Cerita Pak Gugun (Catatan Akhir Kuliah Kerja Teknik Metalurgi ITB 2016)
Hari menjelang sore ketika aku mendapatkan telepon dari agenku. “Assalamualaikum pak, tanggal 23 Mei bisa jadi main driver ke Surabaya? Ada acara anak-anak ITB”, kata seorang personalia dari agenku. “Muhun bu, bisa saya” sontakku senang menerima tawaran tersebut. Wajarlah beberapa hari ini aku belum mendapat orderan sama sekali. Alhamdulillah, dapurku bisa kembali berasap untuk beberapa hari kedepan, batinku dalam hati. Aku gugun, putra daerah asli dari Jawa Barat yang beberapa tahun belakangan ini bekerja menjadi supir AKAP (Antar Kota Antar Provinsi). Ya jejang pendidikanku tidak terlalu tinggi, sehingga hanya ini profesi yang dapat kukerjakan. Asal halal dan tidak meminta sedekah, aku masih mempunyai harga diri. Aku sadar betul pentingnya pendidikan dan aku harus berusaha agar anak-anakku dapat terus bersekolah setinggi-tingginya.
Setelah diberikan rincian keberangkatan oleh agenku, aku bersiap-siap dan sampai di ITB sekitar pukul 6 pagi. Disitu aku bertemu dua orang pemuda sebagai penanggung jawab. Katanya kami akan berangkat jam 8.30. Hari telah menunjukan pukul 8.15, belum ada tanda-tanda untuk meletakan barang di bagasi. Penasaranku mendorongku untuk melihat keadaan. Ternyata yang kucuri dengar, ada masalah dengan seorang anggota dari mereka yang tidak dapat hadir karena sakit terlalu kelelahan rapat sampai jam 6 pagi, yang artinya sejam sebelum keberangkatan, rapat itu masih berlangsung. Amboi! Rapat macam apa ini? Pasti ide-ide revolusioner untuk memperbaiki bangsa sedang disusun oleh mereka. Aku sadar, orang-orang pintar calon penerus bangsa inilah yang mungkin akan mengubah wajah Indonesia 20 tahun kedepan. Disitu aku menaruh harap kepada mereka.
Setelah terlambat sekitar 30 menit dan anak-anak di dalam bus, pemuda berkaca mata yang tadi menemuiku, menginstruksikan aku untuk segera berangkat. Aku mulai melaju dan mereka mulai terlarut dengan kesenangan anak muda sambil bernyanyi dan bercengkrama. Medan mulai semakin berat dan anak-anak ini makin berisik dengan lagu-lagu mereka. Setelah beberapa saat dengan guncangan ‘kecil’, para penyanyi dadakan itu mulai menghentikan nyayiannya. Dari depan, terdengar sayup-sayup beberapa orang yang duduk paling belakang membuat suatu forum yang tampaknya cukup serius. Kalau kutak salah mendengar, mereka sedang membicarakan calon penerus organisasi mahasiswa mereka.
Sampai disini aku semakin kagum dengan semangat dan pemikiran para anak muda ini. Keseriusan mereka bagaikan sedang membicarakan RUU di rapat petinggi DPR. Perjalanan terus berlanjut sampai di perhentian pertama di KM 228 tol Cipali. Perhentian ini memang masih sederhana, tapi sudah cukup memadai menurut diriku. Tiba-tiba terdengar celetukan seorang anak muda, “ih, rest area-nya masih jelek banget!” Aku terkejut mendengar celotehannya. Untuk kampus yang memikirkan masalah bangsa, hal ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Walau hanya berjarak tiga jam dari pusat istana negara, ini adalah potret kecil negara ini. Pembangunan yang kurang merata, anak-anak putus sekolah, kematian ibu dan bayi, dan masih banyak lagi. “Ah, mungkin memang benar tidak semua anak mahasiswa memikirkan hal-hal ini,” pikirku. Lalu aku sempat bercerita dengan sesama supir bus dan truk disitu dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jawa Tegah, disini aku bertukar posisi dengan supir pengganti dan perjalanan berlajut sampai Surabaya.
