Sabur Limbur.
jakarta, ahad.
Jemari miliknya menuntun pena dalam mengukir sebuah kalimat, pikiran yang sedang berselirat bercampur dengan tetesan air yang jatuh dari kelopak-nya.
Sang Insan sedang bercerita, sejak ia bangun hingga kembali menutup mata-nya. Jiwa yang mulai bebas dari Raga, tertawa seolah sedang mempermainkan Sang Jiwa. Dengan bekal tubuh yang lemah, tidak berdaya, semu dan hampa, Sang Raga berjalan untuk menemui Sabur Limbur.
"Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning hyang sukmo."
"Lakukan yang kita bisa, setelahnya serahkan kepada Tuhan." ucap Sang Nenek, ketika ia masih berusia 2 tahun.
Jakarta, 1996.
Berpikir, bagaimana jika waktu dapat diputar kembali? mengulang lembaran yang lampau, ketika helai rambutnya diikat oleh Sang nenek, membuka mata sudah melihat sosok yang ia sebut Ibu sedang menyiapkan sarapan pagi, film kartun yang sudah menunggu-nya, tidak lupa dengan ayah yang bersiap memanaskan motornya. Lembaran baru yang tidak terduga sudah menghampiri dan melewatkan lembaran lama yang sudah diukir dengan indah.
Sang Insan yang tadi sudah siap untuk merekam lembaran baru dengan sudah ia bayangkan kembali menjadi sirna. Dia kembali sadar, ketika Jiwa yang datang dari lembaran lampau pergi meninggalkan Raga-nya. Kini, dia sedang sendiri. Mengukir hari bersama angin dan para burung, sebatang kara.
Awal dari lembaran, ia membuka matanya ketika kicauan burung sudah menyambutnya. Jemari yang meraih handuk dan mulai menjalani hari. Senyum yang tidak pernah terukir dengan jelas, kaki jenjangnya yang melangkah maju untuk meraih gitar klasik. Jemari yang mulai memetik senar, memejamkan mata-nya membayangkan bahwa tidak akan ada lagi hari esok.
Akhir dari lembaran, ia mulai kembali tertawa dan berbagi cerita kepada semua yang ada disekitarnya. Siapa yang menyangka jiwa itu akan bangkit, perlahan mencoba keluar dan berpisah dengan kegelapan, Sabur Limbur mulai memilih jalan yang tepat. Tidak berlangsung lama, senyum yang tadi terukir indah menghilang begitu saja, pelangi yang berubah menjadi hitam pekat. Kebohongan yang sudah menutupi kertas kusut dalam akhir lembaran, berusaha ingin berakhir bahagia hingga semua orang bisa melepasnya dengan ikhlas.
Cerita yang sudah ia sampaikan dan kisah bahagia yang sudah ia ukir bersama para insan lain-nya sudah tercipta. Ia sudah berhasil membuat mereka tersenyum karena kehadirannya. Ia bahkan berusaha tidak melihat lembar yang sudah lampau, tidak ingin berbalik arah. Ia selalu menggenggam tangan mungil milik mereka, menutup matanya ketika berada pada gedung yang tinggi, berusaha untuk tidak melihat bawah.
Jiwa yang mulai bersatu kembali dengan Raga-nya.
Ketika Jiwa dan Raganya sudah kembali menyatu, pikiran yang tidak lagi berselirat namun justru menjadi kosong. Mata yang kembali menatap lembaran kusut yang selama ini ia lapisi oleh kertas bersih tanpa ukiran kata. Dia membuangnya, membuang kertas bersih yang sudah berusaha menemaninya. Kertas kusut yang terbang tertiup oleh angin, jatuh dihadapan Tuhan. Ia tidak akan kembali mengukir kalimat pada lembaran kertas, buku mulai tertutup karena cerita sudah selesai.
Akhir yang bahagia?
Akhir yang sirna?
Akhir sempurna yang pupus terkubur oleh harapan?
Entahlah. Tuhan menggenggam tangan dan memeluk tubuh hangat milik-nya. Bersyukur pernah bersahabat dengan raga dan jiwa.
Mereka saling menguatkan, cahaya yang tadinya bersinar cerah seperti matahari sudah kembali kepada Sang Khalik. Mereka menyebut diri-Nya Cahaya Rembulan. Lembaran yang tidak akan pernah terhapus oleh waktu, mereka terus mengingat senyum dan cerita yang manis itu. Cerita manis yang berusaha menutupi kegelapan di Sabur Limbur.
Bertahan dan membuat semua orang sadar untuk saling peduli, menguatkan dan mensucikan satu sama lain untuk lembaran yang lebih sempurna lagi tanpa adanya Sabur Limbur dan Raga yang terpisah oleh Jiwa hingga membuatnya menjadi kosong. Dia, Cahaya Rembulan adalah orang yang berpengaruh dalam meninggalkan banyak cerita yang bisa menjadi pengalaman hidup, menjadikan mereka semua lebih kuat, tanpa sadar kisahnya bisa menyelamatkan semua orang meskipun tidak dengan diri-nya.














