It will be no longer about me, me, and me.
taylor price
todays bird
macklin celebrini has autism

roma★

blake kathryn
NASA
The Bowery Presents
Sweet Seals For You, Always

@theartofmadeline
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Interview Vampire Daily
tumblr dot com
Xuebing Du
$LAYYYTER
official daine visual archive

izzy's playlists!

if i look back, i am lost
Fai_Ryy
EXPECTATIONS

seen from United States

seen from Tunisia

seen from United States

seen from United States

seen from Singapore
seen from Hong Kong SAR China

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from Germany

seen from Canada
@anggrainifitha
It will be no longer about me, me, and me.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
None and Everyone
None told me that live a life without dad is not easy None told me that survive alone for almost last seven years is simple None told me that life will never be the same as before None told me how to keep holding out while being away from my family None told me that fighting the others is more simple than fighting with myself None told me so…
Everyone told me that I am a strong girl Everyone told me that I should be one of a happiest person in my life with all of my accomplishment Everyone told me that I am an extraordinary person amongst them Everyone told me that I should be thankful because so many people want to be me Everyone told me that perhaps so many people out there are having more severe complication than me Everyone told me that God is always there to help me Everyone told me so…
Selesai
Jika kau merasa iri saat melihat foto temanmu yang baru promosi jabatan, atau menikah, atau punya anak, atau jalan-jalan ke luar negeri, atau punya mobil baru, yang salah bukan temanmu. Apakah ia merugikan waktumu? Apakah ia menghabiskan tenagamu?  Apakah ia menggunakan sepeser uangmu? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan berprasangka buruk soal niat temanmu. Kau kira ia riya’, kau anggap dia pencitraan, kau bilang ia pamer.
Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai syukur.
Jika kau merasa marah saat orang lain berbeda pendapat denganmu, memilih pilihan yang berlainan denganmu, yang patut dimarahi bukan dia. Apakah ia menghalangimu untuk berpendapat? Apakah ia memaksamu mengikuti pilihannya? Jangan menambah kotor hati dengan menciptakan jarak kebencian dengannya. Kau labeli ia sebagai musuh, kau sebut ia bukan saudara.
Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai toleransi.
Jika kau merasa kecewa saat tidak ada yang memuji amalmu, menghargai kebaikanmu, yang menurutmu sudah benar, yang salah bukan mereka. Apakah mereka mencegahmu berbuat baik? Jangan menambah kotor hati dengan menyemai benih harapan pada balasan manusia.
Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai ketulusan.Â
Semakin ku merenungi, semakin aku menyadari. Bahwa kebanyakan–hampir seluruhnya–dari penyakit hati, sumbernya adalah masalah diri yang belum menyelesaikan urusannya dengan ego pribadi. Belum bisa meredakan ‘keakuan.’ Yang darinya lahir sebuah dunia tak kasat mata, di dalamnya si ‘aku’ menjadi sentral, yang harus diutamakan, yang harus didahulukan, yang harus diistimewakan. Membuat diri seolah-olah kuat di luar, padahal rapuh di dalamnya.
Maha Suci Allah, yang suci dari kelemahan hamba-Nya.
Pesan ini pertama sekali kutujukan untuk diriku sendiri
Kekhawatirannya
Khawatirnya perempuan itu seperti pepatah; mati satu tumbuh seribu. Seolah tidak ada habisnya. Sesuatu yang kalau ia perbincangkan dengan laki-laki mungkin akan ditanggapi; ah santai saja. Dan itu membuatnya semakin jengkel, juga bertambah khawatir.
