"Hanya kau harapan kami saat ini...", ucap Paman Indrana pelan sembari menyentuh bahuku lembut. Aku mengibaskan tangannya cepat, lantas bangkit dari dudukku. Berdiri membelakanginya dengan raut muka sangat kesal. "Mengapa tidak kau lakukan saja sendiri, paman? Bukankah kau sudah pernah melakukannya dahulu? Kalau saat itu kau gagal maka belajarlah dari kesalahanmu. Kali ini kau akan lebih berhati-hati. Mengapa aku yang bukan siapa-siapa yang harus memimpin mereka?" "Lalu kau begitu percaya diri untuk menjaga istana yang harus melindungi seluruh negeri ini ha??? Silahkan saja! Bahkan jika berlian hitam pusaka itu berhasil aku dapatkan, tak akan ada artinya jika kerajaan sudah hancur di bawah naungan pedangmu sendiri." Kalimatnya berkejaran memotong ucapanku. Segala kejadian setelah itu berkelibatan cepat dalam pikiran. Peristiwa buruk, kejahatan, istana runtuh, darah, rasa sakit, jeritan ketakutan rakyat yang berlarian kesana kemari, lautan dalam tempat berlian hitam pusaka bersemayam, gunung api yang meletup di atasnya, wajah Paman Indrana juga kembali muncul. "Kau adalah Panglima negeri Hanastakaryaga sepeninggalku..." Lalu aku seakan terhempas ke dalam jurang yang sama dengan jatuhnya Heningkinanthi. Aku berteriak karena terjatuh dalam kegelapan yang dalam sekali, namun tiba-tiba aku terduduk dan mataku terbuka dengan nafas yang terengah-engah. "Mimpi buruk lagi...", desahku dalam hati. .............................................................. Aku Adhyaksa. ................................................................ Pagi yang cukup menyenangkan. Di atas sana burung-burung berterbangan seperti menari untuk menyambut mentari pagi hari yang hangat. Setelah selesai menyantap beberapa buah-buahan yang tersisa dari perbekalan, barang-barang kembali tersampir di pundak dan kami siap meninggalkan hutan mati yang tandus ini untuk melanjutkan perjalanan. ... Saat matahari habis waktu sepenggalan naiknya, kami sampai di padang rumput yang begitu luas dan hijau. Terdapat batu-batu besar yang terlihat menghuni padang rumput itu tersebar di berbagai tempat. Berbagai tanaman bunga, ilalang, dan pepohonan rindang yang tak begitu tinggi berada di atasnya. Begitu luasnya padang rumput ini sehingga sejauh mata memandang seakan tiada berujung. Mereka-para pengembara lantas menuju kesana kemari menyebar untuk menikmati alam dan suasana yang menyenangkan ini. Aku duduk di bawah pohon yang buahnya menyerupai buah jeruk, bersama Intana yang kulihat wajah sendunya sedikit bersemu dengan senyum kecil. Aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum sedikit pula. Jarang sekali melihatnya sedikit senang seperti saat ini. Ya, sedikit~ Sementara Bhumi duduk agak berjauhan dengan kami. Dia selalu memilih jauh dan sendiri saja. Kulihat jauh di belakangku ada Dyah, Kirana dan Heninggyanti berlarian saling mengejar di antara tanaman bunga-bunga kecil di kaki mereka. Tawa mereka bergelak sesekali terdengar seakan lupa segala beban yang tengah ada di pundaknya. Aku menyeringai. "Dasar bocah-bocah aneh. Seperti anak kecil saja kelakuannya", ujarku. Intana hanya menggeleng sambil tersenyum. Pandanganku menemukan Bhumi juga melihat ke arah yang sama denganku. Ke arah tiga gadis aneh itu berada. Tidak biasanya dia memandang orang selama itu. Aku mencari tahu siapa yang sedang ia perhatikan sembari melihat ke arah gadis itu satu persatu lalu kembali ke Bhumi. Ternyata