Ganasnya btina ni kne.henjut
Game of Thrones Daily

Kiana Khansmith
Xuebing Du
NASA

roma★
wallacepolsom

Kaledo Art
art blog(derogatory)

PR's Tumblrdome
Show & Tell
Monterey Bay Aquarium
Jules of Nature

Origami Around

#extradirty
$LAYYYTER
One Nice Bug Per Day
will byers stan first human second

styofa doing anything

seen from Belarus
seen from Malaysia
seen from Japan
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Canada

seen from United States

seen from Indonesia

seen from Singapore

seen from United States
seen from Canada
seen from Singapore
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
@amysyg77
Ganasnya btina ni kne.henjut

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tenbamnyer pepet dik…
pepek bambam
Since everyone so thirsty for her 🙄
#original
Tetek besar
Seriously mmg padu…..taste gua ni
My taste
i liked..tbaeeekk..
padu bosskurrr
sedapp

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
if only.
Tudung body mantap dgn nafsu seks yg tinggi seronok utk di nikmati..
Pancut dalam lagi.. Kat hutan
Sedap 2 pncut dalam
Sedap tu pancut dalam
Faq
Ayahku Sayang
Aku masih teringat betul ketika aku masih kecil ayah selalu yang mengurusku, walau ayah sebetulnya hanyalah ayahku tiri, tetapi sayangnya kepadaku betul – betul melebihi almarhum ayah kandungku sendiri. Dari umur 7 bulan aku diurusnya, dimandikan, disuapin pokoknya diurus selayaknya seorang ibu mengurus anaknya, ini disebabkan mama-ku bekerja dikantor dan ayah berwiraswasta. Yang aku ingat betul kalau tidur aku selalu minta dikeloni ayah, hal itu sampai aku umur 12 tahun, bila ayah tidur aku didekapnya dan pada umurku yang ke 9 tahun aku merasakan didekap dan disayang sebab memekku selalu dielus-elus ayah.
Sewaktu aku umur 11 tahun dan aku duduk dikelas 6 SD, aku minta diajari ayah matematika dan ayah selalu mengajariku, tetapi pada malam itu ayah memegangi memekku dan rasanya betul2 enak sekali, aku betul merasakan nikmat sampai keluar cairan dari memekku sehingga membasahi celana dalamku bahkan sampai kepahaku, dengan sayangnya ayah menyekanya dengan sapu tangannya lalu saya disuruhnya istirahat tidur.
Bangun pagi kepalaku pusing dan berat, sampai aku membolos sekolas, aku betul2 merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan semalam. Semenjak itu aku semakin dekat dengan ayah dan mersa lebih menyayanginya, bahkan aku belum tidur sebelum ayahku mengajakku tidur.
Pada suatu saat seperti biasanya aku diajak berenang oleh ayah dan aku masih taraf belajar aku diajari ayah berenang tetapi ayah saya minta memegang pahaku dan seperti biasa ayah memegang memekku, hal tersebut aku nikmati, jadi bukan belajar renang tetapi aku betul2 menikmati rabaan ayahku.
Selesai berenang aku diajak ayah kekamar ganti pakaian, aku telanjang bugil (maklum anak kecil), ayah lalu mengelap badanku dengan handuk, seluruh badan dilap sampai kering dan tiba2 aku disuruh duduk dibangku, kakiku dibuka ayah memekku diraba aduh enaknya dan cairan mulai keluar dari memekku, lalu ayah jongkok dijilatinya memekku, aaaccchhhhh…..” aaaaacchhhhh……..” aku merasakan lebih enak, yang akhirnya badanku terasa seperti melayang sampai2 aku dekap kepala ayahku, aaacchhhh……..,” ayaaaahhhh………”
Sewaktu aku mulai masuk SMP aku kalo berangkat bersama-sama ayah, sebab arahnya satu jalan kearah tempat kerja ayahku, setiap pagi aku betul2 senang sebab sambil menyetir mobil tangan ayah selalu mengelus-elus pahaku, eemmmhhhh……” betul2 enak.
Pada umurku yang ke 14 kebetulan mama-ku pergi keluar kota menengok saudaranya yang baru beli rumah, aku berdua dengan ayah dirumah. Waktu malam hujan turun deras sekali dan aku merasa takut lalu aku minta ayah menemaniku tidur dikamarku, wah aku betul2 merasa aman dalam dekapan ayahku, sampai aku tertidur pulas, aku merasakan memekku ada yang mengelus, betul2 enak dengan memekku yang masih belum numbuh rambut masih polos. Aku terbangun tetapi diam saja sebab aku tahu ayahlah yang meraba.
Semakin lama semakin enak, sampai - sampai cairan dimemekku keluar aduh aku betul - betul tersiksa rasanya, aku beranikan diriku aku raba Titit ayahku, aduh aku kaget betul - betul besar sekali, baru sekali inilah aku megang Titit. Dengan sabar bajuku dibuka ayah (sebab kalau tidur aku tidak pernah pakai BH, walaupun Buah dadaku masih kecil) setelah terbuka leherku mulai dicium ayah dan aku betul2 terangsang, tahu2 Buah dadaku dicium, dijilatnya aduh enaknya eeehhh malah diemut aduh maakkk!! aku tak tahan, tanpa aku sadari keluar suara dari mulutku aaaaccchh……”. uuugghhh……..” aaaaacccchhhh…..”
Rupanya ayahku jauh berpengalaman, di tariknya CD ku pelan - pelan dan setelah terbuka sampai aku betul - betul bugil pelan – pelan dari toket yang dicium turun ke perut terus ke paha teruusss pelan - pelan dibukanya kakiku yang kecil dengan sayang dijilatinya memekku, aku tarik rambut ayah saking enaknya dan ayah pun tahu aku mulai merasakan lalu posisinya dirubah kakiku dikangkangkan dan pelan - pelan kepala Tititnya digosok-gosokkan dibibir memekku aduuuuuhhhh…..” aaaayyyaaaaahhhhh…….,” rintihanku dengan lembut ditekannya Titit ayahku kelubang memekku aduh ngilu campur geli rasanya, lalu dielus - eluskan lagi kepala Titit ayahku di bibir memekku setelah itu aku terangsang lalu ditekannya lagi dengan lembut, lama - lama sssrrrreettt kepala titit Ayahku masuk, ayaaaahhh…..!” rintihku dan ayah mencabutnya lagi lalu digosok-gosok lagi sampai aku terangsang lagi dan ditekannya lagi, ber-kali - kali hal tersebut dilakukan ayah, lama - lama aku betul - betul merasakan enak yang selama ini belum pernah aku rasakan, yang akhirnya aku menggelinjang dan kupeluk ayah aaaayyyyyaaaahhhhh……,” uuuggghhh……,” aaayyyyaaahhh……,” aaaaccchhhh……” aaayyyaaahhh…..” eeeennnaaaak…….!” dan terasa hangat didalam memekku, rupanya semprotan air mani ayah.
Aku terasa ngantuk sekali, lama Titit ayah didalam memekku setelah mengecil baru ayah cabut dan dijilatinya memekku, sampai aku terangsang lagi aduh ayah….” “Devie minta lagi, pintaku , ayahpun melayaniku lagi, aduh enak ayah, sampai - sampai aku tertidur dalam entotan ayahku. Pagi aku bangun pakaianku sudah terpakai dibadan, rupanya ayah semalam yang mengenakannya dan ayah sudah membuat- kan minum hangat untukku serta sarapan pagi, kebetulan hari itu hari minggu, setelah minum dan makan aku ajak ayahku sayang tidur lagi dan terjadi lagi seperti semalam. Jadi selama mama pergi kami selalu melakukan dengan ayah, demikian juga setelah mama pulang kami masih sering sembunyi - sembunyi melakukan gituan ( Hubungan Seks ). Bahkan sama teman cewek yang sudah punya punya cowok kalo mereka melakukan gituan aku ikut nimbrung.
Sekarang aku sudah 16 tahun dan kelas 2 SMU akan naik ke kelas 3, masih aku sering minta ayah melakukan itu untukku dan ayah tidak pernah menolaknya.
Terima kasih ayah ku sayang, engkau telah membesarkanku dan engkau pulalah yang mendewasakanku, aku sulit melupakan.
Aku dan papi ku
Namaku adalah Regina, orang di rumah biasa memanggil ku Egin, demikian juga teman-temanku . Aku mempunyai postur tubuh yang lumayan tinggi, 170cm dengan berat 59 kg. Banyak yang bilang kalau aku memang seksi, montok dan menggemaskan. Karena memang kalau dilihat ukuran payudaraku yang juga besar, 36c. Umurku sekarang 25 tahun, sudah menjadi seorang wanita yang cukup matang. Namun aku memutuskan untuk belum menikah. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta milik papiku di daerah Sudirman, Jakarta. Sudah 2 tahun aku bekerja di sana, sebagai general manager, yang membawahi sekitar 35 karyawan.
Cerita ini berawal sekitar 7 tahun yang lalu, waktu itu aku kuliah semester 1
Beginilah kisahku….
Semuanya ini berawal dari kehidupan keluargaku yang boleh di bilang berantakan….Papiku seorang pengusaha yang sukses…bergerak di bidang property yang cukup terkenal di Indonesia. Dia seorang yang gila kerja tetapi juga gila wanita, sehingga sepertinya beliau banyak memiliki wanita simpanan. Sedangkan mami selalu sibuk dengan kegiatan sosial, karena mami juga adalah seorang yang sangat aktif di sebuah partai yang bonafit. Dan tidak jarang aku memergoki mami sedang asyik bercanda mesra di handphonenya. Pernah satu kali aku, secara tidak sengaja membaca sms di handphone mamiku, isinya membuat aku jadi jijik, karena ternyata sms itu dari pacar-pacarnya. Yang paling membuatku tambah kesal setelah ku selidiki pacar-pacar mami itu adalah pemuda-pemuda yang biasa kita kenal dengan istilah gigolo.
Hancur hatiku melihat semuanya ini terjadi dalam keluargaku.
Hingga pada suatu malam, di saat aku tidur dalam kamarku aku merasakan ada sesuatu yang menggerayangi tubuhku. Awalnya aku merasa seperti ada binatang yang merayap dari ujung rambutku sampai ujung kaki, lalu akhirnya naik lagi dan berhenti di sekitar selangkanganku, antara sadar dan tidak aku membuka mataku, dan alangkah kaget nya aku setelah kulihat papi dengan tubuh tanpa selembar benang pun sedang mengelus-elus celana dalam ku sementara tangan kanannya sedang mengocok penisnya sendiri.
“Sambil berteriak aku berkata :
“paappiii….apa yang sedang papi lakukan???, tenang sayang jangan berteriak nanti semua orang bangun…., kata papiku.
Sambil aku membereskan dasterku yang sudah berantakan, sementara papiku masih terus mengocok penisnya yang besar dan berurat itu. "Lalu papiku berkata :
"ayo puaskan papi sayang….sudah lama papi melihat pertumbuhan badanmu yang semakin seksi….”.
Sementara aku menjadi bengong dengan semua yang telah ku lihat, juga melihat sifat liar papi, aku juga mulai melirik ke arah penis papi yang menurutku sangat besar itu. Karena di banding dengan penis pacarku, penis papi jauh lebih besar dan panjang. Terus terang aku juga belum pernah merasakan apa yang namanya ML, aku dan pacarku hanya sebatas pegang-pegang alat kelamin saja…..tidak lebih dari itu, karena aku sangat takut untuk melakukan hal2 yang aku anggap tabu , maklum usiaku masih 18 tahun waktu itu. Lalu papi mulai meraba-raba ku lagi, “ayo sayang jangan takut, buka daster mu yuuuu….”. “tidak…seharusnya papi tidak berbuat ini….akukan anak papi sendiri….darah daging papi….!!!”.
Lalu terhirup aroma minuman keras dari mulut papi, begitu kencangnya sehingga rasanya kamarku di penuhi aroma itu. Dan akupun segera tahu kalau papiku sedang mabuk berat dan disergap oleh nafsu birahi yang tak terbendung lagi.
“Papi kan bisa melakukannya dengan mami atau wanita2 lain yang bisa papi bayar”, kataku. “Ach…mamimu sudah tidak perduli dengan papi, dan juga papi bosan dengan wanita2 itu, papi kepingin mencicipi kamu sayang….., balas papi. Antara bingung dan marah (namun dalam hatiku kagum melihat penis sebesar itu) akupun tidak tahu harus berbuat apa….akupun berkata "nanti kalau ketahuan mami atau orang lain bagaimana???”. “ach…..perduli setan dengan mereka semua……
Sambil tangan nya yang kekar itu menarik tubuhku, papi mulai mencium bibirku dengan nafsu yang sudah membakarnya, dirobeknya daster ku hingga tubuhku hanya dibalut bra dan celana dalam saja. Aku pun tak kuasa melawan tenaga papiku yang begitu besar, walaupun aku sudah mencoba, namun sia saja, papiku malahan tambah liar karena melihatku meronta ronta….
Akupun hanya bisa pasrah dan menangis saat papi menarik bra dan celana dalam ku, hingga sekarang tubuhku benar2 telanjang bulat. Papi pun mulai menjilat jilat puting susuku, sambil tangannya memainkan vaginaku. Dari yang tadinya aku meronta ronta, sekarang sedikit demi sedikit aku mulai menikmati permainan papi. "sshhhh….aaaaachhh…..ooooowwww…” “tttteeeerrruuuuusss……oooooohhhhh….” desahku. Akupun mulai di kuasai oleh nafsu yang bergerak perlahan menjalari tubuhku. Sementara papi dengan rakusnya mulai menjilati vagina ku, dan sesekali menghisap klitoris ku. Dan tangan ku pun mulai mencari cari rudal papi. Ku kocok pelan-pelan sambil mengimbangi serangan papi.
Saking besarnya hingga tangan ku tidak muat lagi untuk menggenggam rudal papi.
“ Ayo gin terus kocokin kontol papi….. ” sssssshhhh……aaahhhhh….. Dan akhirnya papi pun mengakhiri jilatan jilatannya dan kaki ku ditariknya, sambil berjongkok dia pun memegang batang penisnya dan langsung mengarahkan ke lubang vagina ku. “ papi nanti kalau egin hamil bagaimana??? ” gampang nanti kita gugurin aja….. “ tapi egin belum pernah begini…..pelan2 ya…. ” iya sayang ini juga pelan2…. Papi mulai menempelkan penisnya di bibir vagina ku…. “ aauuuuwwww…..sakit pi……. ” cuma sebentar sakitnya sayang…..abis itu pasti enak banget d…. Dia pun mulai menekan lagi…. “ bless….ssrreeet…….ssrreeettt…… ” oooouuuuwww…..pppaaaapppppiiiiiiii…….
Akupun berteriak sekencang-kencangnya, tanpa perduli ada yang mendengar atau tidak. Papi pun mulai menggenjot tubuhku. Lama kelamaan aku pun tidak merasakan sakit lagi….tapi kenikmatan yang tiada taranya…..dan aku merasa penis papi memenuhi seluruh rongga rahimku. Akupun mulai mengikuti irama goyangan papi dengan menggoyang pantat ku ke kiri dan ke kanan.
“ ssssshhhhh…aaaacchhhhh……ooooooohhhh…. ” eeennnaaakkkk ssseeeekkkaaallllii ppaaapppp…. “ ooooohhh……aaahhhh…..yyeeessss…..terus goyang sayang….. ” ppeeegggaannggg pppannntttaattt pppappi…..saaayaaannngg… “ oooohhhh….ttterrrruuussss……gggiiinnn……. Mulut papi mengulum-ngulum puting susuku, dan sesekali menjambak rambutku…..akupun sudah terbakar oleh birahi yang menyala-nyala…tidak sadar kalau lelaki yang sedang menyetubuhiku adalah papiku sendiri. ” pi…egin mau di atas ya…. “ iya sayang…., sambil menghentikan genjotannya dan berbaring di sisiku Akupun mulai menaiki tubuh papiku yang sudah basah oleh keringat kami berdua. Dan aku mulai mengarahkan rudal papi ke lubang vaginaku….. "blesssek….oooohhhh…..
Masuklah seluruh penis papi ke dalam vagina ku yang mungil. Tapi aneh, sekarang sudah tidak sakit lagi seperti pertama papi menusukkan penisnya tadi. Akupun mulai bergerak naik turun dan goyang ke kiri dan ke kanan, sambil kedua tangan papi meremas remas susuku.
” ahhhhh…ahhhhh…yyyeeeaahahhh…… “ teeeruuuus…..gggooyyyaannnggg….sssayyyyaaannng g…. ” aaaaahhhh….aaaahhhh…….aahhhh…ppppaaaappppi iii….. “ aaayyyyyoooo…..ssssoooodooookkkk….ppppiiii…. . ” yyyaaannngggg….kkkeeennncceeeenngg….oooohhhh.. .. Gerakanku semakin tidak beraturan dan mulutku meracau hebat…..hingga akhirnya ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam tubuhku. “ paaaapppiiii….eeegggiiinnn….uuuddaahh….ggaa. …tttaaahhhaannn…. ” eeeggiiinnn…mmmaaauuu..kkkeellllluuuaarrrr….. Papi semakin gencar menaikkan pantatnya menghujam vaginaku….semakin cepat….dan cepat lagi…. “ taaahhhaannn ssebbenntaarr ssaayaaannggg…. ” papi jjjugggaa maauuu kkkellluuuarrr….. “ kkitaa kkkelluuaarriinnn ssaaammaa ssssaaammmaa yyayaaa….. ” ahhhh…..aaahhh….ahhhhh…aahhhh “ yyeeess…..yyeesss…. ” aayyoooo….ssaayaaannggg….pppaaapppiii…kkkell llluuuaarr…. “ cccrrootttzzzz….crooottssss…..ccrrotttsss….. ” eeeegggiinnnn jjjuuugggaaa kkkellluuuarrr pppaaapp…… “ ssrrreeettt….srrreeeetttzz……aaaahhhhhhhh….
Papi langsung membalikkan tubuhku dan menekan penisnya sambil mendekap tubuhku sekuat tenaga, begitu pun aku membalas memeluk tubuh papi, sampai aku merasa melayang di awan2. Tak terasa sudah 35 menit berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 3 lewat 10 menit, kami bertempur dengan hebatnya, sehingga ranjangku pun basah oleh peluh kami.
” kamu hebat sayang….“ kata papi. ” papi ga sangka…. “ iya tapi papi mau perkosa egin tadi… ” maafin papi ya… “ iya….tapi papi janji mau beliin egin apa aja yang egin minta… ” iya papi janji sayang…..
Sambil mengecup keningku papi pun keluar dari kamar ku, dan aku pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dengan siraman air hangat….
Setelah itu aku dan papi selalu mengulangi perbuatan ini kapan saja dan dimana saja kami suka, kadang di rumah, di hotel, di kantor papi, di kantor ku, di mobil, dll. Sampai saat ini (aku bekerja di perusahaan milik papi ku) kami pun masih tetap melakukannya, walau usia papi yang sudah hampir 60 tahun, dan tidak ada yang mengetahui perbuatan kami ini termasuk mami. Karena mamipun sibuk dengan gigolo2 nya, kurasa mami pun tahu, tapi dia tidak ambil pusing dengan ulah kami ini. Beginilah kisahku dengan papiku tercinta….
Ita Anak Tiriku
Sudah satu bulan aku pulang pergi ke rumah sakit karena istriku sedang sakit lever yang cukup akut. Aku tinggal di rumah bersama satu pembantu dan Ita anak tiriku yang baru saja menginjak kelas satu SMA.
Sore itu aku baru pulang kantor dan hendak ke rumah sakit pukul 18.00 WIB, aku sedang duduk di teras depan sambil membaca koran harian sore.
“Sore pak… ini Ita buatkan teh buat bapak..” sambil Ita memberikan secangkir teh kepadaku.
“Makasih Ta…! ” jawabku padanya.
“Bibi kemana Ta..?” tanyaku padanya, karena dari tadi pembantuku tidak kelihatan.
“Tadi katanya mau nengok saudaranya di Pulo Gadung..!” jawabnya.
Sore itu Ita kelihatan nampak sexy sekali, mengenakan bawahan pendek putih dan kaos tipis, sehingga tampak lekuk tubuhnya membuat libidoku menjadi bangun apalagi aku sudah lama tidak mendapatkan kenikmatan dari istriku.
“Pak kelihatannya tampak lelah sekali ya pak… ?”
“Iya Ta” jawabku.
“Ita pijitin ya pak…”
Lalu Ita tanpa dikomando sudah memijit kepalaku.
“Oh pijitan kamu enak sekali Ta… !”
“Iya dong pak… ! ” jawabnya.
Aku dipijit Ita dari belakang dan jemari tangannya membuat aku semakin ingin menerkamnya. Dan tiba-tiba posisi Ita berganti memijatku dari depan sehingga dua gundukan susu Ita tampak jelas terlihat. Sesekali tubuh Ita menempel ke tubuhku dan kontolku pun semakin keras mengacung ke depan.
Aku mencoba untuk tenang dan memejamkan mata, tapi ketika tangan Ita mulai memijat punggungku dan tubuhnya sangat rapat sekali dengan tubuhku, sehingga dengan sengaja aku majukan pinggulku.
“Ah… Tititnya Bapak nyenggol lutut Ita nih……!!!” candannya padaku.
“Kalau nyenggol memangnya kenapa Ta…?”
“Ah bapak… Ita hentiin nih mijitnya..?!”
“Jangan dong sayang… Ita enggak kasihan sama bapak… ?”
Lalu aku tarik pinggul Ita dan langsung Ita tertarik tubuhnya di pangkuanku. Ita mencoba untuk bangkit tapi aku malah mendekapnya.
“Pak… ah… pak… jangan… dong…!!”
Tapi apa boleh buat posisi Ita sudah dalam pangkuanku, dengan kondisi berhadapan dan kedua kakinya tepat berada dalam sanggahan pahaku. Sementara bawahan pendeknya sudah agak sedikit tersingkap dan kontolku sudah menempel tepat di memeknya. Lalu aku tekan pinggul Ita dan pinggulku aku gesek-gesekkan ke arah pinggulnya dan terasa gundukan daging memek Ita terkena benggolan kontolku yang besar.
“Pak ah… pak… ja… jangan… pak…geliii!!” Ita mencoba meronta tapi sesekali dia tampak sedikit menikmati karena di balik rontaannya terkadang ada satu gerakan pinggulnya yang mencoba mengimbangi irama gerakanku.
Ita mulai mengurangi gerakannya dan akupun semakin menggila. Aku keluarkan seluruh kontolku dari balik celanaku, sehingga makin menyembul keluar, lalu aku kulum mulut Ita dengan mesra. Awalnya dia agak kaku tapi lama-kelamaan mengikuti juga irama ciumanku.
Sleep… ah… sleeep ah… Ita mendengus ketika lehernya mulai kena oleh serangan bibirku.
“Ah… pak .. enak… pak… Ita belum merasakan seperti ini” rintihnya.
Lalu tangan kiriku mulai menelusup ke dalam bawahannya dan aku langsung merangsek ke bagian depan celana dalamnya. Terasa mulut memek Ita sudah basah. Jari-jariku menyisir bagian pinggir celana dalamnya dan aku singkapkan sedikit, sehingga aku merasakan lubang memek Ita sudah bebas tidak tertutup lagi oleh celana dalamnya. Lalu aku arahkan kontolku mencari lubang kemaluan Ita. Dan ketika aku tekan aku merasakan ujung kontolku sudah tepat di lubang memeknya dan ketika aku tekan.
“Ah… pak… ngilu… pak… ahhh… geliii !!!” Mata Ita tampak terbelalak.
“Bentar sayang bapak masukin ya…” dan napasku makin mendengus.
“Tapi… pak… ah… ah… ge… gelii… pak….!!!”
Ketika seluruh kontolku masuk merangsek memeknya yang masih sempit itu, kontolku merangsek masuk dan rasanya begitu sempitnya memek Ita.
“Bapak… aduh… bapak… aduh… pak… ah… ah….!!!”
Ita mulai menjambak rambutku, ketika kontolku menghujami memeknya berkali-kali.
Sleep… slepp… sleep… plok… plokkk… antara pahaku dengan paha Ita saling berbenturan.
“Ahhh… aaah… aaaah… bapak sudah pak….. memek Ita ngilu..!!!!”
“Bentar sayang… uh…. uhhh… bapak lagi enak…..!!!”
Aku terus merojok-rojokkan kontolku pada Ita, sehingga Ita terkadang meringis menahan sakit tusukan kontolku. Tubuh Ita sudah mulai agak sedikit lunglai dan tersandar pada tubuhku, sedangkan pinggulku masih dengan perkasa menggoyang naik-turun sehingga seluruh kontolku keluar masuk ke memek Ita yang masih perawan itu.
“Bapak… bapak…. enaaak… pak… ah…. ah… pak… kenapa jadi begini… pak…”
Tubuh Ita nampak sudah basah kuyup oleh keringatnya yang keluar deras dari pori-pori kulitnya.
“Oooh sayang… oh… punya kamu enak sekali… ooohh….!!!!”
Lalu aku hentak keras ke atas ketika ujung kontolku sudah terasa akan mengeluarkan spermaku. Crooot…. crooot… croot…. ah… ah… aku dekap Ita dengan pelukanku begitu erat. Pinggulku aku tekan kuat-kuat ke arah memeknya. Seluruh spermaku masuk ke dalam memeknya dan Itapun menjerit histeris.
“Ah… paaaaak…. ah…..”
Aku biarkan kontolku menancap di memek Ita. Aku merasakan denyutan rongga-rongga memek Ita. Kami terdiam sejenak, sementara Ita masih dalam dekapanku dengan rambut yang masih acak-acakan.
“Hmmm… pak… hmmm” Enak…“ Ita mulai sedikit merajuk.
"Kenapa sayang… enak enggak punya bapak ?”
“Ah… bapak… punya Ita sobek nih pak… ah… bapak jahat” sambil tangan Ita memukul-mukul ke arah tubuhku.
Lalu Ita merebahkan tubuhnya ke tubuhku dengan manjanya sambil jari-jari manisnya memainkan ujung rambut panjangnya.
“Pak… bapak puas engga ngentotin Ita ?” tanyanya padaku.
“Bapak puas sayang… punya Ita enak sekali… mandi bareng yuuk sayang… nanti kita jenguk ibu di rumah sakit”
Ita mengangguk kecil dan kami akhirnya untuk pertama kali mandi bersama. Setelah mandi aku dan Ita pergi menuju rumah sakit.
Ayahku Sendiri
Ini adalah kisah nyata yang saya alami semasa kecil . Saya membuat cerita ini sebagai gambaran agar tiap cewe dewasa terutama remaja putri mengerti apa itu seks.
Nama saya Maria, 18 tahun, Kejadian ini bermula pada bulan April 1995 di rumah saya di Jakarta Selatan,ketika itu usia saya baru 11 tahun. Saya berasal dari keluarga berada dan ayah saya seorang dokter spesialis THT.
Ayah saya sangat menyayangi saya dan memang saya adalah anak tunggal. Pada awal bulan Maret 1995, ibu saya pergi ke Kalimantan untuk kerja dinas dari kantornya selama 2 bulan.
Selama ½ bulan pertama keadaan biasa-biasa saja, hanya saja saya melakukan kesalahan yang tidak saya sadari yaitu saya menjadi senang memakai daster tipis yang sebatas lutut saja tanpa memakai BH. Ibu saya memang selalu menganjurkan saya untuk memakai BH semenjak 2 bulan yang lalu karena usia saya mulai menginjak 11 tahun. Tetapi karena saya terlalu cuek, maka saya tidak memakai BH saya karena terasa panas kalau dipakai.
Tapi setelah ½ bulan kepergian Ibu saya ke Kalimantan, saya mulai memperhatikan gerak gerik ayah saya yang kadang-kadang memperhatikan ke arah paha saya kalau saya sedang menonton (saya suka menonton di lantai dengan mengangkat sebelah kaki saya), tapi saya tidak menghiraukan itu semua.
Kadang pula ketika saya sedang mengerjakan PR ayah saya suka melirik ke arah belahan daster saya. Saya tahu buah dada saya akan terlihat oleh ayah, yang pada saat itu dada saya masih kecil tapi sudah mulai agak terbentuk. Tapi saya berpikir, kenapa harus malu, khan ayah saya sendiri ??
Pada suatu hari saya merasa tidak enak badan. Saya mengatakan ke ayah saya untuk tidak sekolah saya besok. Lalu pada malam harinya ayah saya meminta kepada saya untuk membuka daster saya supaya dipijit saja agar lekas sembuh. Mulanya saya merasa agak risih juga sih…. tapi yah sudahlah ! Lalu saya membuka daster saya dengan badan membelakangi ayah saya….soalnya saya agak malu juga !! lalu saya tidur tengkurap dengan hanya memakai CD saja . Ayah saya lalu memijit betis saya dengan lembut dan perlahan-lahan kearah paha saya. Saya merasa geli juga soalnya pijitannya itu lebih pantas disebut belaian !
Lalu tangan ayah saya mulai merayap ke arah pangkal paha saya. Di situ saya merasa perasaan campur aduk antara geli, nikmat, dan darah mengalir akibat jantung berdegup dengan kencang ! Saya jadi bingung, jantung saya berdebar-debar, keringat mulai keluar. Sesekali jari ayah saya menyentuh belahan vagina saya yang masih tertutup CD. Saya menengok ke arah kanan saya…astaga ! ayah saya tidak memakai CD di balik belahan celana pendeknya ! Saya melihat sebuah “ular” yang berotot, tegang dan besar dengan kepalanya bewarna pink.
Tiba-tiba tangan ayah saya merayap ke dalam CD saya dan menyentuh Anunya saya. “Geli yah !” kataku Lalu dia menjawab, “Ria..biar ayah buka saja celana dalammu supaya ayah bisa memijit bagian pantatmu, soalnya penyakitnya mungkin ada di bagian tulang ekor kamu !”.
Saya menganggukkan kepala saya lalu ayah membuka CD saya (tubuh saya masih tengkurap saat itu). Lalu dia mulai memijit pantat saya dengan lembut dan perlahan. Tangannya kadang membuka belahan pantat saya..saya jadi malu juga..pasti terlihat anus dan belahan Anunya saya ! Dia lalu berkata: “Ria coba balikkan badanmu supaya ayah bisa memijit perutmu”. Saya bingung ! Akhirnya saya membalikkan badan saya dan terlihatlah dada saya yang mulai terbentuk sedikit dengan pentil bewarna merah jambu dan Anuku yang belum tumbuh 1 bulu pun ! Ayahku mulai memijit perutku lalu ke dadaku dan menyentuh puting susu ku juga. “Geli yah !” kata saya. Lalu ayahku menurunkan tangannya ke perutku lagi dan akhirnya ke bagian Anuku dan sekali lagi saya berkata “Geliiiii yahh!”
Lalu dengan tenang dia berkata : “Ria…tenang saja, ayah kan dokter, jadi ayah tahu cara menyembuhkan kamu…biar ayah lihat bagian dalam Anumu, mungkin disitu ayah bisa ngeliat gejala penyakitnya” Saya heran..kok ngeliatnya di dalam Anuku padahal saya kan cuma nggak enak badan !
Yah sudah ! akhirnya saya melentangkan kedua kaki saya. dia mulai membuka bagian Anuku dengan jarinya. Terlihatlah sudah seluruh bagian dalam Anuku ! Geli, nikmat, ditambah dengan nyut-nyutan bercampur jadi satu di sekitar Anuku dan tubuhku terasa dalam hatiku, saya hanya bisa menutup mata saya !
Tiba tiba saya merasa ada belaian yang basah di Anuku….astaga ! dia menjilat Anuku….geli dan nikmat bercampur menjadi satu. Saya hanya bisa melenguh saja dan memegang kepalanya. Lalu kepalanya berpindah ke dadaku dan menghisap puting susuku. Nikmatnya ! geli dan nikmat !
Akhirnya dia membuka baju dan celana pendeknya dan menyodorkan batang Tititnya ke mulutku, “Ria…hisaplah Titit ayah, enak kok ! jangan malu-malu, saya khan ayah mu sendiri !” Lalu saya mulai menjilat-jilat, dan akhirnya mengulum sebagian Titit ayahku (soalnya Titit ayahku besar). Tangannya juga membelai sebelah dadaku dan Anuku.
