bagaimana
Kita sebagai manusia pernah merasakan kecewa, entah bagimana cara kecewa dapat merasuk meluluh lantahkan diri kita tapi itu pasti pernah terjadi. Sampai ada detik di mana banyak diantara kita merasa bahwa kita tidak pantas untuk diperjuangkan, dan detik di mana kita justru malas untuk memperjuangkan hal yang memang belum pasti ( adakah hal pasti di dunia ini selain ketidakpastian itu sendiri? ).
Detik berlalu dan harusnya kita sadar bahwa setiap manusia pantas untuk medapatkan kasih sayang dan diperjuangkan, tidak ada alasan dia harus sempurna baru bisa diperjuangkan. In this big world of case terutama diri kita sendiri itu ada Tuhan yang mau sayang sm kita si pembuat dosa! Dia kasih perantara Ibu,bpk&siapapun utk memperjuangkan kita agar hidup sampai detik ini.
Jadi apakah batasan “pantas” layak untuk kita jadikan acuan dalam memperjuangkan sesuatu?. Kita punya akal kita punya hati, haruskah pertanyaan diri kita sendiri dijawab oleh orang lain?








