Lagu yang Kami Jalani
Aku dan dia bertemu secara tak terduga, dalam sebuah kepentingan yang terasa sangat personal bagi orang tua kami. Orang tuaku dan orang tuanya berteman β mereka saling mengenal sejak remaja, sejak masa sekolah. Bahkan ayahku bilang, ayahnya dulu sering menginap di rumah kami. Aku dan dia berselisih usia dua tahun.
Sosoknya membuatku kagum, bukan hanya karena rupanya yang menawan, tapi karena sikapnya yang rendah hati dan mudah berbaur, yang membuatku merasa nyaman. Dia tidak hanya luwes dengan yang muda, tapi juga masuk dengan halus ke obrolan orang dewasa. Dia cerdas tapi bisa konyol di saat bersamaan, membuatku tertawa dengan mudah. Ucapannya tertata, tapi juga spontan menyampaikan pendapat di situasi yang tak kuduga.
Awalnya hubungan kami tidak berjalan lancar. Aku membencinya β di mataku, dia bersikap baik hanya untuk menebar pesona, sadar dirinya tampan. Tapi seiring waktu aku menerima pesona itu, dan hubungan kami berjalan baik. Tak jarang kami berkirim pesan singkat, membahas hal-hal remeh yang entah kenapa terasa menyenangkan. Satu kali kami bahkan pergi bermain berdua saja β bukan dalam konteks yang romantis, hanya menghabiskan waktu bersama seperti remaja pada umumnya, mengobrol karena kebetulan sama-sama sedang senggang.
Ada masa ketika keluarga kami pergi berlibur bersama. Sebagai anak tertua di tiap keluarga, kami mendapat tugas yang cukup berat, mencuci pakaian dan seprai. Kalau dibayangkan, adegan itu lucu β kami bekerja sama dengan riang, bermain air dan sabun, menggantung pakaian sambil mengobrol berbagi cerita, cerewet, dan berisik. Kami menjalaninya dengan keterpaksaan yang jenaka, mengeluh, tapi tetap menyelesaikannya dengan baik.
Di tengah kegiatan itu, rambutku yang tanggung β tidak cukup panjang untuk diikat, tapi terlalu panjang untuk dibiarkan β terurai dan mengganggu. Aku mengambil jepitan kecil, hanya untuk menahannya ke belakang, tapi beberapa helai tetap jatuh. Aku masih risih dan memutuskan akan mengikatnya. Namun dia meraih tanganku, mencegahku merapikannya. Lalu ia bilang aku cantik dengan tampilan yang berantakan itu. Aku terdiam sesaat tanpa sadar, lalu cemberut, seakan menolak pujiannya β meski sebenarnya aku tersipu. Pada akhirnya aku membatalkan niatku, dan kembali pada cucian yang kami kerjakan.
Di liburan yang lain, kami bermain di ruang tamu, menonton bersama di tengah malam yang terang oleh lampu yang masih menyala. Adik-adik kami tertidur di depan televisi, dan kami duduk di atas sofa β berjauhan, masing-masing di tepinya. Film berakhir, kami masih belum mengantuk. Entah bagaimana, kami mulai saling melempar bantal, berperang dengan bantal sofa yang tak seberapa. Kami tak berniat berhenti, sampai akhirnya kami membuat aturan tambahan, area perang hanya di atas sofa, yang menginjak lantai kalah.
Sepanjang permainan kami menahan tawa dan suara sekecil mungkin, agar tak membangunkan adik-adik yang tidur nyenyak di depan kami. Sampai akhirnya hanya tersisa satu bantal. Kami berebut, saling menarik. Entah karena ia mengalah atau memang sudah lelah, ia terjatuh di pangkuanku saat aku menyentak bantal ke arahku. Dia menyerah, mengaku kalah. Ia tak beranjak, bahkan ketika aku protes karena dari sudut pandangnya di pangkuanku, wajahku pasti terlihat jelek. Aku bilang lubang hidungku kelihatan besar. Saat aku mendorong kepalanya, ia memohon dibiarkan karena lelah, lalu berkata bahwa aromaku membuatnya tenang. Di permainan itu aku menang, tapi di saat yang sama aku kalah.