Lalu ayah mengubah posisi ke atas tubuhku sambil memegang ke-2 kakiku dan berusaha memasukkan batangnya ke mulut Anuku ! Tapi dia kelihatannya kesulitan, lalu tangannya memegang Tititnya dan mendorong Tititnya dan akhirnya tembuslah kepala Tititnya ke mulut Anuku. Aku merasa kegelian, sakit, nikmat bercampur jadi satu “ Aaaaarghhh ayaaah !”…tapi itu hanya sementara. Saya merasa nikmat kemudian ! Dia mulai menghempas-hempaskan tubuhnya dan saya hanya pasrah sambil menikmati sensasi permainan seks pertama kali dari tubuh ayahku.
Akhirnya saya merasa ingin kencing tapi kencing kali ini beda ! Terasa nikmat kencing saya dan saya merasa lemas. “Ngilu yah” itu yang saya katakan karena dia saya masih saya bergoyang diatas badan saya. “Sebentar lagi sayang” Tiba-tiba dia memegang dengan keras kedua dada saya dan akhirnya jatuh lemas di atas tubuh saya. “ Ria, kamu cantik sekali !, jangan bilang ke Ibu, janji loh ?” Saya hanya mengangguk kepala saya.
Kejadian ini terus berlangsung sampai sekarang. Hendaknya kepada remaja putri untuk tahu apa itu seks dan bagaimana merangsang kepada lelaki !
Gadis gadis kecilku
Cerita ini bermula ketika aku berumur 34 tahun, aku waktu itu sudah bekerja sebagai bagian umum di sebuah perusahaan CV, penghasilanku lebih dari cukup. Apapun bisa kupenuhi, hanya satu yang belum dapat kuraih, yaitu kebahagiaan keluarga, atau dengan kata lain punya istri dan punya anak. Aku hidup sebagai bujangan, kadang untuk memenuhi hasrat biologisku, aku mencari cewek yang kesepian.
Ketika itu aku masih kerja di kota T, kota yang ramai dan cukup semerawut tantanan kotanya, sebab di kota T itulah aku bekerja. Aku kost di rumah seorang ibu muda dengan satu anak gadisnya. Sebut saja ibu muda itu adalah Tante Linda, dan anak gadisnya yang masih 12 tahun usianya dan duduk di bangku SMP kelas 1, namanya Lia. Suami Tante Linda, sebut saja Oom Frans bekerja di ibukota, di suatu instansi pemerintah, dan mempunyai jabatan strategis. Setiap 2 minggu sekali, Oom Joko pulang ke kota T, aku sendiri cukup akrab dengan Oom Frans, umurku dengannya tidak terlalu terpaut jauh. Oom Frans aku taksir baru berumur sekitar 35 tahun, sedangkan Tante Linda justru lebih tua sedikit, 37 tahun. Aku menyebut mereka Oom dan Tante, sebab walaupun beda umur antara aku dan mereka sedikit, tetapi mereka sudah berkeluarga dan sudah punya seorang anak gadis.
Tante Linda merupakan seorang sekretaris di sebuah perusahaan otomotif di kota B yang jaraknya tidak begitu jauh dari kota T. Tante Linda berangkat pagi dan pulang malam, begitu seterusnya setiap harinya, sehingga aku kurang begitu dekat dengan Tante Linda. Justru kepada anak gadisnya yang masih SMP yang bernama Lia, aku merasa dekat. Sebab pada hari-hari kosongku, Lia lah yang menemaniku.
Selama tinggal serumah dengan Tante Linda dan anak gadisnya, yaitu Lia, aku tidak pernah berpikiran buruk, misalnya ingin menyetubuhi Tante Linda atau yang lainnya. Aku menganggapnya sudah seperti kakak sendiri. Dan kepada Lia, aku juga sudah menganggapnya sebagai keponakanku sendiri pula. Sampai akhirnya ketika suatu hari, hujan gerimis rintik-rintik, pekerjaan kantor telah selesai aku kerjakan, dan saat itu hari masih agak siang. Aku malas sekali ingin pulang, lalu aku berpikir berbuat apa di hari seperti ini sendirian. Akhirnya aku putuskan meminjam kaset VCD Blue Film yang berjudul “sex is blind” ke rekan kerjaku. Kebetulan dia selalu membawanya, aku pinjam ke dia, lalu aku cepat-cepat pulang. Keadaan rumah masih sangat sepi, sebab Lia masih sekolah, dan Tante Linda bekerja. Karena aku kost sudah cukup lama, maka aku dipercaya oleh Oom Frans dan Tante Linda untuk membuat kunci duplikat. Jika sewaktu-waktu ada perlu di rumah, jadi tidak harus repot menunggu Lia pulang ataupun Tante Linda pulang.
Aku sebetulnya ingin menyaksikan film tersebut di kamar, entah karena masih sepi, maka aku menyaksikannya di ruang keluarga yang kebetulan tempatnya di lantai atas. Ah.. lama juga aku tidak menyaksikan film seperti ini, dan memang lama juga aku tidak ML (making love) dengan wanita malam yang biasa kupakai akibat stres karena kerjaan yang tidak ada habis-habisnya.
Aku mulai memutar film tersebut, dengan ukuran TV Sony Kirara Baso, seakan aku menyaksikan film bioskop, adegan demi adegan syur membuatku mulai bernafsu dan membuat Tititku berontak dari dalam celanaku. Aku kasihan pada adik kecilku itu, maka kulepaskan saja celanaku, kulepaskan juga bajuku, sehingga aku hanya menggunakan kaos singlet ketat saja. Celana panjang dan celana dalamku sudah kulepaskan, maka mulai berdiri dengan kencang dan kokohnya Tititku yang panjang, besar dan berdenyut-denyut. Aku menikmatinya sesaat, sampai akhirnya kupegangi sendiri Tititku itu dengan tangan kananku. Mataku tetap konsentrasi kepada layar TV, melihat adegan-adegan yang sudah sedemikian panasnya. Seorang kakak cowok yang bodoh itu sedang diajari oleh cewek keponakannya sendiri untuk memasukkan Tititnya itu ke lubang Memek si cewek.
Titit yang dari tadi kupegangi, kini telah kukocok-kocok, lambat dan cepat silih berganti gerakanku dalam mengocok. Setelah sekian lama, aku merasa sudah tidak kuat lagi menahan cairan mani yang ingin keluar.
Lalu,“Ahh… crrrottt.. cccroottt…,”
aku sudah menyiapkan handuk kecil untuk menampung cairan mani yang keluar dari lubang Tititku. Sehingga cairan itu tidak muncrat kemana-mana. Ternyata tanpa sepengetahuanku, ada sepasang mata melihat ke arahku dengan tidak berkedip, sepasang mata itu rupanya melihat semua yang kulakukan tadi. Aku baru saja membersihkan Tititku dengan handuk, lalu sepasang mata itu keluar dari persembunyiannya, sambil berkata kecil.
“Oom Angga…, lagi ngapain sih…, "kok main-main titit begitu…, "emang kenapa sih?” kata suara kecil mungil yang biasa kudengar.
Bagaikan disambar geledek di siang hari, aku kaget, ternyata Lia sudah ada di belakangku. Aku gugup akan bilang apa, kupikir anak ini pasti sudah melihat apa yang kulakukan dari tadi.
“Eh, Llliiiiaaa.. baru pulang?” sahutku sekenanya. “Iya nih Oom, ngga ada pelajaran.” tukas Lia, lalu Lia melanjutkan perkataannya, “Oom Angga…, "Lia tadikan nanya, Oom lagi ngapain sih, kok mainin titit gitu?” “Oohh ini..,” aku sudah sedikit bisa mengontrol diri, “Ini.. Oom habis melakukan olahraga , Lia.” “Ooohh.. habis olahraga yaaa..?” Lia sedikit heran. “Iya kok.. olahraga Oom, ya begini, sama juga dengan olahraga papanya Lia."jawabku ingin meyakinkan Lia. "Kalo olahraga Lia di sekolah pasti sama pak guru Lia disuruh lari.” Lia menimpali. “Itu karena Lia kan masih sekolah, jadi olahraganya harus sesuai dengan petunjuk pak guru.” jawabku lagi. “Oom, Lia pernah lihat papa juga mainin titit persis seperti yang Oom Agus lakukan tadi, cuma bedanya papa mainin tititnya sama mama.” Lia dengan polosnya mengatakan hal itu. “Eh, Lia pernah lihat papa dan mama olahraga begituan?” aku balik bertanya karena penasaran. “Sering lihat Oom, kalo papa pulang, kalo malem pasti melakukannya sama mama.” ujar Lia masih dengan polosnya menerangkan apa yang sering dilihatnya. “Seperti ini yaa..?” sambil aku menunjuk ke cover gambar film “sex is blind” gambar seorang kakak cowok dengan memasukkan Tititnya ke lubang Memek adik cewek keponakannya. “Iya Oom, seperti apa yang di film itu lho!” jawab Lia, “Eh.. Oom, bagus lho filmnya, boleh ngga nih Lia nonton, mumpung ngga ada mama?” “Boleh kok, cuma dengan syarat, Lia tidak boleh mengatakan hal ini sama papa dan mama, oke?” aku memberi syarat dengan perasaan kuatir jika sampai Lia cerita pada mama dan papanya. “Ntar Oom beliin coklat yang banyak deh.” janjiku. “Beres Oom, Lia ngga bakalan cerita ke mama dan papa.” dengan santai Lia menjawab perkataanku, rupanya Lia langsung duduk di sofa menghadap ke TV.
Kuputar ulang lagi film “sex is blind” tersebut, dan Lia menontonnya dengan sepenuh hati, adegan demi adegan dilihatnya dengan penuh perhatian. Aku sendiri termenung menyaksikan bahwa di depanku ada seorang gadis kecil yang periang dan pintar sedang menonton blue film dengan tenangnya. Sedangkan aku sendiri masih belum memakai celanaku, ikut melihat lagi adegan-adegan film “sex is blind” itu, membuat Tititku tegang dan berdiri kembali, kubiarkan saja. Lama kelamaan, aku tidak melihat ke arah film “sex is blind” itu, pandanganku beralih ke sosok hidup yang sedang menontonnya, yaitu Lia.
Lia adalah yang tergolong imut dan manis untuk gadis seusianya. Entah kenapa, aku ingin sekali ngentot dengan Lia, aku ingin menikmati rasanya lubang Memek Lia, yang kubayangkan pastilah masih sangat sempit. Ahhh.. nafsuku kian membara karena memikirkan hal itu. Aku mencoba mencari akal, bagaimana caranya agar Memek imutnya Lia bisa kudapatkan dan kurasakan. Kutunggu saja waktu tepatnya dengan sabar. Tidak terasa, selesailah film tersebut. Suara Lia akhirnya memecahkan keheningan.
“Oom…, tuh tititnya berdiri lagi.” kata Lia sambil menunjuk ke arah Tititku yang memang sedang berdiri. “Iya nih Lia, tapi biarin saja deh, gimana dengan filmnya?” jawabku santai. “Bagus kok Oom, persis seperti apa yang papa dan mama lakukan, dan Lia ada beberapa pertanyaan buat Oom nih.” Lia sepertinya ingin menanyakan sesuatu. “Pertanyaannya apa?” tanyaku. “Kenapa sih…, kalo olahraga gituan harus masukin titit ke… apa tuh, Lia ngga ngerti?” tanya Lia. “Oh itu.., itu namanya titit dimasukkan ke lubang Memek, pasti papa Lia juga melakukan hal itu ke mama kan?” jawabku menerangkan. “Iya benar Oom, papa pasti masukin tititnya ke lubang yang ada pada memek mama.” Lia membenarkan jawabanku. “Itulah seninya olahraga beginian Lia, bisa dilakukan sendiri, bisa juga dilakukan berdua, olahraga ini khusus untuk untuk cowok dan cewek.” kataku memberi penjelasan ke Lia. “Lia sudah boleh ngga Oom.. melakukan olahraga seperti itu?” tanya Lia lagi. Ouw.. inilah yang aku tunggu.. dasar rejeki.. selalu saja datang sendiri. “Boleh sih, dengan satu syarat jangan bilang sama mama dan papa.” jelasku.
Terang saja aku membolehkan, sebab itulah yang kuharapkan.
“Lia harus tahu, jika Lia melakukan olahraga beginian akan merasa lelah sekali tetapi juga akan merasakan enak.” tambahku. “Masa sih Oom? Tapi kayaknya ada benarnya juga sih, Lia lihat sendiri mama juga sepertinya merasa lelah tapi juga merasa keenakan, sampai menjerit-jerit lho Oom, malahan kadang seperti mau nangis.”
Lia yang polos rupanya sudah mulai tertarik dan sepertinya ingin tahu bagaimana rasanya.
“Emang gitu kok. Ee…, mumpung masih siang nich, mama Lia juga masih lama pulangnya, kalo Lia memang ingin olahraga beginian, sekarang saja gimana?” aku sudah tidak sabar ingin melihat pesona Memeknya Lia, pastilah luar biasa.
“Ayolah Oom…!” Lia mengiyakan.
Memang rasa ingin tahu anak gadis seusia Lia sangatlah besar. Ini adalah hal baru bagi Lia. Segera saja kusiapkan segala sesuatunya di otakku. Aku ingin Lia merasakan apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kaos singlet yang menempel di tubuhku telah kulepas. Aku sudah telanjang bulat dengan Tititku mengacung-ngacung keras dan tegang. Baru pernah seumur hidupku, aku telanjang di hadapan seorang gadis belia berumur 12 tahun. Lia hanya tersenyum-senyum memandangi Tititku yang berdiri dengan megahnya. Mungkin karena kebiasaan melihat papa dan mamanya telanjang bulat, sehingga melihatku telanjang bulat merupakan hal yang tidak aneh lagi bagi Lia.
Kusuruh Lia untuk membuka seluruh seragam sekolahnya. Awalnya Lia protes, tetapi setelah kuberitahu dan kucontohkan kenapa mama Lia telanjang bulat, dan kenapa adik ceweknya yang di flim tadi itu juga telanjang bulat, sebab memang sudah begitu seharusnya. Akhirnya Lia mau melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat Lia melepaskan pakaiannya dengan mata tidak berkedip. Pertama sekali, lepaslah pakaian sekolah yang dikenakannya, lalu rok biru dilepaskan juga. Sekarang Lia tinggal mengenakan kaos singlet putih dan celana dalam putih saja.
Di balik kaos dalamnya yang cukup tipis itu, aku sudah melihat dua benjolan yang baru tumbuh putting susu kecil yang mencuat, pastilah puting susunya Lia yang baru tumbuh. Baru saja aku berpikiran seperti itu, Lia sudah membuka kaos dalamnya itu dan seperti apa yang kubayangkan, puting susu Lia yang masih kuncup berwarna merah jambu, bersih, dan mulus membenjol terlihat dengan jelas di kedua mataku. Puting susu itu begitu indahnya. Lain sekali dengan yang biasa kulihat dan kurasakan dari setiap cewek kesepian yang aku entotin , rata-rata puting susu mereka sudah merekah dan matang, sedangkan ini, aku hanya bisa menelan ludah.
Payudara Lia memang belum nampak, sebab karena faktor usia. Akan tetapi puting susunya sudah mulai menampakkan hasilnya. Membenjol cukup besar dan mencuat menantang untuk dinikmati. Aku melihat puting susu itu menegang tanpa Lia menyadarinya. Lalu Lia melepaskan juga celana dalamnya. Kembali aku dibuatnya sangat bernafsu, kemaluan Lia masih berupa garis lurus, seperti kebanyakan milik anak-anak gadis yang sering kulihat mandi di sungai. Bibir Memeknya yang bersih, masih gundul. Aku sungguh-sungguh melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Terbengong-bengong aku dibuatnya.
“Oom…, udah semua nih, udah siap nih Oom.”
Aku tersentak dari lamunan begitu mendengar Lia berbicara.
“Oke…, sekarang kita mulai yaaa…?”
Kuberi tanda ke Lia supaya tiduran di sofa. Pertama sekali aku meminta ijin ke Lia untuk menciuminya, Lia mengijinkan, rupanya karena sangat ingin atau karena Lia memang sudah mulai menuruti nafsunya sendiri, aku kurang tahu. Yang penting bagiku, aku merasakan liang Memeknya dan menyetubuhinya siang ini.
Aku ciumi kening, pipi, hidung, bibir dan lehernya. Kupagut dengan mesra sekali. Kubuat seromantis mungkin. Lia hanya diam seribu bahasa, menikmati sekali apa yang kulakukan kepadanya. Setelah puas aku menciuminya,
“Lia, boleh ngga Oom mimi itunya Lia?” tanyaku meminta. “Tapi Oom, payudara Lia kan belon sebesar seperti punya mama.” kata Lia sedikit protes. “Ngga apa-apa kok Lia, buah dada segini malahan lebih enak.” kilahku meyakinkan Lia. “Ya deh, terserah Oom saja, asalkan ngga sakit aja.” jawab Lia akhirnya memperbolehkan. “Dijamin deh ngga sakit, malahan Lia akan merasakan enak dan nikmat yang tiada tara.” jawabku lagi.
Segera saja kuciumi puting susu Lia yang kiri, Lia merasa geli dan menggelinjang-gelinjang keenakan, aku merasakan puting susu Lia mulai mengalami penegangan total. Selanjutnya, aku hisap kedua puting susu tersebut bergantian. Lia melenguh menahan geli dan nikmat, aku terus menyusu dengan rakusnya, kuemut dengan lembuts, kujilat-jilat, sedangkan puting susu yang satunya lagi kuemut-emut kecil sambil sedikit di hisap.
“Oom…, kok enak banget nihhh… oohhh… enakkk…” desah Lia keenakan.
Lia terus merancau keenakan, aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama aku menyusu, aku lepaskan puting susu tersebut. Puting susu itu sudah memerah dan sangat tegangnya. Lia sudah merasa mabuk oleh kenikmatan. Aku bimbing tangannya ke Tititku.
“Lia, mainin dong tititnya Oom Angga.” aku meminta Lia untuk mengurut-urut Tititku.
Lia mematuhi apa yang kuminta, Lia mulai memainkan Tititku sambil mengocok-ngocok dengan tidak beraturan. Aku memakluminya, karena Lia masih lugu dan polos, sampai akhirnya aku justru merasa kenikmatan yang lain akibat kocokan Lia tersebut, maka kuminta Lia untuk menghentikannya. Selanjutnya, kuminta Lia untuk mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, tanpa bertanya Lia langsung saja mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, aku terpana sesaat melihat Memek Lia yang merekah. Tadinya Memeknya itu hanya semacam garis lurus, sekarang di hadapanku terlihat dengan jelas, buah iti/klitoris kecil Lia yang sebesar kacang kedelai, Memeknya berwarna merah jambu tanpa ada jembut ( rambut kemaluan ), dan yang terutama, lubang memeknya Lia yang masih sangat sempit.
Jika kuukur, hanya seukuran ibu jari lubangnya. Aku lakukan sex dengan mulut, kuciumi dan kujilat Memeknya Lia dengan lembut, Lia kembali melenguh. Lenguhan yang sangat erotis. Meram melek kulihat mata Lia menahan enaknya hisapan lembutku di Memeknya. Kujilat itil/klitorisnya. Lia menjerit kecil keenakan, sampai tidak berapa lama.
“Oom, enak banget sih, Lia senang sekali, terussinnn…” pinta Lia.
Aku meneruskan menghisap-hisap Memeknya Lia, dan Lia semakin mendesah tidak karuan. Aku yakin Lia hampir mencapai puncak orgasme pertamanya selama hidup.
“Oommm… eeeghhh… Lia mau pipis nich…” “Lia merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, seperti ingin pipis. "Tahan dikit Lia… tahan yaaa…”
sambil aku terus menjilati, dan menghisap-hisap Memeknya.
“Udah ngga tahan nich Oommm… aahhh…”
Tubuh Lia mengejang, tangan Lia berpegangan ke sofa dengan erat sekali, kakinya menjepit kepalaku yang masih berada di antara selangkangannya. Lia ternyata sudah sampai pada klimaks orgasme pertamanya. Aku senang sekali, kulihat dari bibir lubang Memeknya merembes keluar cairan kental berwarna putih yang cukup banyak. Itulah cairan mani nikmatnya Lia.
“Oohhh… Oom Angga… "Lia merasa lemes dan enak sekali… "tadi itu apa sih yang barusan Lia alami, Oom…?” tanya Lia disela-sela sisa kenikmatan yang dia alami barusan. “Itulah puncaknya Lia.., Lia telah mencapainya, pingin lagi ngga?” tanyaku. “Iya.. iya.. pingin Oom…” jawabnya langsung.
Aku rasa Lia ingin merasakannya lagi. Aku tidak langsung mengiyakan, kusuruh Lia istirahat sebentar, kuambilkan semacam obat dari dompetku, obat dopping dan kusuruh Lia untuk meminum 1/4nya. Karena sebentar lagi, aku akan membawa si Lia ke dalam kenikmatan surgawi di lubang Memeknya yang sempit itu, jadi aku ingin Lia dalam keadaan segar bugar. Tidak berapa lama, Lia kulihat telah kembali fit.
“Lia… tadi Lia sudah mencapai puncak kenikmatan yang pertama, dan masih ada satu puncak kenikmatan lagi, Lia ingin mencapainya lagi kan..?” bujukku. “Iya Oom, mau dong…” Lia mengiyakan sambil manggut-manggut. “Ini nanti bukan puncak kenikmatan Lia saja, tetapi juga puncak kenikmatan Oom Angga juga, ini finalnya Lia” kataku lagi menjelaskan. “Final?” Lia mengernyitkan dahinya karena tidak paham maksudku. “Iya, final.., Oom ingin memasukan titit Oom ke lubang memek Lia, Oom jamin Lia akan merasakan sesuatu yang lebih enak lagi dibandingkan yang tadi.” akhirnya aku katakan final yang aku maksudkan.
“Ooh ya, tapi.. Oom.. apa titit Oom bisa masuk tuh? "Lubang memek Lia kan sempit, sedangkan tititnya Oom.. gede banget gitu…” Lia sambil menunjuk lubang nikmatnya. “Pelan-pelan dong, ntar pasti bisa masuk kok.. cobain ya..?” pintaku lagi. “Iya deh Oom…”
Lia secara otomatis telah mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya. Kuarahkan Tititku ke lubang Memek Lia yang masih super sempit tersebut. Begitu menyentuh lubang kenikmatannya, aku merasa seperti ada yang menggigit dan menyedot Tititku, memang sangat sulit untuk memasukkannya. Sebenarnya bisa saja kupaksakan, tetapi aku tidak ingin Lia merasakan kesakitan. Kutekan sedikit demi sedikit, Tititku bisa masuk, Lia melenguh dan mendesah-desah karena merasakan geli. Aku menyuruhnya untuk menikmatinya. Efek dari obat dopping itu tadi adalah untuk menambah kenikmatan, selanjutnya kutekan kuat-kuat. “Blusss…” Lia menjerit cukup melenguh panjang, “Ooommm… tititnya sudaaahhh masuk… kkaahhh?” “Udah sayang… enak ya…” kataku sambil mengelus-ngelus rambut Lia. Aku mundurkan Tititku. Karena sangat sempitnya, ternyata bibir Memeknya Lia ikut menggembung karena tertarik. Kumajukan lagi, kemudian mundur lagi perlahan tetapi pasti. Beberapa waktu, Lia pun sepertinya sudah merasakan keenakan. Setelah cairan mani Lia yang ada di lubang Memeknya semakin membanjir, maka lubang kenikmatan itu sudah sedikit merekah. Aku menggenjot maju mundur dengan cepat.
“Ahhh… ” inikah kemaluan perawan gadis imut. “
Enak sekali ternyata. Hisapannya memang tiada duanya. Aku merasa keringat telah membasahi tubuhku, kulihat juga keringat Lia pun sudah sedemikian banyaknya. Sambil kuterus berpacu, puting susu Lia kumainkan, kuemut dengan lembut, bibir Lia aku ciumin, kumainkan lidahku dengan lidahnya. Aku merasakan Lia sudah keluar beberapa kali, sebab aku merasa kepala Tititku seperti tersiram oleh cairan hangat beberapa kali dari dalam lubang surganya Lia. Aku ganti posisi. Jika tadi aku yang di atas dan Lia yang di bawah, sekarang berbalik, aku yang di bawah dan Lia yang di atas. Lia seperti kesetanan, bagaikan cowboy menunggang kuda, oh enak sekali rasanya di Tititku. Naik turun di dalam lubang surga Lia.
Sekian lama waktu berlalu, aku merasa puncak orgasmeku sudah dekat. Kubalik lagi posisinya, aku di atas dan Lia di bawah, kupercepat gerakan maju mundurku. Lalu aku peluk erat sekali tubuh kecil dalam dekapanku, kubenamkan seluruh batang Tititku.
Aku menegang hebat,"Crruttt… crruttt…”
Cairan maniku keluar banyak sekali di dalam Memeknya Lia, sedangkan Lia sudah merasakan kelelahan yang amat sangat. Aku cabut Tititku yang masih tegang dari Memeknya Lia. Lia kubiarkan terbaring di sofa. Tanpa terasa, Lia langsung tertidur, aku bersihkan Memeknya dengan mulutku dari cairan mani yang perlahan merembes keluar, kukenakan kembali semua pakaiannya, lalu kubopong gadis kecilku itu ke kamarnya. Aku rebahkan tubuh mungil yang terkulai lelah dan sedang tertidur di tempat tidurnya sendiri, kemudian kucium keningnya. Terima kasih Lia atas kenikmatannya tadi. Malam pun tiba.
Keesokan harinya, Lia mengeluh karena masih merasa nyut-nyut enak di Memeknya, untungnya Tante Linda tidak tahu. Hari berlalu terus. Sering kali aku melakukan olahraga senggama dengan Lia, tentunya tanpa sepengetahuan Oom Frasns dan Tante Linda.
Kira-kira sudah berjalan setengah tahun lamanya, Lia sudah sangat pintar untuk ukuran gadis seusianya dalam melakukan olahraga senggama/ngentot/hubungan seks. Aku pun sangat memanjakannya, uang yang biasa kuterima dari cewek kesepian yang butuh kenikmatan seks, kuberikan ke Lia. Untuk menghindari kecurigaan orang tuanya, uang itu kubelikan hal-hal yang Lia suka, seperti makanan, mainan dan masih banyak lagi.
Sekarang Lia sudah kelas 2 SMP, naik kelas dengan nilai yang bagus, apa yang kulakukan dengan Lia tidak mempengaruhi belajarnya. Inilah yang membuat aku semakin sayang, dan sampai suatu saat, Tante Linda diharuskan pergi beberapa hari lamanya ke ibu kota untuk menemani Oom Frans menghadiri resepsi-resepsi pernikahan dari rekan-rekan kerja Oom Frans yang kebetulan berurutan tanggalnya. Aku ditinggal berdua di rumah dengan Lia, memang sudah terlalu biasa, sedikit bedanya adalah sekarang sudah super bebas, tidak mengkhawatirkan kalau-kalau Tante Linda pulang dari kerja.
Lia pernah menjanjikan kepadaku akan membawa teman-teman akrabnya main ke rumah untuk diajarkan olahraga senggama/hubungan seks alias ngentot. Dan saat yang tepat adalah sekarang, dimana Tante Linda tidak akan ada di rumah untuk beberapa hari, dan Lia juga mulai libur karena kelasnya dipakai untuk testing uji coba siswa kelas 3. Sangat kebetulan sekali kalau hari ini sabtu, sekolah Lia pulang sangat awal dikarenakan guru-guru sibuk menyiapkan bahan untuk testing uji coba siswa kelas 3. Lia telpon ke kantorku, menanyakan apakah aku bisa pulang cepat atau tidak. Lia juga mengatakan kalau dia membawa teman-temannya seperti yang telah dijanjikannya.
Kontan saja mendengar kabar itu, aku langsung ijin pulang. Sebelum pulang ke rumah kusempatkan mampir ke apotik untuk membeli sejumlah obat-obatan yang kuperlukan nantinya, aku ingin penantian yang begitu lamanya, di hari ini akan terlaksana.
Sesampainya di rumah, benar saja, ada tiga gadis teman akrab Lia, mereka semua cantik-cantik dan imut, Tidak kalah dengan keluguan dan keimutan Lia. Gadis pertama bernama Anna, wajahnya cantik, hidungnya mancung, rambutnya lurus potongan pendek, tubuhnya tidak terlalu kurus, senyumnya selalu menghiasi bibirnya yang sensual, payudaranya kelihatan belum tumbuh akan tetapi satu yang membuat aku heran, dari benjolan bajunya, kutahu kalau itu puting susunya Anna, sepertinya lumayan besar. Tetapi masa bodo, yang penting miliknya bisa dinikmati. Anna ini sepertinya feminim, wow, kuat juga nih senggamanya, pikiran kotorku muncul mendadak.
Lalu gadis kedua bernama Yulia, wajahnya mirip Lia, hidungnya mancung, rambutnya lurus panjang sebahu, agaknya lumayan pendiam, tubuhnya sedikit lebih besar dibandingkan dengan Lia dan Anna, payudaranya sudah sedikit tumbuh, terlihat dari permukaan bajunya yang sedikit membukit, lumayan bisa buat diremas-remas, sebab tanganku sudah lama tidak meremas payudara montok.
Gadis yang ketiga, inilah yang membuatku terpana, namanya Devi. Ternyata Devi ini masih keturunan India, cantik sekali, rambutnya pendek, hidungnya sangat mancung, dan sepertinya sedikit cerewet. Tubuhnya sama dengan Lia, kecil dan imut, payudaranya kurasa juga belum tumbuh. Sekilas, puting susunya saja belum terlihat.
Aku pulang tidak lupa dengan membawa oleh-oleh yang sengaja kubeli, aku manjakan mereka semua sesuai dengan pesan Lia. Teman-temannya ingin melihat olahraga senggama/ngentot yang sering Lia lakukan. Lia memang sedikit ceroboh, membocorkan hal-hal seperti ini, tetapi Lia menjamin, karena ketiga gadis itu adalah sahabat sejatinya.
Singkat waktu, malam pun tiba. Ketiga gadis teman Lia itu sudah berencana untuk menginap di rumah Lia, sebab besoknya adalah minggu, alias libur, seninnya juga masih libur dan lagi mereka pun sudah ijin kepada orang tuanya masing-masing untuk menginap di tempatnya Lia, alasannya menemani Lia yang ditinggal mamanya ke luar kota.
Pertama sekali, aku diperkenalkan Lia kepada ketiga temannya, dan tidak ada basa-basi seperti apa yang kulakukan kepada Lia dulu. Aku meminta Lia memutarkan film “sex is blind” kesukaannya kepada ketiga temannya itu. Gadis-gadis kecil itu rupanya sudah menantikan. Menonton pun dengan konsentrasi tinggi layaknya sedang ujian. Aku takjub melihat mereka, dan justru cekikikan sendiri melihat adegan demi adegan, sepertinya ketiga teman Lia itu sudah pernah melihat yang sesungguhnya atau pemandangan yang nyata.
Setelah film usai, aku lalu beranikan diri bertanya ke mereka. Pertama sekali adalah ke Anna yang aku nilai paling berani.
“Anna, Oom penasaran, kayaknya Anna sering lihat olahraga begituan?” tanyaku penuh selidik. “Iya benar kok Oom… Anna sering lihat olahraga begitu, terlebih kakak Anna sama pacarnya, mereka selalu berbuat begituan di rumah” jawab Anna jujur menjelaskan dan membenarkan. “Hah? Masak sih di rumah..” tanyaku lagi dengan heran. “Iya, bener kok Oom, sebab papa dan mama Anna kan ngga tinggal di sini” Anna menjawab keherananku. “Oohhh…” aku hanya bisa manggut-manggut. “Emang sih, Anna lihatnya dengan sembunyi-sembunyi, sebab merasa penasaran sebenarnya apa sih yang kakak Anna lakukan bersama pacarnya? Ternyata seperti di film itu Oom…” Anna menjawab dengan menerangkan tanpa merasa aneh atau bahkan malu.