Tidak terlalu lama terakhirku ke Surabaya. Namun, ada semacam semangat perubahan yang dimunculkan dari pembangunan dan perbaikan yang sedang dilakukan oleh Bu Risma, orang hebat lainnya selain Kang Emil di Bandung sana. Dari Surabaya, aku melaju ke Gresik, sebuah kota satelit lain Surabaya. Disini destinasi kita adalah PT Smelting. Entah apa yang dihasilkan dari pabrik ini, tetapi kesanku pabrik ini cukup bersih dan sepi tidak seperti di karawang yang sangat banyak pegawainya. Anak-anak itu mulai bersiap-siap memakai helm putih dan memasuki suatu ruangan. Ingin sebenarnya aku masuk untuk melihat hal-hal macam apa yang diperbincangkan dengan anak-anak hebat ini dengan pihak pabrik. Ah apa daya, aku tidak pernah bisa mengenyam bangku kuliah karena tuntutan ekonomi. Sangat beruntung mereka bisa dilahirkan ditempat yang baik dan memiliki kesempatan untuk berkuliah. Aku sempat berpikir ini adalah salah satu bentuk demo yang lebih elegan dengan mendatangi pabrik secara langsung dan menyampaikan keluh kesah rakyat kecil sepertiku. Ini mungkin salah satu hasil rapat sampai jam 6 pagi kemarin.
Rasa ingin tahuku semakin memuncak setelah sekitar 2 jam menunggu diluar. Beruntung aku bertemu dengan seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai satpam disitu. Aku lupa namanya, tetapi aku ingat betul perawakannya. Rambut mulai memutih, badan kerempeng, kulit sawo matang, dan kumis tebal. Aku sebut saja beliau Pak Kumis. Pak Kumis yang pertama menyapaku. “Sampeyan dari ITB?” tanyanya dengan logat medhok-nya. “Muhun pak, iya. Ada apa pak?” sahutku sambil membakar rokok ketigaku. “Wah hebat-hebat anak-anaknya toh!” aku hanya menyimak dengan antusias. “Sampeyan tau ndak, yo bos pabrik ini buanyak yang dari ITB!” sambungnya. “Tapi itu dulu, Pak Yoga, Pak Boman, sekarang udah jadi bos semua itu.” Aku terkejut, “punteun pak, maksudnya dulu teh naon?” tanyaku. “Yo iyo, dulu belio-belio orangnya ulet dan pekerja keras, ga gampang nyerah, beda sama sekarang. Anak-anaknya sebentar-sebentar keluar. Saya dulu bareng sama Pak Yoga masuknya,” katanya. “Beda jaman yo beda juga anak-anaknya. Sekarang yang mau masuk sini maunya gajinya langsung tinggi. Gamau merintis dari bawah. Kena marah sedikit langsung tersinggung, marah. Yo inikan proses, kalo gamau proses gimana mau bisa jadi bos. Mereka mikire ‘aku udah sekolah lama masa cuma digaji segitu, ra sudi aku,’ mereka mau enaknya aja, mentale tempe, melempem. Gangerti arti perjuangan yang sebenarnya.”
Beliau bercerita tentang keluh kesah pegawai laboratorium, kebetulan jaraknya dekat dari tempat kami berbincang, terhadap seorang mahasiswa magang dari ITB dan dari universitas lain, kejadiannya belum lama ini. Hasil kerja dari anak ITB ini sangat memuaskan, penelitiannya bahkan lebih baik daripada peneliti di laboratorium di pabrik itu. Namun, perangai anak itu sungguh kurang baik. Anak itu hanya mengerjakan tugas-tugas pokok yang diberikan oleh pabrik. Akan tetapi, kemampuan-kemampuan lainnya dalam melihat gambaran bagaimana sulitnya orang-orang menghidupi keluarganya, interaksi antara bos dan karyawan, enggan dilihatnya. Berbeda dengan anak yang satunya, dia dengan semangat mengerjakan tugas dan antusias mengikuti seluruh rangkaian magang. Anak ITB sekarang hanya berpikir tentang kemakmuran dirinya sendiri dan kemampuan otaknya akan membuat mereka jadi bos. Padahal itu bukan suatu jaminan kedepannya. Disini, perlahan-lahan harapanku meluruh terhadap mereka.
Malam menjelang, aku mengarahkan kendaraanku ke suatu tempat yang cukup mewah. Tampaknya seperti restoran. Ternyata tempat tesebut digunakan untuk anak-anak tersebut dan para petinggi pabrik beramah-tamah. Dari luar terdengar sayup-sayup hingar bingar kesenangan mereka. Aku duduk di warung dekat restoran tersebut. Sambil menyeruput kopi dan sebatang rokok, pikiranku melayang pada anakku yang masih sekolah dan dapurku yang sebentar berasap dan lebih banyak tidaknya. Bagaimana keadaan keluargaku atau lebih jauh lagi keadaan bangsa ini 20 tahun kedepan di tangan calon penerus bangsa ini? Ah, mungkin pikiranku terlalu idealis atau mungkin mereka yang terlalu egois? Ya Tuhan hanya kepada-Mu aku berharap. Malam semakin larut dan kami kembali ke hotel untuk bermalam.
Oleh Sjioen Xavier Talla











