It's my 9 year anniversary on Tumblr đĽł

shark vs the universe

trying on a metaphor


izzy's playlists!

Alisa U Zemlji Chuda

Andulka
RMH

romaâ

Janaina Medeiros
ojovivo
wallacepolsom
Mike Driver
Keni
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Jules of Nature

PR's Tumblrdome
$LAYYYTER

pixel skylines
seen from TĂźrkiye
seen from United States

seen from Philippines
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States

seen from Mexico

seen from Malaysia
seen from France
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
@alfianurulh
It's my 9 year anniversary on Tumblr đĽł

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Growing Up Isnât Easy: Butuh Dibentur Dulu Baru Terbentuk.
Membuka jendela dan melihat bunga-bunga di taman. Beberapa ada yang mekar, ada yang masih kuncup, ada pula yang sudah layu dan berguguran. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup di tempat yang sama tapi mempunyai proses tumbuh yang berbeda.
Every flower blooms in its own time.
Saat masih kecil aku membayangkan menjadi dewasa menyenangkan. Sekolah tanpa memakai seragam dan bisa bermain tanpa dimarahi orang tua. Bayanganku kala itu aku ingin cepat dewasa dan memiliki hak untuk memilih apapun yang aku suka.
***
Pada kenyataannya dewasa adalah tantangan. Kita dituntun mampu menghadapi realita yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Aku mulai menyadari ini ketika kehidupan setelah sekolah. Banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menghadapinya. Jika kita tidak dewasa dalam membuat keputusan, penyesalan atau keberhasilan menjadi bulanan.
Cerita ini diawali ketika baju toga dikenakan dan bapak rektor memindahkan tali toga. Semua penonton bertepuk tangan bangga, tapi dalam pikiranku, âasggg apa yang seharusnya aku rasakan, bangga dengan diri sendiri atau sedih dengan jalan setelah ini?â
Saat dewasa kita mulai memahami banyak hal, sehingga hal ini memunculkan banyak permasalahan. Kehidupan orang dewasa seperti perlintasan lomba, siapa yang lebih dulu sampai, siapa yang lebih dulu di atas, saling menunjukkan pencapaian, dan banyak hal. Saat kecil aku tak pernah memikirkan hal ini, dengan mudahnya menulis âCita-citaku sebagai dokter.â Kenapa sih anak-anak suka dengan pekerjaan doctor, padahal prosesnya tidaklah mudah!
Begitulah dewasa, kita mulai memahami banyak hal, dewasa adalah kehidupan yang sesungguhnya, kita tidak bisa terlalu lama tertidur dan nyaman hanya dengan berangan-angan. Saat dewasa kita menginginkan banyak hal terwujud dalam waktu yang sama. Ternyata itu hanya harapan masa kecil. Menjadi dewasa butuh proses yang tidak mudah.
***
Kegagalan menjadi langkah pertama dalam memuwujudkan mimpi. Kita harus siap dengan banyak kegagalan untuk mencapai apa yang kita inginkan. Bahkan bisa jadi apa yang kita inginkan tidak pernah terwujud, justru hal-hal yang tidak kita bayangkan menjadi jalan hidup. Sebelum itu kita akan dihadapkan dengan banyak pilihan. Memilih untuk tetap idealis dengan keinginan atau mengikuti jalan hidup yang sudah terjadi. Alih-alih memilih pilihan yang tepat justri pilihan itu terasa bodoh untuk dilakukan.
Belum juga berhadapan dengan ekspektasi orang-orang. Dewasa sangat berat ya.
Tapi kita hanyalah manusia. Bermimpi dan berkeinginan bagian dari tugas kita sebagai manusia. Lalu berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Tapi sebagai manusia kita tidak lepas dari tangan Tuhan. Apa yang kita inginkan belum terwujud, barangkali Tuhan punya rencana lain yang lebih indah untuk hidup kita. Itu bukan kegagalan hanya bagian dari proses hidup, sabar dan menjalani dengan ikhlas kunci untuk memaknai kegagalan.