Lalu aku selanjutnya bertanya kepada Yulia. Yulia sedikit tergagap sewaktu kutanya, ternyata Yulia sendiri sudah mengetahui hal begituan secara tidak sengaja sewaktu sedang menjemur pakaian di loteng rumahnya. Yulia bercerita, tanpa sengaja dia melihat di halaman belakang tetangganya, ada yang sedang bermain seperti yang dilakukan di dalam film “sex is blind” tersebut. Intinya Yulia tahu kalau titit itu bisa dimasukkan ke Memeknya cewek.
Terakhir aku bertanya ke Devi, dengan polosnya Devi mengungkapkan kalau dia mengetahui hal-hal begituan dari melihat apa yang papa dan mamanya lakukan ketika malam hari. Sama seperti dengan pengalaman Lia pertama kali melihat hal itu.
Setelah aku mendengar cerita mereka, aku menawarkan, apakah mereka ingin melihat langsung, kompak sekali mereka bertiga menjawab ya. Lalu aku bertanya sekali lagi, apakah mereka ingin merasakannya juga, sekali lagi dengan kompaknya, mereka bertiga menjawab ya.
“Kalo begitu… Oom mulai sekarang ya…?”
jantungku berdegup kencang karena girang yang tiada tara, aku tidak mengira akan semulus ini. Aku akhirnya melepaskan seluruh pakaian yang kukenakan, sesuai dengan rencana, aku akan memamerkan olahraga ngentot itu berpasangan dengan Lia, dan sebetulnya Lia yang mempunyai ide merencanakan itu semua.
Anna, Yulia dan Devi memandangi terus ke bagian bawah tubuhku, apalagi kalau bukan Tititku yang sangat kubanggakan panjang, besar, berotot, dan berdenyut-denyut. Lia sendiri sudah melepaskan seluruh pakaiannya. Puting susu Lia sudah membenjol cukup besar karena sering kali kuhisap, dan oleh Lia sendiri sering ditarik-tarik saat menjelang tidur. Payudaranya masih belum nampak mulai menumbuh. Untuk bagian bawah, Memeknya Lia sudah sedikit berubah. Dulunya hanya seperti garis membujur, sekarang dari Memeknya Lia sudah mencuat bibir bibir berdaging, hal ini dikarenakan sudah sering kumasuki dengan Tititku tentunya, tetapi itu semua tidak mengurangi keindahan dan kemampuan empotnya (hisapan dan pijatan Memeknya).
Aku main tembak langsung saja kepada Lia, sebab aku tahu Lia sudah sangat berpengalaman sekali untuk hal beginian. Kucium bibir Lia, tanganku memainkan puting susu dan Memeknya, Lia sudah cepat sekali terangsang, kulepaskan ciumanku, lalu kuciumi puting susunya. Kuhisap bergantian, kiri dan kanan. Anna, Yulia dan Devi melihat caraku memainkan tubuh telanjang Lia, napas mereka bertiga mulai memburu, rupanya nafsu ingin ikut merasakan telah menghinggapi mereka.
Sekian lama kuciumi dan hisap puting susu mungil yang sudah lumayan membenjol besar itu, aku memang sangat suka sekali menetek dan menghisap puting susu, terlebih bila melihat ibu muda sedang menyusui bayinya, ouw, pasti aku langsung terangsang hebat. Setelah puas kuberkutat di puting susu Lia dengan ciuman dan hisapan mulutku, kualihkan ke liang senggama Lia, kalau dahulu Lia tidak bisa menahan puncak kenikmatannya, sekarang sudah sedikit ada kemajuan. Kujilat dan kuciumi Memeknya, Lia masih bisa menahan agar tidak jebol, tidak lama aku merasakan Lia sudah bergetar, kupikir jika aku terlalu lama memainkan, Lia pasti tidak akan kuat lagi menahan cairan maninya keluar, maka langsung saja kumasukkan Tititku yang sudah sangat tegang itu ke lubang Memeknya Lia. Aku tidak merasa kesulitan lagi untuk memasuki lubang Memeknya Lia, sudah begitu hapal, maka semua batang Tititku amblas ke dalam Memeknya Lia.
Anna, Yulia dan Devi melihat dengan sedikit melotot seolah tidak percaya batang Tititku yang panjang dan sedemikian besarnya bisa masuk ke dalam Memeknya teman mereka, yaitu Lia. Mereka bertiga mendesah-desah aku merasa mereka sudah ingin sekali merasakan Memeknya mereka juga dimasukin Tititku.
Aku menggerakan maju mundur, mulai dari perlahan lalu bertambah cepat, kemudian berganti posisi, berulang kali sekitar 15 menit. Aku sudah merasakan Lia akan mencapai puncak orgasmenya. Betul saja, tidak lama kemudian, Lia memelukku erat dan dari dalam Memeknya aku merasakan ada semprotan yang keras menerpa kepala Tititku yang berada di dalam lubang Kenikmatannya. Banyak sekali Lia mengeluarkan cairan mani, Lia terkulai lemas, Tititku masih gagah dan kokoh, memang aku sengaja untuk tidak menguras tenagaku berlebihan, target tiga Memek gadis yang menanti harus tercapai.
Lia kusuruh istirahat, Lia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan sekaligus beristirahat, selanjutnya kutawarkan ke Anna, Yulia, dan Devi, siapa yang mau duluan. Sejenak mereka bertiga sepertinya ragu, lalu akhirnya Anna yang mengajukan diri untuk mencoba.
“Bagus Anna, kamu berani deh.” pujiku kepada Anna.
Tanpa berlama-lama, kusuruh Anna untuk membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, langsung saja Anna melakukan apa yang kusuruh, aku memandangi Anna yang mulai melepas pakaiannya satu persatu, sampai akhirnya telanjang bulat. Tubuh Anna putih bersih, apa yang tadi membuatku penasaran sudah terobati, puting susu Anna kunilai aneh, payudaranya memang sudah mulai tumbuh, akan tetapi puting susunya itu masuk kedalam. Bentuknya unik dan baru kali ini aku melihatnya, bentuknya mengerucut tumpul, puting susu dan lingkaran merah jambu bersih dan mulus. Kata kamus ilmiah, puting susu berbentuk seperti ini langka sekali dan kualitas sensitifnya sangat tinggi, bisa dikatakan sangat perasa sekali. Sedangkan Memeknya masih berupa garis, dengan bagian sisinya sedikit membukit. Sepertinya Memek ini kenyal sekali dan super enak. Tidak sabar rasanya kuingin segera merasakannnya.
Aku langsung menciumi bibir Anna yang sensual itu, kuciumin dengan mesra. Tanganku bergerak mengusap puting susu unik milik Anna. Benar saja, begitu telapak tanganku mengusap puting susunya, Anna merasa sangat terangsang.
“Ouwww… Oommm… enak sekali Oom..” Anna mengomentari apa yang dirasakannya.
Aku merasakan puting susu Anna mulai menegang. Segera saja kulepaskan ciumanku di bibir Anna, aku merasa senang, rupanya Anna telah tanggap dengan apa yang kumau, dengan tangannya sendiri menjepit puting susunya dan menyodorkan kepadaku. Maka dengan rakusnya, mulailah kuciumi dan kuhisap, Anna berkali-kali menjerit kecil. Rupanya puting susu Anna sangat perasa, tanganku tanpa sadar menyentuh permukaan Memeknya Anna, ternyata Memeknya Anna sudah basah dan banyak juga cairan maninya yang merembes keluar. Aku terus saja menyusu dan menggemut puting susu Anna, kiri dan kanan bergantian.
“Oomm… Anna kok seperti mau pipis nih… Ada sesuatu yang mau keluar dari Memeknya Anna nih…” Anna mengungkapkan apa yang akan terjadi. “Tahan dikit dong…” jawabku.
Mendengar hal ini, kulepaskan hisapanku dari puting susu Anna, lalu mulutku beralih ke liang Memeknya Anna. Secara otomatis, Anna sudah mengangkangkan kedua kakinya, aku mencium aroma dahsyat dari Memeknya Anna. Sungguh legit. Memeknya Anna merah jambu, bersih sekali dan sudah mengkilap, kujilati memeknya yang basah itu, selanjutnya kuhisap dalam-dalam. Anna rupanya mengelinjang liar karena merasa nikmat.
“Oomm… Anna udah ngga kuat lagi nihhh… aahhh…” jerit Anna seiring dengan tubunnya yang menegang.
Saat itu, mulutku masih bermain dilubang Memeknya Anna, aku merasakan ada sesuatu yang menyemprot, rasanya asih dan gurih. Inikah cairan mani Anna karena sudah mencapai kenikmatan yang pertamanya, tanpa pikir panjang kutelan saja cairan mani itu, kujilati dengan rakus. Kulihat juga buah klitoris Anna yang kecil mencuat berdenyut-denyut. Aku sendiri merasakan sudah akan mencapai puncak kenikmatanu.
“Anna.. Oom mau masukin titit Oom ke lubang memek Anna nih..” aku meminta ijin kepada Anna. “Ya Oom, masukin saja, ayo dong cepat…”
Anna rupanya sudah tidak sabar lagi ingin merasakan batang Tititku memasuki lubang surganya. Kuarahkan kepala Tititku ke lubang Memeknya Anna, Anna tanpa diminta sudah memegang batang Tititku dan membimbingnya memasuki lubang Memeknya. Surprise, insting Anna hebat juga nih pikirku, tanpa kesulitan, lubang Memeknya yang sudah banjir dengan cairan mani itu menerima kepala Tititku dan batang Tititku. Lumayan sempit juga, untungnya tertolong oleh cairan mani dan pengertian Anna membimbing masuk batang Tititku sehingga aku tidak kerepotan saat memasukannya.
“Blusss…” kutekan sepenuhnya, aku maju mundurkan dengan segera, perlahan, lalu cepat. Aku merasa akan mencapai titik kenikmatanku, hisapan otot Memeknya Anna sungguh dahsyat. Ini yang membuatku tidak kuat menahan cairan maniku untuk lama keluar. Anna memang kuat sekali, aku merasakan Anna berkali-kali menyemprotkan cairan maninya, mungkin ada lima kali lebih, akan tetapi Anna masih mampu mengimbangi gerakanku, hebatnya lagi, goyangan pantatnya. Oh edan, akhirnya aku merasa tidak kuat menahan lagi, kulihat Anna pun sudah akan mencapai orgasme puncaknya.
“Anna.. kita sama-sama keluarkan yaaa.. please sayang..” pintaku sambil sekuat tenaga menahan. “Iiiiyaaa.. Oommm.. sekarang yaaa…” Anna berkata dengan bergetar. Aku mengeram, tubuhku menegang, tubuh kecil Anna yang kutindih, kupeluk erat sekali.
“Crottt… crrruttt… aaahhh.. seerrr…”
kukeluarkan cairan mani puncak kenikmatanku di dalam Memeknya Anna yang sempit itu. Karena banyaknya cairan mani di dalam lubang Memeknya Anna, lubang Memeknya itu tidak bisa menampung semua, maka merembes dengan derasnya cairan mani itu keluar dari lubang senggama/Memeknya, cairan maniku yang bercampur dengan cairan mani Anna. Kucabut Tititku yang masih cukup tegang dari Memeknya Anna, Tititku sangat mengkilap, seperti habis di pernis.
Yulia dan Devi, tanpa sepengetahuanku ternyata telah telanjang bulat, rupanya mereka berdua tidak tahan melihat pergulatanku yang cukup lama dengan Anna. Memang kuakui Anna sangat kuat, cewek feminim ternyata benar-benar hebat permainan ngentotnya. Apa yang dikatakan orang memang bukan isapan jempol, aku sudah membuktikannya hari ini lewat gadis kecil bernama Anna. Kupikir jika gadis feminim yang sudah matang pasti akan lebih kuat lagi.
Kulihat juga Lia sudah selesai membersihkan badan dan sekarang dengan penuh pengertian sibuk di dapur untuk membuat makanan. Anna yang masih terkulai lemas, kusuruh untuk mandi dulu dan istirahat, lalu setelah itu kusuruh juga untuk membantu Lia di dapur.
Yulia dan Devi dengan telanjang bulat telah menghampiriku, dari pandangan mata mereka seolah meminta giliran. Aku sebenarnya merasa kasihan, aku masih cukup lelah untuk memulainya lagi. Kupikir kalau kubiarkan mereka terlalu lama menanti, pastilah akan membuat mereka kehilangan gairah nantinya, akhirnya kuminum obat yang kubeli tadi di apotik. Kuminum 2 pil sekaligus, reaksi obat ini sangat cepat, badanku merasa panas. Melihat tubuh-tubuh kecil telanjang bulat milik Yulia dan Devi, Tititku yang tadinya loyo sekarang tegang dan mengacung-ngacung, gairahku lebih membara lagi.
Yulia seingatku tadi masih menggunakan pakaian lengkapnya, sekarang sudah telanjang bulat, sungguh aku mengagumi tubuhnya, payudaranya sedikit menumbuh dan membukit, puting susunya kecil, mungil, merah jambu mulus telah menegang sehingga meruncing, lubang Memeknnya pun kulihat sudah basah menunggu penantian. Lalu Devi, yang juga tadi masih kulihat berpakaian lengkap, sekarang telah telanjang bulat pula. Devi memang lain sendiri dibandingkan Anna, Lia dan Yulia, mungkin karena masih keturunan jepang manado, akan tetapi Devi juga yang paling muda sendiri. Usianya selisih satu tahun lebih muda dibandingkan Anna, Indah maupun Lia. Jelas sekali dengan kurun usia relatif sangat muda, pertumbuhan payudaranya belum ada sama sekali, puting susunya juga belum menampakkan benjolan yang berarti, masih rata dengan dada. Tetapi karena terangsang, rupanya menjadi sedikit meruncing. Lalu Memeknya pun masih biasa saja, kesimpulanku Devi masih imut sekali. Mungkin satu tahun ke depan baru ada perubahan, aku sebenarnya tidak tega untuk mengentotnya sekarang, tetapi apa komentarnya nanti, pastilah dikatakan olehnya tidak adil, bahkan yang kukuatirkan adalah Devi nantinya akan marah dan cerita tentang hal ini kepada orang lain.
Dalam waktu yang bersamaan, kurengkuh dua gadis kecil itu sekaligus. Kupagut bibir Devi, kuciumi leher dahi dan tengkuknya. Devi merasa enak dan geli, sedangkan yulia, puting susu dan payudaranya kuusap-usap dengan tanganku, payudaranya yang sudah cukup membukit menjadikan tanganku bisa meremasnya. Indah mendesah keenakan. Aku minta ke Indah untuk memijat-mijat batang Tititku, ternyata Yulia pandai juga memijat. Tititku semakin menegang. Pijatan Indah sungguh enak sekali, apalagi remasan tangganya di buah Tititku.
Selanjutnya, kulepaskan pagutanku di bibir Devi, kulanjutkan dengan menghisap puting susu Devi yang meruncing kecil. Devi menggelinjang keenakan, kujilati dan kubuat cupang banyak sekali di dada Devi, sampai akhirnya aku beralih ke liangnya Devi yang sangat imut, Memek ini sama seperti kepunyaan anak-anak kecil yang sering kulihat mandi di sungai. Tetapi, ah masa bodo. Devi kegelian ketika kumulai menciumi, menjilat dan menghisap Memeknya itu. Kukangkangkan kedua kaki Devi, maka terkuaklah belahan Memeknya dengan lubang yang sangat sempit. Jika kuukur, lubang Memeknya itu hanya seukuran jari telunjuk. Aku sempat gundah, apakah Tititku bisa masuk? Tetapi akan kucoba, kuyakin lubang Memek itu kan elastis, jadi bisa menampung Titit sebesar apapun.
Devi merasa sangat keenakan ketika kumainkan Memeknya, berkali-kali Devi mendapat puncak kenikmatan. Cairan maninya sungguh wangi. Setelah puas memainkan Memeknya Devi, kuminta Devi bersiap, sedangkan Yulia kusuruh berhenti memainkan buah zakar dan Tititku. Lalu kucium bibir Yulia sebentar, kemudian kuciumi leher dan tengkuknya. Indah mendesah, tidak berapa lama, kuberalih ke payudara dan puting susu Yulia. Kuciumi dan hisap dengan penuh kelembutan dan kehangatan, payudara yang baru membukit itu kuremas-remas dengan lembut. Puting susunya yang kecil itu kuhisap dan kujilati. Aku menyusu cukup lama, Memeknya Yulia yang sudah basah pun tidak luput dari hisapanku. Devi sudah menunggu-nunggu, menantikan kehadiran Tititku memasuki lubang nikmat kecilnya.
Segera saja kuselesaikan hisapanku di Memeknya Yulia. Kurasa dengan Memeknya Yulia, aku tidak akan merasa kesulitan, lubang Memeknya Yulia kunilai sama dengan punya Anna dan Lia waktu pertama kali dimasukin Tititku. Yang kupikir, kesulitannya adalah lubang Memeknya Devi, selanjutnya kusuruh Yulia untuk bersiap-siap juga.
Kuberikan pelumas seperti jelly untuk Tititku agar licin, lalu kuarahkan perlahan kepala Tititku itu ke lubang surganya Devi. Kutekan sedikit, meleset, kuposisikan lagi, tekan lagi, tetap saja meleset, tidak mau masuk. Untunglah Anna dan Lia datang, mereka berdua tanggap dengan kesulitan yang kuhadapi. Lia dengan sigap membukakan kedua sisi bibir Memeknya Devi dengan kedua sisi telapak tangannya. Lubang senggama/Memeknya Devi bisa terkuak, kucoba masukkan lagi, ternyata masih meleset juga, Anna yang melihat hal itu tanpa ragu-ragu juga ikut turun membantuku. Anna mengulurkan jari tanggannya, memijat bagian atas dan bawah lubang senggama Devi, sehingga secara elastis lubang Memeknya Devi bisa lebih terkuak sedikit. Aku berkonsentrasi memasukkan kepala Tititku ke lubang Memeknya Devi itu.
Tititku dengan sedikit kupaksakan, agar bisa masuk ke lubang Memeknya Devi, kutahu Devi mengalami sensasi yang luar biasa dan pertama kali Memeknya yang mungil dan imut di cumbu oleh Tititku. Devi hanya menikmati pasrah dan dari sudut wajahnya yang berseri-seri. Yulia yang dari tadi menunggu giliran lubang Memeknya dimasukin Tititku, karena mengetahui bahwa aku mengalami kesulitan, akhirnya ikutan pula membantuku memuaskan Devi. Tanpa malu-malu, Yulia menyodorkan puting susunya ke mulut Devi, layaknya ibu kepada bayinya yang minta susu. Devi mengulum puting susu Yulia dengan kuat. Yulia merasakan kalau puting susunya diemut oleh Devi, Yulia diam saja, hanya sedikit menyeringai, menahan geli tentunya.
Aku menekan terus, sehingga sudah separuh dari Tititku masuk ke dalam lubang Memeknya Devi. Kepala Tititku bagaikan disetrum dan dihisap oleh suatu tenaga yang luar biasa mengenakan. Kutekan sekuat tenaga, dan
“Blusss…”
Masuknya seluruh batang kejantananku ke dalam lubang kemaluan Devi diiringi dengan dua jeritan. Yang pertama adalah suara lenguhan yang panjang Devi sendiri karena merasakan sensasi yang enak, matanya sampai meram melek, kadang membelalak. Satunya lagi adalah suara lenguhan panjang Yulia, sebab tanpa Devi sadari, Devi telah menggemut keras puting susu Yulia yang masih dikulumnya itu.
Anna dan Lia hanya tersenyum-senyum saja, kubiarkan Tititku terbenam di dalam Memeknya Devi. Kurasakan empotan-empotan otot dari memeknya Devi. Setelah sekian lama aku menikmati, kumundurkan pantatku, ternyata bibir Memeknya Devi ikut tertarik. Bibir Memeknya Devi mengikuti gerakan pantatku, begitu aku mundurkan maka bibir Memeknya Devi akan mencuat ke atas karena ikut tertarik. Sebaliknya, jika kumajukan lagi pantatku, maka bibir Memeknya Devi pun ikut mencuat ke bawah dan terbenam. Sungguh fantastis dan imut, aku tidak menyesal merasakan enaknya yang luar biasa.
Kupercepat gerakan maju mundurku, semakin lama aku merasakan lubang Memeknya Devi membasah dan membanjir. Lorong lubang Memeknya Devi pun semakin licin, tetapi tetap saja sempit, sampai akhirnya Devi terkuras tenaganya dan tidak bisa mengimbangiku mencapai puncak kenikmatan. Tubuh Devi berkali-kali menegang.
“Oommm… Devi pipis lagi… ahhh…” desahnya.
Cairan mani putih yang kental dan hangat milik Devi merembes deras keluar dari celah-celah lubang Memeknya yang masih disumpal oleh Tititku. Devi sudah lelah sekali, aku pun sudah mulai bergetar pertanda puncakku pun sudah dekat, maka kucabut saja Tititku dari lubang Memeknya Devi. Begitu kucabut, terdengar bunyi, “Ploppp…”
seperti bunyi batang pompa dikeluarkan dari pipanya. Devi kusuruh istirahat, ternyata Devi suka menyusu juga, karena puting susu Yulia ternyata masih dikulumnya. Devi manja tidak mau melepaskan, sampai akhirnya, Anna yang sedang duduk-duduk berkata.
“Eh Vi… udah dong neteknya, kasihan tuh Indah, kan sekarang gilirannya dia.” Anna mengingatkan, “Besok-besok kan masih bisa lagi…” tambah Anna. “Iya-iya… aku tahu kok…” Devi akhirnya menyadari, lalu melepaskan puting susu Yulia dari mulutnya. “Vi… nih kalo mau… puting susuku juga boleh kamu isepin sepuasnya…” ujar Anna sambil memijat-mijat sendiri puting susunya yang membenjol paling besar sendiri.
Devi mau saja memenuhi ajakan Anna, maka kulihat Devi begitu rakusnya mengulum dan menyedot puting susu Anna. Kadang Devi nakal, menjilati puting susunya Anna, sehingga Anna menjerit kecil dan menikmati setiap emutan dan jilatan dari si Devi. Setelah lepas dari Devi, Yulia kemudian menempatkan diri dan bersiap-siap. Yulia mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, sehingga terkuaklah lubang Memeknya yang sudah cukup basah karena cairan mani yang meleleh dari dinding di lubang Memeknya. Betul juga, aku berusaha tanpa melalui kesulitan, berhasil memasuki lubang Memeknya Yulia, seperti halnya aku pertama kali menerobos lubang Memeknya Lia dan Anna. Kumasukkan Tititku seluruhnya ke dalam lubang kenikmatan Yulia. Yulia menahan suara, karena Memeknya baru saja kutembus. Tetapi karena sudah sangat bergairahnya, maka kenikmatan, yang ada hanyalah rasa enak, geli dan nikmat. Yulia merem melek merasakan adanya Tititku di dalam Memeknya.
“Oom Angga, gerakin dong…”
Yulia memintaku untuk segera memulai.
“Baik Yulia, Oom minta Yulia imbangi Oom ya…!”
Yulia tidak menjawab tetapi hanya manggut-manggut. Kumulai saja gerakan maju mundur pantatku, Tititku masuk dan keluar dengan leluasanya, pertama dengan perlahan dan kemudian kupercepat. Yulia sudah banyak belajar dari melihat langsung permainanku tadi dengan Lia, Anna, maupun dengan Devi. Yulia memutar-mutar pantatnya sedemikian rupa. Aku merasa kalau Yulia yang pendiam ternyata mempunyai nafsu yang besar. Kurasa Yulia akan lebih kuat mengimbangiku.
Betul juga dugaanku Yulia memang kuat juga, setelah hampir seperempat jam kuberpacu, Yulia masih belun juga mengeluarkan cairan maninya, sedangkan aku sendiri memang masih bisa menahan puncak orgasmeku, disebabkan aku telah minum obat dopping 2 pil sekaligus.
“Ayoooo Oomm… Indah merasa enakkk… terusiiinnn…” Yulia kembali meracau.
Kuteruskan memacu, aku heran, kenapa Yulia bisa selama ini, padahal Yulia baru pertama kali merasakan nikmatnya ngentot.
“Yulia… kamu kok kuat sekali sih…?” tanyaku sambil terus memacu. “Ini berkat obat Oom lhoooo…” jawab Yulia bersemangat sambil memutar-mutarkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, sedangkan kedua tangannya meremas-remas payudaranya sendiri dan sesekali menarik-narik puting susunya yang masih menegang.
Aku kaget juga mendengar pengakuan Yulia, sampai aku berhenti melakukan gerakan. Ternyata Yulia meminum obatku juga, jelas saja.
“Kok berhenti Oom… gantian Yulia yang di atas ya?” kata Yulia lagi.
Aku diam saja, kami berganti posisi. Kalau tadi Indah dalam posisi aku tindih, sekarang Indah yang berada di atas dan menindihku. Yulia menaik-turunkan pantatnya, maju mundur, perlahan dan cepat, kadang berposisi seperti menunggang kuda, liar dan binal.
Permainan dalam posisi Yulia di atas dan aku di bawah, ternyata menarik perhatian Lia. Dari tadi Lia memang hanya melihat pergulatanku dengan Yulia. “Oom Angga… masa sih kalah sama Yulia…” sindir Lia kepadaku. “Ngga dong… tenang saja Lia…” jawabku membela diri.
Kulihat juga Devi rupanya menyudahi kegiatan menyusunya dari puting susu Anna. Mereka bertiga rupanya tertarik menontonku. Kadang berkomentar yang membuatku tersenyum.
“Yaccchhh… Oom Angga ngga adil… Oom Angga curang, sama Yulia bisa selama ini, sama Anna kok cepet sekali.” Anna memprotes. “Lho, kan Anna tadi sudah kecapean, maka Oom suruh istirahat, dan cuma Yulia sendiri yang belon capek nih…” lanjutku. Yulia sudah berkeringat banyak sekali, aku merasakan ada cairan hangat yang merembes di Tititku. Aku sendiri mulai merasa adanya desakan-desakan dari pangkal Tititku. “Oomm… Yulia udah ngga kuat nahannya nih… eeeghh…aarghh…” kata Yulia sepertinya menahan.
Mendengar ini, langsung saja kuganti posisi lagi. Aku kembali di atas dan Indah di bawah, kupercepat gerakanku sampai maksimal.
“Oommmm… Yuliaaa… aaakkkhhhh… eeeghhhh… aahhh…” Yulia melenguh panjang.
Tubuhnya menegang dan memelukku dengan erat, rupanya Yulia telah mencapai puncak kenikmatannya, dari dalam lubang Memeknya menyemprot berkali-kali cairan maninya yang hangat menyiram kepala Tititku yang masih berada di dalam Memeknya. Lubang Memeknya Yulia dibanjiri oleh cairan maninya sendiri, becek sekali Memeknya Yulia, Tititku sampai terasa licin, sehingga menimbulkan bunyi berdecak. Yulia sudah tidak bisa mengimbangiku, padahal aku dalam keadaan hampir sampai, katakanlah menggantung. Kucabut saja Tititku dari Memeknya Yulia, lalu kutarik Devi yang sedang duduk bengong, kusuruh Devi tidur telentang dengan kaki di kangkangkan. Devi tahu maksudku. Segera saja Devi melakukan apa yang kusuruh. Anna dan Lia langsung riuh berkomentar.
“Yacchhh Oom Angga, kok Devi sih yang dipilih…” rungut Anna.
Sedangkan Lia hanya tersenyum kecut sambil berkata,
“Ayoooo Oomm… cepetan dong… habis ini kita makan… Lia udah buat capek-capek tadi.” sambil menyuruhku menyelesaikan finalnya.
Aku seperti terhenyak. Segera saja kumasukkan Tititku ke lubang Memeknya Devi yang masih merah. Beruntung sekali, Memeknya itu masih basah oleh cairan mani, sehingga hanya dengan kupaksakan sekali saja langsung masuk. Memeknya Devi yang begitu sempit memijat hebat dan menghisap Tititku. Aku ingin menyelesaikan puncak orgasme/kenikmatanku secepatnya. Makin kupacu gerakanku. Devi yang tadinya sudah dingin dan kurang bernafsu langsung terangsang lagi. Tidak sampai lima menit, aku memeluk erat tubuh kecil Devi dan kumuncratkan cairan maniku di dalam Memeknya Devi.
“Aaahhh… aarrrghhh… Cruuutttt… Crottt…”
Cairan maniku banyak sekali. Aku langsung lemas seketika. Tititku pun sudah mulai loyo, sungguh pergulatan yang hebat. Aku dikeroyok oleh empat gadis kecil dengan hisapan mulut Memeknya yang luar biasa. Kucabut Tititku dari lubang kenikmatannya Devi. Kemudian kuajak Devi dan Yulia mandi sekalian denganku. Habis mandi kami makan bersama, lumayan enak makanan buatan Anna dan Lia.
Setelah makan, aku mengevaluasi dan bercakap-cakap dengan gadis-gadis kecil itu. Ternyata Anna, Lia, Yulia dan Devi masih bersemangat dan mereka mengajakku melakukannya lagi. Aku terpaksa menolak, kelihatan sekali mereka kecewa. Untuk mengobati rasa kecewa mereka, kuberikan kepada mereka kaset Blue Film tentang lesbian untuk ditonton. Isi ceritanya tentang hubungan badan cewek dengan cewek yang saling memberi rangsangan. Aku hanya mengawasi saja, sampai akhirnya mereka mempraktekkan apa yang baru saja mereka tonton.
Aku dikelilingi oleh gadis-gadis kecil yang haus sex. Besok harinya, kebetulan adalah hari minggu, aku memuaskan gadis-gadis kecil itu dalam berolahraga senggama/ngentot, sampai aku merasa sangat kelelahan, sehari minggu itu aku bercinta dengan gadis-gadis kecil. Betul-betul enak.
Kejadian ini berlangsung lama. Akulah yang membatasi diri terhadap mereka, sampai akhirnya mereka mengalami yang namanya masa datang bulan, dan mereka juga mengerti kalau apa yang kusebut olahraga ternyata adalah hubungan sex yang bisa untuk membuat adik bayi, tetapi mereka tidak menyesal. Jadi jika akan melakukan senggama/ngentot, kutanyakan dulu jadwal mereka. Aku tidak ingin mereka hamil. Anna, Lia, Yulia, maupun Devi akhirnya mengetahui kapan masing-masing akan mendapatkan jatahnya.
Setelah mereka berempat duduk di bangku SMU kelas 2, bisa dikatakan telah beranjak dewasa dan matang, begitu juga umurku sudah menjadi 36 tahun. Aku sudah menjalin hubungan serius dengan cewek rekan sekerjaku, lalu aku menikahinya dan aku membeli rumah sendiri, tidak lagi kost di tempat Lia. Anna, Lia, Yulia, dan Devi pun sudah mempunyai pacar, tetapi mereka tidak mau melakukan hubungan senggama/ngentot dengan pacarnya. Mereka hanya mau berbuat begitu denganku saja.
Karena aku sudah beristri, mereka pun memahami posisiku. Hubunganku dengan mereka tetap terjalin baik. Istriku juga menganggap mereka gadis-gadis yang baik pula, aku pun berterus terang kepada istriku mengenai apa yang sudah kualami bersama gadis-gadis itu. Istriku memakluminya, aku sangat mencintai istriku. Akan tetapi istriku kurang bisa memenuhi kebutuhan seksku yang memang sangat tinggi. Karena istriku mengetahui kekurangannya, lalu istriku yang bijaksana mengijinkan Anna, Lia, Yulia, dan Devi untuk tetap bermain seks denganku.
