Kisah dari Timur
Bagian 1
1936, Jean-Jacques Dozy, geolog Belanda sekaligus anggota ekspedisi Colijn berhasil mencapai Ngga Pulu, 4906 mdpl.
Ekspedisi Colijn bukanlah ekspedisi geologi, melainkan untuk melihat gunung berpuncak es yang tampak oleh para pelaut Belanda yang melintasi perairan Irian.
3500 mdpl, Jean-Jacques Dozy, terperangah melihat sebuah bukit yang tampak hitam pekat, menjulang dengan ketinggian 75 meter di atas padang rumput alpin. Naluri geolognya segera mengatakan bahwa bukit itu adalah sebuah cebakan mineral yang teramat kaya. Ia menamakan julangan itu sebagai Ertsberg, Gunung Bijih.
“Tak salah lagi,” kata Dozy kala itu.
“Tak seorang geolog pun bisa tertipu oleh gunung hitam ini. Titik hijau dan birunya terlalu nyata untuk mendeteksi kandungan tembaga yang kaya di dalamnya.”
Laporan Jean-Jacques Dozy itu diterbitkan pada 1939 dan sejak itu mendekam di perpustakaan Universitas Leiden, mengumpulkan debu. Perang Dunia II yang kemudian pecah menciptakan prioritas-prioritas baru, membuat laporan Dozy itu semakin terlupakan.
------
Sampai sini, benakku terusik, lantas membuat tanya-tanya tanpa jawab.
"Ini sepenggal kecil kekayaan Indonesia, sekaya apa kita sesungguhnya?"
"Kalau kita kelola sendiri mungkinkah hari ini Indonesia lebih maju nan sejahtera?"
Mataku kembali menukik, mengarah pada apa yang sedari tadi aku baca, lantas melanjutkannya...
----
1959, seorang Forbes Wilson – ketika itu geolog pada Freeport Sulphur yang berpusat di Louisiana, Amerika Serikat – dalam riset kepustakaannya menemukan laporan Dozy. Dozy tak hanya menulis tentang kekayaan cebakan yang diduga mengandung tembaga itu, tetapi juga melaporkan bahwa tempat itu mungkin merupakan lokasi tambang yang paling sulit di dunia. Bulu Kuduk Forbes Wilson bangkit. Ia tahu bahwa ia sedang dalam proses menemukan sebuah harta karun yang tiada terperi.
1960, Forbes Wilson sudah merayap mendaki Ngga Pulu. Bila pada 1936
Dozy memerlukan 57 hari setelah diterjunkan dengan parasut, pada 1960 Wilson memerlukan 17 hari untuk mencapai tempat itu. Wilson segera menemukan kesalahan Dozy. Gunung Bijih itu bukan 75 meter tingginya, melainkan 179 meter. Lebih daripada itu, Wilson juga menaksir bahwa kandungan tembaga dari Ertsberg bisa ditemukan hingga kedalaman 360 meter. Apa yang ditemukan Wilson adalah jauh lebih besar daripada apa yang diduga Dozy (George A. Mealey, 1996).
-----
"Kalau begitu, leluhur kita tidur bergelimang harta karun tanpa tau bahwa mereka orang kaya?"
"Mereka sengsara sementara bumi berlimpah harta mereka pijak?"
Untung belanda tak memperdulikannya.
Kalau saja mereka peduli tidak hanya pada emas hijau (rempah-rempah) saja tapi juga pada emas yang sesungguhnya mungkin saja mereka enggan enyah dari bumi pertiwi ini.
Belanda tumbang amerika datang, kondisinya mungkin hampir sama hanya saja tak ada yang membahasakan sebagai penjajahan, karena semua dilegalkan. Ertsberg ditambang habis, tapi kita hanya dapat seberapa?
Dari yang hanya seberapa itu berapa yang dinikmati rakyat?
Rakyat jelata maksudku, bukan rakyat di atas singgasana sana, yang lebih rela disebut pejabat.














