Kami akrab, bahkan berkawan.
Sejak mentari menyeruak memberontak keluar,
Sampai kepada menyerah ketika dicium senja,
Tak bosannya "sepiku" menghampiri.
Sembari membawa segelas kekosongan.
Hari hariku ditemani sepi.
Hingga saat, Ia tak lagi menghampiriku.
"Sepiku" pergi tanpa jejak.
Semenjak kehadiran dirimu tuan.
Apakah Ia malu hingga tak memelukku ketika ada dirimu tuan?
Apakah saat bersama tuan, tawaku terlalu lantang nan menggema?
Apakah Ia merasa silau akan pancaran kebahagiaan dari dua bola mataku?
Apakah Ia segan menggangguku saat aku mendengarkan cerita tuan yang selalu bersemangat dan menggebu?
Apakah Ia iri sebab aku memeluk tuan melalui doa yang kupanjatkan?
Bahkan sampai saat ini aku tak tahu apa sebabnya "Sepiku" pergi
Hingga Ia tak lagi berani muncul setelah kita bersama.
Sehingga tuan tak lagi sama seperti dulu.
Mengapa aku terperangah? Bukankah seperti itu hukumnya?
Tuan yang selalu membersamaiku, sekarang mulai acuh.
Tuan yang selalu bercerita hal kecil ini itu, tak lagi melibatkan aku.
Tuan yang membuat mataku memancarkan kebahagiaan, tuan juga yang membuatnya redup.
Mulanya terik, berganti gerimis, lalu hujan lebat menderaku tuan.
Tanpa sadar, ditengah perasaan yang berkecamuk dan dilingkupi hujan lebat aku melihat "Sepiku" lagi tuan.
Aku melihat Ia mengintip di balik reruntuhan perasaan.
Ketika tuan perlahan menghilang, "sepiku" lagi lagi menghampiri.
Tak lupa, Ia membawa secangkir kekosongan.
Tanpa ragu, kutenggak kekosongan itu sampai tandas.
Lagi lagi "sepiku" yang menemani selepas kehadiran dirimu.
Namun, kehadiranmu sangat menyenangkan tuan.
00.14 // 240224 // Berteman suara kipas, sambil merasakan sedikit sakit di tenggorokan akibat terlalu sering menenggak cairan dingin.