Pernah dalam semalam, aku melayani lima wanita sekaligus, Anna, Lia, Yulia, Devi dan istriku sendiri. Dari keempat gadis kecil itu, yang paling sering menemaniku dan istriku bersenggama/ngentot hanyalah Anna dan Lia. Untuk Anna, disebabkan selain orang tua dan kakak Anna tidak tinggal di kota ini, Anna takut tinggal sendiri di rumah besarnya. Hampir tiap hari Anna menginap di tempatku. Untunglah para tetanggaku mengira kalau Anna adalah keponakan istriku. Sedangkan Lia, masih tetap seperti dahulu, papanya bekerja di ibukota dan mamanya masih bekerja di otomotif, kadang justru tidak pulang, jadi jika begitu, Lia ikut pula menginap di rumahku. Tante Linda masih percaya penuh kepadaku. Walaupun sepertinya mengetahui hubunganku dengan anak gadisnya, aku santai saja.
Cerita Berahi – Nama Aku Ziza
2010-Dec-14 05:28
Nama aku Ziza. Aku belajar dalam jurusan progammer IT software di Kolej. Aku belajar komputer atas kehendak dan desakan mak bapaku. Aku memang tak minat langsung dengan komputer. Nak sejuk dan senangkan hati kedua orang tua aku, akupun belajarlah.
Usiaku 18 tahun. Suka siri TV3 Jalan-jalan cari makan. Tau kenapa? Sebab wajah dan iras aku macam pengacaranya Maria Tunku Sabri. Saling tak tumpah.., tu lah aku. Chubby, tetek dan punggung besar dan rendah. Wajah aku memanglah cun dan comel.
Belajar di semester satu taklah susah sangat, tapi bila di semester dua aku rasa susah. Untuk memudahkan pembelajaran aku membeli sebuah komputer klon. Hari-hari aku menggunakan komputer, aku semakin cekap.
Oleh kerana aku sudah cekap aku pun tidak tahu hendak buat apa lagi tentang komputer aku tu. Asyik-asyik main games sahaja. So rakan-rakan aku mengajar aku tentang internet. Mula-mula tidak seronokpun tapi interesting bila aku layari beberapa laman web yang tidak sepatutnya aku jengah.
Satu hari aku melayari laman web orang Melayu dan aku sungguh terkejut melihat ramai orang Melayu berbogel di internet samada perempuan ataupun lelaki. Sebahagian gambar yang dipamerkan adalah tipu dan sedikit yang benar. Aku dapat tahu sebab kawanku pakar yang boleh membezakan mana satu yang benar dan mana yang tipu.
Aku rasa ada yang tidak kena pada diriku sebab seluar dalam aku kerap basah dan aku tidak tahu kenapa. Aku gusar. Aku naif. Selama ini aku mengalami perasaan stim. Di samping melihat gambar-gambar lucah aku juga melayari laman web sumbercerita.com. Aku mula tertarik membaca kisah-kisah sex khususnya dari Malaysia. Dan aku terpaku kepada kisah-kisah yang ditulis oleh Wirasaujana.
Terbetik di hati aku hendak berkenalan dengan penulis itu. Akupun memajukan email ke alamatnya bertanya kabar, menyatakan maksud ingin berkenalan dan juga apakah kisah-kisah yang ditulisnya itu benar-benar berlaku atau cerekanya sahaja.
Aku ada juga melancap, DIY (Do It Yourself) kata orang sekarang. Kesedapannya tidak dapat digambar dan diucapkan oleh kata-kata. Selepas tu aku buat kali kedua sambil meramas buah dadaku dan mengentel putingku. Aku merasa sungguh geli lagi menyedapkan. Aku puas. Aku menikmati klimaks tetapi apakah sama dengan adanya jantan dalam wanitaku? Persoalan dan ingin tahu ini bermain di benak dan rasa beinaku.
Aku mau berkenalan sebab aku dapati Wirasaujana mampu memuaskan semua kekasih atau sexual partnernya. Begitu juga dengan ramai penulis lain dari Indonesia. Cuma aku tertarik dengan Wirasaujana sebab kepelbagaian kisah-kisah yang ditulisnya. Sure, lelaki ini dah banyak pengalaman yang dikutipnya.
Ingin tahu aku dijawab oleh Wirasaujana yang membalas email aku. Jawabannya ringkas.. Amat bahagia dan gemar sesangat berkenalan dengan aku. Meminta aku menceritakan tentang diriku, pengalaman sex dan fantasia sex. Mengikut Wirasaujana hampir 50% kisah-kisah yang ditulis adalah pengalaman benar beliau sendiri dan bakinya adalah cereka semata-mata.
Pantas aku menjawab kepada Wirasaujana. Aku penuntut IPTS dari keluarga sederhana. Anak ketiga dari lima beradik. Tinggiku 5’1″, chubby dan figku 36 30 38 dan berkulit sawo matang cerah. Pengalaman sex zero dan fantasia sex mahu difuck dan dipuaskan kewanitaanku. Mahu merasai nikmat difuck. Aku menghantar gambarku buat tatapan Wirasaujana.
Aku buat assignment dengan seorang rakanku di rumahku. Semasa Kami berdua-duaan dan aku merasakan ada yang tidak kena. Ketika aku tengah menaip rakan lelakiku ini duduk di belakangku. Aku dapat mendengar bunyi sesuatu di atas katilku seperti orang meronta-ronta. Aku tidak mempedulikkan. Tiba-tiba rakanku berkata..
“Hey Ziza aku nak baliklah. Nanti aku call kau yek”
Akupun bersetuju. Apabila dia sudah balik, aku mendapati ada kesan tompokan sejenis air di atas cadarku. Akupun membaunya, eerkk!! Aku mengerutkan muka dan menutup hidungku. Kurasa macam nak muntah. Rakan jantanku tadi menjadikan aku model untuk dia melancap. Sial betul mamat tuh. Ee!! Boring aku.
“Jack nape kau tak rogol aku semalam?” “Isshh kau ni. Aku tak rogol kau pasal aku sukakan kau. Baiklah aku melancap dari merosakkan kehormatan kau” Jawab Jack selamba sambil kekeh kecil.
Terharu aku mendengar jawapan Jack yang gentleman. Aku pun memeluknya.. Dia balas pelukanku. Tiba-tiba aku dapat rasakan ada benda yang tegang di dalam seluar Jack. Kenapalah lelaki hanya mementingkan nafsu mereka sahaja tanpa menghiraukan perasaan orang perempuan? Sebab aku melihat Jack masturbasi depanku dan bila stim dia explode lava putihnya tak sampai beberapa minit. Apakah lelaki memang macam tu cepat sangat stim dan terpancut? Berat rasanya orang perempuan kalau dapat suami atau boy friend yang cepat pancut.
Perhubungan aku dengan Wirasaujana berpanjangan. Aku sering berhubung melalui email dengan beliau. Kini aku sudah memberikan nombor telefon aku dan Wirasaujana telahpun membalas SMS aku. Aku tidak kisah tentang status dan usia Wirasaujana. Dari apa yang diceritakannya dia seorang duda veteran. Tapi suara dia macho dan aku telah melihat gambarnya. Wirasaujana membahasakan dirinya Abang N. Boleh tahan juga orangnya. Aku senyum sendirian.
Kami sering ber-SMS dan Abang N akan topup kan prepaid aku bila aku kehabisan kredit telefon.
[Tul ke U nak difuck Ziza?] Aku senyum membaca sepotong SMS dari Abang N. {Yes.. Abang N nak fuck I ke?} [U serius ke nie Ziza? Acah-acah tak main tau.] Aku melihat dan membaca jawaban SMS dari Abang N. Sengih dan terkekeh. {Tak acahlah. Mau sesangat.:) Nak batang Abang N dalam cipap Ziza.} [Kalau benar-benar mau when can I see U?] {Anytime Abang N.my pleasure is yours.}
Aku rasa bahagia berkomunikasi dengan Abang N. Ada waktunya terair dan terstim juga aku membaca SMS lucah dari Abang N. Aku tak kurang juga lucah dan seksinya mengoda Abang N. Aku memaut Abang N yang tinggi orangnya.
*****
Mulut aku dan mulut dia bertaut rapat. Kissing hangat sampai menggigil dan gemetar tubuhku. Kapukan Abang N begitu kemas. Pertama kali aku merasai diriku berada dalam pelukan seorang lelaki. Kuhimpitkan buah dadaku ke perutnya.
“Nicee.. Pejal tetek you love..,” puji Abang N sambil memeluk dan showering kisses kat mukaku.
Aku mengerang kecil. Kepejalan buah dadaku menyentuh perutnya. Aku telentang dengan kakiku terjuntai di tepi katil. Abang N telah menyewa sebuah bilik di De Palma Hotel. Agak lama kami berbalas ciuman sambil aku menggesel-geselkan dadaku ke tubuh Abang N. Nafasku kasar.
Sebenarnya aku tak tau apa yang harus aku buat pada masa tu. Maklumlah aku langsung tak ada pengalaman dalam bab ni. Yang aku tahu tentang hubungan sekspun melalui buku dan mendengar kawan-kawan aku borak pasal video porno yang mereka tengok. Setakat dari buku yang mengajar tentang hubungan kelamin tu memang dah banyak aku baca tentangnya.
Malu juga aku bila ditenung begitu oleh Abang N. Perasaan takut dan berdebar-debar bermain dihatiku. Tangan Abang N meraba kaki kiriku sambil mengusap lembut. Akupun menarik kakiku kegelian sambil senyum malu.
Abang N memegang tanganku semula dan mendekatkan mukanya kear-ahku lalu terus mengucup bibirku. Aku bagaikan dalam mimpi mem-biarkan saja Abang N mencium aku. Tangan Abang N mula merayap-rayap ke arah dadaku. Nafasku mula kencang hebat sebab itulah pertamakali aku dicium oleh lelaki.
Lidah Abang N bermain-main dengan lidahku sambil tangannya merayap-rayap di belakang badanku mencari klip braku. Dadaku mula berdebar-debar dan Abang N lantas menjilat pipi dan leherku sambil dihisap dan digigit lembut. Aku menahan geli dan menggeliat seketika.
Seronok sekali aku diperlakukan begitu. Sesekali aku melepaskan nafasku yang sedang berahi. Abang N terus menjilat-kulit bahagian dadaku. Menjilat dan menyonyot puting buah dadaku yang pinkish sedang keras. Aku bagaikan di awang-awangan dengan nikmat yang meangsang segenap saraf tubuhku. Nafsuku kian meningkat apabila Abang N terus memainkan peranannya menjilat hingga sampai ke pusatku.
Tanganku memegang tangan Abang N erat sambil nafasku keras dan kencang. Abang N melurut slackku kebawah sambil mengucup bibirku lagi. Aku merengek dan mengerang. Abang N sudah pun melucutkan seluar dalamku lalu tangannya terus memegang cipapku yang sedang membengkak dan basah itu. Belum sempat aku berbuat apa-apa tangannya sudah mengusap-usap cipapku. Jarinya menggentel clit dan bermain di lurah pussyku.
“Oohh Abang N.. Syoknyaa.. Sedapp..,” rengek dan desahku kegelian yang amat sangat.
Abang N melebarkan kangkangan kedua-dua kakiku lalu menyembamkan mulutnya ke lurah cipapku. Lidahnya mula menujah ke clit aku. Dijilat kemudian kelentitku dinyonyot sambil tangannya meramas-ramas buah dadaku. Waduhh.. Hmm.. Tuhan saja yang tahu betapa nikmatnya aku ketika itu. Aku bagaikan lemas dan khayal diadun dan dibuai kenikmatan bila cipapku dijilat sebegitu buat pertama kali dalam hidupku.
Setiap kali Abang N menggigit manja kelentitku setiap kali itu juga aku menjerit kesedapan. Cadar katil di bilik indah berhawa dingin kurasakan basah lenjun Dik air meleleh keluar dari pukiku. Abang N terus menjilat kelentitku sambil sesekali memasukkan lidahnya ke dalam lubang cipapku yang berair itu.
“Sayang, sedap tak?” tanya Abang N sambil lidahnya bermain lurah dan lubang cipapku.
Aku hanya mampu merengek dan mengerang kuat. Kakiku terkial-kial dan aku merasakan kegelian yang amat sangat.
“Sedapp.. Abang nn.. Kuarr.. E aa.. E aa..” Desahku sambil memaut kepala Abang N yang sedang meratah pukiku.
Punggungku ke depan dan ke belakang sambil memutar cipapku ke muka Abang N. Aku meraba-raba cuba memegang batang Abang N yang masih dibaluti seluarnya. Pantas Abang N membuka baju dan seluarnya. Kini jelas di mataku batang Abang N mencanak keras. Panjang, besar, berurat dan kepala-nya mengembang bagaikan ular tedung. Tubuhku memang sudah sedia gemetar.
Aku memberanikan diri memegang butuh Abang N. Kukocok, kuusap dan kubelai manja. Abang N sengih lalu bertinggung menyilang atas tubuhku. Kini aku benar-benar disuakan dengan butuhnya. Tepat kat hidung dan mulutku. Aku mengenggam batang itu dengan kedua belah tapak tanganku sambil aku cuba-cuba menjilat dengan hujung lidahku ke kepala kote Abang N. Abang N bersiut dan mengeram sambil menjuakkan kepalanya ke belakang.
Abang N meletakkan butuhnya di antara kedua buah dadaku. Dia mula memegang buah dadaku lalu merapatkan ke batang butuhnya. Dalam pada itu Abang N memaju dan memundurkan butuhnya dan dia mengerang bila geselan batangnya menyagat kulit buah dadaku dan hujung kepala kotenya sekejap mencecah ke mulutku. Dan aku menjilat kepala kotenya yang mengembang besar itu.
Tangan Abang N meramas buah dada dan mengentel putingku dengan jarinya. Dia masih maju mundurkan butuhnya di antara buah dadaku. Kemudian Abang N baring telentang menyuruh aku memberikan cipapku ke mulutnya. Kami dalam posisi 69. Aku mampu meme-gang dan mengocok butuh Abang N sambil mengulum kepala kotenya yang berdenyut-denyut dalam mulutku. Sedang Abang N menjilat, menyonyot, menghisap, menyedut lubang pussyku. Aku terjerit-jerit halus bila kelentitku dinyonyot, digigit dan dijentik.
“Abang nn.. Ziza dah tak tahan.. E aa.. E aa.. Sedapnyerr..” jeritku sambil meronta-ronta di atas tubuh Abang N dengan kepalaku ke kiri ke kanan dan ke depan ke belakang. Abang N memaut buah buntutku dan meneruskan memakan dan menghirup jus madu pussyku.
Posisi kami bertukar. Kami dalam kedudukan tradisional. Aku dibawah dan Abang N di atas. Kakiku dikangkang lebar. Abang n mengetel kelentitku dengan ibu jari kirinya sambil dia memegang butuhnya dan menghalakan ke rongga pussyku. Dia menegetuk cipapku dengan kepala kotenya sambil memberi salam. Dia menurih alur pukiku sambil menujah-nujah clitku dengan kepala kotenya membuatkan aku kegelian dan berdesit-desit suara keluar dari mulutku.
“Ziza.. You ready to be fucked?” “Hmm.. Yes.. Yes.. U wa.. U wa.. Pliz fuck me Abang N..” Rengek dan rayuku dengan sentuhan listrik ke segenap saraf dan tubuhku bila Abang N mengacah-acahkan kepala kotenya menyepuh rongga lubang pukiku.
Abang N meletakkan kepala kotenya yang besar itu ke rongga pussyku. Dia menekan dan kurasakan benda tumpul tertujah ke keliling lubang pukiku.
“Grruuhh..” Bunyi butuh Abang N menerjah halangan di lubang pukiku. “Aduhh.. U wa.. U wa.. E aa.. E aa.. Adui pelan-pelan Abang N.. So big.. So nice.. So sedapp.. So sakit.. Perit.. Tersiat.. Abang N”, Rengek dan erangku sambil cuba membetulkan kedudukan punggungku dan mula memberi untuk menerima batang Abang N dalam diriku.
Abang N mengucup bibirku sambil meramas buah dadaku. Dia menekan semula. Aku merasa batangnya masuk perlahan dan dinding vaginaku terasa disagat dan kesat. Aku menjerit-jerit sambil mengoyangkan punggungku untuk menerima batang Abang N yang besar terasa sangat sendat melekat di lubang pussyku. Aku mengerang ubuhku menggelinjang. Mukaku berkerut dan mulutku menggumam dan gigiku mengertap.
Sakit pada mula berangsur sedap. Dinding vaginaku mencengkram batang Abang N. Motion maju mundur dilakukan oleh Abang N perlahan dan cepat. Pedih hilang sedap datang. Air pukiku membantu aku menerima butuh Abang N dalam lubang cipapku. Aku menjerit-jerit dengan mukaku berpaling ke kiri dan ke kanan. Nafasku kencang dan aku mencakar-cakar tubuh Abang N. Aku juga mengigit dada Abang N menahan geli dan ngilu ke seluruh tubuhku.
Sedikit demi sedikit Abang N memasukkan batangnya walaupun aku sesekali menjerit sakit namun aku tahan juga demi nafsu aku yang sedang membara. Akhirnya seluruh batang Abang N masuk juga bermukim dalam cipapku yang ketat. Dia terus menyorong batangnya keluar masuk dalam cipapku dengan perlahan dan kuat.
Nafas kami bergelora. Batang Abang N yang panjang terasa amat keras dan sedapnya batang Abang N memasuki cipapku Tuhan saja yang tahu. Makin lama makin deras dan kuat hentakan serta hayunan Abang N ke pukiku. Cipapku basah sehingga belakang tubuhku lenjun oleh air cipapku.
“Abangg.. Oohh sedappnya bangg! O ah.. O ah.. Kuarr bangg..” jeritku mengigit dada Abang N dan mengejangkan tubuhku terasa dalam pukiku berputar air dan berpusar ngilu di dinding vagina dengan batang Abang N menyendatkan lubang. Abang N terus menghentak butuhnya laju dan kuat ke lubang pukiku. “Sayangg!! Abang cumm.. Urghh!”
Abang N mengucup bibirku dan memelukku erat. Dia membiarkan batangnya berdenyut dan aku merasakan ledakan air matinya ke dinding g spot cipapku.
“Perghh.. Besttnyerr..” Jeritku lagi dan mengoyangkan punggungku mengayak butuh Abang N yang terpacak keras dalam pukiku.
Peluh kami bergermercikan dan membasahi tubuh kami berdua. Dalam hatiku terasa puas kerana baru aku faham tidak semua lelaki yang self centred. Malah ramai yang mahu memuaskan pasangan mereka dahulu dan aku bahagia dengan Abang N yang telah berjaya memuaskan aku dan memberikan kepuasan yang aku mahukan selama ini. Biarpun mahal dengan hilangnya dara aku, namun aku senang memberikannya kepada Abang N sebab dia menjadikan aku wanita sejati
Cerita Syok
Setubuh Hangat Dengan Ayah
Namaku Ana.. Pertama kali aku berhubungan seks adalah tak lain dan tak bukan bersama ayah kandungku sendiri. Ceritanya begini. Saat itu umurku baru 14 tahun.. Ibuku telah meninggalkan kami sejak aku kecil lagi untuk mencari kehidupan mewah bersama lelaki lain. Ayahku pula seorang peniaga alat sukan. Aku seorang anak tunggal. Ketika umurku 14 tahun aku menpunyai tubuh seperti perempuan dalam lingkungan umur 20an. Aku mempunyai dada yang mampat. Saiz coliku pada waktu itu adalah 38C. Pinggangku masih dalam 24inch dan punggungku saiz 36. Sepanjng hidup kecilku sentiasa dengan ayah. segala permintaanku, dia akan cuba turuti memandangkan aku adalah anaknya seorang dan disayangiku bagai menatang minyak yang penuh. Saat umurku 12 tahun ayah pernah cuba berdating dengan perempuan lain tapi tak ada jodoh… ada mak janda, ada mak dara… sampai tiba masanya dia kata padaku; ‘Ana… Ana tak rasa sunyi ke tak ada Ibu atau adik beradik?‘tanya Ayah 'Tak pun.. Ana happy camnie.. Kenapa Ayah taknak kahwin ngan orang lain? tanyaku balik 'Entahlah.. barangkali tak ada perempuan yang boleh ganti ibu kamu… Ayah pun lebih ok camnie.. Ada anak dara satu pon dah pening kepala..’ seloroh Ayah. Ayahku orangnya tinggi lampai dan mempunyai badan yang tegap.. maklumlah bekas seorang bodybuilder tempatan saat mudanya. Kini dia masih menjaga badannya dengan baik sebab dia menpunyai alat gym yang lengkap di rumah. Segala tentang dirinya masih lagi kelihatan muda. Setakat rambut putih kelihat sedikit. Dia mempunyai senyuman yang cukup menawan. Teman2 sekolahku pun pernah menyatakan bahawa Ayahku handsome orangnye.. Kadang aku juga berasa megah menpunyai ayah seperti Ayahku.. Sebelum hari lahirku yang ke 16, Ayah bertanya apa aku inginkan untuk hadiah.. Aku hanya meminta Ayah mengajak aku bercuti di Langkawi and seutas beg LV kerana kebetulan hari lahirku jatuh pada cuti sekolah. Ayah menyatakan semuanaya sudahpun diatur seperti yang ku mahu.. Sejak aku baligh, aku sentiasa ada teringin tahu apakah rasanya seorang berhubungan seks.. Adakah seperti buku novel romance yang aku baca di khutubkhanah? Aku sering bermimpi membayang diriku sedang hangat bersetubuh bersama lelaki yang tak ku kenali… Aku sering terasa basah seluar dalamku pada esok pagi kerana mimpiku. Tak pernahpun aku meceritakan tentang mimpiku itu pada Ayah. Pada hari lahirku kami berdua beranak tiba di Casa Del Mar.. Sangat romantis dan cantik hotel itu..Seperti yang aku bayangkan. Kami tiba di waktu senja dan just in time for makan malam. Aku dihadiahi beg idamanku dan juga kek hari jadiku yang indah.. Aku berasa sangat gembira.Di saat itu aku memakai baju off shoulder hitam yang pendek yang kelihatan seksi dibeli sebelum hari lahirku. Setelah makan malam aku dan ayah berjalan di taman open air itu sambil berbual 'Ana.. happy tak hari ni? 'Happy ayah… rasa macam puteri kayangan’ kataku ’ Ana, you have always been my princess.. Ana istimewa pada diri ayah’ kata ayahku sambil memelukku. Di saat pelukkan Ayah; aku mula dadaku berdegup dengan kuat..Seperti kejutan elektik.. Aku tak tahu mengapa. Ayah terus mencium pipiku.. Aku rasa terpegun.. Ciuman itu bukan seperti ciuman saat kecilku tapi ciuman seperti seorang lelaki dan perempuan.. Aku hanya tersenyum tapi hatiku seperti inginkan sesuatu. 'Ayahh.. ana rasa ngantuk nak tidur la ayah.. 'Mari kita pulang ke bilik masing2’ kata Ayahku Bilikku dan Ayahku adalah adjoining suite. maksudnya ada pintu antara dua bilik. Aku masuk ke bilikku laku mula membuka baju dan berbogel untuk mandi..Saat aku mula membuka shower, tiba2 aku terasa tangan memegangku.. aku berpaling dan alagkah terkejutnya apabila Ayah yang berseluar pendek datang memelukku lagi… Kali ini perasaanku tidak boleh terbendung lagi… Ayah mula mencium leherku… Aaahhh. sensitifnya tempat itu… 'Ayah… kenapa kita rasa begini…’ aku berdesah 'Ayah sendiri tidak tahu… Ana terlalu cantik seperti ibumu..Maafkan Ayah tapi Ayah tidak boleh terbendung perasaan Ayah terhadap Ana.. kata Ayahku sambil memeluk mendakap dan mencium pipiku..Tangannya mula rasa liang tubuhku yang basah.. Ayah… Ana tak tahan.. dengan ciuman Ayah nie.. Ana… Ayah sayangkan Ana.. 'Ana juga Ayah.. Ayah tak sanggup… Ana anak Ayah.. tapi… Tapi apa Ayah..?? ’ aku mengeluh… Ayah terus mendukungku lagi membaringkanku atas katilku.. Dia terus mencium mulutku bertubi- tubi… hairannya aku turut menciuminya.. Tanganya meraba buah dadaku yang montok ini.. Ayah…. I think I am in love with you Ayah!!! Ana love Ayah.. I want to be your lover Ayah… Sambil mengisap buah dadaku; ayah berkata.. Are you sure Ana??? Apa yang Ayah lakukan, there is no turning back.. Ana sanggup ayah… Ana nakkan Ayah!! Aku terus merangkul Ayah lalu menjilat lehernya.. Ayah terus membuka seluar pendeknya… Alangkan terkejutnya aku melihat senjata Ayahaku… untuk pertama kalinya.. Ana… Ana takkan menyesal.. Ayah akan bahagiakan Ana.. Ayah takkan tinggalkankan Ana.. “Kau sungguh cantik. Kini kau sudah dewasa. Tubuhmu indah dan jauh lebih berisi.., mmpphh..”, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya. Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan kini jauh lebih berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan perut yang rata, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang ‘jack’. Diwajah ayah kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang dipenuhi bulu-bulu hitam lebat, kontras dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Ayah… show me your love please… Ayah menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan koneknya ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya dia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong koneknya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Ayah menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Tiba2 aku macam sudah rasa mcm seorang professional sedang ini kali pertama… Ayah serperti tahu apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang koneknya dalam pukiku. Aku ingin segera membuatnya ‘KO’. Terus terang aku sangat kagum dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku sanggup membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan. Ayah…. cepat… 'Cepat apa sayang?…. Cepatlah…. Ana nak ayah buat apa? CEPAT MASUKKAN KONEK AYAM DALAM PUKI ANA!!!!! Aku macam tak percaya dengan kata2ku itu.. Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya// inikan kali pertama Ana, kata ayahku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. Aku menunggu cukup lama gerakan konek ayah memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, konek ayah cukup panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mampat di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Ayah mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat konek ayah keluar masuk dengan ketatnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Sakit mula terasa.. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Ayah tahu apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang ayahku mengisi penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa pedih di seluruh dinding vaginaku. “Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..”, aku meintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian ayahku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Sedap tak terhingga… Ayah sedapnya rasa konek ayahhh…. Hentaklah kuat2! Ayah bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mencecah pertahananku. Sementara ayah dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, ayah mempercepat gerakannya. Batang konek yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat tubuh ayah sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencuba meraih tubuh ayah untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritikal, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara keduan tanganku menggapai buah pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu. “Ayah.., oohh.., Yaahh..”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. “Sayang nikmatilah semua ini. Ayah ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang belum pernah kamu alami”, bisik ayah dengan mesranya. “Ayah sayang padamu, ayah cinta padamu. Ayah ingin melepaskan kerinduan yang tersimpan selama ini..”, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantik. Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa keindahan ini kualami bersama ayahku sendiri? Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan tenunganku kembali gairahku. Aku masih gian dengannya. Sampai saat ini ayah belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah dia berikan kepadaku. Aku sadar kenapa diriku menjadi ghairah untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi ayah terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh ayah hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik ayah kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh ayah. Selangkanganku berada persis di atas batangnya. “Akh sayang!” pekik ayahku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang pukiku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda liar yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada pelanggan. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya gelek bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayahku sendiri! Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan ayah mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dicubit2. Ayah lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski hotel menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lekat satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Ayah menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Ayahhhh….. hentakkan lagi…. Sedappppppp…. Ooohhh Anaaaa….. Katil dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan ayah mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, akupun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeria. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh ayah mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina liar yang sedang birahi. “Eerrgghh.. oouugghh..!” ayah berteriak panjang, tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Pancutan begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan bersenggama dengan ayahku. Tubuh kami bergulingan di atas katil sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari katil Untunglah katil itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terluka… Nikmatnya tak terkata…. Selama tiga hari kami di hotel… kami bersetubuh tanpa henti seperti pasangan yang berbulan madu.. Hingga sekarang aku masih bersetubuh dengan ayahku… .. Kami sudah berpindah ke laur negara agar boleh hidup sebagai sepasang suami isteri… Kami kahwin secara sivil.. Belum lagi dikurniai anak.. Aku tidak menyesal atas perbuatan kami… malah aku recommend it.. Sayng ayah tak sama seperti jejaka mcm mat rempit etc… Konek ayah sangat fantastik… Bye… Ayah sudah panggil untuk bersetubuh lagi..