Tan Malaka berkata âterbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.â
Mainan anak-anak yang lembek berwarna-warni itu, untuk bisa terbentuk menjadi sesuatu harus dibentur-bentur beberapa kali. Mungkin proses hidup memang seperti itu. Kita perlu terbentur bekali-kali bahkan ribuan kali untuk membentuk diri kita lebih baik dalam menjalani hidup.
Sering kali terlintad dipikiran, kenapa terlalu lambat untukku, sedangkan mereka sudah jauh dan melesat cepat sampai tujuan. Mengapa hidupku harus terbentur berkali-kali, harus menghadasi kegagalan berkali-kali, kenapa mereka begitu cepat terbentuk?. Pikiran-pikiran buruk itu yang sering melambatkan cara pandang kita terhadap hidup. Selalu melihat jalan orang lain padahal sebenarnya kita memiliki tujuan yang berbeda. Padahal setiap manusia memiliki momentumnya masing-masing. Barangkali proses yang mereka lalui juga terbentur-bentur tapi kita tidak pernah tahu. Mungkin mereka juga pernah gagal tapi bisa bangkit dari kegagalan. We never know!
Kegagalan adalah bagian dari proses hidup. Tumbuh dewasa memang tidak menyenangkan. Mengetahui bahwa banyak hal yang harus kita pikirkan dan menyadari bahwa itu adalah kegagal. Semua itu proses dari terbentuknya manusia dewasa. Cara kita mengambil keputusan dan memaknai hidup dengan baik bagian dari tumbuh dewasa. Tidak mudah memang.
Jalani saya pertumbuhan dewasa ini. Entah sampai mana batasnya, karena kita hanya manusia, jalani saya prosesnya. Jika kita beriman, kita paham bahwa segalanya sudah diatur dengan baik. Sebagai manusia hanya bisa menjalani dengan sebaik-baiknya yang terpenting jangan mengukur proses kita dengan orang lain. Setiap kepala punya jalannya.
***
âMengering sumurku terisi kembali, ku temukan makna hidupku di siniâ.
Aku tidak pernah kecewa dalam hal berdoa, hanya butuh sabar dalam hal terkabulnya doa. Bisa jadi terkabul sesuai dengan doa atau diganti dengan yang terbaik untukku.
Sebagai manusia, aku hanya menjalani hari demi hari, takdir yang sudah ditentukan untukku. Karena Allah berjanji bahwa berdoalah niscaya Allah akan mengabulkan doa. Tidak ada kata lelah untuk berdoa, tidak ada kata menyerah untuk berdoa. Doa sepanjang waktu. Hidup itu cepat sekali, seakan-akan terasa tiba-tiba. Tidak terasa semua berlalu begitu cepat.
Menjadi manusia baik dan menjalani sebaik-baiknya.
Ku Pilih Karam dari pada Surut ke Pantai
Pada sebuah harapan, kapalku berlabuh di tepian, memastikan sauh erat menahan daratan.
Pada sebuah pucuk surat, tak ada kata-kata manis terucap. Pengharapan pada mimpi-mimpi di ujung jalan lekas menemukan rumah, tempat tujuan.
Terban bumi tempat berpijak. ku temui kata tak berpucuk; jika pada akhirnya kemungkinan hanya diujung kuku, aku ikhlas. Adal menugal adalah benih. Setelah berkali-kali ku mengikhtiarkan. Ikhtiar menjalani untung menyudahi. Munajat tak henti-henti. Pasrah berserah pada ketetapan illahi.
Hingga pada akhirnya tiba, waktu berganti dan pengharapan masih tak jua berlayar. ku pilih karam dari pada surut ke pantai.
Alfianurulh.
Yogyakarta, 28 Februari 2020
Aku bukan perempuan hebat yang multitalent. Apa yang terlihat dimata mereka hanya kepalsuan. Selama ini aku hanya hidup dalam ekspektasi mereka. Hebat yang dibalut bayang-bayang orang lain.
