SUNDA GULALI
Bersama motor kesayangan saya, vario butut di jalanan menuju pulang, seperti biasa selepas salat magrib dari masjid dekat kantor, saya biasanya baru memutuskan untuk pulang. Sebenarnya satu jam sebelum magrib tiba adalah waktu jam pulang kantor, namun melihat realita dipangan yang amat mencengangkan itu, macet maksud saya. Saya berpikir ulang, apakah hidup yang singkat ini hanya habis dijalan dan bermacet-macet bersama kendaraan lain yang begitu sumringah ingin bertemu keluarga dirumah. Oleh sebab itu juga saya berencana meluangkan waktu sebentar mengobrol bersama kawan-kawan dan menyalakan rokok sebatang dua batang sambil menunggu adzan tiba. Biasanya saya sesekali duduk di meja gudang sambil menyerutup kopi sisa tadi pagi, dengan obrolan ringan untuk mencairkan suasana lelah sehabis bekerja. Maklum, intesitas perkejaan disana cukup menguras pikiran, jika tidak diimbangi dengan guyonan.
Malam itu saya teringat dengan sebuah video milik (BBQ Mountain Boys) yang diunggah di laman youtube miliknya, sebuah tontonan khas anak indie yang identik dengan kopi nan senjanya, kadang saya berpikir apa salahnya mereka yang mendaku dirinya indie, padahal tidak merugikan siapa pun dan pihak manapun. Namun tampaknya nitizen sudah berfatwa demikian, mereka yang inide dianggap terlalu menye-menye menyuarakan kopi dan senjanya, kelebaian mereka berujung pada makian dan kesatiran para nitizen yang maha benar itu. Tapi sebentar, akun youtube ini tidak serta-merta hanya berisi konten indie saja, namun juga berisi banyak sekali video edukasi mengenai hal-hal yang berabau lingkungan, masak-memasak di ruang tebuka hijau, berkebun dan tentu saja tentang kopi, dari hulu ke hilir, semua dikupas tuntas dalam sebuah video series yang dimuat di akun youtube tersebut.
Saya ingat betul ketika mang hiya mengatakan bahwa concern anak muda zaman sekarang hanya terbatas pada serbuk kopi yang ia nikmati di setiap kedai-kedai yang dikunjungi, tanpa tahu dan mau menggali lebih dalam lagi, apa dan bagaimana sebenarnya proses dibalik sajian kopi yang mereka gemari tersebut. Itulah yang dimuat dalam series (BBQ Mountain Boys) tetang perjalanan sebuah primadona bernama kopi dari cara menanamnya, panen, meroasting, hingga proses penyajian yang begitu kaya itu. Mengapresiasi petani kopi dengan membeli hasil penen dan menyeduhnya bersama saudara dan teman dekat barangkali menjadi salah satu kegiatan rutin saya akhir-akhir ini. Menyadari betapa panjang dan butuh konsistensi yang besar untuk merawat biji-biji ini sebelum di srutup oleh penikmatnya adalah sebuah itikad baik untuk generasi Z kedepan, mengingat minim sekali anak-anak muda yang mau terjun ke lapangan, berkotor-kotor menanam kopi di zaman serba instan seperti sekarang ini sayangku.
Laju motor butut itu perlahan mengendur terjerat lampu merah di pertigaan dekat jembatan, tandanya sekitar dua kilometer lagi sampai pada kedai langganan saya membeli biji kopi, 45 coffee shop yang baru-baru ini saya datangi kembali setelah beberapa bulan lalu bereksperimen membeli biji kopi dari kedai lain. Malam itu saya berniat membeli arabica toraja sapan setelah mencicipi kopi ini beberapa bulan lalu, nampaknya saya ketagihan. Padahal dulu saya sering membeli sunda gulali yang menurut saya adalah kopi ternikmat yang pernah saya minum, mengingat harganya naik ketika saya mengecek di kolom menu, lantas mewurungkan niat dan menggantinya dengan toraja sapan saja hehe, masa pandemi seperti ini juga yang membuat saya berpikir dua kali untuk membeli sunda gulali.