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Macam ni punya baik body ending kau pancut sikit tu je ? Kalau dapat kat aku penuh satu body aku kerja kann
umur baru 18 tp barang perghhhh.. kuat kene ramas nii
best ko dpt budak 18 tahun ya…pucuk muda… tp muda lg anak aku baru 17…
Muslimah je muka dia.
AMRAN - (Berbaloi Baca)
Selepas kematian suaminya dua tahun yang lepas Amaranlah tempat bergantung hidup bagi Leha. Oleh sebab kemiskinan, mereka dua beranak terpaksa bergantung hidup dengan mengambil upah mengerjakan kebun getah dan bendang Pak Latif antara orang yang berada di kampung tersebut. Kehidupan mereka ibarat kais pagi makan pagi, kais petang makan petang. Dengan tanah sekangkang kera yang diwarisi daripada arwah suaminya, disitulah terbina sebuah pondok usang yang dibina daripada kayu hutan, anyaman buluh dan bertam serta berlantaikan batang pinang yang dibelah dan diraut kemas untuk dijadikan lantai. Rumah kampung yang dibina tinggi bertangga kayu hutan itu hanya mempunyai ruang barenda, sebuah bilik dan dapur yang masih menggunakan dapur kayu bertungkukan batu cegar yang telah dikutip dari sungai di hujung kampung. Setelah selesai membantu Amran di kebun getah, maka di sebelah petangnya Leha juga terpaksa membantu Amran turun ke bendang untuk mengerjakan sawah padi. Selain dari itu rutin kerjanya ialah memasak untuk mereka dua beranak. Dengan ikan keli atau puyu yang dikail oleh Amran di bendang, Leha mengutip kangkong liar yang tumbuh ditepi sungai bagi menambah lauk hidangan mereka tengah hari itu. Setelah selesai menyidai getah keping yang telah dimesin di bangsal mesin getah Pak Latif, Amran berehat di barenda sambil menghisap rokok daun nipah yang baru dibelinya semalam. Dengan tembakau cap kerengga yang digulung rapi bersama daun nipah, Amran menyedut asap rokok itu dengan kepuasan sambil memejamkan matanya. Perutnya bergelodak kelaparan setelah penat bekerja sambil menunggu emaknya memanggilnya untuk makan tengah hari. Setelah perutnya kenyang bagai ular sawa baru lepas membaham seekor kambing, Amran berbaring sebentar tidur-tidur ayam sambil menunggu hari petang untuk turun ke bendang. Sambil itu fikirannya melayang memikirkan hidup dan masa hadapannya yang tidak menentu itu. Memikirkan nasib emaknya yang terpaksa bekerja keras untuk meneruskan hidup mereka. Amran bersimpati dengan emaknya yang cantik jelita itu hidup dalam serba kekurangan jika dibandingkan dengan mak cik Senah yang tinggal tidak jauh dari rumahnya yang agak terpencil. Hanya dua buah rumah ini sahajalah yang agak terpisah dengan rumah-rumah lain di kampung itu. Mak cik Senah juga tidak berlaki. Tetapi hidupnya tidaklah sesusah emaknya. Mak cik Senah juga cantik. Macam emak dia juga. Hampir setiap hari apabila Amran pulang dari kebun Pak Latif dia akan melihat makcik Senah yang sedang mandi berkemban di telaga yang di kongsi bersama keluarganya dan keluarga makcik Senah. Telaga itu terletak dilaluan Amran ke kebun Pak Latif. Hanya dia dan emaknya sahaja yang menggunakan laluan itu. Biasanya mak cik Senah memakai kain kemban yang nipis dan tidak bercorak. Apabila air telaga yang dingin itu membasahi kain kemban yang dipakai oleh makcik Senah, jelas pada pandangannya susuk badan makcik Senah yang sungguh menggiurkan. Makcik senah yang berumur sebaya dengan emaknya sekitar 40-an kelihatan amat menarik. Kulit badannya cerah dan berisi jelas berbayang di bawah kain kembannya. Buah dada mak cik Senah yang masih tegang kelihatan menonjol disebalik kain kembannya. Puting buah dada mak cik Senah juga jelas kelihatan disebalik kain kembannya yang basah itu. Setiap kali Amran menghampiri telaga itu, mak cik Senah pasti menegurnya. Biasanya adalah perkara-perkara yang ditanya oleh mak cik Senah. Amran mengambil kesempatan ini untuk melihat bahagian-bahagian tubuh mak cik Senah yang meng-ghairahkan. Mak cik Senah sedar Amran melihat tubuhnya. Dia sengaja menguak rambutnya yang basah dengan kedua-dua tangannya. Ketiaknya yang putih gebu akan terdedah. Amran menjamu mata melihat mak cik Senah yang mengghairahkan itu sepuas-puasnya. Dia akan melayan perbualan mak cik Senah sehingga selesai mandi kerana hendak melihat tubuh mak cik Senah sepuas-sepuasnya. Setelah mak cik Senah selesai mandi barulah dia beredar. Itulah kerja rutin Amran. Kerja rutin inilah yang menyebabkan mak cik Senah sentiasa menjadi impian dan khayalannya. Seketika batangnya mengeras apabila dia memikirkan apa yang dilihatnya tengah hari tadi. Semasa dia melalui telaga yang dikongsi bersama itu, mak cik Senah sedang melumur sambun di kepalanya. Dengan tiba-tiba air sabun masuk ke matanya. Ketika mak cik Senah meraba-raba mencari timba, tiba-tiba kain kembannya melorot ke bawah. Maka terdedahlah badan mak cik Senah yang cantik itu. Amran terpegun melihat tubuh mak cik Senah yang tidak dibaluti seurat benang pun. Tubuh mak cik Senah memang cantik dan menggiurkan. Amran mengambil kesempatan ini untuk menatap tubuh mak cik Senah yang sentiasa di dalam khayalannya. Mata Amran tertumpu pada celah kelengkang mak cik Senah. Kemaluan mak cik Senah yang tidak lebat bulunya kelihatan begitu cantik. Alur kemaluan mak cik Senah masih brtaup rapat bagai belum pernah terusik “Am…! Tolong mak cik!” Inilah kata-kata yang menyebabkan Amran sedar kembali. Dengan segera dia menceduk air dari telaga itu dan menjirus muka mak cik Senah dengan hati-hati. “Am nampak ya…..?” Tanya mak cik Senah sambil menutup tubuhnya kembali setelah hilang pedih di matanya. Amran hanya tersenyum mengingat peristiwa itu. Tangannya menjalar memasuki kain pelikatnya dan mula mengurut-urut batangnya. Tak disedari perbuatannya telah diperhatikan oleh emaknya. Leha yang sudah dua tahun menjanda terangsang juga apabila melihat kelakuan anaknya. Sudah banyak kali dia melihat batang anaknya yang mengeras terutama waktu pagi ketika mahu mengejutkan Amran untuk ke kebun. Amran yang tidur berkain pelikat tanpa baju itu selalu sahaja kainnya bergulung hingga ke pusat. Batangnya yang tercacak keras lebih besar dan panjang daripada milik arwah ayahnya. Leha terpaksa menahan nafsunya. Kadang-kadang terfikir juga dihatinya untuk cuba mengusap-usap dan membelai batang milik anaknya itu. Tapi dia berasa malu takut nanti Amran tersedar dan tahu akan perbuatannya. Keadaan yang sama juga berlaku pada Amran. Dia sudah puas melihat pantat emaknya ketika emaknya tidur terlentang dengan kaki terkangkang luas dengan kain batik yang dipakai terselak hingga ke pangkal peha kerana keletihan setelah penat bekerja di bendang. Pantat emaknya masih cantik. Tidak banyak bulu. Tembam dan bibirnya pantat emaknya masih bertaup rapat macam pantat mak cik Senah. Kedua-dua wanita ini mempunyai paras rupa yang jelita disamping potongan badan yang menggiurkan. Kerja keras di kebun dan bendang tidak mencacatkan kejelitaan dua wanita ini. Dua wanita ini menjadi sumber khayalannya ketika dia melancap.Perbuatan itu pun diketahuinya pada suatu hari apabila dia mengurut-urut batangnya hingga menimbulkan keenakan dan dia memancutkan air maninya buat pertama kali. Setelah kejadian itu dia menjadi ketagih untuk melakukannya apabila dia merasakan emaknya tiada dirumah atau emaknya bertandang ke rumah makcik Senah. Pada petang itu dia berkhayal lagi sambil membayangkan tubuh makcik Senah yang diintainya ketika menukar kain basahan selepas mandi. Dia dapat melihat dengan jelas tubuh makcik yang tidak dibaluti kain itu. Tubuh mak cik Senang memang menggiurkan. Kulitnya yang cerah dan bentuk yang menarik telah menambahkan lagi kecantikan tubuh mak cik Senah. Fikirannya juga terbayangkan pantat emaknya yang sering dilihatnya. Dia mula mengurut-urut batangnya yang sudah mengeras. Sambil memejamkan matanya, tangannya bergerak pantas melancapkan batangnya sambil merasai keenakan. Tanpa disedari dengan secara senyap Leha telah balik ke rumah. Leha sengaja pulang dengan secara senyap kerana mahu melihat apa yang sedang dibuat oleh Amran. Amran yang sedang berbaring di atas tilam kekabu yang telah lusuh meneruskan aksinya. Kain pelikat yang dipakainya telah bergulung hingga ke pusat. Dia terhenti sebentar apabila terdengar tapak kaki emaknya masuk menuju ke bilik. Dia tergamam dan tak sempat untuk menutup dengan kain batangnya yang sedang mengembang keras dan mencanak itu. Leha yang penuh bernafsu setelah melihat perlakuan Amran terus meluru dan memegang batangnya. “Am, tolong mak ya…!” pinta emaknya dengan suara yang bernafsu. “Mak dah lama tak dapat benda ni. Mak dah tak tahan….” Apabila anaknya tidak menjawab, Leha terus mengusap-usap dan memgurut-urut batang Amran. Batang Amran yang tadinya mengendur sekejap mulai kembali mengeras apabila merasakan tangan lembut emaknya membelai dan melancapkan batangnya. Dia memejamkan matanya merasai kenikmatan perlakuan emaknya. “Nak tolong macam mana mak? Am tak pandai.” “Nanti mak ajarkan.” Jawab Leha sambil melucutkan pakaian yang dipakainya. Leha sudah bertelanjang bulat dihadapan anaknya. Rasa malu berbogel depan anaknya sudah tiada. Amran terpegun melihat tubuh ibunya yang terdedah itu. Tubuh emaknya memang cantik. Lebih cantik dari badan mak cik Senah. Tubuh emaknya bersih. Tubuh emaknya padat berisi walau pun dia tidak gemuk. Tubuh emaknya masih tegang. Belum ada yang kendur. Batang Amran semakin tegang dan keras melihat tubuhnya emaknya yang sangat menggiurkan itu. Kemudian Amran merasakan tangannya ditarik dan diletakkan pada tetek emaknya. Tetek yang pernah dihisapnya dua puluh tahun dahulu masih segar. Masih pejal. Masih tegang. Tidak kendur. Tetek emaknya mulai diramas oleh tangannya yang kasar. Tindakan Amran telah merangsang nafsu berahi Leha. Leha mengubah kedudukan. Tangan kanan Amran ditarik dan diletakkan diatas tundunnya yang sudah sedia terdedah. Dia memandu jari Amran menerokai lurah pantatnya yang sudah digenangi air berahi. Walaupun pertama kali bagi Amran melakukan perbuatan itu, dengan bantuan Leha jari-jarinya dapat menggentel-gentel biji mutiara berahi milik emaknya dengan baik. Leha mulai mendengus dan mengerang keenakan. Keadaan itu juga menimbulkan berahi pada Amran. Pertama kali dia mendengar perempuan mengerang kesedapan. Batangnya betul-betul keras. Leha sudah tidak dapat menahan gelora nafsunya yang memuncak lalu dia bangun dan mencangkung betul-betul di atas batang Amran. Dia menghalakan batang anaknya yang keras menegang itu kearah alur pantatnya. Leha menekan badannya ke bawah. Batang Amran mulai memasuki lubang pantat emaknya. Mata putihnya kelihatan. Amran merasai kelazatan yang teramat sangat yang belum pernah dirasai selama ini. Dia berasa sangat sedap apabila batangnya dikemut oleh lubang pantat emaknya yang masih sempit. “Sedap emak!” Amran bersuara sepontan. Leha juga berkeadaan sama. Batang Amran yang besar itu memenuhi seluruh lubang pantatnya. Padat. Apabila batang anaknya bergerak-gerak di dalam lubang pantatnya Leha berasa lazat yang tidak terhingga, rasa lazat yang sudah dua tahun tidak dinekmati. Namun rasa lazat kali ini mengatasi rasa lazat yang pernah dinekmati ketika bersama arwah suaminya yang juga bapa kepada Amran. Batang anaknya bukan sahaja besar malah keras dan panjang. Mulutnya mengeluarkan bunyi erangan yang tidak dapat difahami biji butirnya oleh Amran bagi melahirkan rasa lazat itu. Bagi Amran inilah pertama kali dia mendengar suara rengekan perempuan yang disetubuhi. “Am.. sedapnya Am… sedapnya… Besarnya batang Am ni besarnya… besarnyaaa…..”Leha merengek sambil mengayak-ayak punggungnya ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan sambil mengemut kemas batang anaknya untukl merasai kenikmatan yang sudah lama tidak dirasainya. “Adu.. aduu.. aduuu sedapnya Am… Mak rasa sedap ni… sedapnya…. Sedapnyaaaaa….”Leha melajukan lagi gerakan dan mengemut bagi menambahkan kenikmatan Amran. Tiba-tiba tubuh Amran mengejang dan terpacul suara Amran antara kedengaran dan tidak. “Mak….., Am nak pancut niiiii…” “Pancut…. Pancut… Pancut Am…. Pancutttt…….” Crrruuuttt… crruuuttt… ccrrruutt… crruuuttt…. “Aaa… aaaaa…. Aaaaaa… sedapnya Am… sedapnya Am…. Sedapnyaaaa………” Leha menjerit sambil memaut tubuh Amran sekuat-kuatnya….. Beberapa das pancutan air mani Amran menyelinap masuk ke rahimnya. Dalam masa yang sama tubuh Leha juga mengejang dan dia mencengkam kemas badan Amran. Dia terkulai di atas badan anaknya. Dia membisik sesuatu di telinga anaknya tanda kepuasan. “Emak puas Am… pandai Am main ya….” Leha dan Amran terbaring keletihan. Mereka terus berpelukan dalam keadaan bertelanjang bulat. “Apa Am rasa?” Tanya Leha. “Sedap mak..” “Nak lagi..?” “Nak..” “Buatlah Am. Buat sampai Am puas. Mak tak kisah.” Kata Leha. Perlakuan itu berulang buat kali keduanya setelah kelesuan mereka hilang. Kali ini Amran pula yang memacu emaknya. Kali ini lebih lama. Petang itu bukan dua kali, malah berulang kali tanpa henti. Perbuatan itu berterusan sampai ke senja. Sampai kedua-duanya tidak bermaya. “Am nak lagi ke?” Tanya Leha apabila Amran masih menghisap putting buah dadanya dan meraba-raba pantatnya. “Am belum puas mak.” “Sekali saja ya Am. Mak dah tak bermaya ni.” “Baiklah mak. Lepas ni kita rehat.” Jawab Amran sambil meniarap di atas tubuh semaknya buat kali kelima. Walau pun sudah letih dan tidak bermaya, Leha tetap melayan anaknya dengan bertenaga. Leha melayan Amran dengan rakus sekali. Leha tidak mahu anaknya tersinggung. Dia mahu biar Amran rasa emak dia juga memang hendakkan batangnya bukan kerana terpaksa. Dia juga mahu anaknya akan mengulangi perbuatan lagi pada masa akan datang. Permainan kali kelima ini sungguh panjang. Ketika itu azan Maghrib sedang berkumandang. Mereka tidak hiraukan suara bilal yang melaungkan azan. Leha menggunakan segala kepakaran dan pengalamannya supaya Amran cepat memancut. Rupa-rupanya Amran sungguh hebat. Hampir sejam batangnya menujah pantat emaknya barulah dia membuat pancutan air yang pekat dan hangat. Cuma pancutan kali ini tidak sebanyak pancutan yang pertama dan kedua. Walau pun tidak banyak, pancutan kali ini telah menyebabkan Leha terbeliak mata dan membuat jeritan yang sangat kuat. Amran turun dari tubuh emaknya apabila azan Isya’ pula berkumandang. Suasana dalam bilik tidur itu agak gelap. Rumah mereka tiada bekalan letrik. Mujur ada cahaya bulan. Jadi suasana dalam bilik itu tidaklah gelap sangat. “Pasang pelita Am. Mak penat ni.” Kata Leha setelah Amran turun dari badannya. Tanpa banyak bicara Amran keluar bilik dan mencari pelita. Setelah pelita dipasang rumah mereka terang kembali. Amran masuk balik ke dalam bilik tidur mereka. Dia melihat emaknya masih berbaring dalam keadaan telanjang bulat. Leha masih penat. Amran berbaring kembali di sebelah emaknya. Dia peluk emaknya. Kemudian mencium pipi emaknya. Leha membalas pelukan Amran. Apabila Leha membalas pelukannya, Amran meragut bibir emaknya dengan bibirnya. Mereka berkucup. Berdecit-decit bunyi kucupan mereka. “Kenapa baru sekarang kita buat kerja ni mak. Kenapa tidak dari dulu lagi?” Tanya Amran setelah puas menyedut bibir dan lidah emaknya. Tangannya merayap mencari pantat emaknya. “Entahlah Am. Mak pun tak tahu. Cuma masa itu mak takut Am marah. Mak takut Am kata mak ni gatal.” “Mak…” Amran bersuara sambil mengusap pantat Leha. “Mmm..” Leha bersuara manja. Dia mula terangsang apabila tangan Amran mengusap pantatnya. “Lepas ni kalau Am nak main dengan mak tiap-tiap hari boleh tak?” Tanya Amran lagi. Jari-jari Amran mula menguis-nguis alur kemaluan emaknya. “Boleh…. Mak lagi suka. Kalau boleh kita main empat lima kali sehari.” Jawab sambil memegang batang Amran. “Batang Am ni besar, panjang. Keras pulak tu. Emak suka batang Am. Bila cucuk pantat mak, mak rasa sedap. Tak puas sekali dua. Cuma mak letih. Kalau tidak sepuluh kali pun mak mahu.” Jelas Leha. “Bila kita boleh main lagi mak?” Tanya Amran sambil mengusap buah dada emaknya. “Bila-bila pun boleh.” “Sekarang?” “Ala…. Mak laparlah Am.” Jawab Leha. “Lepas makan ya Am.” “Janji ya mak… Lepas makan kita main lagi.” “Mak janji. Sampai pagi pun boleh.” Mereka bangkit untuk makan malam. Katika Leha menarik kain batiknya, Amran menegah. “Tak payah pakai bajulah mak. Am suka tengok badan mak ni.” Leha patuh pada kehendak anaknya. Mereka berdua bergerak ke dapur untuk makan malam sambil berpeluk-peluk dalam keadaan telanjang bulat. Amran begitu sayang pada emaknya. Dia tidak mahu melepaskan tubuh emaknya. Semasa Leha menyediakan makan malam, Amran masih memeluk tubuh emaknya dari belakang. Tangan kanannya mengusap pantat emaknya. Tangan kiringa pula meramas buah dada ibunya bergilir-gilir. Hidung dan bibirnya tidak henti-henti mencium tengkok dan bahu Leha. Batangnya pula menggesel ponggong emaknya yang pejal. “Ala janganlah usik benda tu Am. Emak geli.” Leha menggeliat lembut apabila jari Amran menggentel biji kelentitnya. Nasi yang sedang disenduknya hampir tumpah. Belum sempat Leha menyediakan lauk, Amran sudah tidak dapat menahan nafsunya. “Emak… Am tak tahan.” Kata Amran. “Kan mak dah cakap… jangan usik mak.” Jawab Leha sambil meletakkan gulai ikan keli di atas tikar mengkuang tempat mereka menjamu selera. Kemudian dia memusingkan bandannya lalu memaut tengkok Amran. “Cepat Am…. Mak pun dah tak tahan ni.” Dengan hati-hati Amran merebahkan tubuh emaknya di atas lantai bersebelahan dengan nasi dan gulai ikan keli. Setelah Leha berbaring telentang, Amran menindih tubuh emaknya. Apabila Amran menindih tubuhnya, Leha membuka kelengkangnya dan mendedahkan pantatnya yang sudah becak. Amran mula mengacu kepala batang pada lubang pantat emaknya. Setelah pasti kepala batang mengena sasarannya, Amran terus menusuk batangnya ke dalam lubang pantat emaknya. Walau pun batangnya besar dan lubang pantatnya ibunya sempit, Amran dapat menusuk lubang pantat emaknya dengan mudah. Lubang pantat emaknya sudah ada pelincir. Kemudian dia menggerak-gerakkan batangnya dalam lubang pantat Leha. Sempit tetapi licin. Sambil menggerakkan batangnya dalam pantat Leha, Amran tidak lupa untuk mencium leher dan bahu emaknya. Dia juga tidak lupa menghisap putting tetek emaknya. “Uuuuu…. Sedapnya Am. Penuh lubang emak.” Bisik Leha. “Lubang kena cucuk, tetek kena hisap. Sedapnya Am…” Sambung Leha sambil mencengkam kepala anaknya. “Am pun rasa sedap mak. Pantat mak sempit. Kuat kemut. Sedapnya mak….” Bisik Amran sambil menghenjut lubang pantat emaknya dengan lembut. Kemudian dia menjilat lengan emaknya pula. Amran terus menghenjut. Leha terus memaut. Henjut. Paut. Henjut. Paut. Tiba-tiba Leha memaut Amran kuat-kuat. “Adu Am…. Sedapnya Am… Sedapnya… sedapnya.. sedapnya……” Tubuhnya kejang seketika. Air lendir menderu-deru keluar dari lubang pantatnya. Amran memberhentikan henjutan. “Kenapa berhenti Am?” Tanya Leha “Emak dah keluar ya?” Tanya Amran kembali. “Macam mana Am tahu?” “Lubang mak dah becak.” “Pandai anak mak ni. Teruskan Am. Mak nak lagi.” “Kita makan lewat sikit ya mak.” “Selagi belum selesai jangan makan.” Amran meneruskan henjutan. Kali ini makin hebat. Setelah berpuluh-puluh kali henjut, emaknya menjerit lagi. Emaknya memaut tubuhnya kuat-kuat lagi. Emaknya kejang lagi. Beberapa saat kemudian lubang pantat emaknya banjir lagi. Perkara seperti ini berulang tiga empat kali lagi. Masuk kali ketujuh, Amran sudah tidak dapat tahan lagi. Dia melajukan henjutannya. Leha sudah tidak tahan. Dia sudah tidak menentu. Sekejap-sekejap memaut Amran. Sekejap-sekejap mencengkam tikar mengkuang. Dia merintih. Dia merengek. Dan akahir sekali dia menjerit apabila Amran membuat tekanan terakhir dan membuat beberapa pancutan di dalam lubang pantat emaknya. Mata emaknya terbeliak. Kemudian tubuhnya terkulai. Amran masih meniarap di atas tubuh Leha. Dia masih bernafsu mencium pipi emaknya yang keletihan. Dia masih bernafsu menjilat ketiak emaknya yang dibasahi peluh. Dan dia masih bernafsu menghisap putting buah dada emaknya yang keras menegang. “Sudahlah Am. Mak lapar ni.” Kata Leha apabila melihat Amran masih tidak henti-henti menghisap putting teteknya. Kalau dibiarkan tentu dia mahu lagi. Amran patuh pada permintaan emaknya. Dia turun dari tubuh emaknya kemudian membantu Leha bangkit dari perbaringan. Dia juga sudah lapar. Nasi dan gulai ikan keli sudah sejuk, tetapi mereka makan dengan lahapnya. Selepas makan mereka terus masuk bilik. Batang Amran mencanak lagi apabila emaknya berbaring di atas tilam kekabu dalam keadaan berbogel. Untuk meredakan batangnya mencanak itu, sekali lagi Amran meniarap di atas tubuh Leha. Dan sekali Amran menujahkan batang ke dalam pantat emaknya yang sentiasa menanti dengan setianya. Malam itu mereka bergumpal tanpa henti. Tubuh Leha tidak lepas dari pelukan Amran. Dan tubuh Amran juga tidak terlepas dalam pelukan Leha. Batang Amran tidak terlepas dari kemutan kemaluan emanya. Menjelang subuh baru mereka terlelap. Itu pun setelah mereka benar-benar letih, lesu dan tidak bermaya. Ketika azan Subuh berkumandang, mereka masih lena dalam keadaan telanjang bulat dan berpelukk-peluk. Amran terjaga apabila matahari sudah tinggi. Cahaya matahari yang mencuri masuk melalui rekahan dinding telah membuka matanya. Objek pertama yang dipandang oleh Amran adalah emaknya yang masih berbogel. Dia masih memeluk tubuh Amran dengan erat. Emaknya masih lena. Dia kelihatan tenang. Wajah emaknya semakin cantik pada awal pagi walau belum basuh muka dan bersolek. Ternyata emaknya memiliki kecantikan semulajadi. Amran merenung emaknya penuh kasih sayang dan rasa berahi. Amran mengusap rambut emaknya. Apabila rambutnya diusap, Leha membuka mata. “Kenapa ni Am?” “Dah siang mak..” “Ya ke?” Tanya Leha lagi sambil melihat suasana dalam bilik tidur yang mulai terang. Kemudian dia merenung Amran kembali dengan renungan yang galak. “Kenapa mak renung Am macam ni?” “Mak nak lagi.” Jawab Leha dengan mesra dan manja. “Boleh ya Am…?” Leha melirik senyuman menggoda. Tanpa membuang masa Amran terus menggomol emaknya. Leha membalas gomolan anaknya dengan rakus sekali macam orang kehausan. Apabila sudah bersedia, Leha membuka kelengkangnya. Amran sekali meniarap di atas tubuh emaknya. Kemudian batang Amran mencari sasarannya. Setelah sasaran ditemui dengan segera sasaran itu di rodoknya. Lubang pantat emaknya masih sempit walau pun malam tadi Amran tidak henti menjolok lubang itu dengan batangnya yang besar. “Kuat sikit Am. Mak nak pancut ni.” Bisik emaknya. Amran semakin laju merodok lubang pantat emaknya. Leha mula menjerit-jerit, memaut-maut dan kemudian mengejangkan tubuhnya. Tidak lama kemudian Amran berasa batangnya disirami air dalam lubang pantat emaknya. Pergerakan batangnya semakin licin. Bewrpuluh-puluh kali batang diayun dalam lubang pantat emaknya. empat kali emaknya terkejang. Masuk kali kelima Leha sudah tidak tahan. Dia sudah tidak boleh menerima tujahan batang Amran. Leha semakin ganas. “Cepat Am… cepat pancutkan air Am tu. Mak dah tak tahan. Tak tahan… tak tahannnn…..” Leha menjerit sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Amran masih liat untuk memancutkan air berahinya. Puas dia menggomol emaknya, Tetapi airnya masih tidak mahu pancut lagi. “Kenapa ni Am… Lama sangat Am nak pancut. Mak tahan… mak geli….” “Entahlah mak. Puas Am cuba…” Amran teringat ketiak emaknya. Ketiak emaknya putih gebu tanpa bulu. Dengan segera Amran menguak lengan Leha. Ketiak Leha yang putih gebu itu terdedah. Tanpa membuang masa Amran mencium bertubi-tubi ketiak emaknya. Bau ketiak emaknya yang lembut terus memberangsangkan syahwatnya. Dan tidak lama lepas itu Amran melepaskan pancutan air yang pekat lagi hangat. Amran rebah di atas tubuh emaknya. Leha memeluk erat tubuh anaknya. Nafasnya masih turun naik dengan pantas. Apabila Amran nak cabut batangnya, Leha memaut ponggong Amran dengan kedua-dua kakinya. “Jangan cabut dulu Am. Biar dia berendam dalam cipap mak.” Ketagihan seks anak beranak ini sentiasa terubat kerana tiada siapa yang menghalang. Kelakuan sumbang kedua-dua anak beranak ini berterusan tanpa di ketahui oleh penduduk kampung. Malah penduduk kampung itu tidak ambil peduli keadaan keluarga Leha yang susah itu. Hanya mak cik Senah sahajalah yang sering ambil berat. Amran yang mulai ketagih hubungan kelamin mula membayangkan makcik Senah pula. Dia mula memikirkan cara untuk mendapatkan pantat makcik Senah pula. Dia tahu makcik Senah memang sengaja menunjuk-nunjuk aksi ghairah kepadanya. Setiap kali Amran mengerjakan emaknya, dia sentiasa membayangkan kecantikan mak cik Senah. Dia bayangkan kesegaran pantat mak cik Senah yang tidak lebat bulunya.Leha tidak menyedari khayalan dan impian anak bujangnya ini. Yang dia tahu hampir setiap malam Amran berkehendakannya. Dan Amran akan mengerjakannya pantatnya dengan begitu bernafsu sekali sampai ke subuh. Mereka selalu kesiangan! Hari itu mereka kesiangan lagi. Mereka terjaga apabila mendengar mak cik Senah memanggil Leha. Amran bergegas bangun mengejutkan emaknya. Leha segera mengambil kain batiknya lalu berkemban. Kemudian dia keluar dan membuka pintu. “Ada apa ni Senah pagi-pagi kau dah kemari?” “Pagi? Kau tak nampak ke matahari dah tinggi ni.” Balas mak cik Senah. “Kau buat apa tadi sampai dua kali aku kemari tidak bangun lagi.” “Aku kesianganlah.” “Anak bujang kau tu?” “Kalau aku kesiangan dia pun apa lagi. Kalau aku tak kejut dia tak bangun.” “Dia tidur dengan kau ke?” “Taklah..” “Jangan bohong…” Kata mak cik Senah sambil menghampiri Leha. “Masa aku intai bilik kau tadi, aku nampak kau berdua tidur berpeluk. Telanjang pulak tu. Kau buat apa malam tadi dengan sibujang tu.” Tanya mak cik Senah dengan suara yang perlahan. Leha tersentak dengan penjelasan mak cik Senah, tetapi dia tidak cemas. Dia memang faham perangai mak cik Senah. “Biasalah. Bila lelaki jumpa perempuan. Anak aku ni bestlah. Besar, panjang tahan lama…” “Aku yang cuba goda dia, kau pulak yang dapat.” “Dia anak aku. Biar emaknya yang rasa dulu.” “Boleh kongsi?” Tanya mak cik Senah. “Kau nak ke?” Leha merenung wajah mak cik Senah. Mak cik Senah tersipu-sipu. “Mari masuk.” Pelawa Leha. “Tapi… ingat jangan beritahu sesiapa.” Kata Leha lagi. