Kadang, gue merasa kesepian.
Ingin ngobrol banyal hal dari yang receh sampai yang detail tapi sepertinya gue kehilangan mereka. Orang-orang berharga yang pernah gue "miliki". Lalu, orang yang saat ini bersama gue bukan tipe seperti itu. Pasangan gue sering menyambut obrolan gue lewat telpon saat kita LDR ini dan mendengar cerita gue yang remeh. Cerita gue memang terkesan curcol sih. Mungkin di telinga dia malah çerita gue adalah sambat yang ga seharusnya diceritakan agar gak berkembang.
Sebenarnya gue cuma mau menumpahkan isi hati dan pikiran yang saat itu gue rasakan setelah melewati satu hari yang penuh drama. Mungkin juga bagi dia hal yang gue cerita itu gak penting dan belum termasuk kategori drama. Karena gue merasa pasangan gue tidak betah mendengarnya dan hanya mendengar saja (syukur ya masih mau mendengar). Tapi setelah gue jeda ambil nafas, kadang dia langsung beralih topik obrolan, alih-alih merespons atau bahkan hening yang lama.
Gue gak bisa memaksa dan mengontrol respons orang. Kadang, harapan yang berlebihan dari respons yang gue tunggu justru berakhir mengecewakan. Jadi, ya sudah.
Untungnya, gue masih memiliki orang-orang rumah. Karena gue tumbuh dari kebiasaan di rumah akhirnya gue punya tempat untuk mencurahkan isi hati dengan respons yang layak. Gak semua orang loh bisa memiliki previllege itu. Ya, bagi gue itu previllege. Gue bersyukur masih punya Mama yang super nyambung dalam mengobrolkan keseharian gue termasuk segala sambat yang tumpah ruah. Tuhan terima kasih, Mama saya masih sehat sentosa, semoga selalu sehat. Bahkan, kadang lebih banyak cerita yang gue sampaikan ke Mama daripada pasangan gue. Gue merasa sangat nyambung. Sayangnya, gak semua hal bisa gue ceritakan ke Mama ((tentu saja)).
Kadang muncul pikiran, "kenapa bisa gue menikah dengan pasangan gue ini?" Kalo ternyata gue tidak bisa seasik itu dalam ngobrol dengan dia seperti teman-teman lelaki yang pernah dekat dengan gue. Maksudnya, gue pernah dekat dengan beberapa teman cowok dimana kedekatan itu terjadi karena kita super nyambung dalam diskusi dan sekarang obrolan itu gak akan pernah ada lagi karena masing-masing sudah punya kesibukannya dan tentu saja gak akan pernah dimulai walau hanya sekadar menyapa. Obrolan kita mulai dari hal paling remeh di sekitar, politik, sosial, agama dan sejarah. Bahkan hal-hal seperti film, buku, dan komunitas, ketiga hal yang menarik banget buat gue tapi gak pernah dan mungkin gak akan pernah gue obrolkan dengan pasangan karena dia gak suka baca dan memang gak suka mengobrolkan itu. Tentu saja, gue juga tidak bisa memaksakannya. Kita sering banget nonton film, setelahnya kadang gue bahas filmnya tapi responsnya pendek aja. Film berakhir ya sudah. Padahal, gue hobi banget nulis review film di blog pribadi. Sekarang sudah gak lagi dan gue secepat itu lupa sama film yang udah gue tonton. Selain itu, guyonan gue dan teman-teman itu masuk banget, candaan standup komedian anti mesum, anti body shaming, anti hinaan dan sejenisnya. Tipe guyonan yang bukan tipe pasangan gue. Makanya kok hidup gue kaku ya?
Kenapa gue berpikiran seperti itu? Sebenarnya pikiran itu muncul saat gue merasa sepi. Saat gue merasa ada tapi gak ada. Saat gue sering membaca dan melihat video pendek yang lewat di medsos tentang tips memilih pasangan hidup. Adanya peringatan untuk gak salah pilih pasangan hidup karena rupa bisa menua dan gak lagi menarik, cinta gak selamanya konstan, dan PERNIKAHAN ITU ISINYA 100% adalah NGOBROL alias KOMUNIKASI. Komunikasi tentang kehidupan pernikahan pun gue rasa belum seterbuka yang seharusnya. Masih ada yang ditahan. Mungkin karena menjaga perasaan?
Gue harus memahami. Perkara ini tentu saja tidak serta merta membuat segala ikrar putus dan niat ke arah sana. Tulisan ini bahkan untuk menumpahkan segala isi pikiran dan hati yang udah penuh tapi gak punya tempat. Tentu saja hal seperti ini gak akan mungkin gue cerita ke orang rumah. Miniblog ini bahkan jadi wadah untuk menggantikan peran "teman ngobrol" yang pernah gue miliki, di samping obrolan vertikal gue yang tak berbatas itu.