2 Day Trip in Singapore
Bertandang ke negeri Singa-Ikan selama dua hari menjadi pengalaman pertama aku berpelesir ke luar negeri, menyedihkan sekali mengingat jurusan kuliah yang aku ambil ialah Hubungan Internasional. Dengan jurusan itu tentunya harus punya tekad untuk bertandang ke banyak negeri orang & mengupayakan banyak cara untuk bisa mempresentasikan karya tulis atau sekedar jalan-jalan ke banyak negara. Sayangnya kesempatan itu tidak kunjung tiba hingga saat ini. Ini adalah paspor kedua yang aku punya, paspor sebelumnya yang lima tahun lalu dibuat harus dirumahkan karena sudah tidak terpakai dan memang belum pernah terpakai. Yah sudah, kesempatan akan datang sesuai dengan waktu yang Tuhan rencanakan. Dan kesempatan itu akhirnya datang..
Dua minggu sebelumnya, teman-teman satu lantai merencanakan untuk berlibur ke Singapura. Kurang lebih mereka ber-lima yang akan berangkat ke Singapura. Di Pujasera kantor mereka menyebutkan perihal perjalanan itu dan ngajak aku untuk ikut gabung dalam perjalanan. Tentunya dengan seribu alasan aku menolak ide tersebut, banyak hal yang menjadi pertimbangan salah satunya budget. Dengan budget hampir tiga juta untuk akomodasi perjalan tiga hari rasanya cukup merogoh kocek. Singapura juga bukan menjadi salah satu destinasi luar negeri yang aku impikan, lebih baik uangnya disimpan untuk kebutuhan yang lain. Jadi aku hanya mengucapkan selamat berlibur teman-teman.
Tiga hari sebelum keberangkatan, my co-worker Mba Sigi mengirimkan pesan whatsapp berupa ajakan ke Singapura untuk perjalanan dua hari. Hmm sounds interesting, ku tanya berapa budget yang diperlukan – jawabannya sekian juta. Yauda aku piker-pikir lagi yakan, kebetulan bulan ini aku press-budget banget habis bayar kontrakan. Ku tanyakan pada suamiku terkait ajakan berpelesir ke Singapur, jawabnya “Gas aja lah, kapan lagi ada temen berangkatnya. Lagipula aku sudah pernah ke Singapura”. Iya juga lah ya tapi aku kepikiran budgetnya gimana, yauda gas aja dulu, ku balas lah pesan Mba Sigi itu “yauda mba ayo, ada sponsor ga kita ini”, “belum ada” balasnya. Belum kubalas lagi pesannya, tidak lama dikirimkan lah aku tiket CGK-SIN, alamak jadi berangkat aku ini – mana di rekening duit kurang dari sejuta.
Selasa, 13 Oktober 2025. Berangkatlah kami bertiga ke Bandara CGK pukul tiga dini hari, kebetulan penerbangan yang murah pukul 06:20 WIB. Check-in dan imigrasi di CGK cukup luang dan lancAr, mungkin karena ini adalah jadwal penerbangan pertama pada hari itu yang juga bertepatan pada weekday. Kami landing di Singapura pukul 09:20 SST dalam posisi ngantuk dan kurang tidur tapi cukup excited untuk berpelesir ke negeri Seberang. First impression ketika sampai di Changi Airport – rasanya masih di terminal 3 Soekarno Hatta, hanya saja petugas imigrasinya berwajah China, India dan Melayu dengan berbahasa Singlish dan mimik wajah yang tidak seramah wajah yang biasa ditemui di Indonesia. Keluar dari imigrasi, mulai tercium aroma tidak sedap – ya aroma bule yang tidak menggunakan bidet (you know what I mean).
Bandara Changi sudah terhubung dengan MRT menuju ke kota, sangat memudahkan turis untuk berpergian. Sialnya kartu EZ Link yang aku pinjam ke ponakan sudah expired, untung Mba Sigi punya dua kartu FlashPlay yang bisa dipinjam untuk digunakan bertransaksi selama dua hari kedepannya.