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah Leha yang usang itu. Mak cik Senah terus menuju ke bilik tidur Leha. Amran yang masih berbaring di atas tilam kekabu itu terkejut dengan kehadiran mak cik Senah. Tetapi dia tidak panik kerana mak cik Senah terus duduk disisinya. “Tolong mak cik ya Am. Mak cik pun macam mak kau. Dah lama tak rasa benda ni.” Kata mak cik Senah sambil memegang batang Amran. Amran tersenyum. Pucuk yang dicita ulam yang datang. Kemudian dia menjeling emaknya. “Boleh ya mak?” “Apa pulak tidak. Am kerjakanlah mak cik Senah puas-puas.” Jawab Leha sambil melucutkan pakaian mak cik Senah. “Kau nak joint ke?” Tanya mak cik Senah sambil mengangkat kedua-dua tangannya ke atas apabila Leha menarik bajunya. “Mestilah.” Jawab Leha lalu mencampakkan pakaian mak Senah ke atas lantai. Kemudian dia membuka cangkok coli mak cik Senah. Coli mak cik Senah juga dicampak di atas lantai. Mata Amram terpukau melihat buah dada mak cik Senah yang terdedah itu. Cantik. Kental. Putingnya masih kecil bagai tidak pernah diusik. Lalu kedua-dua tangan Amram meramas kedua-dua buah dada mak cik Senah yang masih segar itu. Mak cik Senah meredupkan matanya apabila kedua-dua buah dadanya diramas. Leha meneruskan kerjanya membogelkan mak cik Senah. Setelah mak cik Senah berbogel Amran terus merebahkan tubuh mak cik Senah sehingga dia terlentang di atas tilam. Kemudian Amran meniarap atas badan mak cik Senah. Dia terus mencium pipi dan seluruh muka mak cik Senah. Kemudian leher, kemudian bahu, kemudian dada. Mulut Amran mencari putting buah dada mak cik Senah. Putting buah dada mak cik Senah dijilat. Kemudia dihisap. Mak cik Senah menggeliat apabila putting buah dadanya dihisap oleh anak bujang kawan baiknya. Amran menghisap putting buah dada mak cik Senah sepuas-puasnya. Sudah lama dia idamkan buah dada mak cik Senah. Bila dah dapat dia tidak lepaskan peluang ini. Menggeleding tubuh mak cik Senah apabia menerima hisapan Amran. Leha yang melihat tindak tanduk anaknya keatas mak cik Senah, sudah tidak dapat mengawal kehendak nafsu berahinya. Dia turut berbogel. Kemudian dia melutut di atas muka mak cik Senah menyerahkan kemaluannya untuk dijilat oleh kawan baiknya. Tanpa membuang masa mak cik Senah maenjilat kemluan Leha. Melihat mak cik Senah maenjilah kemaluan emaknya, Amran teringin pulak untuk menjilat kemaluan mak cik Senah. Dengan segera dia terus membenamkan mukanya di celah kelengkang mak cik Senah. Kemaluam mak cik Senah yang berbulu nipis berada dihapan matanya. Nafsu berahinya terus mendidih. Tanpa membuang masa dia terus menjilat kemaluan mak cik Senah tanpa rasa geli. Berulang kali dia menjilat kemaluan yang berbulu nipis itu. Kadang-kadang dia sempat menyedut mutiara berahi mak cik Senah. Pengalamam bersama emaknya, memu-dahkan Amran membuat kerja itu. Mak cik Senah yang sedang menjilat kemaluan Leha tiba-tiba menggelepar apabila kemaluannya dijilat dan mutiara berahinya disedut oleh Amran sehingga akhir menderu-deru air nikmat keluar dari lubang kemaluannya. “Sudah Am… mak cik tak tahan… mak cik nak balak Am… mak cik nak balak Am….” Kata mak cik Senah sambil menarik tubuh Amran supaya menghempap tubuhnya. Tanpa membuang masa Amran menuruti kehendak mak cik Senah. Dia meniarap lagi di atas badan mak cik Senah. Emaknya pula bergerak ke arah ponggong Amran. Dia memegang balak anaknya dan menghalakan kelubang kemaluan mak cik Senah. Apabila merasakan kepapa balaknya sudah berada disasaran, tanpa membuang masa Amran terus menolak masuk balaknya ke dalam lubang kemaluan mak cik Senah. “Ough!” Mak cik Senah tersentak menerima tusukan balak Amran. “Besarnya Am…. Kerasnya Am…… Panjangnya Am……” Mak cik Senah terus merepek. “Baru kau tahu Senah….” Kata Leha pula sambil menekan ponggong anaknya supaya balak Amran terbenam ke dalam kemaluan Mak cik Senah. “Adu.. duu… duu… Sedapnya Am… sedapnya…” Rengek mak cik Senah apabila Amran mula menyorong dan menarik balaknya itu. “Tak pernah mak cik rasa sesedap ini… aduuuu… aduuuu…. aduuu….. sedapnya…. sedapnyaaa… besarnya…. kerasnya… panjangnya penuh lubang mak cik…” Mak cik Senah terus merepek dan merengek setiap kali Amran menyorong dan menarik balaknya. “Beruntung mak kau dapat anak yang ada balak macam ni…” Sambung mak cik Senah lagi. Amran bertambah seronok menyetubuhi mak cik Senah yang menjadi idamannya selama ini. Lubang mak cik Senah kuat mengemut. Mulut mak cik Senah kuat merengek. Tanga mak cik Senah kuat memaut. “Kuat lagi Am… kuat lagi Am… mak cik nak sampai… mak cik nak sampai… mak cik nak sampai…. Ooooooooo sedapnya… sedapnya… sedapnyaaaaaaa……..” Mak cik Senah terus menggelepar. Matanya terbeliak. Amran melajukan ayunannya. Dia mencium mak cik Senah bertubi-tubi. Dia paut tubuh mak cik Senah sekuat hati. Dan akhinya dia membuat tekanan yang kuat dan memancutkan air yang pekat dan hangat ke dalam lubang kemaluan mak cik Senah. Melihat mak cik Senah sudah sampai kepuncak dan Amran pula sudah selesai pancutannya, Leha terus berbaring disebelah mak cik Senah sambil membuka kelengkangnya luas-luas. Nafsu berahinya sudah tidak dapat ditahan setelah menyaksikan adengan anaknya dengan maak cik Senah. “Cepat Am, mak pulak.” Kata Lehan sambil menarik tubuh anaknya. Amran mecabut balaknya dari lubang kemluan mak cik Senah apabila emak menarik tubuhnya. Leha segera memegang balak anaknya yang masih basah dengan air mak cik Senah. Balak itu dikocoknya supaya tidak lembik. Kemudian Leha menghalakan balak Amran ke arah lubang kemaluannya. Dengan tidak banyak cumbuan Amran terus menolak masuk balaknya ke dalam lubang kemaluan emaknya. Lubnag kemaluan emaknya sudah becak. Tanpa cumbuan pun balak Amran mudah menerobos masuk. Mak cik Senah terpegun melihat anak beranak ini melakukan persetubuhan di hadapan matanya. Sungguh dahsyat. Anak dan emak sama-sama ganas. Sama-sama buas! Tanpa rasa segan silu Amran mengerjakan emaknya dengan rakus sekali di hadapan mak cik Senah. Mereka berdua bagai singa yang kelaparan. Mak cik Senah tidak sangka Leha begitu buas dan ganas. Amran pula berkeupayaan mengerjakan emaknya yang buas dan ganas itu. Hampir satu jam Amran bersetubuh dengan emaknya di hadapan mak cik Senah tanpa segan silu. Dan ketika Amran membuat tekan terakhir, Leha bagai singa betina yang kelaparan menjerit dan memaut tubuh Amran yang masih bertenaga. Setelah Leha terkulai, Amran merenung mak cik Senah dengan penuh rasa berahi. Mak cik Senah terpegun seketika. “Sekali lagi ya mak cik?” Kata Amran lalu meniarap di atas badan mak cik Senah yang masih kebingungan. Walaupun agak kebingungan mak cik Senah tidak membantah. Dia merelakan tindakan Amran yang semakin berani itu. Maka sekali lagilah mak cik Senah dapat menekmati balak Amran yang besar, keras dan panjang itu. Menjelang tengahari barulah Amran berhenti menyetubuhi kedua-dua wanita yang cantik jelita ini. Mak cik Senah dan Leha begitu letih setelah di setubuhi lima kali secara bergilir-gilir tanpa henti… Sejak hari itu hubungan Amran, Leha dan mak cik Senah semakin rapat. Mak cik Senah seringkali bermalam di rumah Leha. Apabila bermalam di rumah Leha mereka selalunya akan kesiangan!
Berkendir kepala btg abg otai bacs cite ni…x tahannnnn
NAZEL PART 3 - (PANJANG TAPI BERBALOI BACA)
Kereta Myvi berwarna putih itu meluncur laju menuju ke ibu kota. Hanya tinggal beberapa hari lagi Farah akan diijabkabulkan bersama Azli. Persiapan perkahwinan sudah lama diatur semenjak beberapa minggu yang lalu. Hari ini dia akan mencuba busana pengantin yang telah dipilih.
“Asal Abang Azli tak ikut sekali?”, tanya Nazel kepada kakaknya.
“Abang Azli busy dengan kerja. Itu yang Kak Uda ajak Azel”, balas Farah.
Kebiasaan hujung minggu di ibu kota, kesesakan lalu lintas bagai menjadi lumrah. Di kiri dan kanan, pelbagai kenderaan bagai menghimpit kereta yang dipandu Farah. Perjalanan ke kompleks membeli-belah yang menempatkan butik pengantin milik rakan Farah jelas terasa lama ketika mengharungi kesesakan yang semakin deras.
Setelah tiba di kawasan letak kereta di kompleks itu, Farah dan Nazel mengatur langkah menuju ke aras tiga. Sepanjang perjalanan, ramai lelaki yang mencuri pandang tubuh Farah. Wanita genit itu memang punya tubuh menawan dan raut wajah yang mampu menggoncang nafsu mana-mana lelaki. Tambahan pula dengan seluar jeans ketat yang menyerlahkan keseksian bentuk kaki dan punggungnya, kebanyakan lelaki di dalam kompleks itu meneguk air liur melihatnya. Bak kata pepatah pemuja tegar tubuh wanita, dengan status tunangan orang, seseorang perempuan itu dilihat semakin mengghairahkan.
Mereka tiba di butik pengantin milik Syahidah di aras tiga. Syahidah menyambut kedatangan rakannya dengan gembira. Selepas bertanya khabar antara satu sama lain, Syahidah terus berlalu bersama Farah menuju ke ruang persalinan. Nazel memandang rakan kakaknya itu dari atas hingga ke bawah. Tubuh wanita gebu dan berisi yang sudah berkahwin malah baru beranak dua itu jelas membangkitkan berahi Nazel. Beberapa helai busana telah dipakai Farah, semuanya kelihatan cantik-cantik belaka.
“Azel, ok tak kebaya yang Kak Uda pakai?”, tanya Farah.
“Cantik..”, Nazel membalas.
Mata Nazel terus melihat tubuh kakaknya yang dibalut kebaya berwarna putih itu. Pakaian yang mengikut bentuk tubuh Farah jelas menyerlahkan keindahan setiap inci tubuh wanita genit itu. Zakar Nazel mula membesar di balik seluar.
“Tapi Azel tak rasa macam ketat ke kebaya ni?”, Farah meluah kemusykilan.
Nazel merapati kakaknya dan memegang halus pinggang Farah sambil berdiri di belakang kakaknya itu.
“Manada la. Nampak seksi adalah”, usik Nazel sambil tergelak kecil.
“Ke situ pulak”, balas Farah.
Dalam diam, kebaya yang dipakai kakaknya makin membangkitkan gelora nafsu Nazel. Wajah Farah yang licin, tubuh yang menawan, dan bentuk punggung Farah benar-benar menambahkan syahwatnya. Farah ligat memperaga setiap inci kebaya itu di hadapan cermin. Kebaya ketat yang mengikut potongan badan itu sungguh menyerlahkan lagi keindahan tubuhnya. Nazel berdiri di hadapan meja di tengah ruang butik itu sambil membelek majalah pengantin dengan sesekali pandangan matanya yang bernafsu menjalar ke segenap inci tubuh kakaknya itu. Zakar Nazel menegang di dalam seluarnya meronta-ronta untuk menjelajah setiap inci tubuh Farah.
Syahidah yang ketika itu sibuk melayani Farah dengan baju-baju pengantinnya tergamam seketika apabila terlihat bonjolan pada seluar Nazel. Terkelu dia melihat ketebalan zakar adik rakannya itu di sebalik seluar yang di pakai. Perlahan-lahan faraj isteri orang beranak dua itu terkemut-kemut sendirian. Dada Syahidah bergetar kencang dengan apa yang di lihatnya. Dia terus mendapatkan Farah yang masih di bilik persalinan. Dia sendiri jadi tidak keruan.
“Oi, Farah. Bertuah kau ada adik macam tu”, luah Syahidah.
“Kenapa pulak ni, Shida?”, tanya Farah kehairanan.
“Cuba kau tengok dia kat belakang. Tengok kat seluar dia”, ujar Syahidah.
Farah lantas memalingkan pandangannya ke arah Nazel. Disorotkan penglihatannya ke arah yang diminta Syahidah. Terbeliak dia melihat bonjolan pada seluar adiknya itu. Umpama kilat, dia sedikit teruja dengan apa yang disaksikannya. Semenjak bergelar tunang orang, dia menjadi semakin ketagih dengan anggota kemaluan lelaki. Apatah lagi wanita genit itu memang seorang yang menggilai zakar sebelum mengenali Azli lagi. Tunangnya itu kerap menghamburkan air mani ke mukanya setiap kali sampai ke klimaks. Tetapi, hari ini getar yang dirasakan Farah lebih hebat dari sebelumnya.
“Hurmm ..”, Farah hanya mengungam perlahan.
“Tebal betul batang adik kau. Kalau kena tu, mau sedap”, tutur Syahidah.
“Hishh, kau ni dah kenapa? Rafi tak roket kau ke? Gersang semacam je bunyi?”, usik Farah.
“Rafi tu dah selalu lenjan aku. Tapi adik kau punya lain macam la dia punya feel. Geram pulak aku tengok”, balas Syahidah.
“Kau nak dia ke?”, Farah menyakat Syahidah.
“Nasib baik dia tu adik kau, Farah. Kalau tidak, memang aku nak rasa adik kau punya henjut aku. Gemuk macam tu, aku suka. Memang penuh lubang aku kalau kena”, seloroh Syahidah.
“Ada-ada je kau ni”, balas Farah.
“Tapi kenapa tiba-tiba je batang dia naik? Entah-entah dia stim tengok kau kot. Pakai kebaya ketat macam ni, badan cantik, bontot pejal, muka licin lagi, blowjob jangan cerita la, memang power. Rafi tu sampai sekarang tak boleh lupa penangan blowjob kau semenjak aku bagi green light kau hisap batang dia. Aku pun tak boleh lawan“, terang Syahidah.
“Ish, kau ni. Aku hisap batang husband kau malam tu pun sebab kau jugak yang bagi. Lagi pun blowjob je kan? Nak lebih-lebih, sorry. Untuk tunang aku je. Korang berdua la, saje je kan? Main sampai menjerit-jerit. Mana aku boleh tahan. Dah la Azli takde malam tu. Kalau tak, boleh gak dia memantat aku”, luah Farah sambil mereka berdua ketawa mengenangkan hal lama.
“Ala, sebab aku tau kawan aku ni cepat gersang la aku bagi. Bukan setahun dua aku kenal kau. Daripada ofis lama masa kita kerja sama-sama dulu pun title kau yang suka hisap batang tu kitorang dah tau. Dah berapa banyak batang kau sental kat sana, betul tak? Daripada duda, suami orang, tunang orang, boyfriend orang, sampai yang belum berpunya pun kau sapu. Semua kaler pun kau bedal. Itu yang malam tu suami aku geram sangat nak kau hisap batang dia. Aku tau Rafi tu dah lama nak rasa kau punya blowjob. So, sebagai isteri yang memahami, aku bagi la. Mithali tak aku?”, jelas Syahidah.
“Mithali la sangat. Macam nak kebas bila suami kau tu fuck mulut aku malam tu tau. Time aku hisap batang dia, kuat betul dia pegang kepala aku. Siap terketar-ketar lagi”, balas Farah.
“Itu la. Husband aku tu puas tau dapat pancut kat muka licin kau malam tu. Yang kau pulak dengan muka gersang boleh lagi jilat and telan air mani dia yang meleleh kat bibir. Paling aku tak sangka, dia panggil kau sayang pulak tu masa nak pancut. Siap berabang-abang lagi. Jelous aku”, usik Syahidah.
“Tak payah jelous sangat ok? Kau tak kira pulak sebelum suami kau pancut kat muka aku, bagai nak gila kau lenjan tetek and jilat puki aku? Teruk aku dikerjakan dek laki bini malam tu”, bela Farah.
“Ala kau ni. Macam tak biasa pulak. Kan kita dah biasa sama-sama horny kat asrama time sekolah dulu? Tiap-tiap malam kau ratah body aku ni. Selagi aku tak terpancut-pancut, selagi tu kau tak berhenti. Kira aku balas balik la malam tu”, tutur Syahidah.
“Balas balik la sangat”, ujar Farah dan masing-masing hanya ketawa.
“Hurm.. Tapi aku terfikir jap ni. Kalau adik kau tu request nak main dengan kau, nak bagi tak?”, tanya Syahidah tiba-tiba.
“What? Azel? Ishh, kau ni pun. Kan kitorang adik beradik? Mengarut je”, ujar Farah.
“Haha. Kakak adik pun, batang dia tebal tau. Kalau dia nak, baik kau kangkang je. Aku jamin dia boleh puaskan kau. Takkan batang Azli je kau nak baham seumur hidup? Tu namanya pengalaman. Aku kan expert hal-hal kelamin ni? Kalau tak, takkan melekat terus Rafi tu dekat isteri dia yang gebu ni? Walaupun aku tak boleh lawan blowjob kau, ok? Bapak dia pun lenjan aku kaw-kaw tau. Siap ketagih lagi dekat menantu dia ni. Pantang kalau kitorang balik kampung, memang habis orang tua tu kerjakan aku cukup-cukup. Kuat lagi bapak mertua aku tu. Orang kampung kan, umur dah 60 tahun tapi batang besar nak mampos. Kalah suami aku. Memang meraung-raung aku bila kena tala dengan bapak mertua sendiri. Nafsu mengalahkan anak dia yang memang dah sah-sah suami aku pulak. Aku ni dah jadi macam bini nombor dua orang tua tu je bila balik kampung. Tapi sedap tau, Farah”, usik Syahidah.
Farah hanya tergelak bersama Syahidah. Dia tahu dan faham benar dengan kegilaan teman baiknya itu terhadap zakar yang bersaiz besar dan zakar yang berdiameter tebal semenjak dari zaman persekolahan lagi. Namun, kegersangan Syahidah amat mendadak dan berlainan sekali petang itu. Selepas selesai segala urusan, Farah dan Nazel menuju ke lif untuk turun ke tingkat bawah.
“Lepas ni kita nak gi mana, Kak Uda?”, soal Nazel.
“Damansara. Tengok pelamin”, ujar Farah.
Farah berdiri bersebelahan Nazel di hadapan lif itu. Fikirannya masih mengulangi pemandangan yang dilihatnya di butik pengantin milik Azza. Sementara Nazel sedaya-upaya menahan asakan berahi yang bersarang di dalam dirinya kerana keindahan tubuh Farah yang memukau matanya di dalam butik itu tadi.
Sebaik pintu lif dibuka, keadaan hampir sesak. Nazel melangkah memasuki ruang hujung sudut kiri lif itu diikuti Farah. Lif menjadi amat sesak apabila pengunjung selepas mereka memasuki lif tersebut. Keadaan itu menyebabkan punggung Farah yang berseluar jeans ketat itu menekan kedudukan zakar Nazel yang berada di dalam seluar. Nazel tersentak seketika saat zakarnya ditekan punggung Farah. Belum surut ghairah yang dirasai di dalam butik tadi, kini nafsunya makin digoncang hebat dengan apa yang dirasainya. Zakar Nazel mengeras hebat mengenai punggung Farah yang bertubuh genit itu. Ketinggian kakaknya yang rendah sedikit dari dirinya jelas menghambatkan lagi rasa berahinya. Nazel menekan perlahan zakarnya kerana keasyikan yang dinikmatinya.
“Oh, Kak Uda.. Kalaulah lif ni kosong, Azel kekah terus Kak Uda kat dalam ni. Mana boleh tahan..”, getus Nazel di dalam hati.
Dada Farah makin bergoncang hebat kerana zakar Nazel menekan hebat punggungnya. Dari anggarannya, ternyata apa yang dikatakan Syahidah sedikit sebanyak memberi kesan kepadanya. Dia mencuba sedaya upaya untuk menahan gelora nafsu yang membadai dirinya di dalam lif itu berpunca daripada zakar adiknya yang semakin hebat menekan punggungnya.
Mereka menuju ke kawasan letak kereta sebaik tiba di aras bawah. Perjalanan menuju ke Damansara itu kerap pula diganggu oleh kesekakan lalu lintas. Pandangan mata Nazel sering dipalingkan ke luar tingkap. Getaran yang dirasainya jelas masih berbekas di dalam dirinya. Farah pula sesekali mencuri pandang pada seluar adiknya itu. Antara desakan ghairah dan realiti taboo hubungan mereka, benar-benar membuatkannya bercelaru. Dia mengakui secara senyap di dalam hati bahawa betapa bonjolan zakar Nazel sungguh menipiskan kesetiaannya memberikan tubuhnya hanya untuk tunangnya seorang. Sepanjang perjalanan menuju ke Damansara, farajnya kerap terkemut-kemut sendirian.
Kelengkapan dan persiapan pelamin sedang giat dilakukan ketika Farah dan Nazel tiba di kawasan yang dipilihnya bersama Azli. Perancang perkahwinan yang melihat kelibat Farah terus mendapatkannya dan rancak berbincang tentang peratusan persiapan pelamin. Nazel hanya memerhati lenggok tubuh kakaknya itu.
Hujung petang itu, perancang perkahwinan itu dan para pekerjanya meminta izin untuk pulang. Persiapan pelamin jelas telah hampir siap dan hanya memerlukan beberapa perincian sahaja lagi.
“So Farah, akak dengan staff-staff akak nak balik dulu. Pelamin dah siap, just nk kena touch up sikit-sikit je lagi”, tutur Noraida.
“Ok, Kak Ida. Farah pun puas hati semua dah nak siap. Takde lah huru-hara nanti”, balas Farah.
“Farah nak stay kejap ke? Kalau tak, akak nak kuncikan tempat ni.”, tanya Noraida.
“Ha ah. Farah stay kejap. Saja nak tengok sikit-sikit. Nanti nak balik, Farah kuncikan la”, luah Farah.
“Oh, oklah kalau macam tu. So, akak balik dululah ye”, balas Noraida.
Suasana menjadi lengang selepas Noraida dan para pekerjanya pulang menuju ke rumah masing-masing. Farah dan Nazel meninjau-ninjau sekeliling sekitar kawasan itu sambil membelek-belek segala persiapan pelamin.
“Macam mana, Azel? Ok tak?”, tanya Farah.
“Ok. Lawa gak pelamin tempat bersanding ni”, balas Nazel.
“Azel tak rasa macam over ke?”, tanya Farah kembali.
“Takdelah. Ala, bukan selalu Kak Uda kahwin pun. Dah nama pun first time wedding. Tak apalah over sikit-sikit”, tutur Nazel.
“Betul jugak. Ibu pun cakap macam tu. Agak-agak Azel, Kak Uda cantik tak nanti bila duduk atas pelamin tu?”, tanya Farah.
“Cantik la. Untung Abang Azli dapat kakak Azel ni. Kalau tak, takkan staff wedding planner tadi usya-usya Kak Uda masa nak balik tadi?”, luah Nazel.
“Iye ke? Apa yang untungnya? Kak Uda biasa-biasa je”, balas Farah sambil membelakangi Nazel.
“Untung la. Kak Uda muka licin, curves cantik, bontot bulat. Malam pertama nanti mesti Abang Azli kerjakan Kak Uda puas-puas”, bisik Nazel di telinga Farah sambil memeluk kakaknya itu dari belakang.
“Abang Azli dah rasa Kak Uda pun.. Takdenya malam pertama..”, balas Farah perlahan dengan dada yang berkocak laju.
“Oh.. Dah ye.. Kak Uda tak nak bagi Azel rasa pulak ke?”, bisik Nazel lembut di telinga Farah, menggoda kakaknya itu sambil mengeratkan lagi pelukannya.
“Azel nak ke..”, balas Farah sambil nafsunya di rangsang oleh zakar Nazel yang semakin membesar dan menekan punggungnya.
“Nak..”, balas Nazel perlahan.
Nazel mula meramas lembut peha Farah, cuba memancing kesempatan untuk terus menggoda kakaknya itu. Berduaan di tempat sebegini dengan tiada mata yang memerhati benar-benar melonjakkan lagi keinginannya. Farah sudah mula terkemut-kemut sendirian apabila tubuhnya disentuh begitu. Dia mulai karam di dalam belaian ramasan Nazel. Jelas, dia hanya mahukan adiknya membenamkan zakar itu ke dalam faraj milik kakaknya. Farah sudah tidak mampu lagi menempuh rangsangan demi rangsangan sejak mereka berada di butik pengantin lagi. Farah menonggek lentik apabila ramasan Nazel menjalar ke bahagian buah dadanya. Punggungnya menekan kuat kedudukan zakar Nazel menyebabkan adiknya itu meramas kasar buah dada Farah di sebalik T- shirt hitam yang dipakainya.
“Mantap Kak Uda ni..”, tutur Nazel sambil mencium pipi kakaknya bertalu-talu.
“Tak adalah.. Mana ada..”, balas Farah sambil tangan kanannya memeluk leher Nazel yang berada di belakangnya manakala tangan kirinya memegang erat jemari adiknya dalam keadaan melentik.
“Ni bontot sedap ni. Bontot mantap ni”, balas Nazel sambil menampar perlahan punggung Farah yang masih berseluar jeans.
“Oww.. Nakal la Azel ni.. Azel nak Kak Uda?”, goda Farah.
“Nak. Azel nak main Kak Uda. Tak tahan la”, balas Nazel pantas.
Farah terus memusingkan tubuh genitnya mengadap Nazel. Dia juga sudah kegersangan sepenuhnya petang itu. Bibir mereka saling berkucupan sambil Farah meramas-ramas zakar Nazel yang masih sedia terpacak di dalam seluar. Nazel pula meraba-raba rakus punggung kakaknya yang berseluar jeans itu. Dia tidak sabar untuk menjamah tubuh genit tunang orang merangkap kakaknya itu.
“Kerasnya batang Azel.. Horny betul Azel ni kat Kak Uda ye..”, tutur Farah sambil tangannya masih meramas-ramas zakar Nazel.
“Gila tak stim.. Kak Uda dah la mantap, muka licin, curves cantik, bontot bulat..”, puji Nazel sambil mencium leher Farah yang masih bertudung berwarna merah itu sementara tangannya masih setia meramas rakus punggung wanita itu.
Farah memejam mata seketika menghayati rangsangan yang diberikan oleh adiknya. Tunang orang itu sudah tidak mahu mempedulikan apa-apa melainkan hanya ingin menikmati zakar lelaki yang memuja dan memuji setiap inci tubuh genitnya itu, meskipun itu adalah adiknya sendiri. Perlahan-lahan, zip seluar Nazel dilorotkan ke bawah dan seluar dalam Nazel diturunkan oleh Farah. Kemudian, terpampanglah zakar yang mencuri pandangannya semenjak di dalam butik pengantin lagi. Hati Farah berdegup kencang melihat ketebalan zakar milik adiknya itu. Fikirannya dengan pantas kembali mengulangi nasihat sinis Syahidah.
“Azel punya gemuk la..”, terpacul sahaja dari bibir Farah tatkala dia memegang zakar Nazel.
Kulit tapak tangan Farah yang bersentuhan dengan zakarnya benar-benar mengasyikkan Nazel yang dilanda jutaan asakan nafsu. Dia sudah tidak peduli lagi. Tubuh genit tunang orang itu harus dinikmati semahu-mahunya hari ini juga. Dari gaya kakaknya itu memegang, menggenggam, dan melocok zakarnya, jelas Farah juga seakan memberikan isyarat betapa wanita itu juga menginginkan yang serupa.
“Takdelah.. Biasa-biasa je..Bestnya Kak Uda pegang batang Azel..”, luah Nazel.
Setelah Nazel menanggalkan kasutnya, Farah melucutkan seluar dan seluar dalam yang dipakai Nazel sehingga lelaki itu hanya berbaju sahaja di hadapannya. Zakar adiknya yang masih di dalam genggaman, jelas mengeras dengan maha hebat meminta untuk dilayani. Farah mencangkung di hadapan Nazel dan mengusap buah zakar dan zakar adiknya itu. Nazel diruntun kenikmatan bertalu-talu akibat sentuhan kakaknya itu. Bijak sungguh wanita genit itu bermain dengan asakan berahinya. Lidah Farah mula menyentuh kepala zakar Nazel. Sementelah itu, jilatannya terus menjalar ke seluruh zakar milik adiknya.
(Slurpp. Slurpp. Slurpp. Slurpp.)
“Uhh.. Kak Uda..”, Nazel meracau kecil di dalam kenikmatan menikmati jilatan kakaknya itu.
Melihat Nazel yang semakin diulit sensasi, Farah mula menghisap zakar lelaki itu. Zakar yang tebal itu memenuhi ruang mulutnya. Ini membuatkan dia makin bernafsu melahap zakar adiknya. Teknik hisapan Farah yang hebat benar-benar mendatangkan sensasi kepada Nazel. Setiap inci zakarnya dilahap oleh lidah dan mulut kakaknya dengan khusyuk dan rakus tanpa mengabaikan walau seinci pun ruang yang ada. Nazel berkali-kali mendesah enak tatkala Farah menambah tempo kepada teknik jilatan dan hisapan pada zakarnya. Apatah lagi, Farah menyonyot zakarnya seumpama anak kecil yang sedang menikmati minuman dari botol susu. Ternganga Nazel apabila dilayani dengan teknik yang sebegitu hebat. Kenikmatan hisapan pada zakarnya hari ini jauh lebih hebat dari yang pernah dialami bersama mak ciknya. Meluap-luap kejantanannya untuk memberikan rasa syahwat yang setara.
“Uhh, Kak Uda.. Sedapnya Kak Uda hisap.. Power giler..”, Nazel meracau perlahan memuji kehandalan Farah.
Di dalam hati, Farah bangga sendirian kerana dipuji adiknya itu. Pujian seperti itu memang selalu didengarinya daripada Azli. Tunangnya itu selalu memuji kebolehan dan tekniknya menghisap zakar setiap kali mereka berasmara di atas katil dan ketika Azli kegersangan sewaktu memandu kereta. Selalu juga Azli memancutkan benihnya ke muka Farah dan di dalam mulut tunangnya itu. Sebagai tunang yang patuh, Farah dengan rela membiarkan wajahnya dilumuri oleh benih Azli dan kadangkala menelan benih tunangnya yang dipancutkan ke dalam mulut. Begitu juga dengan ramai suami orang di tempat kerjanya yang sungguh ketagih zakar mereka dijamah oleh bibir dan mulut wanita genit itu.
Nazel mengusap perlahan pipi Farah yang sedang khusyuk melahap zakarnya. Wajah Farah yang putih dan licin, mata Farah yang kuyu memandang Nazel ketika asyik menghisap zakarnya benar-benar membuatkan Nazel makin bernafsu. Nazel memegang erat kepala Farah dan terus menghentak ruang mulut Farah dengan zakarnya. Tindakan Nazel itu menyebabkan Farah memegunkan kepalanya sambil tangannya memegang erat belakang peha adiknya itu. Mata Farah yang kuyu pula masih memandang Nazel yang sedang rakus melakukan face-fuck. Bibirnya mengemam erat zakar lelaki itu agar tidak terkeluar dari mulutnya.
(Plop! Plop! Plop! Plop! Plop!)
Nazel melajukan temponya sambil memandang muka kakaknya dengan penuh bernafsu. Tangannya memaut erat kepala Farah yang masih bertudung itu. Zakarnya dimasukkan ke dalam mulut tunang orang itu dalam-dalam.
“Uhh, Kak Uda.. Sedap jolok mulut Kak Uda.. Sedap..”, racau Nazel.
Nazel melajukan lagi tujahan pada mulut Farah sambil terdongak kenikmatan. Farah menahan asakan zakar adiknya yang menujah mulutnya dengan rakus. Wanita genit itu merasai betapa eratnya Nazel memegang kepalanya. Farah sendiri tidak menyangka bahawa Nazel akan kegersangan sehingga begitu rupa. Selepas beberapa ketika, Nazel memegunkan tujahan zakar pada mulut Farah dan membiarkan zakarnya berada di dalam mulut wanita genit itu seketika.
(Creet! Creet! Creet! Creet! Creet!)
“Uhh.. Sedapnya pancut dalam mulut Kak Uda..”, racau Nazel kemudian.
Nazel memancutkan benihnya dengan deras ke dalam mulut kakaknya. Farah pula menelan setiap benih Nazel yang laju memasuki mulutnya dengan penuh syahwat.
(Glup. Glup. Glup. Glup. Glup)
Selepas habis menelan kesemua benih yang berada di dalam mulutnya, Farah kembali menjilat zakar Nazel. Matanya yang kuyu masih memandang Nazel sambil kadangkala sesekali dipejamkan. Nazel menikmati jilatan lidah Farah di zakarnya. Tangannya mengusap-usap lembut pipi kakaknya. Jelaslah padanya mengapa Azli amat menggilai wanita genit itu. Kehebatan tunang Azli itu sukar disangkal. Jilatan demi jilatan yang dilakukan oleh Farah kepada zakarnya membuatkan nafsu Nazel kembali memuncak. Nazel membangunkan Farah seraya mencium pipi dan leher kakaknya dengan rakus.
“Sedap la air Azel..”, ujar Farah sambil meramas zakar Nazel yang sudah menegang kembali.
“Sebab Kak Uda power.. Pandai hisap pulak tu..”, puji Nazel.
“Ni batang Azel naik lagi ni.. Nak keluar lagi ke..”, balas Farah sambil menggenggam zakar Nazel.
“Tak puas kalau Azel tak dapat kongkek Kak Uda..”, bisik Nazel dan meramas rakus punggung Farah.
Nazel menanggalkan T-shirt hitam Farah dan melucutkan bra ungu wanita genit itu. Farah ingin menanggalkan tudung merahnya namun dihentikan Nazel.
“Jangan tanggalkan tudung tu. Azel nak Kak Uda pakai tudung. Baru best”, pinta Nazel.
“Hurm.. Boleh pulak?”, balas Farah.
Nazel tidak membalas dan memulakan jilatannya di leher Farah sambil tangannya asyik meramas celah kelangkang tunang orang itu. Terkemut-kemut Farah menahan asakan rangsangan adiknya. Zakar Nazel yang menegang hebat itu dirocohnya perlahan sambil menikmati layanan yang diberikan. Lidah Nazel mula hinggap ke buah dada kakaknya. Jilatan rakus mula direncanakan ke puting Farah. Bergetar-getar puting tunang orang itu apabila dijamah lidah Nazel. Wanita genit itu tergeliat kecil apabila dikerjakan sebegitu rupa. Farah memegang erat kepala Nazel dan mendekatkan lagi ke buah dadanya. Nazel terus menghisap buah dada kakaknya. Hisapan rakus Nazel benar-benar membuatkan Farah tidak keruan.
(Ermph! Ermph! Ermph! Ermph!)
“Uhh.. Azel.. Sedap.. Uhh.. Uhh..”, desah Farah.
Nazel mengemam erat buah dada Farah menggunakan bibirnya dan menyonyot deras buah dada kakaknya itu. Rasa sensasi yang memuncak terus melanda Farah. Farajnya terkemut bertalu-talu kerana rangsangan adiknya yang hebat. Buah dadanya yang putih jelas menjadi kemerahan kerana nyonyotan Nazel. Dalam kepalanya tersengguk-sengguk menahan nikmat, Farah memaut Nazel dengan erat. Lidah Nazel mula menjalar ke perut wanita genit itu. Dia ingin menjamah segenap inci tubuh tunang orang itu hari ini juga.Nazel mencangkung di hadapan Farah dan melucutkan seluar jeans yang dipakai Farah secara perlahan. Saat kancing seluar Farah dibuka, Nazel mencium kelangkang kakaknya yang masih berseluar dalam. Deruan syahwat Farah makin memuncak tatkala bibir Nazel menyentuh alat sulitnya. Nazel merangsang lagi skala nafsu Farah dengan menjilat kawasan kelamin wanita genit itu dengan tempo yang pantas.
