“Selamat Bereksplorasi Lebih Luas Lagi, Nak”
Pagi ini tatapanku mengharu melihatnya, langkah kecilnya adalah impian besarku. Dan kini mimpi itu menjadi nyata. Beryukur dan tak henti bersyukur, hanya itu yang bisa aku lakukan setelah melewati lima bulan penuh kekhawatiran.
Aku merasa beruntung karena aku tidak melewatinya sendirian, karena ada suami yang tidak hanya mendukung akan tetapi tak henti pula mengenalkan menil tentang apa itu “berjalan”
Dia menil, panggilan kecil kami untuk Aqila anak pertama kami.
Kekhawatiran mulai menyelimuti hari-hariku semenjak awal tahun, setelah melihat rekam jejak menil yang sudah di penghujung usia 15 bulan.
Aku mendatangi rumah bermain dan mendapati kalau motorik kasar menil belum baik, melihat anak seusianya yang sudah lihai dan kuat berjalan, menil masih asyik merangkak dan sesekali berjalan dengan bantuan tanganku (titah).
Sesungguhnya kami tidak membiasakan menil untuk dititah, akan tetapi orang sekitar kurang mendukung apa yang kami mau yaitu membiarkan menil mengenali kemampuan dirinya sendiri sampai menil sendirilah yang berkeinginan untuk berjalan.
Namun, apalah daya kami yang tidak bisa banyak memiliki waktu dengan menil. Saya pun masih memiliki kewajiban bekerja di ranah public, hal ini pula yang menambah beban pikiran saya. Sempat ada fase dimana saya merasa gagal menjadi seoang ibu, tidak memiliki waktu lebih untuk membersamai, tidak memiliki daya untuk lebih membantunya mengeksplorasi sehingga motorik kasarnya belum baik. Hatiku semakin kacau, pikiranku semakin kalut saat melihat alarm red flag. Di usianya yang ke 18 bulan menil belum bisa berjalan sendiri.
Menil memang tidak sepenuhnya tidak bisa berjalan, akan tetapi dia hanya berani bejalan di atas kasur walau langkahnya tidak banyak akan tetapi menil menujnjukkan pada kami kalau dia sanggup berdiri sendiri dan berjalan danmemberikan sinyal kalau di hanya takut jatuh, sehingga belum berani berjalan di lantai.
Untuk omongan dari sekitar sepertinya aku telah menyaring banyak kata, sehingga diri ini lebih focus untuk membersamai menil lebih baik lagi. Sudah cukup urusan pasca lahiran sampai babyblues aku lewati bertiga bersama suami dan menilku. Sekarang aku sudah belajar dari hal lalu, kalau aku harus focus ke tumbuh kembang menil.
Sampai di suatu malam, aku berbicara tentang semua kegalauanku kepada suami, aku mencurahkan segala rasa khawatirku dan memintanya untuk membantu menyemangatiku untuk membantu menil segera pede berjalan.
Suamiku tidak menjanjikan apapun untuk membuatku tenang, dia hanya mengiyakan sembari menggenggam erat taganku dan berkata “kita berusaha bareng-bareng untuk menil ya”, dari situ aku merasa lebih kuat lagi.
Hari demi hari pun kami lewati dengan berbagai tips dari sekitar, mengajak menil ke taman bermain untuk bermain perosotan, mengajaknya ke pantai untuk melangkahkan kaki di atas pasir, membuat permainan sederhana agar menil ada keinginan berdiri sendiri, membuatnya lebih sering bertemu teman-teman sebayanya, sampai ada teman baik yang meminjamkan alat dorong agar menil lebih banyak berjalan.
Dialik banyak tips dari sekitar, dokterpun telah menenangkan hatiku dengan bilang kalau menil bisa jalan hanya belum berani saja, ditunggu saja sesiapnya jangan sering di gendong, nasihat dokter kala itu. Puncaknya ketika usia menil menginjak 18 bulan, di puncak kekhawatiranku, menil mulai menunjukkan rasa ingin berjlanannya. Si bapak adalah kunci semangatku dan menil, dia memancing rasa ingin berjalan menil dengan mencoba membantunya berdiri di lantai dan melangkah sampai tiga - empat langkah, bolak balik beberapa saat ke arahku dan masih terlihat takut terjatuh. Kami mencoba tenang saat dia mulai oleng, agar dia tidak takut dan mau mencoba lagi.
Kami tidak memaksakan menil untuk berlatih setiap hari, kami ingin menil tahu kalau berjalan itu menyenangkan dan terjatuh adalah hal biasa. Sampai pada saatnya di suatu malam tepat di usia 19 bulannya menil memberiku kado terindah yaitu berjalan dengan lebih dari 10 langkah menghampiriku dan berbalik menghampiri bapak, berulang terus sampai berujung memberiku pelukan hangat.
Aku terharu, bersyukur karena doaku tekabul, kekhawatiranku tehapus oleh air mata bahagiaku. Nak, selamat berkesplorasi lebih jauh lagi. Aku tidak kaget dengan perkataan orang yang bilang “siap-siap capek ya ngikutin anak jalan”, dan berbagai perkataan serupa. Aku hanya tersenyum mengiyakan, karena dibalik berjalannya menil ada lelah yang terbayar yang tidak akan tergantikan begitu saja dengan lelah yang akan kami hadapi setelahnya. Karena kami sudah siap dengan mimpi kami, mimpi kami melihat langkah kecilnya berjalan tida henti sampai lelah menghampiri.
Dari semua ini aku jadi tahu kalau kalau kesiapan anak mengenali fase barunya, harus disertai oleh kesiapan si orang tua pula. Berjalan bukan tentang dulu-duluan kebisaan akan tetapi kemampuan diri seorang anak yang sudah matang. Dan pesanku jangan berlagak lupa, kalau anak tak henti berlari suatu hari nanti, coba diingat apa mimpimu dulu, melihatnya melangkah kan? Jadi cukup doakan, agar langkahnya selalu dalan lindungan PenciptaNYA dan kelak menjejakkan hal baik yang membuat bangga kita semua.
Aamiin <3