Jujur, pujian yang mereka ucapkan hanya menutupi kebohongan. Aku cupu. Aku tak berdaya. Bahkan untuk berbicara satu kata pun aku tidak bisa.
Ingin lari dari kepalsuan ini. Aku tidak bisa. Aku lemah. Bahkan untuk mencapai tujuanku. Meraih cita-citaku, sangat sulit untuk aku lakukan.
Apa hebatnya?
"Tidak papa, semangat."!
Tolong, jangan katakan itu hari ini, esok, dan setiap hari. Apa kalian tahu, susahnya membangun kata-kata itu dalam diriku. Sampai pada akhirnya mengakar. Aku tidak perlu.
Aku yang dulu disanjung-sanjung, sekarang berjuang mempertahankan itu. Tapi gagal. Aku yang saat ini, adalah aku yang sebenarnya.
Aku tidak bisa hidup sesuai ekspektasi mereka. Aku tidak bisa harus selalu bahagia. Harus terlihat hebat. Harus terlihat beda.
Aku hanya perempuan biasa yang diciptakan Tuhan untuk hidup. Hidup dengan baik dan taat.
Berhenti berekspektasi padamu.
Biarkan aku menikmati ketidakmampuanku ini. Biarkan saja.
Aku mengaku.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Seperempat Abad
Karangpandan, 28 November 2021
Dua puluh lima tahun yang lalu, seorang bayi perempuan dilahirkan. Banyak tawa dan kebahagiaan mengelilinginya. Banyak doa-doa baik yang orang-orang berikan untuknya. Menaruh banyak ekspektasi kepada seorang bayi itu, meskipun sang bayi tak paham maksud mereka.
Hari demi hari berjalan, seorang bayi perempuan tumbuh menjadi aku. Tanpa ia sadari kehidupan sudah ia lalui, tahap demi tahap sudah dilalui. Sang bayi yang hanya bisa menangis, sudah mulai mengoceh, merangkak, berdiri tegak, berjalan, hingga mampu menentukan arah timur, barat, selatan, utara. Mulai menyimpan banyak kosa-kata, sampai ia pandai bercerita tentang mimpi-mimpinya.
Aku sekarang mulai tumbuh, setengah dewasa, sedikit kekanak-kanakan. Ekspektasi yang orang-orang berikan padamu saat kecil masih melekat di memori terdalam. Rasanya setiap hari aku berambisi mewujudkan semua. Ya, dengan berharap membuat mereka bahagia dan tidak kecewa.
Waktu demi waktu terasa berat, ekpektasi yang ditaruh terlalu beban untukku. Aku punya keinginan aku punya tujuan. Tapi hidupku terasa seperti terjebak oleh ekspektasi mereka. Hingga tiba waktunya aku tidak berjalan kemanapun. Arah yang sudah aku pelajari dari kecil hilang. Kata demi kata tak lagi bisa tersusun dengan apik seperti mimpiku dulu. Aku kehilangan aku.
Saat teman-teman sebayaku mulai menemukan jalan hidup. Aku masih dibingungkan dengan arah mana yang harus aku tuju. Seperti pejalan yang kehilangan kompas, seperti anjing yang kehilangan penciuman. Aku hanya bisa berdiri diantara banyak persimpangan. Terasa riuh bunyi klakson yang memintaku berjalan tapi kaki mematung tak bergerak. Ekpektasi yang mereka taruh padaku seperti jurang, jika aku tak melompat aku tak bisa mewujudkannya, jika aku melompat aku akan terjun bebas entah kemana.
***
Pada akhirnya.
Menjalani hari demi hari, detik demi detik, tak terasa tahun akan berganti. Aku hanya bisa pasrah dan berserah kepasa Tuhanku. Meminta yang terbaik, memohon ditunjukkan jalan yang benar. Aku yang saat ini tak memiliki yang bisa diajak bercerita. Aku bercerita kepada diriku melalui tulisan ini. Lega, kata yang ingin aku keluarkan saat ini.
Ya Allah Ya Tuhanku, terimakasih telah memberikanku umur hingga saat ini. Memberikanku kesempatan hidup dan memperbaiki diri. Diberi kesempatan menyembah-Mu dan dekat dengan-Mu.
Hingga pada akirnya aku kehilangan arah tujuan, aku menujumu. Ekspektasi yang mereka taruh padaku aku serahkan pada-Mu. Mimpi-mimpiku aku kembalikan pada-Mu. Mana yang terbaik untukku, aku berserah pada-Mu.
