II. [2] Sebelah Dunia Persekot
Tidak akan pernah ada yang tahu takdir akan membawamu kemana, mungkin itu yang sedang dirasakan Juang pada usianya yang kemarin menginjak 20 tahun. Ditemani angin malam dan langit Ibukota yang tak acap bisu, wajah tanpa ekspresi tertutup balutan asap rokok dengan tubuh setengah telanjang itu memerhatikan tubuh lain yang meringkuk di ujung ruangan dengan alas tipis dan tanpa selimut. Suara detik jam semakin terdengar bersamaan dengan suara radio yang semakin sayup, saatnya beristirahat namun matanya enggan terlelap.
Juang dan jalanan. Sepertinya akan terlihat menarik untuk dijadikan sebuah bahan tulisan kalau suatu saat nanti dirinya menjadi orang berpengaruh di dunia ini. Kemudian ia tertawa geli, pikiran aneh seperti itu memang terkadang datang pada jam-jam malam. Bagaimana pula ia seorang anak putus sekolah akan menjadi orang seperti itu, mendapat izin menarik penumpang saja ia senang kepalang, sekarang yang terpenting bukan lagi tentang mimpi dan jadi apa nanti, tapi tentang makan apa besok.
Tubuh yang meringkuk di sudut ruangan itu terbangun dan bersandar ke dinding, Juang kembali mengisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya perlahan.
"Sudah pulang?" tanya perempuan itu sambil merapihkan rambutnya. Juang tak menjawab, kemudian mereka saling bertatapan sebentar dan kembali memalingkan perhatian.
"Aku nunggu kamu dari tadi, eh ketiduran. Malam ini malam terakhir aku ganggu kamu, esok aku pindah ke indekostku. Ini, sesuai perjanjian, dibayar di muka. Makasih udah banyak bantu."
Perempuan itu menaruh segulung uang yang diikat dengan karet. Juang tak langsung menerima uang itu, ia sedikit tersedak ludahnya sendiri selepas perempuan itu selesai berbicara. Pada detik itu uang tak lagi berarti baginya, netra Juang menatap tak setuju keputusan perempuan yang sekarang melamun di hadapannya, tak sadar bahwa Juang memikirkannya lebih dari siapapun, semenjak perjanjian persekot itu.
Terik matahari siang itu membakar kulitnya juga menyilaukan pandangannya ditambah berisiknya orang yang berlalu lalang dengan masing-masing obrolan. Inilah fase hidup Juang setelah puluhan malam di jalanan, tak ada yang lebih baik memang tapi terminal memberikannya makan untuk satu hari kedepan. Juang berjalan menelusuri warung-warung yang menjadi tempat menunggu pemberangkatan. Baru beberapa menit matanya sudah perih terkena pasir yang berterbangan karena banyaknya kendaraan yang keluar-masuk.
"Baru dateng lu?" tanya seorang pria gemuk yang sebelah kakinya diangkat ke kursi.
"Iya bang, kemarin gue narik sampe malem," jawab Juang yang lalu ikut duduk di sebelah pria gemuk itu.
"Ngopi dulu aja." Pria itu memesan kopi untuknya.
"Semuanya jalan, kagak ada angkot kosong. Tapi ada kerjaan buat lu, nanti jam 12 Bu Ati nyuruh lu buat angkatin belanjaannya ke warung."
"Dia nyuruhnya sama lu, naksir kali tuh apa-apa Juang mulu." Pria gemuk yang Juang sebut abang itu tertawa.
Juang menggapai gelas plastik berisi kopi hitam yang biasa ia minum setiap hari di warung itu, warung yang makanannya dapat dimakan sebelum dibayar, ya walaupun Mpok Siti pemilik warungnya sangat teliti dalam mencatat hutang para pengutangnya. Bajunya sedikit basah karena keringatnya bertambah banyak, rambut yang sudah lama tak ia pangkas diikat kecil dengan karet gelang bekas bungkus nasi kuning tadi pagi. Hari ini mungkin ia akan pulang malam lagi karena siang saja belum ada angkutan umum yang dapat ia jalankan.
"Copet!" teriakan seorang perempuan dari belakang membuat suasana di sana menjadi ricuh. Beberapa orang ada yang mengejar pelakunya dan sebagiannya lagi mengamankan barang berharga yang mereka bawa. Sebenarnya hal tersebut sudah biasa terjadi bahkan mungkin Juang juga kenal dengan pencopet itu, ia sedikit tak tertarik dan tak memiliki niat untuk membantu perempuan malang itu, Juang kembali menegak kopinya.