Teman-teman kantor yang lain sudah tiba di Singapur satu hari sebelumnya dengan acuan itinerary yang sudah mereka buat. Berbeda dengan kami bertiga yang tidak punya rancangan itinerary, untungnya Mba Sigi sudah beberapa kali ke Singapura jadi kami tidak khawatir tersesat. Sebelum masuk MRT, Mba Sigi menjelaskan beberapa destinasi yang bisa kita singgahi pada hari pertama ini dan menanyakan kepada kami berdua apa ada destinsi khusus yang ingin kami kunjungi. Aku dan Mba Kyo dengan sadar menjawab kami tidak punya destinasi khusus, kami Cuma mau ke Singapur aja. Konyol betul, mengingat Singapur bukan negara yang sangat ingin dikunjungi jadi tidak sempat aku meriset beberapa hal yang menarik atau tempat-tempat yang wajib di kunjungi selama di sini. Karena sudah hampir siang, aku menawarkan bagaimana jika destinasi pertama kita sarapan dulu. Mba Sigi menawarkan untuk sarapan di St. Bugis, kami berdua yang tidak punya arah tujuan menurut saja.
MRT di Singapura terintegrasi sangat baik dibawah kota, dari Bandara Changi kami berhenti di Stasiun Tanah Merah kemudian mengambil jalur hijau (EW) untuk berhenti di Stasiun Bugis. Sesampainya di Stasiun Bugis, kami langsung disambut dengan beragam outlet persis seperti mall. Tujuan kami ke Bugis Street untuk bisa makan di kios kaki lima, ternyata kios-kios itu belum buka jadi kami sedikit melipir ke dalam food court – disana kami makan nasi lemak yang melabeli diri sebagai makanan halal, sementara itu tenant lainnya menyediakan makanan olahan babi. Satu porsi nasi lemak seharga 3,8 dolar, hampir 50 ribu untuk satu piring sarapan. Aku juga membeli air minum kemasan, aku lupa harganya mungkin 1,5 dolar – ternyata air kemasan itu produksi probolinggo.
Setelah sarapan di Bugis Street, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Orchard St. rencananya kami mau mencoba eskrim uncle yang terkenal itu. Kamis sampai ke Orchard pukul 12.00 SST, namun sesampainya disana gerobak uncle belum ada. Jadi kami hanya duduk sambil menikmati buah semangka potong yang tadi dibeli di Bugis street. Berhubung tadi sudah sarapan, makan kitkat dan makan semangka, jadi kami tidak terlalu kepingin makan eskrim saat itu. Setelah cukup bersantai dibawah rindangnya pepohonan di Orchard Street, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Destinasi berikutnya yakni Merlion Park, ikon kota Singapura. Tentunya belum afdol ke Singapura kalo belum melihat ataupun foto dengan latar patung singa khan. Kami tiba di Patung Singa pukul 13,00 SST, waktu yang cukup terik untuk menikmati pemandangan Marina Bay Sand tapi tidak masalah karena ini destinasi yang wajib. Dengan langit yang biru dan banyak turis yang memenuhi jembatan, aku sedikit kaget ternyata patung Merlion yang terkenal itu ternyata kecil dari yang aku bayangkan. Selama ini aku mengira bahwa patung Merlion itu sangat besar, ternyata cuma 8 meter. Setelah Mba Kyo merasa stok foto di patung Merlion cukup, kami beralih ke destinasi berikutnya yakni Universal Studio Singapur. Kali ini kami melanjutkan perjalanan dengan bus, dan berhenti di Vivo city semacam mall yang terintegrasi dengan MRT dan LRT Sentosa Island. Sesampainya di Vivo city kami melanjutkan perjalanan menggunakan kereta semacam LRT menuju Sentosa Island. Di Sentosa island kami berfoto di depan ikon USS, setelahnya menikmati eskrim yang buka tepat di depan ikon bola dunia USS.
Waktu sudah menunjukkan pukul lewat dari pukul 15.00 SST, kami berhenti di Vivocity untuk makan siang. Menu yang kami pilih untuk makan siang kelewat sore yakni Pho Vietnam. Honestly, I’m not really into Pho tapi mari kita coba barangkali Pho disini taste different, ternyata ya sama aja rasanya Pho dimana-mana.