(Slurp! Slurp! Slurp! Slurp! Slurp!)
Farah bertambah tidak keruan dengn layanan Nazel. Dia meramas-ramas rambut adiknya menahan asakan berahi itu. Seluar Farah dilurutkan melepasi paras peha dan jilatan Nazel menjalar ke bahagian peha mulus kakaknya. Putihnya peha Farah sesekali membuatkan Nazel geram dan lantas menggigit kecil peha tunang orang itu. Farah hanya melihat sahaja tindakan Nazel. Sungguh dia tidak menyangka sebenarnya bahawa adiknya itu bernafsu pada tubuh genitnya dan bersungguh-sungguh ingin menyetubuhi kakaknya sendiri. Farah tidak lagi ambil peduli kerana dia juga sudah berahi pada adiknya itu. Kasut, seluar jeans, dan seluar dalam yang dipakai Farah telah ditanggalkan sepenuhnya. Tubuh putih Farah bertelanjang bulat tanpa seutas benang pun. Nazel menatap seketika pemandangan yang disaksikannya kini.
“Geram la kat body Kak Uda. Putih, cantik. Buat Azel geram je”, puji Nazel yang masih dalam kedudukannya tadi sambil mendongak memandang Farah.
“Azel nak Kak Uda kan.. Pakai Kak Uda puas-puas hari ni..”, balas Farah sambil mengusap rambut Nazel.
Nazel tersenyum girang. Ciuman Nazel singgah ke peha Farah menuju ke faraj kakaknya itu. Bibir Nazel mula mengucup indah bulu faraj wanita genit itu yang memang sentiasa dipotong pendek dan dijaga rapi. Farah memejam mata menghayati rangsangan lelaki itu. Dia sendiri tidak sabar untuk ditunggang adiknya yang jelas kemaruk ingin meratah tubuhnya. Nazel memasukkan jari telunjuknya ke dalam faraj Farah yang semakin berair. Tangan kirinya masih setia meramas punggung tunang orang itu dengan rakus. Faraj Farah mengemut hebat jari adiknya yang meneroka ruang farajnya. Sesekali desahan kecil keluar dari mulutnya apabila tempo penerokaan jari Nazel mula bergerak dari perlahan kepada sederhana. Tidak cukup dengan itu, Nazel memasukkan pula jari tengahnya ke dalam faraj Farah untuk sama-sama menjalankan tugas bersama jari telunjuknya. Nazel melajukan penerokaan jarinya sambil mencium rakus perut kakaknya dan meramas kasar punggung wanita genit itu. Farah pula terdongak sambil mendesah dan memegang erat rambut adiknya kerana rangsangan jari Nazel yang meneroka farajnya.
“Ahh.. Ahh.. Ess.. Azel.. Ahh.. Ahh..”, rengek Farah.
Faraj Farah telah mula galak berair ketika Nazel mengeluarkan jarinya. Aura kegersangan jelas terpancar dari raut wajah kakaknya yang telah kemerahan. Nazel memegang erat punggung Farah dengan kedua tangannya dan menjilat rakus faraj wanita genit itu. Farah tersentak dengan perubahan tindakan Nazel dan memegang kepala adiknya dengan lebih erat. Kehangatan syahwat mula melanda Farah dengan lebih hebat. Lidah Nazel mula menjelajah ke dalam ruang faraj Farah.
(Slurp! Slurp! Slurp! Slurp! Slurp!)
Nazel membenamkan lidahnya ke dalam faraj kakaknya dengan lebih dalam dan menggandakan tempo permainan lidahnya di dalam faraj tunang orang itu. Tersengguk-sengguk kepala wanita genit itu apabila disimbah dengan ombak berahi yang maha deras kesan daripada tujahan lidah Nazel di dalam farajnya. Farah melentik hebat menikmati jilatan lidah adiknya yang melahap farajnya sambil tangannya meramas rakus rambut Nazel dan bibirnya tidak berhenti mendesah hebat.
“Ohh.. Ohh.. Azel.. Sedap Azel jilat.. Uhh.. Uhh…Kak Uda tak tahan..”, racau Farah.
Nazel kembali bangun dan mendakap Farah setelah selesai memberikan khidmat lidahnya. Farah mencium Nazel dengan rakus sambil merocoh zakar adiknya yang mengeras hebat menanti untuk mengabdikan diri pada lubang keramat kakaknya. Wanita genit itu menanggalkan baju yang dipakai Nazel dan mereka saling berciuman dengan ghairah sekali.
“Azel.. Please fuck Kak Uda.. Masuk batang ni dalam Kak Uda..”, tutur Farah perlahan pada Nazel sambil memandangnya dengan mata yang kuyu dan menggenggam erat zakar adiknya itu.
“Ye, Kak Uda. Azel pun dah tak tahan ni”, balas Nazel.
Pasangan kakak dan adik itu saling berpelukan dan berciuman dengan rakus serta ghairah sambil menuju ke sofa putih di hadapan mereka. Nazel membaringkan Farah di atas sofa putih itu. Bibirnya masih mengucup bibir kakaknya sementara jarinya menggentel faraj tunang orang tersebut. Wanita genit itu terkemut-kemut hebat dan tersentak-sentak menahan nikmat sementara tangan kanannya memaut kepala Nazel sambil tangan kirinya mencengkam dada adiknya itu. Keadaan mereka berterusan begitu selama beberapa detik.
“Kak Uda nak batang Azel..”, rayu Farah.
Nazel memegang perlahan zakarnya dan menyentuh permukaan faraj Farah yang mengangkang menanti untuk diterokai oleh zakar itu. Nazel menggeselkan zakarnya berkali-kali pada bibir faraj kakaknya, menguji tahap keterujaan wanita genit itu.
“Uhh.. Uhh.. Azel.. Jangan buat Kak Uda macam ni.. Uhh.. Uhh.. Kak Uda nak batang Azel.. Uhh.. Uhh.. Kat dalam.. Uhh.. Uhh.. Please, Azel..”, rayu Farah dengan wajah yang jelas dirundung nafsu.
“Saja je nak test”, Nazel membalas dan mencium pipi Farah.
“Jahat..”, tutur Farah yang kegersangan.
Nazel meluaskan kangkangan Farah dan mencium tapak kaki kakaknya itu serta menjilat tumit wanita genit tersebut. Perlahan-lahan zakarnya dihunus ke dalam faraj tunang orang yang telah kegersangan sepenuhnya di atas sofa putih itu. Farah menganga kecil apabila zakar adiknya memasuki ruang farajnya. Telahan Syahidah ternyata benar. Zakar Nazel memenuhi faraj Farah dan menghadirkan rasa sensasi yang lebih enak pada wanita genit itu. Farah mengemut rapat zakar adiknya yang perlahan-lahan menusuk farajnya.
“Azel.. Ahh..”, luah Farah.
“Huu.. Sempit lagi pantat Kak Uda ni rupanya..”, puji Nazel.
Tusukan zakar Nazel yang perlahan jelas menambah gelora asmara Farah. Pasangan kakak dan adik itu memejam mata dan mengerut dahi masing-masing serta mendesah kenikmatan saat faraj ketat dan zakar tebal milik mereka saling bersatu. Nazel menjilat-jilat buah dada Farah sambil masih mengayak perlahan zakarnya di dalam faraj Farah.
“Uhh.. Uhh.. Azel.. Sedap.. Uhh.. Uhh.. Sedap..”, desah Farah serta meramas belakang badan adiknya.
Nazel kemudian menghisap dan menyonyot buah dada kakaknya sambil menambah tempo tujahan zakarnya pada skala sederhana. Farah sedikit tersentak dengan peralihan rentak adiknya dan memaut erat tubuh Nazel. Deruan kenikmatan mula menujah hebat aura berahinya.
“Ahh! Ahh! Ahh! Azel.. Sedap.. Uhh! Uhh! Uhh!”, Farah merengek enak diratah adiknya sendiri di atas sofa putih itu.
Kulit Farah yang putih bertukar kemerahan apabila dihenjut Nazel. Wajah Farah yang kemerahan menahan nikmat sambil mata kuyunya selang seli terbuka dan tertutup serta kepalanya yang kerap ditoleh ke kiri dan kanan bersama desahan syahwat jelas merangsang nafsu Nazel. Nazel meletakkan kedua-dua kaki Farah ke atas bahunya dan terus menjolok rakus faraj tunang orang itu. Farah terus tersentak dengan kederasan tujahan adiknya dan meraung enak.
“Azel! Ohh! Ohh! Ohh! Ahh! Ahh! Ahhh!”, raung Farah.
“Sedapnya pantat Kak Uda.. Sempit lagi.. Kemut sedap.. Kak Uda rasa sedap tak..”, puji Nazel sambil memancing Farah.
“Ahh! Ahh! Ahh! Sedap, Azel! Sedap! Ahh! Ahh! Ahh! Penuh pantat Kak Uda! Ohh! Ohh! Ohh!”, balas Farah dalam raungannya.
“Rugi Abang Azli tak lenjan Kak Uda kaw-kaw.. Pandai hisap.. Pantat ketat.. Biar Azel henjut tunang dia ni puas-puas”, racau Nazel dalam kenikmatan menjamah faraj Farah yang mengemut kuat zakarnya.
“Azel! Ahh! Ahh! Ahh! Lagi, Azel! Lagi! Uhh! Uhh! Uhh! Henjut Kak Uda lagi! Ohh! Ohh! Ohh!”, rengek Farah.
Farah meraung kenikmatan kerana tusukan padu zakar Nazel yang meratah farajnya. Nazel menghenjut kakaknya dengan semahu-mahunya. Faraj Farah pula semakin kerap mengemut melewati hubungan asmara terlarang itu. Selepas beberapa tempoh menujah faraj wanita genit itu dengan rakus, Nazel mengeluarkan zakarnya dan mendudukkan Farah.
“Hisap batang Azel, Kak Uda..”, pinta Nazel.
Farah mencapai zakar Nazel dan menurut sahaja permintaan adiknya. Tunang orang itu melahap zakar Nazel dengan penuh khusyuk dan rakus.
(Ermph! Ermph! Ermph! Ermph!)
“Huuu.. Sedapnya, Kak Uda”, puji Nazel sambil memegang erat kepala Farah yang turun naik mengerjakan zakarnya.
Nazel kemudian membaringkan Farah secara mengiring di atas sofa putih itu. Tubuh belakang Farah yang menghadapnya benar-benar merangsang lagi nafsu lelaki itu. Nazel berbaring di belakang Farah sambil meraba buah dada wanita genit itu dan meramas-ramas peha serta punggung tunang orang itu. Farah makin terangsang tatkala Nazel mencium dan menjilat tengkuknya di sebalik tudung yang dipakainya. Nazel memegang zakarnya dengan tangan kiri dan menghalakannya ke arah faraj Farah dari belakang. Tanpa sebarang amaran, Nazel terus menujah faraj kakaknya dengan deras dan rakus.
“Ahh! Ahh! Ahh! Ohh! Ohh! Ohh! Azel.. Uhh! Uhh! Uhh!”, racau Farah.
“Huu.. Sedap pantat ni.. Sedap..”, Nazel memuji keenakkan faraj Farah sambil meratah lubang keramat kakaknya itu semahu-mahunya.
Farah melentik hebat apabila farajnya ditujah oleh adiknya dengan rakus. Tangannya menggenggam erat sofa putih itu menahan asakan zakar Nazel yang menggila menghenjut farajnya. Lentikan punggung Farah yang mengiring itu menambahkan lagi kerakusan Nazel. Faraj Farah yang mengemut hebat dalam keadaan tubuh yang melentik kerana dijolok zakarnya benar-benar mengasyikkan Nazel.
“Lentik lagi, Kak Uda.. Kak Uda kemut sedap bila lentik.. Azel nak loboskan pantat Kak Uda..”, rayu Nazel.
“Uhh! Uhh! Uhh! Ye, Azel.. Kak Uda lentik lagi.. Ahh! Ahh! Ahh! Henjut Kak Uda kuat-kuat.. Ohh! Ohh! Ohh! Azel.. Ahh! Ahh! Ahh!”, raung Farah.
Nazel melajukan lagi jolokan pada faraj Farah yang melentik pada paras maksimum itu. Raungan Farah terus kerap kedengaran seiring dengan henjutan zakar Nazel yang membedal rakus farajnya. Nazel menujah sedalam-dalamnya faraj Farah demi melempiaskan nafsu pada kakaknya itu. Ketika Nazel merasakan yang benihnya akan terpancut, Nazel mengeluarkan zakarnya dari faraj wanita genit itu, menggenggam dengan tangan kirinya, dan mencium bibir Farah dengan rakus.
“Azel dah nak pancut ke..”, tanya Farah.
“Sipi-sipi je nak keluar tadi.. Azel tak nak pancut lagi.. Belum puas henjut Kak Uda..”, balas Nazel dan mencium pipi tunang orang itu.
“Suka lenjan Kak Uda ye..”, balas Farah sambil tergelak kecil ketika memusingkan tubuhnya menghadap Nazel.
“Best main dengan Kak Uda. Azel tak tahan. Sedap”, tutur Nazel sambil mencium bibir wanita genit itu.
Pasangan kakak dan adik itu saling berkucupan dengan ghairah di atas sofa putih itu dan meraba serta meramas kemaluan satu sama lain. Nafsu mereka memuncak lagi ingin menikmati penyatuan alat sulit mereka. Farah masih berciuman bibir dengan Nazel sambil beranjak untuk berdiri. Perlahan-lahan, Nazel menuruti alunan tubuh Farah dan duduk di atas sofa itu. Farah mula mengucup segenap inci badan Nazel sambil membongkok dan bersimpuh di hadapan Nazel yang masih duduk sehingga kepalanya bersetentang dengan zakar adiknya. Tunang orang itu meramas lembut zakar Nazel yang masih lapar ingin menerobos farajnya. Kekerasan zakar Nazel jelas menghambat naluri gersang Farah sehingga faraj wanita genit itu terkemut-kemut sendirian.
“Kalau Kak Uda tau Azel horny sampai macam ni, dah lama Kak Uda ajak Azel main.. Pandai Azel henjut Kak Uda.. “, tutur Farah perlahan sambil masih meramas zakar adiknya.
“Sekarang kan Kak Uda dah tau.. Bagi Azel puaskan Kak Uda.. Biar Kak Uda tak boleh lupa Azel.. Huu..”, balas Nazel dan mengaduh kesedapan apabila Farah menggenggam zakarnya.
Farah menjilat zakar Nazel dengan penuh bernafsu sekali. Wajahnya kemerahan disimbah gelora berahi dan matanya yang kuyu memandang Nazel ketika asyik menghebatkan jilatannya pada zakar adiknya itu. Nazel memejam mata menahan nikmat kerana rangsangan kakaknya yang utuh mengerjakan zakarnya. Berkali-kali Nazel menyebut nama Farah dan memuji kemahiran tunang orang itu.
Selepas menyudahkan jilatannya, Farah menaiki Nazel dan menghalakan zakar adiknya tepat ke bibir farajnya. Dalam posisi duduk, Nazel melunjurkan kakinya agar Farah mudah menyesuaikan diri menunggang zakarnya di atas sofa putih itu. Faraj Farah berada di atas zakar Nazel dan bersedia untuk membaham zakar adiknya itu tatkala wanita genit itu meramas-ramas zakar Nazel. Nazel mengambil kesempatan itu dengan meramas rakus buah dada kakaknya itu dan menggentel puting buah dada Farah.
“Uhh.. Uhh.. Uhh..”, Farah mendesah kecil apabila diperlakukan begitu.
Farah yang berada di atas badan Nazel melenturkan tubuhnya dan mencium Nazel. Farajnya digesel-gesel ke atas zakar adiknya yang makin tidak keruan untuk menjamah kembali faraj Farah. Desahan demi desahan kecil terbit dari mulut Nazel.
“Kak Uda.. Azel tak tahan.. Nak masuk pantat Kak Uda..”, rayu Nazel.
“Kak Uda balas balik.. Kan Azel dera Kak Uda mula-mula tadi.. Tak tahan kan.. Macam tu la Kak Uda rasa..”, balas Farah sambil masih menggeselkan farajnya.
“Sorry, Kak Uda.. Azel tak buat lagi.. Bagi la pantat Kak Uda.. Azel nak pantat ketat Kak Uda..”, rayu Nazel lagi.
Farah mencium pipi Nazel dan bangkit dari lenggok lenturan tadi. Dia mengangkat farajnya dan memegang zakar Nazel yang menegang serta memimpin zakar itu menjelajah farajnya.
“Ahhhh..”, Farah mendesah tatkala zakar Nazel perlahan-lahan memasuki farajnya apabila dia melabuhkan punggungnya di atas Nazel.
“Huuu.. Sedapnya Kak Uda kemut..”, Nazel memuji jerutan faraj Farah pada zakarnya saat Farah berhenti seketika sewaktu zakar Nazel telah berada sepenuhnya di dalam farajnya dan mengemut-ngemut zakar itu.
Kemudian, Farah memulakan hayunannya mengerjakan zakar Nazel. Nazel merasai kenikmatan yang tiada tolok bandingan kerana ayakan Farah yang pantas dan kemutan faraj Farah yang hebat silih berganti membaham zakarnya. Desahan, rengekan, dan raungan Farah sudah semakin kerap kedengaran memenuhi ruang dewan itu. Mujurlah tiada sesiapa yang melalui kawasan dewan itu. Jika tidak, terpaksalah Nazel berkongsi meratah tubuh genit Farah bersama lelaki lain yang memang tidak akan melepaskan peluang mengerjakan Farah jika melihat tunang orang itu dihenjut dan mendengar suara Farah meraung hebat ketika diratah.
“Ahh! Ahh! Ahh! Sedap! Sedap! Ohh! Ohh! Ohh! Azel.. Azel! Uhh! Uhh! Uhh!”, raung Farah.
“Huu.. Best.. Kak Uda.. gelek..Kak Uda.. Kak Uda..”, tutur Nazel tersekat-sekat kerana dilanda kenikmatan dek hayunan dan kemutan Farah.
Farah melentikkan punggungnya di atas Nazel dan melajukan lagi kederasan hayunannya. Tindakan Farah menambahkan lagi kenikmatan yang dirasainya. Sesekali dia mendongak dan menghalakan wajahnya kepada Nazel dengan mata yang tertutup, kerutan dahi yang sentiasa menghiasi wajahnya dan desahan, rengekan, serta raungan yang tidak putus-putus hadir dari bibirnya. Farah mencengkam erat dada Nazel sehingga berbekas kerana penangan kejutan nikmat yang melanda dirinya bagai arus elektrik. Nazel pula memegang erat tapak kaki kakaknya, mendesah kenikmatan, dan melihat wajah putih dan licin Farah yang kemerahan dek asakan nafsu yang hangat membara pada wanita genit itu. Wajah tunang orang itu yang menahan deruan syahwat jelas kelihatan sangat cantik dan sempurna serta merangsangkan lagi Nazel untuk mengerjakan tubuh Farah sehingga kakaknya puas. Tatkala hayunan Farah sudah mula perlahan dan genggaman tangan Farah mula longgar, Nazel memaut punggung Farah dan menghenjut laju faraj kakaknya dari bawah. Farah tersentak kerana tusukan deras zakar adiknya dan kembali meraung enak.
“Azel! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah.
“Ambik, Kak Uda! Ambik lagi! Huu! Sedap pantat tunang orang ni! Sedap pantat Kak Uda ni!”, racau Nazel.
“Yes! Yes! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Ahh!!”, Farah meraung lagi.
Farah membaringkan badannya dan meletakkan mukanya di atas dada Nazel. Wanita genit itu menguatkan diri membuat lovebite pada dada Nazel dalam menahan nikmat dek hentakan padu zakar Nazel pada farajnya. Momentum gigitan cinta Farah merakuskan lagi tujahan Nazel dan makin deras jolokan zakarnya pada faraj Farah. Selesai gigitan cintanya, Farah memeluk erat adiknya yang menyudahkan henjutannya namun masih belum menampakkan tanda akan menghamburkan benihnya.
“Azel.. Sedap la Azel henjut Kak Uda.. Pandai Azel main..”, puji Farah yang masih bernafsu.
“Kan Azel cakap nak bagi Kak Uda puas.. Azel kekah la Kak Uda kaw-kaw..”, balas Nazel.
“Sayang adik Kak Uda ni”, sahut Farah dan pasangan kakak dan adik itu berciuman dengan ghairah sekali di atas sofa putih itu.
Mereka berdua bangun dari sofa itu dan berdiri sambil berpelukan erat serta bibir mereka saling bertaut. Malah, Farah dan Nazel meramas-ramas alat sulit antara satu sama lain. Nazel memusingkan Farah supaya kedudukannya dapat membelakangi kakaknya itu sementara Farah menghadap sofa putih di hadapan mereka itu. Nazel meletakkan tangan kanannya di atas tubuh Farah dan menekan tubuh wanita genit itu ke bawah. Fahamlah Farah keinginan Nazel dan tunang orang itu terus melentikkan punggungnya serta merendahkan kepala, juga bahagian atas tubuhnya. Farah meluruskan kakinya agar lentik punggungnya dapat dijamah dengan pandangan Nazel yang penuh dengan nafsu serakah. Farah tahu benar yang adiknya itu amat geram pada lentikannya. Nazel mengusap-usap punggung Farah yang melentik tinggi dengan kaki diluruskan. Keindahan tubuh kakaknya jelas kelihatan apabila berada di dalam posisi itu sambil menunduk. Nazel terus menjilat faraj Farah yang kelihatan menawan itu. Farah mendesah kecil, mengetap bibir, dan mengepal kedua-dua jemarinya pada kedua-dua lututnya menyelusuri kenikmatan farajnya dijilat Nazel.
(Slurp! Slurp! Slurp! Slurp! Slurp!)
“Ess.. Ess.. Azel.. Ahh.. Ahh..”, desah Farah.
Nazel kembali berdiri membelakangi Farah dan menyilangkan kedua-dua tangan kakaknya di atas paras punggung wanita genit itu. Nazel kemudian mengunci kedua-dua tangan tunang orang itu dengan tangannya. Farah meninggikan lagi lentikan punggungnya demi menggoda Nazel agar kembali menujah farajnya. Kedua-dua kakinya juga dijingkitkan agar menambahkan lagi keberkesanan visual rangsangan seksualnya. Nafsu serakah Nazel makin meluap-luap melihat kesempurnaan Farah. Makin bertambah deruan adrenalin Nazel untuk meratah tubuh tunang orang itu.
“Azel.. Suka tak Kak Uda lentik macam ni.. Cepat la henj..”, godaan Farah terhenti apabila Nazel terus menghenjut faraj tunang orang itu dari belakang dengan rakus dalam keadaan berdiri tanpa membenarkan kakaknya itu menghabiskan ayat.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Azel! Ahh!! Ahh!!”, raung Farah.
Nazel menghenjut Farah yang melentik dalam keadaan berdiri sambil kedua-dua kakinya yang dirapatkan menginjit-injit ketika dijolok Nazel bertalu-talu. Posisi Farah itu menyebabkan Nazel mendesah enak kerana faraj Farah dirasakan amat ketat dari sebelumnya sementara Farah tidak henti-henti meraung nikmat kerana zakar Nazel dirasakan menerobos jauh ke dalam farajnya. Farah tidak dapat bergerak memaut apa-apa kerana kedua-dua tangannya dikunci erat oleh tangan Nazel. Hanya kemutan farajnya dan raungannya sahaja yang mampu dilakukan kerana dikerjakan adiknya yang bernafsu pada tubuh genit kakaknya. Tujahan zakar Nazel masih tidak menampakkan tanda surut meskipun Farah telah meluaskan kakinya agar imbangannya lebih stabil menahan asakan deras zakar Nazel. Malah, Nazel makin melajukan lagi tujahannya sehingga Farah merasai kepuasan maksimum dihenjut sebegitu rupa.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah lagi.
“Kak Uda.. Azel nak pancut dalam.. Boleh tak..”, tanya Nazel sambil masih menghenjut Farah.
“Jangan, Azel.. Uhh! Uhh! Uhh! Kak Uda.. Belum ready.. Ahh! Ahh! Ahh! Nanti Kak Uda.. Ohh! Ohh! Ohh! Mengandung kalau.. Ahh! Ahh! Ahh! Azel pancut.. Uhh! Uhh! Uhh! Dalam pantat Kak Uda.. Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, Farah membalas dalam kenikmatan dijolok Nazel, namun Nazel melajukan lagi henjutannya di hujung jawapan Farah.
Meskipun Farah sedikit bimbang jika Nazel memancut di dalam farajnya, kenikmatan dihenjut adiknya bertalu-talu masih menebal dan dirasai wanita genit itu. Setiap saat, detik, mahupun waktu sepanjang farajnya dijolok dan dihentam dek zakar Nazel dengan rakus lagi deras, tidak langsung menghilangkan desahan, rengekan, raungan tunang orang itu. Dalam keadaan yang masih berdiri bersama kaki yang diluaskan, Farah telah memaksimumkan lentikan punggungnya hingga menyebabkan kederasan hentakan zakar Nazel pada farajnya dari belakang bertambah. Kepuasan dan kenikmatan yang dirasai Farah ketika ini amat memuncak hingga tunang orang itu mendongak ke atas sambil memejam mata, mengerut dahi direnjat enak, dan mulutnya menganga meraung kenikmatan meskipun kedua-dua tangannya yang berada di belakang di atas paras punggungnya masih dikunci oleh tangan Nazel.
“Uhh!! Uhh!! Uhh!! Azel! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Sedapnya Azel henjut! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah.
“Kak Uda sedap.. Huu! Azel suka dapat Kak Uda.. Azel nak Kak Uda.. Huu!”, racau Nazel.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Azel.. Uhh! Uhh! Uhh! Jangan pancut dalam.. Ohh!! Ohh!! Ohh!! Pancut dekat muka.. Uhh! Uhh! Uhh! Tak pun dalam.. Ohh! Ohh! Ohh! Mulut Kak Ud.. Ahh!! Ahh!! Ahh!!”, rayu Farah dan dihenjut dengan lebih rakus serta deras oleh Nazel sebelum sempat menghabiskan ayatnya.
Nazel kemudian membawa tubuh kakaknya terperosok meniarap di atas sofa putih di hadapan mereka sambil masih menghenjut faraj wanita genit itu dari belakang. Sebaik sahaja badannya menghimpit tubuh tunang orang yang tertiarap itu, Nazel memegunkan zakarnya yang masih berada di dalam faraj Farah. Dek kerana rayuan Farah yang tidak membenarkan Nazel memancut ke dalam farajnya, Nazel mula mendapat satu idea untuk melempiaskan hajatnya. Nazel tetap ingin menghamburkan benihnya di dalam tubuh kakaknya. Dia merasa amat rugi sekiranya hanya dapat memancut ke muka mahupun di dalam mulut wanita genit itu sahaja setelah dia dapat meratah tubuh tunang orang itu buat pertama kali. Nazel mengucup pipi dan mencium bibir Farah sambil zakarnya masih memegun di dalam faraj kakaknya.
“Kenapa Azel berhenti.. Marah Kak Uda ye.. Uhh.. Sorry, Azel.. Kak Uda bukan tak suka kalau Azel pancut dalam.. Ess.. Cuma kalau Kak Uda mengandung nanti.. Susah Kak Uda nak cover.. Ahh.. Abang Azli tu tak pernah pancut dalam.. Kalau keluar baby nanti.. Payah pulak nak menjawab.. Ess.. Jangan marah Kak Uda ye.. Uhh..”, jelas Farah dengan lebar sambil menahan rangsangan Nazel yang mencium pipinya, menjilat lehernya, dan menggerakkan zakar yang masih berada di dalam farajnya.
“Azel tak marah.. Tapi Azel tak tahan kat Kak Uda.. Dah la muka licin, badan cantik, bontot pejal, kaki pun seksi.. First time Azel dapat fuck Kak Uda ni.. Rugi kalau pancut luar..”, balas Nazel yang telah mengeluarkan zakarnya dan menembab alur punggung Farah.
“Nak tembak Kak Uda jugak ye.. Azel nak pancut mana kalau keluar nanti.. Kat muka Kak Uda, Azel tak nak.. Kat dalam mulut Kak Uda pun Azel tak nak kan.. Kalau dalam pantat Kak Uda ni, Kak Uda belum boleh bagi lagi.. Cuba Azel bagitau Kak Uda..”, luah Farah sambil memegang erat jemari adiknya.
Nazel memeluk erat Farah yang meniarap di atas sofa putih itu sambil menekan kuat zakarnya pada alur punggung kakaknya. Ciumannya singgah di bibir Farah dan dibalas oleh wanita genit itu. Selepas beberapa ketika, Nazel mendekatkan bibirnya pada telinga Farah.
“Azel nak pancut dalam bontot Kak Uda..”, bisik Nazel.
“Azel nak main bontot Kak Uda ke?”, luah Farah dengan mata yang terbeliak sedikit kerana terkejut dengan permintaan Nazel.
Sepanjang Farah menikmati hubungan seks dengan tunangnya, punggungnya tidak pernah diterokai oleh Azli. Paling kurang pun jika di dalam haid, hanya pancutan benih yang akan melumuri wajahnya atau pun di dalam mulutnya. Begitu juga dengan suami-suami orang yang menagih blowjob yang enak dari wanita genit itu. Tunangnya juga hanya melenjan faraj ketatnya sahaja selain dahagakan hisapan Farah pada zakarnya. Farah memusingkan badannya dan duduk di atas sofa putih itu sambil Nazel duduk di sebelahnya dengan zakar yang keras terpacak. Farah menatap wajah Nazel yang mengharap dan zakar adiknya yang menegang menanti untuk mengerjakan punggungnya.
“Kak Uda tak pernah kene main bontot. Kak Uda takut nanti sakit sangat. Dah la batang Azel ni gemuk. Baru masuk dalam pantat pun Kak Uda dah menjerit separuh gila, lagi pulak kalau masuk dalam bontot? Meraung-raung Kak Uda kalau kena”, tutur Farah sambil memegang dan meramas zakar Nazel.
“Mula-mula je sakit. Lepas tu Kak Uda rasa sedap punya. Sama macam mula-mula Kak Uda main dengan Abang Azli la. Lama-lama, Kak Uda pun rasa sedap sampai dah pro kan? Tu yang power giler Kak Uda blowjob. Rasa nak tercabut batang Azel ni. Sedap betul”, luah Nazel dan mencium pipi Farah.
“Azel!”, balas Farah spontan mencubit peha Nazel sambil pipinya merah padam diusik adiknya itu.
“Aduhh”, teriak Nazel perlahan sambil mengusap pehanya.
“Padan muka. Sapa suruh kenakan Kak Uda”, balas Farah sambil mengusap manja peha Nazel yang dicubit dan menggenggam zakar adiknya itu.
“I love you, Kak Uda..”, tutur Nazel perlahan dan mencium pipi kakaknya sambil memegang tangan Farah yang masih menggenggam zakarnya.
“I love you too..”, balas Farah dan menatap mata Nazel yang memandangnya.
Farah dan Nazel berciuman lagi di atas sofa putih itu. Kali ini lebih rakus dan ghairah. Punggung Farah diramas dan diraba penuh bernafsu oleh Nazel. Buah dada Farah habis dikerjakan semahu-mahunya hingga wanita genit itu mendesah-desah kenikmatan.
“Kak Uda.. Boleh tak Azel nak main belakang ni.. Yang depan, Abang Azli dah rasmi dulu.. Bagi la Azel pecahkan dara jubur Kak Uda..”, rayu Azel sambil menjilat buah dada kakaknya.
“Ye, Azel.. Kak Uda bagi.. Tapi pelan-pelan tau.. Kak Uda tak pernah kena kat bontot..” balas Farah yang memutuskan untuk memenuhi hajat Nazel yang dahagakan punggungnya.
Nazel makin bersyahwat kerana Farah memberi lampu hijau. Nazel bingkas bangun dan menonggengkan Farah di atas sofa putih itu. Farah melentikkan punggungnya tinggi di dalam posisi itu dan menyebabkan Nazel semakin tidak keruan. Dengan bentuk punggung Farah yang sempurna dalam tonggengan hebat, lubang dubur kakaknya seakan menggoda Nazel untuk menjelajah segenap ruang yang ada.
“Perghh.. Menarik..”, tutur Nazel perlahan dan meramas punggung Farah.
Nazel duduk di belakang Farah yang sedang menonggeng dan lidahnya menjulur ke alur punggung wanita genit itu. Kedua-dua tangannya pula menguak punggung tunang orang yang sedikit kegelian apabila lubang duburnya pertama kali dijelajahi oleh lidah adiknya. Nazel asyik menjilat lubang dubur kakaknya dan menjolok lubang Farah itu dengan lidahnya secara deras. Bernafsu benar Nazel ingin memecahkan dara punggung Farah yang tidak pernah dinodai oleh sesiapa pun sebelum ini. Farah pula telah dapat menyesuaikan diri dengan kehadiran lidah Nazel yang menjamah lubang duburnya. Tunang orang itu mendesah kecil sebaik mula merasai kenikmatan akibat permainan lidah Nazel yang berterusan mengerjakan punggungnya.
(Slurp! Slurp! Slurp! Slurp! Slurp!)
“Uhh..”, desah Farah.
Nazel menyudahkan khidmat lidahnya dan menampar-nampar perlahan punggung Farah. Geramnya makin bertambah melihat punggung kakaknya yang kemerahan kerana ditampar perlahan. Tangan kiri Nazel memegang, meramas, dan menguakkan punggung Farah yang masih melentik dalam posisi menonggeng. Nazel kemudian perlahan-lahan memasukkan jari telunjuk kanan ke dalam dubur Farah. Wanita genit itu menggenggam perlahan sofa yang menjadi alas tonggengannya dan mendesah tatkala Nazel menggerakkan jarinya yang berada di dalam dubur tunang orang itu. Zakar Nazel yang sedia terpacak itu tersengguk-sengguk bersama desahan kakaknya yang hanyut dengan permainan jarinya di dalam dubur yang belum pernah dinikmati oleh sesiapa. Nazel dapat merasa betapa dubur Farah mengemut-ngemut jari telunjuknya yang sedang membaham punggung kakaknya itu. Selepas Farah mula selesa dengan henjutan jari telunjuk Nazel di dalam duburnya, Nazel memasukkan pula jari hantunya ke dalam punggung wanita genit itu untuk sama-sama beroperasi dengan jari telunjuknya. Tunang orang itu tersengguk-sengguk, mengemut-ngemut deras, dan mendesah-desah dengan kehadiran dua jari yang mengerjakan duburnya dengan Nazel meningkatkan tempo jolokan jarinya pada punggung kakaknya itu.