Langit hampir menghitam tapi terminal semakin ramai ini adalah waktu yang tepat mendapatkan cuan juga menguras kesabaran karena macetnya yang luar biasa tak dapat ditahan. Sejak jam tiga sore, Juang mendapatkan izin jalan walaupun harus terus berganti dari angkot satu ke angkot yang lain. Kalau menurut orang, menjadi supir angkutan umum itu mudah dan remeh, mereka keliru. Memang pekerjaannya tak memerlukan nilai Ujian Nasional tapi tetap saja rasanya sulit sekali kalau sebagai pendatang dan tak punya kenalan. Harus lebih kerja keras mencari mana yang mau gantian, adapun yang mau paling hanya satu rit atau dua rit saja.
Beruntunglah Juang mempunyai wajah yang tampan, membuatnya sedikit mudah mendapatkan penumpang setia atau belas kasihan orang sehingga angkotnya selalu penuh sekali jalan.
Malam tetap berjalan Juang masih melaju kencang. Wajahnya yang penuh peluh itu sedikit bersinar karena uang ongkos menggunung di saku celananya. Hari yang baik walau harus banyak bersabar. Malam ini pun ia tak perlu membeli makanan karena tadi Bu Ati membekalinya nasi dan lauknya, sedikit tak enak hati dan seperti ada yang mengganjal karena Ibu-ibu pemilik warung itu selalu baik kepadanya, tapi untuk bertahan hidup apa saja ia terima sekarang.
Juang meregangkan lehernya yang pegal setelah mengemudi, sekarang waktu sudah hampir tengah malam sebagian pedagang menutup tokonya dan bersiap pulang namun tidak untuk supir-supir yang sedang melingkar berkumpul dengan minuman keras di tengah meja. Jujur saja ia pernah mencoba minuman itu, mau bagaimanapun ia harus beradaptasi dengan lingkungannya. Setelah itu ia tidak tertarik dan langsung menghindar dari acara malam mereka. Kalau memang ia ditahan tak boleh pulang, paling Juang hanya diam menyendiri di samping warung itu sambil merokok.
Hari ini pun seperti itu, ia duduk di kursi kosong warung yang tutup sambil mengeluarkan bungkus rokok di saku jaketnya tak lupa sambil melamun juga. Sepertinya semakin umurnya bertambah melamun adalah kegiatan yang wajib dilakukan. Juang mengambil uang hasil menarik angkot tadi dan menghitungnya lalu memisahkannya mana untuk setoran atau untung miliknya. Cukup banyak dan mungkin dapat menghidupinya dua hari kedepan. Seorang perempuan dengan tas besar di tangannya datang dari arah samping. Perempuan itu menunduk membuat wajahnya tertutup rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kalau tidur di sini, gak akan diusirkan?" ucap perempuan itu setelah lama duduk di pinggirnya.
"Gak, inikan terminal pasti banyak yang tidur juga nunggu jemputan." Kemudian ia mendengar hembusan napas yang berat dari perempuan itu.
"Ternyata pergi dari rumah itu bukan hal yang mudah yah," lanjut perempuan itu.
"Hm tergantung. Kenapa? Kabur dari rumah?"
"Mana ada kabur dari rumah, kalau harus memilih ya mending di rumah saja, enak, kalau lapar makan kalau ngantuk tidur di kasur." Perempuan itu sekarang memperlihatkan wajahnya.
"Berarti kamu yang kabur dari rumah," Perempuan itu terkekeh.
"Sok tahu. Terus kenapa kesini kalau enggak kabur?"
"Aku ini orang kampung apalagi tujuannya kalau tidak mengadu nasib, tuntutan juga harapan yang buat aku pergi ke tempat yang katanya menjanjikan ini,"
"Cih harapan, yang mana harapannya itu cuma omong kosong doang." Juang beberapa kali menatap wajah perempuan itu di tengah lampu yang remang.
"Tadinya aku gak setuju tapi kenyataan memang selalu menang, baru aja aku sampai eh dompetku hilang dicopet orang," Perempuan itu tersenyum tragis.
"Yang tadi siang dicopet?"
"Iya, kamu tahu?" Juang hanya berdeham karena sedikit malu tak membantu.
"Aku boleh minjam uangmu dulu tidak, untuk beli makan."
Semuanya memang sesuai alur yang ia tebak, perempuan itu datang padanya untuk meminta bantuan, seperti itu dan selalu begitu. Juang mengalihkan pandangannya pada deretan bus yang terparkir di lapang sana. Tak langsung menjawab, memberikan kesan yang membingungkan bagi lawan bicaranya yang menunggu kepastian. Juang menginjak puntung rokoknya dan bangkit.
