answered.
DEAR READER
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com

roma★

ellievsbear
Keni
Cosmic Funnies
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

cherry valley forever
trying on a metaphor
NASA

YOU ARE THE REASON
Peter Solarz

Love Begins

JBB: An Artblog!
h
Show & Tell

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from T1

seen from United States

seen from Ireland

seen from Iceland

seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@aleaffallsfromatree
answered.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lion Mark
Kita hanya membuat narasi. Seringkali narasi itu bukan berdasarkan apa yang terjadi dan apa adanya, melainkan sesuai dengan bagaimana kita merasa dan berpikir pada saat itu.
Mark Lee yang benar-benar hanya seorang Mark Lee dengan musik, nilai, dan kepercayaannya.
Mobil Merah
Pernah ada masa di mana tim kami punya mobil double cabin untuk keperluan operasional. Warna mobilnya merah, jadi mudah untuk diidentifikasi. Suatu hari, ada email dari pimpinan bahwa mobil itu akan ditarik dan dipakai untuk keperluan operasional tim lain. Aku baru ingat, mobil merah itu awalnya memang bukan mobil kami. Kami hanya pinjam, tapi seiring berjalannya waktu aku (atau kami) lupa bahwa peminjaman itu ada waktunya. Ternyata hari di mana email itu dikirim adalah hari terakhir kami dapat memakai mobil merah.
Waktu itu aku cukup kesal. Tiba-tiba banget diambil mobilnya? Emangnya kita ngga sedang kerja? Kalau mobilnya tetiba ditarik kayak gitu, gimana kita kerjanya? Ngga dikasih aba-aba dulu gitu supaya bisa disiapkan mobil pengganti?
Hari itu, kami agak mati gaya karena mobilisasi menjadi sedikit terhambat.
Suatu waktu, karena urusan cukup mendesak dan kebetulan mobil merah belum terlalu sibuk mondar-mandir, kami meminjam mobil itu sebentar. Seorang rekan kerjaku yang menyupir bilang, bahwa bahan bakar mobilnya sudah mau habis.
Reaksi pertamaku saat itu adalah, "Yaudah biarin aja nanti balikinnya ngga usah isi solar dulu. Biarin aja habis."
Tapi rekan kerjaku—yang usianya 10 tahun lebih tua dariku—dengan tenang bilang, "Kita isi aja."
Aku tersadar, betapa belum dewasanya aku di penghujung usia 20an ini :(
Adult
30.
ㅋㅋㅋ Now that I'm turning 30 this years feels like a brand new sensation. It's a bit unfortunate because worry takes a quite portion of it, but gratefully there's also a heartening portion one in it.
Turning 30 seems like turning into a real adult. It's not just "adulting" anymore, it's more like no matter what, I got to be an adult now. It's the time. The moment that struck me with that thought was after I watched Super Show 10, as well as The Dream Show 4. It was a crazy month, I watched two concerts. It was awesome.
It's more amazing because right after it, I started to think about this "maturity" thing. What does a mature person truly mean?
Watching NCT Dream now, especially if you've known them since their first Chewing Gum song—and that's not me—, you'll understand that they used to be babies and now you see how they've turned to be grown up men. Watching Super Junior gave a flipped side of impression. Their 20th anniversary was a big deal for me personally because I was thinking, "Wow, I've been knowing them since I was graduated from elementary school. And now I'm a working adult woman. Guys, look! I've grown."
Then the striking question came,
Really? Have I really grown?
My mind was a bit panicking. I was looking for evidences that show yes, I have grown. But I can't really confidently tell which parts of me that are good now, which are a lot better than before, which I'm proud of, which showing I've grown. That was how this maturity topic started to sit in my mind and it's been for some time now.
I love that feeling about how time flies, about how far we've come, how long the journey we've been through, when I watched Super Junior. But I'm afraid they're just delusional. I'm afraid I didn't take the steps enough.
That I'm actually standing right in the same place,
since I was graduated from the elementary school.
State of Mind
Waktu itu aku habis lari di Cibis Park. Aku duduk di tempat duduk deket kolam, depan Delico. Ada sepasang bapak-ibu lagi olahraga jalan keliling jogging track. Mereka kayaknya udah cukup paruh baya, sekitar 50 tahunan mungkin. Ibunya agak berbadan gemuk. Muncul pikiran, "Hebat ya, meski udah berumur dan badannya cukup besar, tapi terus berusaha hidup sehat." Hampir bersamaan dengan munculnya pikiran lain, "Emangnya bakal ngaruh ya olahraga kalau udah seusia itu tapi badannya udah terlanjur ngga ideal?"
Bagaimana kita berpikir itu kayaknya menunjukkan how's our state of mind at that time deh. Ketika kondisinya lagi cukup bagus, pikiran seperti yang pertama tadi cenderung lebih mudah muncul daripada pikiran kedua. Kayak terasa ada kesusahan yang sedang dihadapi sampai muncul pikiran seperti yang kedua.
Di buku Hyun-Nam Dong Bookshop, naratornya bilang gini, "Seeing a person enjoying what they love to do warms you heart." Aku rasa ini sejalan sama yang dibahas di atas. Ketika seseorang enjoy, output yang mereka keluarkan cenderung menyenangkan sehingga bagi orang-orang di sekitarnya pun lebih terasa positif. Because they genuinely love and come to the liking of what's in their plate, if i might say. Sebaliknya, kalau marah-marah, misuh-misuh, ngegas, that's worth a sincere question,
"Are you okay?"