Khawatirnya perempuan itu tumbuh seperti ombak, bergulung-gulung. Siang-malam tak pernah berhenti sepanjang angin terus mengalir. Dan kita tidak bisa melihat angin, hanya bisa merasakannya. Dan seperti itulah sebab-sebab khawatirnya. Tidak kelihatan, tapi dirasakan terus menerus.
Dari khawatir tentang fisiknya seperti kulit putih, rambut berbagai model, tinggi redahnya badan, cantik tidaknya, gigi yang rapi atau tidak, dan segala sesuatu yang seringkali diam-diam diresahkan tentang dirinya. Dari khawatir tentang pakaiannya, menarik atau tidak, luwes atau tidak, norak atau tidak. Sampai khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain tentangnya.
Ketika masih remaja, khawatir pada peer group, masuk ke dunia berikutnya khawatir tentang pekerjaan dan karir, juga khawatir tentang jodoh. Setelah menikah, khawatir pada perekonomian keluarga, godaan dari luar dsb. Khawatir pasangannya tidak setia, dan lain-lain. Ada saja yang memenuhi ruang-ruang dipikirannya. Ada saja hal-hal yang membuat resah khawatir.
Dan ketika ia menemukan seseorang yang mampu meniadakan kekhawatirnya, membuatnya percaya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Ia akan dengan senang hati mencurahkan segala daya dan pikirannya untuk orang tersebut. Sekalipun mungkin itu menyakiti dirinya.
Kadang ini membuatku percaya bahwa kemampuannya melihat sesuatu dari sisi negatif (hal yang buruk) membuat perempuan jauh lebih jeli dan hati-hati daripada laki-laki, yang terburu-buru, grusah-grusuh, kurang terliti. Dan kekhawatiranya itu adalah kekuatan yang hebat kala berumah tangga. Saat ia sanggup berhitung atas situasi dan membuatnya selalu bersiap dalam kondisi terburuk. Dan kekuatan itulah yang sadar atau tidak, membuatnya menjadi kuat.
Yogyakarta, 14 Juli 2017 | @kurniawangunadi
bisa juga via PKPU, Inisiatif Zakat Indonesia (terima kasih infografisnya yang sangat mengena sebagai pengingat), atau tempat-tempat lain yang belum saya sebutkan.
ini pengingat banget, khususnya bagi saya yang sebelumnya menganggap kurang lebih sama saja antara zakat, infak, dan sedekah.
semoga setelah ini kita semakin berhati-hati, karena saya percaya zakat termasuk ke dalam rukun islam, dengan membayar zakat kita ‘membersihkan’ harta kita dari hak-hak orang yang termasuk ke dalam 8 golongan penerima zakat.
semoga bermanfaat ;)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
20. kebaikan perempuan
kebaikan perempuan adalah juga kewajibannya, yaitu mengalah, mengabdi, dan menerima–menerima dari awal sampai akhir. kebaikan perempuan adalah juga kewajibannya, yang apabila tidak ditunaikan, dirinya sendiri yang akan kekurangan, kesusahan. yang apabila ditunaikan, dirinya sendiri yang akan dicukupkan, dibahagiakan.
20. kebaikan perempuan
kebaikan perempuan adalah juga kewajibannya, yaitu mengalah, mengabdi, dan menerima–menerima dari awal sampai akhir. kebaikan perempuan adalah juga kewajibannya, yang apabila tidak ditunaikan, dirinya sendiri yang akan kekurangan, kesusahan. yang apabila ditunaikan, dirinya sendiri yang akan dicukupkan, dibahagiakan.
19. kebaikan laki-laki
kalau kita lihat, di dunia ini ada banyak sekali laki-laki yang baik. laki-laki yang rajin sekali ke masjid dan tekun sekali beribadah. laki-laki yang gigih sekali belajar dan giat sekali bersekolah. laki-laki yang begitu sungguh-sungguh bekerja dan menjemput nafkah. laki-laki yang sangat setia dan taat kepada kedua orang tuanya. laki-laki yang nyaris tidak punya catatan keburukan. kalau beruntung, kebaikan-kebaikan itu berkumpul di satu orang.