Seperempat abad hidup di planet ini.
Apa selama ini aku terlalu cinta akan dunia, hingga segala yang terjadi di dunia ini, membuatku marah pada semesta raya.
Bukankah seharusnya aku menjadi lebih mendekatkan diri, bahwa semua yang terjadi adalah bentuk kasih sayang dari-Nya. Kita sedang ditegur, pundak sedang ditepuk. Sang Cinta sedang menunjukkan cinta-Nya
Sadar sadar sadar
Aku hidup karena-Nya
Mati pun karena-Nya
Dunia tak ada apa-apa, aku cuma singgah untuk mencari bekal.
Aku dibentuk karena cinta-Nya, aku pun harus menjadi manusia karena cinta-Nya. Teramat cinta-Nya besar kepadakuâcintaku yang masih cinta-cintaan.
Aku hanya meminta, kuatkan cinta ini kepada-Mu, lebih dalam lebih besar. Sadarkan aku bahwa dunia ini hanya nafsuku.
Aku menjaga bumi ini karena cinta-Mu padaku, karena aku mencintai-Mu.
Aku cuma pengen nggak dihakimi ketika mengutarakan kalau aku masih berkabungâwajarâmanusia berhak sedih. Tapi aku nggak menuntut untuk dipahami selama mereka tidak mengerti. Tapi cukup diamlah, aku nggak suka dihakmi.
Modernitas; antara ingin kembali atau hidup begini saja, tak ada yang bisa.
Di dunia yang bising, orang-orang berangan-angan menyingkir ke pulau terpencil. Dalam kehidupan serbacanggih, orang bermimpi sehari saja tanpa memegang telepon pintar dan nonton televisi. Di tengah modernitas, diam-diam orang-orang merindukan hidup sederhana di desa terpencil. Tapi itu hanya angan-angan, tak ada yang rela meninggalkan kemudahan dan kemewahan, ditengah segala kesederhanaan dan keterbatasan.
Tidak bisa dipungkiri, zaman berkembang pesat. Kesederhanaan jauh dari kehidupan. Segala macam akses sedetik mudah didapat.
Apalagi ditengah-tengah pandemi ini. Kehidupan mudah saja dijalani, semua sudah tersedia. Sandang, pangan, pendidikan, pekerjaan. Semua dilakukan dengan teknologi, hanya dengan satu benda semua sudah selesai. Makan tanpa ketemu penjual, diantar sampai rumah, belajar di rumah, bekerja di rumah, belanja dari rumah. Tetapi ini hanya berlaku bagi hidup ditengah kemudahan dan kemewahan.
Hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan jauh dari kata mudahâhanya tinggal klik saja. Kehidupan harus tetap berjalan sebagaimana mestinya, bangun subuh berjalan ke sawah, memastikan tidak ada hama, ke pasar menjual hasil panen, menunggu pembeli, memanggul barang belanjaan, menata bata dan semen, menyapu jalanan membuang sampah-sampah perumahan.
Aku sebenarnya rindu kesederhanaan, tanpa mudah mengakses kabar yang semakin-hari bukan menggembirakan justru membuat sesak. Ingin sekali membanting benda-benda ini, tapi tetap juga tak rela, masih butuh. Tak ada yang mau hidup dadakan ketidaktahuan, tak ada yang mau hidup dalam ketertinggalan. Hidup dalam serbacanggih, menguji manusia untuk tetap waras, meski sedikit gonjang-ganjing.
Ini ditulis setelah selesai membaca buku Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari, cerita dalam novel berhubungan dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini. Hidup dalam kemudahan dan serba cepat, tetapi tidak semudah itu. Semakin sering kecepatan itu didapat, rasa-rasanya semakin membuat tidak waras. Kesederhanaan datang mewakili rindu untuk kembali ke masa lampau, tapi itu hanya angan-angan.
Rasulullah pada saat tertimpa kesusahan dan mendapat cobaan beliau berkata, "Aku hanyalah hamba Allah dan semoga Allah tidak mengabaikan diriku".