“Ohh..”, Farah mendesah lagi.
Nazel tidak mahu gelojoh menghenjut punggung Farah walaupun sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk meliwat kakaknya itu. Nazel tidak mahu wanita genit itu merasa trauma selepas punggungnya dihenjut buat pertama kali nanti. Nazel inginkan tunang orang itu ketagih punggungnya dijolok berkali-kali sekiranya rancangan yang telah dipersetujui itu berjaya. Dia ingin sentiasa dapat meratah tubuh kakaknya berterusan dengan kerelaan wanita genit itu.
Selepas menyudahkan permainan jari-jarinya, Nazel berdiri di belakang Farah yang masih menonggeng di atas sofa putih dan melekapkan zakarnya yang menegang itu ke alur punggung tunang orang itu. Farah yang melentik di atas sofa melurut-lurut zakar adiknya dengan punggungnya. Nazel melihat dan merasai kenikmatan apabila punggung kakaknya yang melentik, turun naik melurut zakarnya. Nazel meramas-ramas peha wanita genit itu sambil Farah asyik dengan lurutan punggungnya pada zakar adiknya itu. Tanpa disedari, tunang orang itu rupanya semakin menikmati kehadiran zakar di punggungnya dan turut sama mendesah bersama Nazel yang dari tadi memuji lurutan punggung kakaknya itu.
“Huu.. Kak Uda.. Sedap la bontot Kak Uda turun naik kat batang Azel..”, puji Nazel.
“Ess.. Rasa best batang Azel tekap bontot Kak Uda.. Ahh..”, balas Farah.
Nazel kemudian memaut punggung Farah dan menekan hebat zakarnya pada alur punggung kakaknya itu. Lurutan punggung wanita genit itu terhenti namun masih melentik dan Nazel menggesel-geselkan zakarnya yang keras pada alur punggung tunang orang itu secara menaik dan menurun. Nazel meluah kenikmatan berkali-kali sambil menekapkan badannya pada belakang tubuh Farah dan meramas rakus buah dada kakaknya serta memeluk erat tubuh wanita genit itu.
“Huu.. Sedapnya celah bontot Kak Uda.. Tak sia-sia Azel mintak nak main jubur bakal bini Abang Azli ni.. Huu.. Kak Uda sayang..”, puji Nazel sambil mencium tengkuk Farah yang masih bertudung itu.
“Uhh.. Azel nakal..”, luah Farah yang suaranya tersangkut-sangkut melayani geselan rakus zakar Nazel pada alur punggungnya.
Nazel kemudian memberhentikan geselannya dan berdiri belakang Farah yang merapikan tonggengannya di atas sofa putih itu. Nazel sudah bersedia untuk meliwat kakaknya. Tapak tangan kanannya menyentuh pinggang wanita genit itu dan tangan kirinya membelai zakarnya yang akan menerobos dubur tunang orang itu. Farah melentikkan lagi punggungnya, merangsang nafsu adiknya itu sebelum dia diliwat Nazel sebentar lagi. Genggaman tapak tangan Nazel yang kian mencengkam pada punggungnya sudah cukup memberikan isyarat bahawa adiknya itu benar-benar bernafsu ingin meliwatnya. Farah tahu bahawa Nazel akan mengerjakan punggungnya sepuas-puas hati. Nazel kemudian meludah kecil ke lubang punggung kakaknya. Farah pasrah dan rela.
Perlahan-lahan, zakar Nazel mula menjengah punggung Farah. Sewaktu kepala zakar memasuki lubang duburnya, Farah masih lagi tenang di atas sofa putih itu, menonggeng dan melentik. Saat suku zakar Nazel melewati duburnya, Farah mula mengetap bibir, mencengkam erat bantal sofa sambil kakinya terketar-ketar dan melingkari kaki adiknya. Lubang duburnya mengemut zakar Nazel dengan erat.
“Fuhh.. Ketatnya..”, luah Nazel kenikmatan kerana pertama kali meliwat punggung perempuan.
Nazel membiarkan seketika zakarnya di dalam dubur Farah dan mengusap lembut punggung kakaknya. Dia tahu bahawa wanita genit itu mencuba sedaya upaya untuk menyesuaikan diri dengan kehadiran zakarnya di dalam dubur. Dari kemutan punggung Farah yang kerap mencengkam zakarnya, Nazel tahu betapa tunang orang itu berusaha sebaik mungkin. Nazel memajukan lagi zakarnya perlahan. Sewaktu separuh zakarnya memasuki dubur Farah, tunang orang itu memegang pergelangan tangan kanan Nazel yang memaut punggungnya.
“Sakitt..”, luah Farah dengan tangan yang terketar-ketar.
Nazel berhenti seketika dari meneruskan gerakan zakarnya dan membelai lembut punggung kakaknya. Nazel menggerakkan zakarnya yang memegun di dalam dubur Farah. Sekali zakarnya digerakkan, bertalu-talu punggung wanita genit itu mengemut. Jerutan dubur tunang orang yang mencengkam zakarnya benar-benar membuatkan Nazel merengus kenikmatan. Perlahan-lahan, Nazel mengeluarkan zakarnya dari dubur kakaknya. Farah masih menonggeng di atas sofa putih itu selepas adiknya itu selesai mengeluarkan zakarnya. Tangan wanita genit itu terketar-terketar dan menggenggam erat sofa yang menjadi alasnya. Tunang orang itu mencuba untuk menggagahkan diri dek pengalaman yang baru dirasai itu. Duburnya terasa hangat kerana baru diterokai oleh zakar adiknya.
“Kak Uda ok?”, tanya Nazel perlahan.
Tiba-tiba rasa hangat yang dirasai Farah pada duburnya terus merebak ke seluruh punggungnya. Farah terus berguling-guling ke kiri dan kanan di atas sofa putih itu sambil memegang punggungnya.
“Arghh.. Pedih.. Pedih..”
Farah bingkas bangun selepas gulingannya tidak juga meredakan rasa hangat yang meledak pada punggungnya. Farah menjongket rendah dan mundar-mundir di hadapan Nazel sambil mengibas-ngibas punggungnya. Nazel yang melihat kakaknya tidak keruan, mendekati dan memeluk erat wanita genit itu. Tangan kanannya mengusap kepala Farah yang masih bertudung dan tangan kirinya memegang lembut punggung tunang orang itu. Farah juga membalas pelukan Nazel dan memeluk adiknya itu. Kepalanya diletakkan di dada Nazel.
“Azel.. Bontot Kak Uda rasa pedih.. Pedih sangat..”, tutur Farah.
“Iye, Kak Uda. Azel nampak. First time memang pedih, sayang..”, balas Nazel sambil mengusap lembut punggung kakaknya.
“Azel la ni.. Batang gemuk sangat.. Sakit bontot Kak Uda tau..”, jawab Farah dan memegang zakar Nazel yang masih keras dan tegang selepas pedih pada punggungnya mula berkurangan.
“Aik? Tadi kata pedih? Ni pegang batang Azel pulak?”, usik Nazel.
“Dah kurang. Kak Uda suka batang Azel. Sedap, sayang..”, ujar Farah.
“Kak Uda boleh lagi tak ni? Ke nak berhenti je?”, tanya Nazel sambil tersenyum nakal.
“Tak nak. Azel yang first jolok bontot Kak Uda tau. Azel jugak yang mesti habiskan. Kak Uda nak batang ni pancut dalam bontot Kak Uda”, tegas Farah perlahan.
Nazel tersenyum dan mencium bibir kakaknya. Farah pula membalas ciuman itu sambil menggenggam erat zakar adiknya. Nazel memimpin Farah ke sofa dan mendudukkan wanita genit itu. Tunang orang yang memahami tindakan Nazel terus menonggeng dan melentik di atas sofa putih itu. Nazel menggeselkan zakarnya pada alur punggungnya dan memasukkan zakarnya ke dalam dubur Farah perlahan-lahan tanpa henti sehingga melepasi sedikit paras yang ditinggalkan sebelum itu.
“Ahhh..”, desah Farah sambil memaut erat sofa.
Nazel kemudian perlahan-lahan mengeluarkan zakarnya kembali. Selepas itu, Nazel bermula kembali kepada asas secara perlahan-lahan.
Masuk kepala, keluar. Masuk suku, keluar. Masuk separuh, keluar. Masuk penuh, keluar.
Nazel mengulangi kembali langkah-langkah itu berkali-kali sambil memegang lembut punggung kakaknya. Keadaan itu berterusan selama beberapa minit. Farah telah mula dapat menyesuaikan diri dengan pergerakan zakar Nazel di dalam duburnya di sepanjang minit-minit itu. Tubuh wanita genit itu sudah kurang menggigil dan pautan tunang orang itu pada sofa berlegar pada skala erat dan longgar. Farah semakin menikmati tebukan zakar pada punggungnya dan mendesah enak merasai saat diliwat.
“Uhh.. Lagi, Azel.. Kak Uda nak lagi.. Ahh.. Buat Kak Uda jerit, sayang.. Ohh..”, rayu Farah.
Nazel mengeluarkan zakarnya dan memeluk serta mencium belakang tubuh Farah yang sedang menonggeng. Nazel kemudian membetulkan kembali posisinya dan menampar halus punggung Farah dengan zakarnya. Farah melentikkan lagi tonggengannya ketika Nazel telah bersedia untuk meneruskan meliwat kakaknya itu. Dengan sekelip mata,
(ZAPP !!)
Zakar Nazel terus menerjah dubur Farah dengan kederasan yang sederhana. Wanita genit itu terkial-kial memaut sofa dengan erat dan kepalanya terdongak sambil mata tunang orang itu terpejam saat duburnya dihenjut zakar adiknya sendiri. Farah meraung kenikmatan diliwat di atas sofa putih itu dalam posisi menonggeng. Punggungnya melentik seiring dengan raungannya yang memenuhi ruang dewan itu.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”
Nazel menghenjut laju dubur Farah. Kepalanya terdongak, matanya terpejam, dan mulutnya ternganga kenikmatan meliwat kakaknya. Kemutan dubur wanita genit itu yang menjerut zakarnya amat mengasyikkan dan membakar lagi nafsunya. Raungan tunang orang itu pula kedengaran amat seksi sekali. Nazel memandang ke bawah dan melihat bagaimana zakarnya menujah punggung pejal Farah. Dubur Farah yang membaham zakarnya yang tenggelam timbul menghenjut punggung kakaknya itu dirasakan pemandangan yang paling indah. Nazel melajukan lagi jolokannya pada dubur Farah sambil meramas rakus dan menampar punggung wanita genit itu. Raungan tunang orang itu semakin kerap dan memang memberahikan.
“Azel! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Henjut bontot Kak Uda lagi! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Henjut kuat-kuat, sayang! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Biar koyak bontot Kak Uda kena batang Azel! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, racau dan raung Farah.
Nazel menghenjut laju dubur Farah yang karam dalam kenikmatan diliwat. Melengkung tubuhnya dalam menonggeng kerana menahan asakan zakar Nazel yang membedal rakus duburnya. Lentikan Farah jelas menaikkan lagi punggungnya yang pejal dan merangsang Nazel dengan lebih berahi. Nazel menarik tudung merah Farah sehingga wanita genit itu terdongak dan meliwat tunang orang itu dengan lebih deras. Keadaan itu menyebabkan punggung Farah lebih melentik dan merasakan yang zakar adiknya itu menerobos lebih jauh ke dalam duburnya. Raungan Farah, desahan Nazel, dan bunyi kulit pasangan kakak dan adik yang saling bersentuhan itu menghiasi segenap ruang dewan.
“Arghh! Sedapnya dapat jolok bontot kakak sendiri!”, racau Nazel yang mendongak kenikmatan meliwat Farah.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Yes! Yes! Ohh!! Oh!! Ohh!! Azel! Ahh!! Ahh!!Ahh!! Yes! Yes! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah yang juga terdongak kerana tudung yang berwarna merah yang dipakainya ditarik Nazel dari belakang.
Selepas lama berada dalam posisi itu, Nazel mengeluarkan zakarnya dan menelentangkan Farah. Kedua-dua kaki Farah ditarik dan Nazel memegang dan mencium kedua-dua tapak kaki kakaknya. Kemudian, Nazel meletakkan zakarnya di antara kedua-dua tapak kaki wanita genit itu dan menggeselkannya pada zakarnya. Nazel mendesah enak kerana geselan kulit tapak kaki tunang orang itu dan kulit zakarnya memberi kenikmatan yang meledak. Farah bernafsu melihat Nazel mendongak dan mendesah kenikmatan kerana geselan kedua-dua tapak kakinya, tidak menyangka yang adiknya itu sungguh bernafsu pada segenap inci tubuhnya. Perasaan sayang Farah pada Nazel makin membuak-buak.
Selepas Nazel menghentikan geselan, Farah menggenggam zakar Nazel dan menjilat serta menghisap zakar adiknya itu. Matanya memandang Nazel yang berdiri dengan pandangan syahwat. Nazel memegang erat kepala Farah yang menghisap zakarnya dengan penuh bernafsu.
(Slurp! Slurp! Slurp! Slurp! Slurp!)
“Huu.. Sedap Kak Uda.. Sedap..”, puji Nazel.
Nazel membaringkan Farah di atas sofa putih itu sambil mereka saling berciuman dengan penuh ghairah. Kemudian, Nazel mengangkangkan kedua-kedua kaki kakaknya dan meletakkan pada paras dada wanita genit itu. Farah memaut bahagian belakang lututnya. Nazel dapat melihat dubur tunang orang itu terkemut-kemut dengan jelas. Nazel tersenyum nakal dan memandang Farah.
“Kak Uda tak sabar ye nak rasa lagi batang Azel kat dalam bontot?”, usik Nazel.
“Azel! Mana ada la.. Kan Kak Uda tengah kangkang luas ni.. Tak boleh control..”, jawab Farah dengan pipi yang kemerahan padahal dia sudah dapat mengagak yang Nazel akan meliwatnya dalam posisi itu.
Belum sempat Nazel memasukkan zakarnya, telefon di dalam poket seluar jeans milik Farah berdering. Nazel mengeluarkan telefon itu, memandang skrin, dan menghulurkan kepada Farah.
“Abang Azli”, tutur Nazel pendek.
Farah mengambil telefon itu dan berbual dengan tunangnya. Nazel berada di tepi kakaknya dengan zakar yang menegang.
“Farah? Kat mana ni? Abang tanya Auntie Nah tadi, Auntie cakap Farah belum balik lagi”, tanya Azli di hujung talian.
“Farah dekat tempat majlis kita la. Saja nak tengok preparation. Datang dengan Azel tadi. Kan Farah dah bagitau Abang?”, jawab Farah sambil memegang dan meramas zakar Nazel.
Nazel mencium pipi Farah dan membuat isyarat nombor kosong serta menunjukkan zakarnya. Farah senyum.
“Abang lupa pulak. Dah pegi butik Azza? Preparation macam mana? Ok tak?”, tanya Azli kembali.
Senyap.
Farah sedang menghisap zakar Nazel ketika Azli bertanya. Nazel memegang kepala Farah kerana kenikmatan menerima blowjob dari kakaknya.
“Farah?”, ulang Azli.
“Ye, Abang. Farah dah pegi. Baju ok. Preparation pun ok. Kak Ida cakap tinggal sikit je lagi”, jawab Farah selepas memberhentikan hisapannya.
“Oh. Sorry Abang tak dapat ikut. Keje banyak kt ofis tadi. Bertimbun-timbun. Abang nak siapkan sebelum majlis. Farah sihat tak? Abang rindu kat tunang abang yang cantik ni”, tutur Azli di hujung talian.
Senyap lagi.
Farah sedang menahan tujahan zakar Nazel pada mulutnya. Adiknya itu sungguh bernafsu melakukan facefuck dengan rakus. Hampir tersedak Farah ketika Nazel memberhentikan hentakannya.
“Tak apa, Abang. It’s ok”, balas Farah kepada Azli yang masih di dalam talian.
“Kenapa lambat jawab? Sampai tersedak-sedak Abang dengar?”, tanya Azli.
“Farah minum air tadi. Nak cepat jawab soalan Abang sampai tersedak-sedak. Sorry la”, bohong Farah.
Nazel telah bingkas bangun dan mengangkangkan kedua-dua kaki Farah sewaktu perbualan kakaknya itu.
“Takpe. Abang risau je kat tunang Abang ni. Dah lah Farah blowjob power. Rugi Abang kalau Farah kena henjut dengan lelaki lain”, luah Azli di hujung talian.
Nazel memasukkan zakarnya ke dalam dubur Farah. Wanita genit itu mencuba menahan agar desahannya tidak keluar dan didengari oleh tunangnya. Tangan kanan Farah menggenggam tangan Nazel yang memaut kakinya. Farah menggelengkan kepala namun Nazel terus meliwat tunang orang itu perlahan-lahan. Farah tersentak-sentak diliwat adiknya namun menggagahkan diri berbual dengan Azli.
“Abang ni.. Siapa lagi yang dapat henjut Farah kalau bukan Abang.. Batang diorang tak power macam Abang..”, balas Farah menahan asakan zakar pada duburnya.
Nazel makin terangsang melihat wajah Farah yang kemerahan menahan asakan zakar pada duburnya namun mencuba untuk tidak meraung.
“Iye, la. Abang takde kat sana. Entah-entah Azel tengah sedap batang kene hisap dengan kakak dia kat sana?”, usik Azli.
Zakar Nazel semakin galak meratah dubur Farah. Wanita genit itu sedaya-upaya mencuba untuk tidak meraung walaupun mulutnya ternganga kenikmatan, kepalanya terdongak kesedapan, tangan kanannya mencengkam erat perut adiknya dan sarung sofa, kakinya mengepit tangan Nazel yang memaut kedua-dua bahagian belakang lututnya, dan duburnya mengemut-ngemut kuat zakar yang sedang enak meliwatnya. Telefon yang dipegang Farah dengan tangan kiri hampir-hampir terlepas kerana tidak dapat menumpukan perhatian untuk berbual dengan tunangnya dan diliwat adiknya serentak.
“Ish, Abang ni.. Azel tu kan adik kandung Farah.. Sumbang mahram tau.. Lagi pun.. Boleh ke dia lawan dengan batang Abang.. Azel tu budak lagi.. Abang henjut Farah lagi power.. Farah puas..”, goda Farah sambil memandang Nazel dan mengenyitkan mata kepada adiknya.
Nazel geram dengan usikan Farah dan menghenjut dubur kakaknya dengan kederasan yang sederhana. Mengeriut wajah wanita genit itu yang kemerahan diliwat adiknya dengan rakus. Tunang orang itu ingin sahaja meraung kenikmatan di atas sofa putih itu.
“Huishh.. Seksinya suara tunang Abang ni.. Stim Abang macam ni.. Jom phone sex, sayang.. Abang tak tahan ni.. Imagine Abang tengah henjut Farah laju-laju.. Oh, Farah..”, pinta Azli di hujung talian sambil membuka zip seluar slacknya, mengeluarkan dan merocoh zakarnya.
Nazel masih menghenjut dubur Farah dengan deras. Kedua-dua kaki kakaknya telah dikangkangkan dengan luas. Ini memudahkan Nazel untuk menjolok dubur wanita genit itu dan memeluk tubuh tubuh tunang orang itu.
“Abang! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Yes! Yes! Henjut Farah, Abang! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Henjut Farah laju-laju! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Yes! Yes! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah sambil kedua-dua kakinya mengunci kanan dan kiri badan Nazel.
Nazel semakin rakus menghenjut dubur Farah. Pipi kakaknya dicium bertalu-talu sambil deras meliwat wanita genit itu. Dubur tunang orang itu mengemut-ngemut hebat sehingga Nazel merasakan kesedapan yang tidak terhingga.
“Ohh.. Realnya tunang Abang menjerit.. Abang rasa, Farah.. Ohh.. Sedap tak, sayang.. Sedap tak.. Ohh.. Farah..”, puji Azli di hujung talian, tidak mengetahui bahawa tunangnya itu benar-benar meraung kenikmatan kerana duburnya sedang dihenjut oleh zakar adik wanita genit itu sendiri di atas sofa putih yang akan menjadi pelamin mereka nanti.
“Ohh!! Ohh!! Ohh!! Sedap, Abang! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Henjut Farah lagi! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Abang power! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Farah nak Abang! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah lagi sambil memeluk erat Nazel yang sedang meliwatnya dan mencium pipi adiknya itu berkali-kali.
Nazel makin laju menghenjut dubur Farah selepas kakaknya itu berkata begitu. Nazel dapat merasa eratnya pelukan wanita genit itu, rakusnya ciuman tunang orang itu, ketatnya pautan kaki kakaknya itu, dan kuatnya kemutan dubur Farah. Nazel di dalam kenikmatan dan nafsu syahwatnya serta rasa sayangnya pada Farah makin membara.
“Ohh.. Ye, sayang.. Abang pun nak Farah.. Ohh.. Farah.. Abang dah nak pancut ni.. Ohh..”, luah Azli .
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Pancut dalam Farah, Abang! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Pancut dalam-dalam! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Abang sayang Farah tak.. Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah lagi sambil masih memeluk Nazel erat dan memandang wajah adiknya itu dengan mata yang kuyu serta wajah yang kemerahan.
“Abang sayang Farah.. Ohh..”, balas Azli di hujung talian, tanpa disedari serentak dengan anggukan kepala Nazel yang sedang meliwat Farah di atas sofa putih itu.
Farah mencium pipi Nazel sambil memeluk adiknya itu dengan lebih erat. Henjutan zakar Nazel pada duburnya masih rakus dan deras.
“Nasib kau la, Abang Azli. Janji aku dapat henjut pantat ngan jubur kakak aku ni. Sedap giler dapat kekah tunang kau ni”, getus Nazel di dalam hati sambil masih galak meliwat Farah.
Desahan Azli di dalam telefon dan raungan Farah di atas sofa saling bertingkah. Bezanya, Azli kenikmatan dalam khayalan sedangkan Farah kesedapan dalam nyata. Selang beberapa minit,
“Ohh! Farah! Abang dah pancut! Ohh.. Penuh air Abang dalam cipap Farah.. Ohh.. Ohh..”, tutur Azli di dalam telefon.
“Ye, Abang..”, balas Farah dengan raungan yang terpaksa dihentikan sedangkan tunang orang itu di dalam kenikmatan kerana duburnya masih dihenjut oleh zakar Nazel.
“Farah balik hati-hati tau. Abang kene sambung keje. Nanti kita jumpa. Abang rindu blowjob tunang Abang ni. Rindu nak fuck dia. Apa-apa nanti, bagitau Abang”, luah Azli.
“Ok, Abang”, jawab Farah acuh tidak acuh.
“Bye, sayang”, tutur Azli lagi di hujung talian.
Selepas Farah mematikan talian dan meletakkan telefon, Nazel mencengkam kedua-dua tangan Farah di atas sofa putih itu dengan kedua-dua tangannya. Henjutan zakarnya pada dubur Farah dilajukan lagi.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah.
“Siapa lagi power, Kak Uda.. Sedap tak Azel henjut..”, tanya Nazel sambil rakus meliwat kakaknya itu.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Azel! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Azel lagi power! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Azel henjut sedap! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Batang Azel lagi best! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Kak Uda suka! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Batang Abang Azli tak boleh lawan Azel punya! Ahh!! Ahh!! Ahh!”, raung dan racau Farah.
“Huu! Sedap jubur tunang Abang Azli ni! Sedap bontot Kak Uda ni! Huu! Ambik Kak Uda! Ambik!”, racau Nazel kenikmatan.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Yes! Yes! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Lagi, Azel! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Abang, Farah kena liwat.. Ohh!! Ohh!! Ohh!! Azel liwat Farah, Abang.. Ahh!! Ahh!! Ahh!! Batang dia tebal.. Ohh!! Ohh!! Ohh!! Farah kene jolok kat bontot, Abang.. Ahh!! Ahh!! Ahh!! Sedap! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah dan meracau kesedapan.
Henjutan zakar Nazel pada dubur Farah masih tidak menampakkan tanda akan berkurangan. Namun Nazel mengeluarkan zakarnya dan memeluk Farah.
“Farah sayang Abang?”, bisik Nazel.
“Sayang.. Farah sayang Abang.. Love you so much, Abang..”, balas Farah dan mencium bibir Nazel.
Pasangan kakak dan adik itu berpelukan dan berciuman dengan penuh nafsu di atas sofa putih itu. Nazel kemudian mengiringkan Farah dengan rakus, berbaring di belakang kakaknya itu, dan terus menghenjut dubur wanita genit itu dengan deras.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Azel! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Yes! Yes! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Ahh!!”, raung Farah sambil memegang erat jemari Nazel yang memaut punggungnya dan tunang orang itu menonggekkan lagi punggungnya.
“Huu! Sedap giler bontot Kak Uda! Huu! Ni hadiah wedding Kak Uda! Sedapnya jolok bontot Kak Uda!”, racau Nazel.
“Ohh!! Ohh!! Ohh!! Thanks, sayang! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Jolok lagi, Azel! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Yes! Yes! Ahh!! Ahh!! Ahh!! Pancut dalam bontot Kak Uda! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung Farah lagi.
Nazel meliwat Farah bertalu-talu di atas sofa putih itu. Desahan adik dan raungan kakak saling melengkapi persetubuhan yang hangat. Dubur Farah mengemut-ngemut enak zakar Nazel. Nazel berterusan meliwat tunang orang itu dengan rakus sehingga..
“Kak Uda..”
(Crett! Crett! Crett! Crett! Crett!)
“Ohh.. Azel.. Uhh.. Kak Uda puas.. Ahh..”
Nazel memancutkan benihnya dengan deras ke dalam dubur Farah. Punggung wanita genit itu terkemut-kemut menerima pancutan itu. Nazel membenamkan zakarnya di dalam dubur tunang orang itu sedalam-dalamnya dan membiarkan zakarnya di dalam punggung kakaknya itu selepas selesai memancutkan benihnya. Nazel memeluk erat Farah dan mencium pipi kakaknya itu. Farah pula memaut tangan Nazel yang melingkari tubuh genitnya. Mereka berdua kepuasan di atas sofa putih itu dan saling berbaring, berpelukan, serta berciuman selama beberapa minit.
“Azel, jom balik. Dah lama kita kat sini”, ujar Farah sambil membetulkan tudungnya.
“Jom”, tutur Nazel.
Selepas kembali berpakaian, Farah dan Nazel membetulkan sofa dan mengemaskan ruang dewan itu. Gurau senda menghiasi aktiviti mereka berdua. Selepas mengunci dewan, Farah dan Nazel berpegangan tangan seperti pasangan suami dan isteri menuju ke kereta. Myvi berwarna putih itu terus bergerak dipandu pulang. Sepanjang perjalanan pulang itu, mereka berdua berbual mesra.
“Sedap la main ngan Kak Uda. Kak Uda mantap. Puas Azel”, kata Nazel.
“Azel la. Betul cakap kawan Kak Uda masa kat butik. Batang Azel tebal. Penuh pantat kalau Azel henjut. Tapi dia tak tau yang depan ngan belakang Kak Uda kena”, seloroh Farah.
“Apa la Kak Uda ni”, ujar Nazel.
“Berdenyut-denyut lagi tau bontot Kak Uda ni”, balas Farah dan menjeling manja.
“Tapi Kak Uda suka kan?”, usik Nazel sambil meletakkan tangan Farah ke celah kelangkangnya.
Farah tersenyum. Zakar Nazel telah mengeras di dalam seluar. Farah memberhentikan kereta di tepi jalan dan membuka zip seluar Nazel. Wanita genit itu mengeluarkan, menjilat, dan menghisap zakar adiknya dengan penuh bernafsu sehingga Nazel memegang erat dan menekan-nekan kepala Farah bersama desahan nikmat ketika memancutkan benihnya di dalam mulut tunang orang itu. Farah menelan benih adiknya itu. Selepas berciuman, Farah menyambung pemanduan pulang.
Hasnah sedang meminum teh yang dibancuhnya ketika anak-anaknya membuka pintu .
“Lambat anak-anak ibu balik?”, tanya Hasnah sebaik sahaja Farah dan Nazel memasuki rumah.
“Kak Uda ni ha. Nak tengok-tengok dewan pulak”, tutur Nazel sambil tersenyum nakal kepada Farah.
“Oh. Patut la lambat sampai rumah. Semua dah ok, Uda?”, ujar Hasnah yang hanya berkemban dengan tuala putih kerana baru selesai dihenjut suaminya.
“Ok je, ibu. Kak Ida cakap tinggal sikit je lagi nak siap”, jawab Farah.
“Babah mana, ibu?”, tanya Nazel.
“Kat atas, tido”, balas Hasnah.
Tengah malam itu, Nazel menuju ke bilik tidur Farah selepas ibu bapa mereka telah lena tidur. Farah membuka pintu biliknya yang diketuk perlahan dan tersenyum. Selepas Nazel masuk dan Farah menutup pintu, mereka berdua berpelukan erat dan berciuman dengan penuh ghairah.
“Kak Uda.. Azel nak lagi..”, bisik Nazel.
“Nakal.. Kak Uda pun sama..”, balas Farah.
Malam itu, Farah berkali-kali menjilat dan menghisap zakar adiknya itu manakala Nazel berkali-kali menghenjut faraj wanita genit itu dan meliwat tunang orang itu. Farah dan Nazel mendesah dan meraung dengan perlahan di sepanjang persetubuhan itu agar tidak didengari ibu bapa mereka. Nafsu serakah kakak dan adik itu berterusan sehingga jam melewati pukul 5.30 pagi. Farah dan Nazel tidur sambil berpelukan erat bersama kepuasan yang maksimum dengan masing-masing hanya bertelanjang bulat tanpa seurat benang pun menutupi tubuh pasangan kakak dan adik itu.
Farah bangun dari tidur ketika waktu menginjak ke pukul 2 petang. Nazel masih tidur di sisinya. Perlahan-lahan Farah memegang zakar Nazel. Lidahnya menjalar ke zakar adiknya itu dan tunang orang itu terus menghisap zakar yang sudah mengeras itu. Nazel yang terjaga terus menikmati hisapan kakaknya. Kemudian, Nazel memegang erat kepala wanita genit itu dan melakukan facefuck yang amat deras sehingga terpancut-pancut ke dalam mulut tunang orang itu. Farah menelan benih Nazel dengan penuh syahwat dan sayang.
Hari perkahwinan Farah dan Azli tiba.
Ramai orang memuji kecantikan Farah di dalam busana pengantin itu. Saat Farah dan Azli bersanding di atas pelamin, Farah dan Nazel mengimbau kehangatan persetubuhan mereka di atas sofa putih itu. Pasangan kakak dan adik itu saling terangsang ingin menikmati kembali kenikmatan yang membara.
Malam itu, Azli sedang sibuk melayani saudara mara yang datang. Tanpa disedari oleh sesiapa, Farah sedang asyik menjilat dan menghisap zakar Nazel dengan rakus di bilik tidur tingkat atas. Jauh dari pengetahuan Azli, malam pertama yang kebiasaannya menjadi malam indah buat pasangan pengantin menjadi malam adik iparnya menghenjut faraj isterinya dan meliwat isterinya itu.
….i like
Ina Beauty House Kedai kami terletak di bukit mertajam. Boleh tengok maps ni. Kami menyediakan massage dan staff2 kami semua adalah melayu. Rm70/hour. Rm170/shot untuk extra service.
Kedai terletak diatas Summer Desert Bakery. Jangan risau.. kedai kami bayar pihak polis dan pekida.. takkan diserbu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
tetek boleh tahan besar tetek awwek ni sengaja lagi buka tudung tum urmmm apa nak buat ni heheh
Sabah bhaa dok cheras
cantik bah klaka