Singkat cerita, seseorang dari masa lalu tiba-tiba mengirimkan sebuah pesan. Setelah dibalas beberapa kali, beliau bertanya seperti ini.
Karena memang belum menikah, maka kujawab belum dan ternyata dia pun belum menikah. Dia berterimakasih, karena selama dua tahun tidak bertegur sapa, aku masih menyimpan nomor ponselnya. Dia sempat mengira, bahwa aku sudah memblokirnya. Jujur, aku agak malas membicarakan hal ini, namun beberapa sikapnya membuatku jengah.
Terkadang, membiarkan seseorang yang pernah singgah dihati, bukan berarti masih ingin menjalin hubungan kembali. Dia mengatakan bahwa beberapa waktu yang lalu sempat bermimpi tentangku, kemudian dia memberanikan diri untuk menghubungiku dua hari yang lalu.
Setelah beberapa hal dibahas dalam sebuah pesan singkat, obrolan kami pun berakhir. Sebuah kesimpulan yang ingin kutegaskan kepada siapapun, baik itu perempuan ataupun lelaki, dimohon untuk tidak menghubungi seseorang yang sudah berlalu dari hidup kalian.
Jika hubungan itu sudah berakhir, maka sekeras apapun usaha yang dikerahkan, mustahil hubungan tersebut akan sama seperti sedia kala. Karena kepercayaan itu laiknya gelas, yang apabila retak-bahkan pecah-tidak akan bisa kembali menyatu. Dan dengan mencari tahu kabar masing-masing adalah cara paling ampuh untuk mengorek luka yang sudah mengering.
Salahku, membiarkannya masuk kembali kehidupku. Harusnya, aku lebih tegas, aku harus memberikan batas yang jelas, siapa yang boleh dan tidak boleh memiliki akses masuk kedalam hidupku. Aku jadi kembali teringat dan terusik dengan apa yang pernah terjadi.
Di usia 30 ini, dating adalah hal yang cukup sulit bagiku. Sempat beberapa orang dari masa lalu menyapa dan mengingatkan tentang apa saja yang sudah berlalu. Namun untuk kembali menjalin sesuatu, terlalu banyak pertimbangan bagi kita berdua.
Ada seseorang yang sempat dekat denganku diawal tahun ini, ia sempat membantu aku dalam proses tesis sebelum aku maju sidang. Ketika berdiskusi dengannya, aku bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam, seperti topik yang tidak pernah habis. Namun, sejak awal dia tidak mencari hubungan romantis dalam waktu dekat, sehingga aku pun menjauh.
Semakin bertambah usia, semakin malas untuk berkenalan dengan orang baru, kalaupun ada, aku mencari yang sejak awal jelas tujuannya agar tidak membuang waktu kami berdua. Ada banyak batasan yang kuterapkan pada orang baru, hal tersebut buah dari pelajaran dimasa lalu. Akhirnya, kandidat pun semakin sedikit.
Saat ini, aku lebih suka bekerja, hasil dan tujuannya nyata. Meskipun lelah, namun setelah mendapatkan upah aku bisa mempergunakan hasil jerih payahku untuk menghibur diriku sendiri. Konflik yang ditimbulkan dari pekerjaan juga tidak terlalu menguras tenaga, aku pun lebih mudah mengakhiri hubungan pekerjaan jika dirasa hal tersebut sudah sangat mengusik.
Tapi aku masih percaya dan berdo'a, bahwa diluar sana, ada seseorang yang juga sedang berusaha menemukan jalan untuk bersamaku. Mungkin jalannya berliku dan tidak mudah, mungkin sesekali ia ingin menyerah, namun ia tidak patah arang untuk segera menemukan aku, seseorang yang sejak lama ia tunggu untuk menjadi pendamping hidupnya, satu untuk selamanya.