"Ini, gak usah minjem pake aja lagian kapan lagi kita ketemu. Uang ini buat ongkos pulang, di sini enggak aman buat cewek." Ia memberikan sedikit uangnya lalu berlalu. Namun belum jauh melangkah, tangannya ditahan perempuan itu.
"Aku boleh nginap di tempatmu?" Juang terkejut dengan pertanyaan itu, ia melepaskan pegangan perempuan tadi.
"Udah gue bilang pulang, gak ada yang lebih baik di tempat ini."
"Tapi aku udah janji sama Ibu, mana mungkin aku pulang dengan tangan kosong. Aku janji satu hari aja, aku bisa ganti dengan nyuci baju kamu atau apapun yang bisa aku lakuin."
Juang memejamkan matanya, memang benar kalau kita memiliki niat membantu orang kita juga harus siap untuk direpotkan kedepannya. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gak, terserah apapun urusan lu tapi enggak dengan ikut gue." Ia langsung meninggalkan perempuan itu tanpa menatapnya.
Perjalanan pulang malam ini banyak menimbulkan dilema, ia terus memikirkan perempuan tadi. Kesal namun kasihan, selalu seperti itu. Tapi ia tak mau terus menjadi solusi dari banyak masalah orang, apalagi saat ia masih hidup di jalan. Banyak sekali orang yang telah ia bantu dan itu malah membuat dirinya kehabisan waktu untuk dirinya sendiri.
Memasuki gang tempat indekostnya, ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Ini sudah tengah malam, ia bersiap jika orang di belakangnya itu berniat jahat padanya. Juang masih berjalan walau rasa was-was menghantui pikirannya. Jarak gang dengan indekostnya memang jauh, itu bukan gang utama menuju indekost berlantai tiga yang setiap ruangannya kecil dan sedikit kumuh namun harganya paling cocok dengan dompetnya saat ini. Ada barang ada harga. Juang harus masuk lagi ke gang lain lalu gang berikutnya sampai masuk ke gang kecil yang ukurannya pas dengan tubuh kurusnya.
"Hei cantik, mau kemana nih, sini sama abang aja biar anget." Kata itu terlontar bersamaan dengan siulan dan tawa dari pos ronda membuat dirinya menyeritkan dahi, apakah orang-orang itu menganggap dirinya seorang perempuan?
Namun, Juang salah. Setelah mengabaikan omongan dan sedikit menjauh dari pos ronda itu, teriakan terdengar dari arah belakang. Ia langsung membalikkan badan dan berlari saat melihat perempuan yang berada di terminal tengah menjadi sasaran para laki-laki hidung belang.
"Bangsat!" Emosinya menggebu tak tertahan, sebuah pukulan keras mengenai wajah salah satu dari mereka.
Juang juga salah langkah, ia langsung mendapat balasan dari pria lainnya. Pukulan mendarat di pipi dan perutnya yang langsung membuatnya jatuh, ia merasakan asin di sudut bibirnya, teman dari pria itu menyusul menendang kakinya. Dengan rasa ngilu dan sakit di sekujur tubuhnya ia sekuat tenaga bangkit dan berniat melarikan diri, tak ada peluang melawan mereka, tangannya menghalang kaki-kaki kejam itu dan segera menarik tangan perempuan yang sedari tadi menangis sambil berusaha mendorong pria-pria yang mengeroyoknya.
Hening. Sepanjang perjalanan itu hening, hanya ada angin malam yang berlalu membuat tubuhnya mati rasa. Â Kini perempuan terminal tadi ada di sampingnya, memboyong tubuhnya, terkadang perempuan itu sesegukan menangis pelan lalu mengusap air mata dengan punggung tangannya. Ujung bibirnya yang terluka terangkat sedikit, selalu berakhir seperti ini setiap dirinya membantu manusia lain.
"Lu ngikutin gue dari tadi?" Juang membuka pembicaraan.
"Maaf, ini salahku, aku bener-bener gak tahu kalau berakhir kaya gini, nanti aku obatin kamu di rumah kamu, aku gak maksa nginap aku di luar aja gak apa-apa. Sekali lagi aku minta maaf," Perempuan itu kembali menundukkan wajahnya.
"Jangan nangis, lu harus kuat kalau mau menetap di sini."
"Maaf, aku harus kaya gimana biar kamu maafin aku."
"Sebenernya gue kesel, lu nyusahin dari awal. Gue cuma minta lu gak usah minta maaf terus, udah kejadian."