kalau kita pikir-pikir dan rasakan, mungkin ada laki-laki baik yang berbuat baik kepada kita (perempuan). menjadi sahabat dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. memberikan semangat setiap hari. mengantarkan kita pulang atau pergi. membelikan makanan saat kita sakit. mengirimi kita berbagai kado. menjadi orang pertama yang panik saat sesuatu tak baik terjadi kepada kita. menjadi yang paling penasaran atas tulisan kita atau karya kita. mungkin ada, laki-laki yang menyayangi kita.
tapi taukah kamu? sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah ibu) seorang perempuan hanyalah satu: melamarnya. kalau ada laki-laki yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum penuh. sebaliknya, pun begitu. dia yang tidak (belum) berbuat apa-apa tetapi melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.
sebab bukanlah perkara kecil bagi seorang laki-laki untuk meminta perempuan dari orang tuanya. tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu). ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil. ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakkannya di pundaknya sendiri.
maka janganlah kita perempuan, yang belum menikah, terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. maka tak perlu jugalah kalian laki-laki berbuat baik yang semu-semu itu. salah-salah malah ada harapan tidak perlu yang ikut tumbuh. pada suatu titik semua itu tidak penting. semua itu akan kalah dengan dia yang melangkahkan kaki kepada ayah.
maka janganlah kita perempuan, yang sudah menikah, iri dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan para laki-laki lain kepada pasangannya. apalagi tergoyahkan kesetiannya karena ada laki-laki yang baik kepada kita. semua itu kalah dengan dia yang telah melangkahkan kaki kepada ayah.
karena ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu. maka, hitunglah kebaikan yang satu itu–hitung baik-baik. :)
@thebeautyofislam @islamic-art-and-quotes @islamislove
#StopPekerjaAnak
Siang ini habis baca tweet-nya @Kemenperin_RI dan ternyata hari ini 12 Juni 2017 diperingati sebagai Hari Dunia Menentang Pekerja Anak. Sebagai pekerja NGO, isu tentang pekerja anak saya akui sedang menjadi isu yang cukup panas terutama di bidang kerja saya, bidang kelapa sawit. Sebelumnya, mungkin ngga sih ada yang penasaran ‘di batas umur berapa seseorang dikatakan sebagai pekerja anak?’. Well, dari pengalaman kerja saya, saya dapat pengetahuan bahwa yang namanya pekerja anak adalah pekerja yang berusia kurang dari 18 tahun dan BELUM MENIKAH (UU No. 13 Tahun 2003). Dari pengertiannya pekerja anak ini, sudah ada beberapa masalah yang kita hadapi di lapangan (please note this is the case based on the field in my working industry sector).
Masalah apa aja sih? Pertama, gimana kalo kurang dari 18 tahun? Jadi, sebenernya pekerja anak yang berumur 13-15 tahun sudah boleh melakukan ‘pekerjaan ringan’ dengan catatan : tidak lebih dari 3 jam per hari, pekerjaannya tidak menempatkan sang anak di tempat yang berbahaya, tidak menganggu kegiatan belajar dan sekolah, mendapatkan izin dari orang tua, dan tidak membahayakan perkembangan dan kesehatan fisik, mental dan sosial si anak (UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan). Kedua, gimana kalo si anak cuma bantu orang tuanya? Selama si anak tidak tercatat sebagai pekerja dan dia hanya membantu orang tuanya sepulang sekolah/libur sekolah atau pada saat musim panen, si anak tidak dikategorikan sebagai pekerja anak tetapi disebut sebagai anak yang bekerja. Well, kita ngga bisa justifikasi orang tuanya bukan orang tua yang baik, sementara si anak harus membantu orang tuanya bekerja untuk meringankan  pekerjaan orang tuanya dan tentunya meringankan beban ekonomi orang tua.
