betapa diri kerap ingin tak terbatas, menggapai realitas dengan lantas. lalu kerap merasa cukup pantas, untuk selalu berada di atas.
mengapa kita kerap mengejar sempurna, bahkan usai hal-hal besar lainnya, datang tanpa kita minta? sering memaksa batas ingin, agar semua hal senantiasa berjalan seperti yang kita yakin. terus merutuki hasil, padahal dalam perjalanannya; ada begitu banyak hal baik yang bisa kita ambil.
meletakkan harap pada realita seringkali berujung kecewa. sebab kita cuma manusia, yang tak bisa berbuat apa-apa tanpa seizinNya. sekeras apapun berusaha, sebanyak apapun cara, segigih apapun upaya, kalau takdir sudah bicara— apalagi yang tersisa? selain mengamini tawakal, serta mengimani ketetapan; bahwa pada beberapa keadaan, ada sesuatu yang tak bisa kita paksakan.
lagi-lagi, ikhlas harus terus dimenangkan. sebab diri tak akan dinyatakan beriman, hingga yakini rukun iman ke-enam.



