Bhumi menyadari rasa penasaranku, aku tertawa jahil mengejeknya. Dia hanya mendengus kecil lalu menutup kain putih yang selalu bertengger di lehernya ke wajah sambil bersandar ke pohon lantas memejamkan mata. Tidak seru. Tapi aku yakin dia pasti malu. Hahaha Sayup-sayup terdengar suara merdu dari seruling yang memainkan lagu indah. Lagu yang menggambarkan suasana menyenangkan ini. Pasti itu Purna. Ia mungkin tengah bertengger di atas dahan suatu pohon sambil memainkan serulingnya atau bersenandung dengan suara merdunya. Aku mencari sosok Dirga. Pemuda yang merasa dirinya paling tampan dan susah sekali diatur. Ternyata ia menemukan kolam kecil dan duduk di pinggirnya sambil menulis sesuatu. Mungkin puisi. ... Sayangnya, kenyamanan ini tidak berlangsung lama. Keanehan terjadi ketika mataku hampir terpejam. Perasaanku tidak enak. Seperti tiba-tiba ada aura jahat yang pekat menyelimuti tempat ini. Gelak tawa tiga gadis aneh terhenti sejak tadi. Ketika aku melihat ke arah mereka, Kirana dan Dyah tengah asik memakan kelopak bunga-bunga kecil di sekitar mereka dengan lahap sekali. Ini aneh. Sementara Heninggyanti berjalan dengan tatapan kosong dengan bunga merah kecil yang telah membentuk gelang melingkar di pergelangan tangannya ke arah sesuatu. Aneh sekali. Seperti boneka kayu yang dikendalikan dengan benang di atasnya oleh sebuah tangan. "GYANTI!!! KAU MAU KEMANA???", teriakku keras menyentak Bhumi dan Intana dari pejam mata mereka. Bhumi bergerak tangkas dengan langsung berlari menuju tempat Dyah, Kirana dan Heninggyanti berada. "Bunga itu...", desis Intana pelan. "Ada apa dengan bunga itu?" "Itu adalah bunga beracun. Bunga itu akan membuat orang lupa diri karena mencium wangi dan atau memakan kelopaknya. Lalu orang yang memakan kelopak bunga itu dalam jumlah banyak akan mencoba membunuh dirinya sendiri." Degup jantungku meningkat. Bunga itu juga berada di sekitar Dirga. Dugaanku benar. Bahkan tidak hanya Dirga. Purna pun terhipnotis. Ia tengah lahap memakan bunga itu, sama seperti yang dilakukan Dyah dan Kirana. "Intana, kau bantu Bhumi. Aku akan menyelamatkan Dirga dan Purna disana", "Baik." ... "Dirga! Purna! Hentikan!!! Berhenti memakan tanaman beracun ini!", aku terpaksa menampar nampar wajah mereka agar mereka tersadar. "CUKUP!!! BANGUN HEY!!!", Akhirnya aku mengangkat kerah pakaian Purna hingga ia terangkat dari duduknya. Melihat pandangan mata yang kosong itu aku lantas meninju keras pelipisnya hingga ia terjatuh. Berhasil! Purna sadar karena kesakitan. "Rasakan ini, Dirgaaa!!!" BUAAAKKKKK Aku menendang perutnya hingga ia terlempar cukup jauh dan terjembap di atas tanah. "Kau berlebihan, Adhyaksa!", ujar Purna yang menumpukan telapak kirinya di bahu kananku. Kelihatannya dia masih pusing karena pukulanku tadi. Aku tersenyum lebar hingga terlihat gigi. Puas sekali rasanya melampiaskan kesal pada mereka. Apalagi Dirga. Tiba-tiba kulihat lesatan pukulan Purna mendarat di wajah sebelah kiriku. Aku terjembap. Sial, aku lengah dan tak sempat menghindar pembalasannya. Aku tertawa kecil melihat wajah Purna yang puas usai melampiaskan kekesalannya. Kami menghampiri Dirga yang merintih kesakitan serta memapahnya berjalan. Lalu dari kejauhan aku melihat lesatan cahaya seperti petir yang jatuh lurus menyentuh tanah. Intana, Dyah dan Kirana terlempar jauh karenanya. Langit seketika menjadi kelam. Darahku berdesir deras. Apa itu? Dimana Bhumi dan Heninggyanti??