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
"Berbuat baiklah kepada orang yang Kamu cintai, karena kerinduan setelah kematian itu tidak tertahankan."
Seratus sembilan puluh hari, Kesedihan itu masih terasa. Sesekali masih teringat segala kebiasaanâdulu, seharian aku tidur dan tidak keluar rumah, simbah memastikan diriku baik-baik sajaâmembuka pintu kamarâmendekatiku, "nduk, awak e opo lagi masuk angin?" sambil memegang kakiâmemastikan dingin atau hangat.
Hari ini, aku tidur seharian, badan tidak enak. Aku teringat simbah. Berharap gagang pintu terbukaâsimbah datangâmemastikan keadaanku. Saat aku sadar itu hanya lamunan, aku menangis. Aku kangen, "jika saja", itu yang selalu ada dibenakku.
Yaasiin
Pada malam terakhirmu, buku Yaasiin. Tak pernah lepas di tanganku dan telingamu tak pernah berhenti mendengar.
Setelah hari itu, setiap Yaasiin aku baca, mataku brebes tak tertahankan.
Pagi Yang Tidak Biasa
Bangun tidur dengan kesedihan yg berulang. Mimpi yanh sudah lama tidak muncul di layar. Mimpi ini seperti film yg diputar ulang. Tuan. Sudah lama kehadiranmu tidak menghiasi langit-langit mimpi, tiba-tiba kau hadir dengan rupa yg baik. Disaat aku sudah tidak mengharapkan tayangan ulang, kau muncul tanpa aba-aba.
Pagi dengan secangkir teh di depan tv. Bayanganmu masih jelas di layar. Meskipun kau hanya mimpi. Sebelumnya tak pernah ku pandang lagi gambaranmu, tak ku ingat lagi namamu, tak ku rindukan dirimu. Tak ada api tak ada asap, kau membumbing di atap. Kau muncul sebagai yang masih aku harapkan selama ini.
Aku sempat menghentikan detak ini, dan memintanya kembali ketika aku sudah menjadi diriku yang lebih baik. Aku merasa belum pantas, dan berharap hingga saatnya tiba, ketika aku sudah pantas aku bisa menjadi pendampingmu. Melengkapi figura yang selalu kau pajang tanpa hiasan gambar.
Dan, jika hingga saatnya sudah tiba, namun ternyata figuramu telah terisi. Aku mendoakan kebahagiaanmu tidak hanya terlihat dihiasan dinding.
Aku mencintaimu dengan penuh keyakinan. Aku mengharapkanmu dengan penuh kepasrahan. Yakin karena perasaan ini utuh, pasrah karena hanya Tuhan yang mampu membuat tali ini menjadi terhubung.
Jarak yang paling menyakitkan dari sebuah hubungan adalah status sosial.
Ku Pilih Karam dari pada Surut ke Pantai
Pada sebuah harapan, kapalku berlabuh di tepian, memastikan sauh erat menahan daratan.
Pada sebuah pucuk surat, tak ada kata-kata manis terucap. Pengharapan pada mimpi-mimpi di ujung jalan lekas menemukan rumah, tempat tujuan.
Terban bumi tempat berpijak. ku temui kata tak berpucuk; jika pada akhirnya kemungkinan hanya diujung kuku, aku ikhlas. Adal menugal adalah benih. Setelah berkali-kali ku mengikhtiarkan. Ikhtiar menjalani untung menyudahi. Munajat tak henti-henti. Pasrah berserah pada ketetapan illahi.
Hingga pada akhirnya tiba, waktu berganti dan pengharapan masih tak jua berlayar. ku pilih karam dari pada surut ke pantai.
Alfianurulh.
Yogyakarta, 28 Februari 2020
mas saya sekrg 25 tahun seorg perempuan sarjana dan blm.menikah, skrg saya punya warung kecil kecilan drumah, dan sedang berusaha untuk mengembangkan usaha lain semoga tahun ini bisa buka cabang. teman teman saya bekerja sesuai keinginannya, saya tidak bisa kemana manaa hanyaa menjaga orgtua saya yg sepuh dan berusahaaa segiat mgkn menjadi luar bysa dgn usaha saya, tapi kadang saya sukaa sakit hati juga kalo ada yg bilang kuliah tinggi tinggi cuma jualan.. mas mau ga ngasih nasihat untk saya.
Kuliah Tinggi-Tinggi Cuma Jualan?
