Tapi, kalau aku balasnya lama, bukan berarti aku bosan, aku sengaja mengulur waktu agar kamu tidak merasa terbebani karena harus membalasku.
- bisa sajaaaaaa….
yang menarik bertambah.
Mau jelasin dikit (tapi agak panjang), leh gak neh?
Jadi begini, semua orang selalu megang hp dan gunain sepanjang hari (kecuali kalau dia sedang ngerjain hal yang sangat penting yang membuat dia gak bisa lihat hp ya). Nah, dia pasti mengecek semua notifikasi kalau sedang luang. Di situ dia punya pilihan, mau balas chat atau enggak. Kalau enggak, ya berarti kamu bukan prioritas dia. Kalau dibalas, berarti kamu menarik baginya.
Terlepas dari itu semua, jika kami balas chat secepat kilat, itu artinya lawan chatnya pasti seru dan menyenangkan diajak ngobrol. Namun, kalau dibalasnya lama bukan berarti dia tidak menyenangkan lagi, kami hanya takut dia terbebani karena harus membalas chat dengan kecepatan yang sama seperti kami.
You know, selalu ada ketakutan tersendiri bagi kami, ketika dianggap “dia balasnya cepat, mungkin karena lagi gak ada teman kali ya.” atau “dia balasnya lama nih, pasti nemuin orang yang lebih menarik.” Pikiran-pikiran seperti itu sangat membuat kami…sedih.
Kami, ketika mau membalas chat untuk jangka waktu yang panjang, sudah berarti kami nyaman dengan obrolannya. Karena bagi kami, berbicara dengan orang yang tidak menyenangkan itu sangat menghabiskan energi. Lantas, ketika kami dicurigai, kami akan merasa gelisah, lalu mulai berpikir “kami memang gak menyenangkan untuk diajak ngobrol ya?”
Setidakmenyenangkan apapun obrolannya, kalau kami sudah sreg dengan lawan bicara, kami pasti akan balas. Jadi, tenang saja, kami tidak akan menghentikan obrolan sepihak kok, kecuali kami diyakinkan kalau kami sudah tidak diinginkan lagi.
Tertanda kami, kaum insecure-an.
(via kunamaibintangitunamamu)