Juang dan perempuan itu masuk ke dalam indekost yang lumayan ramai, berbeda dengan kebanyakan tempat lain, indekost ini memang sejak awal tidak menawarkan kenyamanan. Bebas, tidak ada aturan, berisik dan bermacam bentuk orang keluar dan masuk. Lantai pertama adalah lantai sedikit normal karena diisi oleh keluarga-keluarga kurang mampu dengan sebagian pekerjaannya kriminal. Lantai dua, dimana indekost  Juang berada, tetangganya kebanyakan pekerja malam, baik itu wanita, pria atau waria, ini juga alasan kenapa dirinya memilih di lantai dua karena malam hari akan terasa sepi. Dan terakhir lantai tiga, selalu berisik dan membuat kesal karena penghuninya pembuat onar, judi, minuman keras, dan kekerasan sudah menjadi rutinitas di lantai tiga.
Sejak mengetahui lingkungan tempat tinggalnya, Juang memilih menjadi orang yang tak peduli dan menutup mata. Tak hanya ia tapi semua penghuni indekost ini, lagipula mereka disatukan juga dengan permasalahan yang sama, yaitu ekonomi.
"Ey Mas Juang kenapose itu mukanya begindang?" ucap Mice tetangganya yang sudah pasti bersiap mangkal. Menurut Juang, Mice adalah tetangganya paling baik dan waras di sini.
"Pergi Mice? Tumben mepet pagi,"
"Iya nich, soalnya eike lagi gak enak body, kalo butuh obat bawa aje di kamar eike. Eh ini sape cakep bener?"
"Bukan siapa-siapa, yaudah gue masuk dulu Mice,"
"Siapa apose siapa, yaudah eike capcus dulu ya, bye." Mice meninggalkan mereka berdua dan suasana kembali sepi.
Juang memperhatikan wajah perempuan itu yang terlihat shock," Jangan kaget, hal kaya gitu bakal banyak lu temuin dan jangan sok suci, dia sama kaya lu kok sama-sama nyari duit." Kemudian keduanya masuk ke dalam ruangan yang jauh dari kata besar.
"Lu mungkin kaget dengan banyak hal yang baru terjadi hari ini, tapi bersyukurlah lu udah disuruh kuat dari hari pertama. Gak ada yang enak layaknya yang sering lu sebut rumah, gak ada yang aman seperti orang tua yang selalu lindungin lu," ucap Juang sambil bersandar pada tembok, ia melihat perempuan itu menjadi diam tak seberani yang ia lihat di terminal.
Juang bangkit, ia mau merebus air untuk membersihkan luka-lukanya, belum sempurna Juang menyeimbangkan tubuhnya, perempuan itu menahannya.
"Mau apa? Kamu bisa suruh aku." Juang memejamkan mata.
"Tolong rebus air." Perempuan itu mengikuti perintahnya.
"Nama lu siapa? Dan darimana?"
"Namaku Ratih dari Solo. Kalau kamu?"
"Oh, Juang." Kembali sunyi, mereka hanyut dengan pikirannya masing-masing. Perempuan bernama Ratih itu langsung membersihkan luka tanpa mengobatinya karena tak tersedia obat di ruangan itu.
"Lu boleh tinggal di tempat gue untuk sementara,"
"Aku cuma numpang sehari aja Juang, esok aku bakal cari tempat,"
"Gak semudah itu, Tih. Atau lu pulang aja,"
Ratih menggelengkan kepalanya."Aku usahain."
"Terserah. Emang enggak ada yang lebih baik dimana pun lu tinggal, tapi percayalah lu bakal tetep hidup walau enggak makan dan cuma minum air keran."
"Aku percaya sama kamu Juang," Kini Ratih sedikit lebih percaya diri.
"Jangan nyerah, mungkin besok akan lebih parah dari ini. Gue yakin dengan pilihan lu ke sini, lu bisa melakukannya."
"Makasih Juang. Satu hal yang paling aku syukuri adalah bertemu kamu."
"Tapi semuanya gak gratis, air yang lu rebus itu butuh satu rit narik angkot, sekali lagi gue bilang, enggak ada yang enak di sini,"
"Gak apa-apa, aku janji semuanya bakal aku bayar kalau aku udah dapat kerja," Tatapan Ratih sedikit bersemangat.
"Janji, harus dibayar di muka dan tuntas."
"Kamu tetap orang baik walau perhitungan, makasih Juang."
Mereka saling bersandar di tembok dan terjaga menunggu mentari menampakkan diri. Waktu tak membiarkan mereka terlelap barang sedetik pun, jauh dalam berisik di kepala masing-masing, sama-sama memikirkan bagaimana mereka bertahan hidup esok hari, bagaimana mereka dapat mengisi perut yang kosong setelah seharian bekerja keras yang terkadang upahnya tak sebanding dengan keringat penuh harap. Mulai esok mereka akan sama-sama tenggelam membelah bilangan ganjil dan genap pada kalender untuk tujuan yang sama, menuntaskan perjanjian persekot.