Berhubung kami belum sholat ashar jadi kami memutuskan untuk istirahat di hotel, meluruskan kaki dan menaruh ransel sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Kami menginap di salah satu hostel yang ada di China Town, Satu kamar berisi dua ranjang susun dengan kamar mandi diluar dan toilet yang terpisah. Lorong menuju kamar cukup sempit tapi untuk backpacker yang tidak membawa banyak barang seperti kami, hostel ini cukup untuk beristirahat.
Pukul 20.00 SST kami melanjutkan perjalanan ke Supertree. Keluar MRT kami berpapasan dengan rombongan teman kami yang lain, kami bertemu di escalator berlainan arah. Ekspresi kaget dari kami semua, begitu lucu untuk diingat. 15 menit setelah kami sampai di lokasi pertunjukkan supertree dimulai. Pertunjukkan itu terdiri dari lampu yang berkelap-kelip di iringi dengan music opera. Setelah menonton pertunjukan, kami kembali ke China Town untuk makan malam, kali ini kami menyantap menu india; nasi goreng basmati dan ayam ungkep ala india. Lumayan mengeyangkan tapi aku tidak terlalu suka daun ketumbar.
[Hari Kedua]
Mba Sigi dengan pertanyaan yang sama “Mau kemana kita hari ini?”, kami sarapan Lontong Sayur di Kampung Glam. Setelahnya bersantai di kopisop dan sholat di masjid Sultan. Kami cukup banyak menghabiskan waktu di Haji Street, Kawasan ini mengingatkanku akan Sumatera, terutama dibagian Lontong Sayur, rasanya mirip dengan lontong sayur yang biasa aku makan di Sumatera. Kami juga berbelanja oleh-oleh seperti cokelat, gantungan kunci, mba Kyo juga memberi beberapa tas untuk rekan kerjanya.
Masjid Sultan, kami menyempatkan untuk sholat di masjid ini. Masjidnya bersih, kamar mandinya bersih, banyak tisu, tisu basah dan juga sabun cuci tangan. Shaf Permpuan berada di lantai 3, disediakan juga lift tepat diseberang tempat wudhu. Mukenahnya bersih, disediakan parfum dan bedak bayi yang boleh siapapun pakai. Karpetnya bersih, banyak kipas angin besar yang menggantung dilangit-langit masjid. Rasanya sangat tentram dan menyenangkan, Masjid Sultan ini menjadi salah satu tempat favorit dan akan aku singgahi lagi apabila punya kesempatan berkunjung ke Singapura dilain waktu.
Setelah bersantai di Haji Street, kami kembali ke Penginapan untuk mengambil ransel yang kami titip di resepsionis. Pukul 19.00 SST kami berangkat ke Bandara Changi untuk makan malam. Kami makan malam di restoran Indonesia dengan pemandangan Air Mancur Jewel. Setelah makan malam, kami langsung ke meja boarding, nguantri banget – cukup deg-degan takut kami tidak bisa tepat waktu. Untungnya tidak ada masalah di imigrasi dan kami bisa sampai di waiting room tepat waktu, meskipun pesawatnya yang tidak tepat waktu (delay). Meskipun pesawat delay, kami bisa saling bertukar cerita bersama teman-teman kami (rombongan satunya) karena kami pulang dengan pesawat yang sama.
[outro]
Singapura bersih, gak ada nyamuk, gak ada asap rokok, Publik Transport-nya best, jalan kaki terus dan itu menyenangkan. Minusnya di nilai rupiah yang kureng jadi apa-apa terasa mahal. Meskipun mukanya tidak seramah orang Indonesia, Unity in Diversity-nya oke, toleransinya tinggi. Berhubung wisata yang ada buatan manusia semua, kurang memanjakan diri yang lebih senang wisata alam. Meskipun begitu banyak Pelajaran yang bisa aku petik, terlebih perjalanan kali ini bisa mendengar dan bertukar pendapat bersama Mba Sigi dan Mba Kyo, itu yang paling mahal dan mengesankan. Singapur TOP.