Terus gimana kalo dia udah menikah dan dia perlu menafkahi keluarganya sementara dia belum berumur 18 tahun? Masalah ini kita temukan di lapangan, tetapi dari kami sendiri belum ada penyelesaian yang firm atau clear. Because we couldn’t see only from the violation of law, we should also see from the humanity, social, etc. Solusi terakhir datang dari perusahaan sendiri, dengan mempertimbangkan aspek-aspek tadi, tetapi tetap ke depannya harus ada action plan untuk mencegah hal ini kembali terjadi dan access to remedy jika hal ini terulang kembali.
Sumber : Dokumen Pribadi (2017)
Akhir-akhir ini banyak ya isu yang keluar tentang pekerja anak di bidang kelapa sawit, misalnya isu dari Amnesty International, Greenpeace, RAN Forest Alliance. Setelah diamati, ternyata mostly pekerja anak yang ditemukan di lapangan ini adalah pekerja sub-kontraktor/pihak ketiga, dimana perusahaan tidak bertanggung jawab langsung. Jadi perusahaan cuma nyewa jasa penyedia tenaga kerja. Kelemahannya salah satunya ya seperti yang terjadi, perusahaan kurang aware terhadap siapa sih yang jadi pekerja pihak ketiga mereka? Oleh karena itu, sebaiknya perusahaan memang mencegah adanya pekerja anak dengan memastikannya di dalam perjanjian kerja dengan pihak ketiga, minimal memasukkan klausa bahwa mereka ngga menyuplai pekerja anak.
Sekali lagi saya ingatkan bahwa saya bukan Social Expert atau Human Rights activist atau sejenisnya. I’m just an ordinary employee of a NGO, bergerak di bidang kelapa sawit bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan atau grup-grup besar untuk bertransformasi dengan menerapkan prinsip No Deforestation, No Peat and No Exploitation. Narasi ini hanya berdasarkan pengetahuan saya pribadi dan case yang memang tim kami alami di lapangan selama sekitar 2 tahun ini. Kementerian Perindustrian sendiri sebenernya punya program untuk #Stop Pekerja Anak, you can find in their twitter @Kemerinper_RI since I have no idea what is the program about. Takutnya saya kurang tepat dalam menceritakannya. The most important thing adalah peran apa yang bisa lakukan di dalam masyarakat untuk mencegah adanya pekerja anak.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sesuatu sedang terjadi di tempat lain.
Saat kita duduk manis, sibuk dengan aktivitas kita di sini. Menikmati pagi dengan secangkir teh, atau mungkin sedang memasak untuk keluarga, atau mungkin sedang sibuk mengurus sebuah kegiatan konser di kampus. Sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Pada detik yang sama, pada saat kita menghebuskan nafas saat ini.
Sebagian kita tahu, sebagian kita tidak. Sebagian dari kita peduli, sebagian lain juga tidak. Setiap hari, empati kita semakin tumpul. Ketumpulan yang semakin hari semakin bertambah lantaran kita sendiri yang menumpulkannya. Setiap hari kita diperlihatkan dengan ketimpangan. Dunia yang benar-benar berbanding terbalik antara kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalam waktu yang sama. Dan kita lebih sibuk melihat kebahagiaan di media sosial. Melihat apa yang sedang dilakukan orang ini, dilakukan orang itu, dicapai orang ini, dicapai oleh orang itu. Dan kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, betapa yang mereka tampilkan seolah-olah mengkhianati kemanusiaan.
Sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Dan mereka tetap sibuk dengan mengumbar kemesraan. Sibuk memamerkan pekerjaan. Sibuk memperlihatkan barang-barang kepemilikan. Sibuk menampilkan riasan. Sibuk menunjukkan betapa aman dan sejahtera keluarganya.
Dan didetik yang sama. Anak-anak di Suriah terbunuh, hutan-hutan ditebang, kelaparan dan kemiskinan melanda Somalia. Di menit yang sama, orang seusia kita tengah berjuang melawan penyakitnya, yang lain berjuang mencari nafkah untuk sejumlah uang yang kita hamburkan di meja makan sekali duduk. Di masa yang sama, sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Dan empati kita semakin menguap tak berbekas.