Gini, perkuliahan dengan pekerjaan itu suatu hal yang berbeda sebenarnya. Meski bisa saling berkaitan, tapi dia dua topik yang sungguh tak berhubungan resmi. Perkuliahan itu bertujuan mendapatkan ilmu pengetahuan, bukan pekerjaan. Mereka yang berpikiran sempit bahwa perkuliahan itu linier dengan pekerjaan, rasanya harus kita lupakan saja bahwa orang-orang ini eksis. Kampus adalah ajang kita mendapatkan pengetahuan empirik yang tidak didapatkan dari sekadar hidup normal. Sedangkan pekerjaan adalah soal menyambung hidup--thus bisa jadi adalah soal kegemaran.
Seperti contoh tukang las. Tamatan SD juga bisa mengelas besi dengan cukup melihat orang lain mengelas dan melakukannya sendiri. Sangat bisa. Tidak butuh ilmu yang tinggi hanya sekadar mengelas. Tapi, tukang las biasa tidak akan tahu bahwa untuk mengelas yang sempurna itu ada ilmunya yang dipelajari di jurusan metalurgi. Ada ilmu yang sangat presisi bagaimana menghasilkan las-lasan sempurna dan kokoh. Mengelas batang sepeda sangat berbeda dengan mengelas tulang-tulang gedung pencakar langit. Ada rumus dan perhitungannya. Ini tidak didapat dari pengalaman mengelas biasa. Jadi, anak-anak metalurgi bisa jadi tahu ilmunya tapi belum tentu bisa mengelas sebaik tukang las tamatan SD. Karena ilmu dan praktik masih bisa dipisahkan oleh pengalaman.
Orang biasa yang tidak mengerti pentingnya ilmu pengetahuan mungkin akan berpikir jualan itu sekadar jual-beli. Tapi orang yang berpendidikan akan berpikir bagaimana agar jual-beli tidak lagi sekadar transaksional; tapi ada grafik peningkatan, strategi pengembangan, prediksi untung-rugi. Bahkan sekadar mengenakan sarung tangan higienis atau penutup kepala agar rambut tidak jatuh ke makanan bukanlah hal sepele bagi mereka yang berpendidikan.Â
Ok, kamu âjualanâ, sama dengan siapapun yang juga âjualanâ. Tapi pasti ada yang berbeda dari caramu berjualan. Ada yang kontras antara mereka yang kuliah tinggi-tinggi dengan mereka yang tidak kuliah. Ada satu titik di mana orang yang berilmu plus berpengalaman akan superior terhadap mereka yang hanya memiliki salah satunya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Alasan Sering Nyampah di Timeline Sosial Media : Self-Healing dengan Menulis
Seringkali dipenuhi pikiran-pikiran yang ruwet, kadang ada hal yang mengganjal dalam dada tapi tidak bisa diutarakan. Ada kesedihan yang butuh didengar tetapi sulit dilisankan. Aku memilih menulis sebagai cara penyembuhan.
Menulis bagiku sebagai self-healing. Saat hati dan pikiran tak karuan, rasanya ingin mengeluarkan segalanya. Menulis adalah kejujuranku, saat aku bisa menjadi diriku sendiri, dan setelah tulisan itu selesai aku merasa membaik. Aku merasa senang. Aku merasa baik-baik saja. Ini alasan aku sering nyampah di twitter, sering post di tumblr meskipun tulisan-tulisanku hanya berisi curhatan. Semakin banyak tulisan yang ekspresif semakin sering kesakitan menimpa diriku. Semakin banyak luka batin yang mempel dihatiku. Salah satu alasan menulis, karena tidak bisa cerita sama orang.
Melalui menulis perasaan lebih mudah diekspresikan, lebih mudah mengungkapkan yang selama ini terpendam dalam pikiran. Bagiku menulis adalah komunikasi dengan diri sendiri, curhat dengan diri sendiri. Saat isi kepala terasai âramaiâ, menulis bisa membuat âjalanan lenggangâ. Menulis bisa dijadikan terapi mengurai âkegaduhanâ. Tanpa disadari memendam cenderung menyimpan energi-energi negatif dalam diri. Namun, ketika mencoba menuliskannya, secara tidak langsung hati terasa sembuh. Seperti ketika dahaga minum es degan langsung segar.
Ketika ingin menulis tapi tidak tahu mau nulis apa, tulis bebas. Menulis apapun yang sedang dirasakan, apa yang didengar, dan apa yang dilihat. Misal hari ini mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan ketika traveling atau pagi-pagi lihat postingan di timeline ternyata doi posting foto undangan pernikahan. Tulis saja perasaanmu yang sedang kau rasakan, sedih, benci, senang, atau marah sekalipun.
