Entah hatiku yang egois, entah kamu yang keras kepala. Belum menjadi satu saja kita banyak bedanya. Kamu membuat aku gelengkan kepala, menatapmu tanpa banyak bicara. Bolehkah aku lepaskan hatiku sebentar saja, maka akan kuletakkan pada tempat yang sepantasnya di tubuhmu. Agar luruh, agar kamu tahu tidak semua yang aku lakukan bisa kamu bilang egois. Aku tahu semua akan berjalan sesuai rencana, mungkin, tapi aku belum sepenuhnya percaya. Kamu tahu sebelum Tuhan mengetuk hatiku untuk membukakan pintu untukmu aku terus-terus berdoa agar tidak salah dalam mengambil keputusan bersamamu. Tapi, bukan berarti berjalan selamanya bersamamu membutuhkan waktu secepat ini? Aku hanya tidak ingin mengulang duka, mengulang susah yang aku jalani akhir-akhir ini. Aku ingin bahagia. Dan jika Tuhan menakdirkan kamu aku siap bahagia bersamamu. Namun, beri aku waktu.