Terimakasih Sudah Pernah Singgah
Perjalanan hidup telah membawa kita sampai pada titik di mana aku dan kamu sudah memilih jalan bahagianya masing-masing. Serupa rel kereta, kita sedang melaju bersama tetapi memilih pemberhentian yang yang berbeda. Semoga saja keputusan kita di hari lalu untuk saling meninggalkan, merupakan keputusan terbaik menurutNya.
Hari ini, semoga saja tak ada sesal yang tersematkan. Sebab, aku telah mengikhlaskan segalamu beserta kenangan yang ada di dalamnya. Telah kulepaskan segala harapan yang pernah kau yakinkan dengan begitu rekatnya. Pun telah kuhempaskan seluruh janji-janji manismu, dan kujadikan sebagai pembelajaran, agar kelak aku bisa lebih berhati-hati memilih calon pasangan.
Terimakasih sudah pernah singgah meski itu hanya sekelibat waktu. Di hari lalu, aku pernah memberimu kesempatan untuk menjadi bagian dari hidupku. Namun, kamu malah menyuruhku untuk menunggu hingga bertahun-tahun. Dan sebagai perempuan yang cerdas, tentu saja aku menolak untuk digantung. Karena jika memang kau serius, kamu pasti akan membuktikan ucapanmu; dengan mendatangi waliku.
Aku benar-benar benci dengan laki-laki yang hanya bisa memberikan janji. Kupikir kau berbeda dengan yang lain, rupanya sama saja. Maka ketika kau mengatakan hal itu, seketika aku menolak tanpa banyak berkata. Kuharap kamu paham bahwa aku tidak semudah itu untuk kau bodohi dengan ucapan janji belaka. Maka maaf aku memilih berlalu. Karena menunggu, bukanlah hobiku.
Hari ini, aku sudah melangkah jauh dari tempat terakhir kali kita bertemu. Dan entah bagaimana dirimu yang sekarang. Masihkah ada aku di dalam sana? Atau jangan-jangan kau sudah menemukan sosok perempuan yang lebih menawan? Ah, dasar laki-laki. Memang tak bisa benar-benar tinggal hanya pada satu hati.
Tidak mengapa, karena hari ini aku juga sudah menemukan penggantimu. Seseorang yang jauh lebih dewasa dari kamu. Yang dengan keberaniannya mampu membuktikan keseriusannya itu. Mendatangi waliku, lalu meminta dengan cara yang baik untuk didampingi olehku.
Tentu saja aku bahagia. Dan berpisah denganmu adalah sesuatu yang teramat kusyukuri hari ini. Rupanya, itulah yang terbaik untuk kita. Dan aku semakin percaya pada Allah, bahwa setiap keputusan dariNya adalah untuk kebaikan hamba-hambaNya. Meski pada awal-awal perpisahan, aku harus tersungkur dalam sujud berkali-kali. Memohon untuk dikuatkan agar mampu berjalan kembali.
Semoga kamu juga sudah menemukan bahagiamu. Meski bukan pada diriku, mudah-mudahan perempuan itu yang terbaik untukmu. Jangan menyuruhnya untuk menunggu sebagaimana yang kamu lakukan padaku; dulu. Karena jika ia mengiyakan, berarti kamu sedang mempersiapkan hati seseorang untuk rapuh.
Aku ingin ditemukan kamu tiga atau empat tahun lagi. Dan ketika itu aku mungkin sudah menggandeng lengan pria lain. Lalu kamu akan menyesal pernah menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan padamu. Karena hari itu, seseorang yang lain- telah mewujudkan impianmu untuk menjadi satu-satunya laki-laki yang paling aku taati.