Bangsa yg sopan santun? Aren't we?
Berawal dari sebuah obrolan dengan sahabat gue yang sedang resah gundah gulana mengenai jodoh. Sebenarnya secara pribadi sahabat gue ini tidak mau ambil pusing, sampai pada tahap orang tua dan kerabatnya bertanya  dan ini sudah puluhan kali dilayangkan âudah punya pacar belum?â. Duar pertanyaan itu pun menjadi momok yang males untuk dijawab. Biar gue beri gambaran 2 situasi berbeda ketika pertanyaan itu terlontar:
Situasi satu: Tante ask: âudah punya pacar belum?â, my friends said: âbelum ada tanteâ, tante said: âkebanyakan milih kali, duh jaman sekarang perempuan ga usah banyak milih nanti jadi perawan tua lohâ.
Situasi dua: Tante ask: âudah punya pacar belum?â, my friends said: âudah tanteâ, tante said: âmana kok ga diajak?â, my friend said: âkan kerja tante, jadi ga bisa ikutâ, tante said: â udah kerja toh, terus kapan tante terima undangannya nie?â, my friend said: âdoaiin aja ya tanteâ, tante said: âjangan lama-lama pacaran, nanti malah pacarnya kabur digondol orangâ, my friend said dengan perasaan gondok dan tersenyum simpul: âih tante emangnya ikan, digondol kucingâ .
Been there than that? Dan pertanyaan itu ga akan pernah ada habisnya karena kita ga tau ujungnya dimana kecuali kita meninggal. Lihat kan kejamnya mulut para tante ataupun tetangga, lihat bagian akhirnya baik-baik, kok doanya ga baik banget ya. Rasanya pengen banget nyocolin sambel ke mulut mereka pada saat mereka ngomong itu. Katanya bangsa Indonesia terkenal dengan sopan santunnya, sopan dari mana ya? Kerjaannya nanyain hal yang bukan urusan mereka. Ketika pertanyaan itu mampir ke sahabat gue, rasanya pengen jawab âduh tante daripada ngurusin aku, mending tante urus keluarga tante ajaâ tapi engga mungkin banget dia ngomong begitu mengingat bakalan merepet tante itu ke orangtuanya dan bisa dipastikan dia akan diusir dari rumah. Dan biasanya dia memutuskan untuk diam tapi nyesek.
Klo ditanya soal pacar atau pernikahan, siapa coba yang engga mikirin, siapa coba yang engga mau? Tapi pacaran dan pernikahan tidak sesimpel elo beli cabe dipasar. Kita sebagai perempuan pasti mikirlah, tapi klo ditanya-tanya dan dipaksa terus lama-lama jadi eneg, sampe saking desperadonya sahabat gue bilang âgue tuh pengen nikah cuma karena pengen punya anak, abis itu terserah, yang penting keluarga gue puas!â. Gue mikir, gila âpertanyaanâ itu dampaknya segitunya yah. Â Pernikahan yang harusnya jadi sesuatu yang menyenangkan, dimana elo meniti sebuah keluarga kecil with your future husband and make your dreams come true. Tapi justru karena pertanyaan itu menjadikan elo dangkal memandang nilai sebuah pernikahan. Menikah hanya jadi sebuah kewajiban bukan karena elo mau, lalu setelah itu punya anak dan hidup elo lengkap sudah. Setidaknya beberapa pertanyaan sudah terjawab. You do that in the name of duty not because of you want it, and deep down inside your heart, youâre not happy. Â For your information my bestie just 27 years old, she didnât married yet and sheâs not that old.
Iâm Indonesian but itâs a BIG NO NO for me asking about age, marital status, husband or child to someone that I really donât know at all or even I know them but SO SO. Somehow simple question like this bring deep impact to someone.
PS: If I could talk with the parents and the tanteâs, I would tell: â you want to see her complete or you want to see her happy?â