Selamat Jalan, Nji.
Sabtu, 11 November 2017.
Belum genap sehari aku bahagia mengingat momen bertemu Vidi kemarin. Tiba-tiba hujan badai menerpa. Menampar rona wajah sumringahku. Panji. Panjiku. Panji kita semua. Hari ini dia telah berpulang kepada-Nya.
Selepas bercakap-cakap via WA voice call dengan mbakku, kukira kenapa mbakku kembali menelepon. Dikabarinya bahwa Panji sudah tidak ada. Ya, dia telah pergi tanpa berpamitan. Sungguh, tandon air mata ini porak-poranda seketika. Aku ingin hujan datang sekarang juga. Agar aku tidak sedih sendiri. Menangis sendiri. Sungguh, Ya ALLAH biarkan hujan menemani aliran air mata ini. Ini terlalu sakit. Terpukul. Tidak adakah kabar gembira hari ini?
Panji, sahabatku. Teman bermain semenjak kecil. Teman yang tidak ku dapati keburukannya. Sosok abang yang bersekolah bersama. ALLAH, mungkin ini cara-Mu menyayanginya. Tapi, lihatlah. Dengar. Akan banyak isak tangis dengan begini. Bapaknya. Mbaknya. Semua keluarga dan tetangganya. Teman-temannya. Terlebih aku sendiri. Kenapa aku selalu menjadi hal yang paling kejam untuknya? Kenapa aku tidak bisa hadir di saat dia kesakitan? Kenapa aku tidak bisa hadir di saat dia membutuhkan semangat hidup yang lebih? Bahkan di saat terakhirnya, aku masih saja tidak bisa berada di dekatnya :(((((((((
Apakah aku terlalu banyak dosa sehingga do’aku tidak bisa Engkau terima? Apakah aku benar-benar tidak boleh menginginkan dia bisa hidup lebih lama lagi? Ya ALLAH :(((
Gemetar. Sulit berkata-kata lagi. Sulit tersenyum lagi. Kau boleh menyayanginya, mengambilnya tapi untuk sehari saja. Tolong kembalikan teman kecilku. Panji. Panji Darmawan namanya. Cukup jelas kan aku memberikan identitasnya? :(
Kami memang tidak memiliki banyak waktu bersama. Tetapi entah, kenangan di setiap kami bertemu tidak bisa dilupa. Selalu ada hasrat ingin mengulang. Tapi sulit dilakukan. Kami tidak seberuntung anak SD jaman sekarang yang rajin mendokumentasikan momen kumpul mereka. Teknologi seperti saat ini belum ada di jaman kami. Untuk itu, kumohon kembalikan Panji. Izinkan kami memiliki lebih banyak memori untuk dikenang. ALLAH, 21 tahun lamanya Engkau hanya memberikan kami SATU foto kenangan :(
Nji, apa yang kamu pikirkan sebelum pergi sehingga kamu memutuskan untuk benar-benar pergi? Bertemu Ibu di surga, begitu?
Selamat jalan, Nji. Semoga kamu selamat sampai di tujuanmu. Berkumpul kembali dengan Ibumu di surga-Nya. Jika boleh, mohonkan juga surga bagi semua orang baik di dunia ini ya, termasuk bapak-bapak bersepeda jadul pengangkut rumput yang keteknya suka dibunyiin kalo ketemu kita. Masih inget kan ya? :’) hehe.
Sekali lagi, selamat jalan Panji Darmawan.






















