An Art Gallery Could Never Be As Unique As You
Pada suatu hari libur yang sementara itu, aku diajak kamu pergi ke tempat yang telah kamu sebut berulang kali bahwa kamu ingin pergi ke sana. Aku tak punya pilihan selain menyetujui ajakanmu untuk pergi bersama. Sesungguhnya aku tidak terlalu paham urusan begini, memandangi karya-karya seni. Tapi, karena kamu terlihat begitu bersemangat dan berbinar-binar ketika berada di sana, aku mampu bertahan berjam-jam. Asal kamu senang. Tapi, aku agak khawatir dengan semangatmu. Kupegangi terus lenganmu karena khawatir gerakanmu itu akan menyenggol barang-barang yang sedang dipamerkan. Aku tak mau membuat hari ini menjadi hari yang membuatmu sedih karena aku tahu ketika kamu merasa bersalah, perasaan bersalahmu itu akan kamu bawa sepanjang hari. Aku hanya ingin kamu membawa perasaan bahagia hari ini karena hari ini adalah hari yang telah kamu nantikan.
Tunggu, biarkan aku memotretmu dari jarak ini. Seolah ruangan ini adalah tempat lahirmu, kamu terlihat menyatu dengan sekitarmu. Indah, hanya itu yang terlihat olehku. Ada banyak perpaduan warna di sini, tapi mataku hanya tertuju pada satu titik. Kamu. Jika dibandingkan dengan lukisan, patung, maupun karya seni lain di dalam ruangan ini, mataku hanya menangkap pemandangan kamu yang berdiri membaca deskripsi lukisan abstrak di depanmu. Tingkat fokus yang tinggi, mulut yang mengeja dengan suara kecil, dan raut muka yang menunjukkan bahwa kamu mendapatkan satu informasi baru hari ini. Aku sudah bisa menduga setelah ini aku pun akan mendapatkan pengetahuan baru, dari ceritamu.
Aku senang bisa membawamu ke tempat favoritmu. Tak ada penyesalan sama sekali, justru kelegaan karena bisa menyadari betapa beruntungnya aku bisa berada di sampingmu untuk menemanimu. Kamu adalah keindahan yang bahkan tidak dapat dikalahkan oleh karya seni. Kamulah karya seni, dan aku harap aku dapat melindungimu selalu karena kamu begitu unik dan berharga.