Kemarin aku mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, saat menyebrang jalan tiba-tiba ada mobil yang nabrak dari belakang. Spontan aku marah dan kesal, karena jalanan masih ramai dan aku trauma nyebrang. Aku nggak bisa marah-marah dengan sopir mobil, sampai rumah aku masih gemetaran dan emosi. Aku mencoba membuat tread di twitter menceritakan kejadian yang tidak menyenangkan itu. Setelah selesai menulis rasanya emosi seketika hilang. Meski pada akhirnya tulisan itu hanya terhenti pada si penulis saja, tetapi kepuasan batin tersendiri sudah meluapkan emosi seperti healing.
Aku pernah memiliki pengalaman menarik, antara lucu dan haru atau malu atau ngenes. Saat di bangku putih abu-abu, pernah menyukai kakak kelas, aku nggak berani bilang alias malu, hingga suatu ketika, saat ujian nasional menjelang aku nulis surat, ku titipkan pada temanku dan temanku memberikannya pada teman kakak kelas itu. Entah sampai atau tidak, terbaca atau tidak. Konon katanya surat itu dibuang, jahat. Padahal isinya puitis banget rugi dia hahaha. Aku mengungkapkan semua perasaan lewat surat, masih ada salinannya kok, kapan-kapan aku salin di sini.
Kunci agar menulis bisa menjadi bagian dari self-healing therapy adalah dengan jujur pada tulisanmu. Berusaha untuk tidak membohongi diri sendiri, apa yang sedang kau rasakanjangan menyangkal. Karena ini bagian dari penyembuhan diri. Ibaratnya seperti kamu curhat pada temanmu jujur apa adanya. Menulis terdengar kegiatan yang biasa saja, tetapi bisa menjadi sumber kekuatan ketika kita menulis apa yang ada dalam pikiran, kerena tujuannya adalah healing, kalau karena royalty barangkali beda lagi.
Setiap orang adalah penyembuh bagi diri sendiri. Setiap luka batin, kisah masa lalu yang kelam, pengalaman hidup pahit, kegagalan hidup, patah hati adalah kejadian hidup yang harus dijalani dengan bijak. Luka seperti jamur, ketika dicabut akan tubuh lagi luka baru. Dalam hidup pasti datang hal-hal yang mengusik pikiran dan perasaan, maknai segala yang hadir sebagai kenikmatan yang jarang ditemui, meski sering terjadi.
Menulislah kalau yang kau bisa menulis.
Aku gak pernah memaksa semua orang harus sepakat dengan apa yang ku utarakan. Jika ada yang memiliki respon "relate", berarti tujuanku tercapai.
Saat sudah lulus sekolah, itu berarti salam perpisahan dengan teman-teman jauh dari mereka. selama menjalani masa-masa susah selalu ada, dan pada akhirnya tiba, dipisahkan oleh impian masing-masing.
Yah, begitulah aku saat ini. Pisah dengan teman-teman. Jauh dari keakraban (lagi). Lama-kelamaan nggak ada rencana ketemu bahkan malas untuk chatting.
Barangkali orang-orang seperti itu memiliki maksud tersendiri.
Sejak saat itu, aku yang terlihat tidak peduli dengan mereka sebenarnya mikirin terus, ingat-ingat terus. Tapi cuma gengsi aja mau tanya kabar. Aku tahu ada yang sedang tidak baik-baik saja dengan mereka. Dengan tidak hadirnya raga di depan mereka, aku ingin memberikan sesuatu yang dapat menenangkannya.
Aku berusaha menulis sesuatu yang membuat ia merasa, "apa yang aku rasakan, ternyata temenku juga ngalamin." aku ingin memberi kekuatan kepada mereka, menyenangkan mereka, menghibur mereka. Melalui sesuatu yang sulit dijangkau tapi hangat dirasa.
Barangkali pengganti chat di aplikasi adalah tulisan ini di sosial media.
Menghibur adalah tugasku. Ketika aku bahagia rasanya ingin ku bagi-bagi. Meskipun kelihatannya aku adalah orang yang paling tidak acuh, dingin, dan gak ekspresif.
Karena aku memang sulit bersikap manis. Sebenarnya batin penuh rasa kekhawatiran. Kangen.
Moga-moga dengan hadirnya aksaraku, adalah pengganti aku jika aku tak ada di dekatmu. Dekap saja alinea-alinea ku, rasakan kehadiranku. Kau tidak sendirian, sedihmu aku juga merasakan.
Orang yang bersikap dingin, bukan karena tak peduli. hanya saja tidak tahu bagaimana memulai.