Lalu ada satu hari, di tengah liburan yang lain, ketika dia mengurung diri di kamar. Dia menangis, tak bercerita apa pun bahkan ketika hanya ada kami berdua. Ia hanya diam. Aku tak paham maksudnya, tak mengerti mengapa keadaan itu begitu menggangguku.
Setelah itu, sikapnya berubah. Tidak lagi hangat. Perlahan aku mulai membenci hampir semua yang ia lakukan. Dia pernah menjanjikan jam tangannya jika aku berhasil meraih nilai sempurna di pelajaran Bahasa Inggris β pelajaran yang paling kutakuti. Dia meluangkan waktu untuk mengajariku dan memberi semangat, meski hanya lewat pesan. Tapi ketika aku akhirnya meraih nilai itu, dia mengingkarinya. Aku kecewa bukan karena tak mendapatkan jam tangan, aku kecewa karena dia bahkan tak menatapku saat memberi selamat, lalu menyuruhku mengambil sendiri jam itu di tasnya. Jam itu ada, tapi aku tak pernah mengambilnya.
Lalu ada hari ketika kami berjanji bertemu. Aku menunggu di stasiun, tempat yang kami sepakati. Semua agenda hari itu kubatalkan, hanya untuk menghabiskan waktu dengannya. Tapi dia tak pernah datang, tak pula memberi pesan β hanya membuatku menunggu berjam-jam di antara hilir mudik orang-orang yang tak peduli pada kehadiranku. Rasanya aku bodoh waktu itu, menunggunya tanpa syarat, terlalu berharap bisa bertemu lebih cepat β bukan sekadar karena rencana orang tua kami.
Aku tak mengerti kenapa ia bersikap seperti itu, kenapa ia menjauh. Kupikir ia berhenti peduli. Sampai suatu malam dia sendiri yang datang ke rumah, membawa sesuatu dari orang tuanya, lalu menginap. Yang tak kusadari, itulah pertemuan terakhir kami.
Dia pandai memainkan gitar, dan adikku punya satu di rumah. Malam itu dia memainkannya di depan kamarku dan menyanyikan "Semakin" milik Drive. Lagu itu tidak dialamatkan pada siapa pun β setidaknya itu yang kuharapkan. Kami terpisah tembok, ia di luar kamar, aku di dalam, keduanya menyandarkan punggung ke dinding yang sama. Suaranya merdu tapi tak benar-benar stabil, terdengar jauh lebih pilu dari versi penyanyi aslinya, dan pada bait tertentu sedikit tercekat. Aku diam. Bukan karena tak mengerti, tapi justru karena terlalu mengerti.
Ada penggalan lirik yang tersangkut, yang seakan menjelaskan semua sikapnya padaku β semakin ia mencintai, semakin ia harus melepaskan. Dan malam itu aku mengerti, semua sikap dinginnya selama ini bukan penolakan, melainkan caranya mendorongku menjauh. Ia sedang menjalani lagu itu jauh sebelum menyanyikannya.Β
Tahun berlalu tapi aku masih bertanya-tanya apakah malam itu memang caranya berpamitan, atau aku hanya membutuhkan sebuah alasan agar semua sikap dinginnya terasa masuk akal. Mendorongku menciptakan jawabannya sendiri agar bisa hidup dengan kehilangan itu.
Tak pernah kubayangkan lagu itu akan menjadi himne kerelaan atas hubungan yang begitu kuinginkan, tapi terhalang kenyataan yang tak memberi jalan. Kami berpisah bukan karena tak saling menyimpan rasa, tapi karena masalah orang dewasa yang memaksa kami melepaskan satu sama lain. Keluarga kami tak pernah benar-benar bertemu lagi setelahnya. Perpisahan itu tak pernah penuh amarah, hanya penerimaan bahwa keadaan memaksa kami memilih pergi tanpa berucap secara langsung.
Sejak hari itu, aku tak pernah bisa mendengar "Semakin" tanpa mengingat bagaimana momen kami berakhir.