Kukira, kita semua dulu tidak seperti ini.
Yogyakarta, 7 April 2017 | ©kurniawangunadi
Musuh Terbesar Seorang Ibu
Musuh terbesar seorang Ibu bukanlah pornografi dan pornoaksi yang rentan memapar otak anak-anaknya. Bukan pula kekerasan seksual yang mengintai langkah pendek anak-anaknya. Bukan pula paham radikalisme yang bisa menjangkiti keyakinan anak-anaknya. Semua itu musuh kita bersama, namun ada yang lebih berbahaya dari itu semua.
Musuh ini tak tampak. Hadirnya sulit dideteksi oleh indera. Memata-matai dari sangat dekat. Mudah datang tanpa diundang. Mudah menginfeksi tanpa diketahui. Halus dan perlahan-lahan. Musuh itu adalah stigma bahwa profesi Ibu (rumah tangga) adalah pekerjaan biasa.
Menghabiskan hari-hari di rumah untuk merawat anak sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah yang itu-itu lagi sangat berpeluang membuat Ibu terjebak dalam rutinitas yang kaku, beku, dan membuat jenuh. Kadang Ibu membayangkan betapa menyenangkan jika Ibu bisa travelling dengan teman-teman seperti saat Ibu lajang. Namun sekarang hidup tak sesederhana itu.
Melihat rekan-rekan satu sekolah dulu sudah mencapai jenjang karir tertentu di perusahaan-perusahaan besar, atau menjadi pengusaha, atau sedang studi lanjutan di negeri lain, kadang-kadang bisa membuat Ibu kehilangan makna. Ibu mulai menilai diri Ibu sebagai orang biasa, yang tidak hebat, yang tidak keren, yang tidak bergengsi. Dan membuat Ibu perlahan-lahan melepaskan mimpi-mimpi dan standar-standar profesional seorang Ibu.
Ibu harus memasak masakan sehat agar keluarga sehat. Ibu harus menjaga kesehatan agar tidak sakit–karena keluarga membutuhkan Ibu. Ibu harus mengelola keuangan agar pemasukan seimbang dengan pengeluaran. Ibu harus mendidik dan memberi contoh baik agar anak ikut-ikutan menjadi baik.
Semua standar itu kalah oleh perasaan minder dan tak berharga.Self-esteem rendah, kebahagiaan Ibu menurun, Ibu pun akan sulit menjalani peran dengan baik.
Lalu Ibu merasa tidak perlu belajar, untuk apa seorang Ibu menjadi terpelajar? Lalu yang paling menakutkan, Ibu berhenti berdoa–padahal kunci langit ada di lisan Ibu yang tulus.
Ibu pun menjalani hari hanya untuk menanti malam tiba, lalu menghabiskan malam untuk istirahat agar cepat bertemu esok. Tak ada hari istimewa, setiap hari sama : penuh dengan rutinitas yang membosankan. Hilang sudah semangat bermain dengan anak, hilang sudah dorongan memasak makanan sehat, hilang sudah harapan untuk membangun keluarga hebat.
Ibu pun sepenuhnya menerima tanpa perlawanan, bahwa pekerjaan Ibu rumah tangga memang pekerjaan biasa.
Itulah musuh terbesar seorang Ibu, jauh lebih berbahaya daripada pornografi, kekerasan seks, penyimpangan perilaku seksual, kecanduan gawai, paham radikalisme, liberalisme, dan sederet permasalahan lain yang mengancam di luar sana.
Mengapa lebih berbahaya?
Karena yang harus dilawan adalah pikiran dan perasaan Ibu sendiri.
Repost
Karena yang harus dilawan adalah ego ibu sendiri.
Musuh Terbesar Seorang Ibu
Musuh terbesar seorang Ibu bukanlah pornografi dan pornoaksi yang rentan memapar otak anak-anaknya. Bukan pula kekerasan seksual yang mengintai langkah pendek anak-anaknya. Bukan pula paham radikalisme yang bisa menjangkiti keyakinan anak-anaknya. Semua itu musuh kita bersama, namun ada yang lebih berbahaya dari itu semua.
Musuh ini tak tampak. Hadirnya sulit dideteksi oleh indera. Memata-matai dari sangat dekat. Mudah datang tanpa diundang. Mudah menginfeksi tanpa diketahui. Halus dan perlahan-lahan. Musuh itu adalah stigma bahwa profesi Ibu (rumah tangga) adalah pekerjaan biasa.
