tujuannya di atas kasur. Dan voilaaa~ bisa loh dia naik sendiriii, sudah semakin kuat kakinya! :))
*inhale *exhale
Kata bubeks, punya anak adalah rangkaian patah hati, but in a good way. Sejauh ini patah hatiku baru saat dia mulai MPASI. Kayak, ah, dia udah ga butuh ASI ku lagi huhuhu, tp cool cool cool dia bisa makan sendiri! Oh, the duality! I know it will always be like that, motherhood :)
Selama perjalanan berangkat kerja aku senyum-senyum sendiri, my head was busy, talking about: Yes! That's it! That's how you will act in the next yeaaarrsss ahead as a parent, as a mom.
Melihat dari jauh, mengawasi, dan siaga.
Siap dipeluk kalau anaknya mau, siap loncat dan menangkap kalau anaknya jatuh. Tapi bukan berarti selalu merasa kasihan sama anaknya dan berakhir terlalu menjaga, sehingga tidak memberi ruang.
Aduhh takut jatuh, gendong aja deh. Aduhh takut nggeblak, pegangin terus aja deh. Aduhh takut tersedak, kita suapin aja deh.
:)
Being a parent, being a mom, is about to giving a space. Rasanya kita memang selalu ingin peluk, ingin cium, ingin dekat, bersama-sama sampai besar. But, at what cost? Cost of him not being able to doing anything? Harga yang dibayar ya sudah otomatis anaknya diam, tidak bisa apa-apa, karena tidak diberi waktu dan ruang untuk menjelajah lingkungannya dan kemampuannya.
Membiarkan anak berbuat salah, membiarkan anak tidak bisa, membiarkan anak berusaha, kurasa adalah yang paling dibutuhkan. Supaya suatu hari anak bisa, tanpa kita, orang tuanya.
Bersama itu juga sambil menyiapkan diri untuk mendengarkan, menerima laporan ocehannya, dan menjadi penguat kalau-kalau ada yang kelewat susah dan berat. Bukan jadi yang paling depan mengingatkan lalu menyalahkan. Bukan jadi yang paling depan menyekap keingintahuannya. Dan bukan jadi yang paling depan dia sesali kehadirannya. Naudzubillah.
Rasanya aku lagi-lagi "diingatkan" kalau anak tuh punya Allah SWT. Suatu saat dia punya tugasnya sendiri di bumi Allah ini. Mungkin dekat, mungkin jauh, gak ada yang tahu. Tapi tugasku hari ini adalah mendidik, mengarahkan, menyiapkan, supaya suatu hari dia akan siap menjalani tugasnya dengan sebaik-baiknya bekal. InsyaAllah.
Semangat berjalan lebih jauh, menyelam lebih dalam, Gih!