Menghabiskan hari-hari di rumah untuk merawat anak sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah yang itu-itu lagi sangat berpeluang membuat Ibu terjebak dalam rutinitas yang kaku, beku, dan membuat jenuh. Kadang Ibu membayangkan betapa menyenangkan jika Ibu bisa travelling dengan teman-teman seperti saat Ibu lajang. Namun sekarang hidup tak sesederhana itu.
Melihat rekan-rekan satu sekolah dulu sudah mencapai jenjang karir tertentu di perusahaan-perusahaan besar, atau menjadi pengusaha, atau sedang studi lanjutan di negeri lain, kadang-kadang bisa membuat Ibu kehilangan makna. Ibu mulai menilai diri Ibu sebagai orang biasa, yang tidak hebat, yang tidak keren, yang tidak bergengsi. Dan membuat Ibu perlahan-lahan melepaskan mimpi-mimpi dan standar-standar profesional seorang Ibu.
Ibu harus memasak masakan sehat agar keluarga sehat. Ibu harus menjaga kesehatan agar tidak sakit–karena keluarga membutuhkan Ibu. Ibu harus mengelola keuangan agar pemasukan seimbang dengan pengeluaran. Ibu harus mendidik dan memberi contoh baik agar anak ikut-ikutan menjadi baik.
Semua standar itu kalah oleh perasaan minder dan tak berharga.Self-esteem rendah, kebahagiaan Ibu menurun, Ibu pun akan sulit menjalani peran dengan baik.
Lalu Ibu merasa tidak perlu belajar, untuk apa seorang Ibu menjadi terpelajar? Lalu yang paling menakutkan, Ibu berhenti berdoa–padahal kunci langit ada di lisan Ibu yang tulus.
Ibu pun menjalani hari hanya untuk menanti malam tiba, lalu menghabiskan malam untuk istirahat agar cepat bertemu esok. Tak ada hari istimewa, setiap hari sama : penuh dengan rutinitas yang membosankan. Hilang sudah semangat bermain dengan anak, hilang sudah dorongan memasak makanan sehat, hilang sudah harapan untuk membangun keluarga hebat.
Ibu pun sepenuhnya menerima tanpa perlawanan, bahwa pekerjaan Ibu rumah tangga memang pekerjaan biasa.
Itulah musuh terbesar seorang Ibu, jauh lebih berbahaya daripada pornografi, kekerasan seks, penyimpangan perilaku seksual, kecanduan gawai, paham radikalisme, liberalisme, dan sederet permasalahan lain yang mengancam di luar sana.
Mengapa lebih berbahaya?
Karena yang harus dilawan adalah pikiran dan perasaan Ibu sendiri.
Repost
Karena yang harus dilawan adalah ego ibu sendiri.
Photographer Spends Hours on Bridges to Capture Colorful Overhead Portraits of Street Vendors
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hilang
Tidak akan pernah baik-baik saja bagi orang-orang yang mengalami kehilangan. Baik dengan cara meninggalkan atau ditinggal pergi. Meski pada hakikatnya tidak ada yang pernah menjadi miliknya, tetap ada yang terasa dalam dirinya tak lagi utuh. Dan untuk bisa menerima kehilangan, seseorang harus kehilangan waktu. Waktu yang digunakan untuk sampai pada hikmah yang tersebunyi darinya.
©kurniawangunadi
karena aku sangat mudah untukmu
karena aku sangat mudah untukmu.
kamu tidak perlu lelah-lelah berjuang, sebab aku tidak mungkin sampai hati membiarkan orang yang ingin memperjuangkanku berjuang sendirian.
kamu tidak perlu repot-repot membuat dirimu diterima, sebab aku selalu bersedia mengambil tanggung jawab untuk lebih dari menerima–yaitu memaafkan, melupakan, bahkan melepaskan.
kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkanku, sebab aku sungguh selesai dengan diriku sendiri. sebab masa depanku adalah rangkaian rencana yang bisa diganti. sebab ambisiku selalu (hanya) sekeras tangan yang menggenggam pasir, secukupnya mencukupkanku.
kamu tidak perlu khawatir tentang apapun, sebab aku bisa mengikutimu ke mana pun. aku bisa diajak berjalan, berlari, merangkak. aku bisa bertahan pada segala musim dan cuaca, bisa berteman dengan segala rasa dan nuansa.
karena aku sangat mudah untukmu, semoga kamu merasakannya: bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga.
semoga aku sangat berarti untukmu.