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sebenernya apa sih yang diburu-buru?
And I imagine
when I whisper to the thin air,
"I'm so tired. My back's hurt.",
there's a whisper,
"I know. And that is the path to Jannah."
You won't get anything from the people who are proud of you.
The goodness you thought you got from the people who were proud of you,
are actually not from them.
"Kamu kalah." "Hah? Kalah apa?" "Ngga ada. Kalah aja pokoknya." "._."
Gonna be so weird kalau tiba-tiba jadi kalah, kalau ngga ada apa-apa. Tapi memang perasaan "kalah" tuh kayak buruk gitu ya. Kalau misalnya beneran ngga ada apa-apa nih, ngga ada lomba, kompetisi, kejuaraan, persaingan, perbandingan, atau apapun, terus jadi kalah gitu, yaaa, terus masalahnya apa? Kalah itu jadi masalah (dan hey, sebenernya ini bahkan ngga mesti jadi masalah gimanapun situasinya sih. Tapi anyway,) kalau misalnya ada sesuatunya. Ya kayak lomba, persaingan, atau apapun tadi. Tapi ini ngga ada apa-apa sama sekali.
"Oke ya? Kamu kalah ya?" "Oke" Dan tidak terjadi apa-apa.
A song made from annoyed emotion because I feel annoyed because the group I stan losing on a voting event. What a loop from the hell but...
Sang Ibu dan Sang Ayah sedang duduk-duduk di teras rumah menikmati hari Minggu pagi yang menenangkan. Tiba-tiba lewatlah Si Pemberi Berita Keliling yang seringkali lewat depan rumah di waktu yang tidak tentu.
“Lusa akan ada meeting sama vendor! Lusa akan ada meeting sama vendor!” Teriaknya sambil berjalan menyusuri perumahan.
Tidak lama setelah itu, pintu rumah mendadak terbuka. Keluarlah Si Cemas sambil berlari-lari di pekarangan rumah.
“Aaaaaaah meeting sama vendor! Gimana ini, gimana ini!”
Sang Ibu dan Sang Ayah tersenyum dan tertawa geli melihat tingkah anaknya ini.
“Ahaha gemes banget Si Cemas ini.” Sahut Sang Ibu.
Si Cemas kemudian berlari ke arah Sang Ibu dan Sang Ayah yang sedang menonton Si Cemas berlarian. “Ibu, Ayah! Kok ngga ikut lari sama aku! Aku lagi panik gini kok Ibu sama Ayah ngga ikut temenin aku!”
Sang Ibu dengan senyumnya yang hangat membelai rambut Si Cemas. “Iya, Nak. Ibu sama Ayah ngga ikut kamu berlarian karena Ibu sama Ayah ngga mendukung perasaan cemas. Tapi kalau kamu mau merasakan perasaan itu dan berlarian kayak sekarang, boleh kok. Ibu dan Ayah bolehin kamu, dan kita akan tetep duduk di sini ngeliatin kamu. Ngga apa-apa, Nak, kalau kamu mau lari-lari. Kita bolehin, tapi Ibu sama Ayah ngga ikut ya. Kita temenin kamu dan ngeliatin kamu dari sini aja. Oke?”
Mendengar penjelasan Sang Ibu yang begitu tenang dan hangat, Si Cemas turut merasakan perasaan tenang sesaat. Sampai-sampai dia pun duduk di antara Sang Ibu dan Sang Ayah sambil berpikir.
“Kenapa Ibu sama Ayah ngga dukung perasaan cemas, Bu?” Tanya Si Cemas penasaran.
“Nak, Ibu ngerti kalau kamu lagi cemasin apa yang Om Pembawa Berita tadi kasih tau. Itu kan tentang masa depan ya, meetingnya masih di hari lusa. Yaa, Ibu juga cemas sih. Karena itu kan di masa depan, jadi kita belum tau apa yang akan terjadi.” Jelas Sang Ibu.
“Bener, kan, Bu!” Si Cemas semangat dan merasa Sang Ibu berada di pihaknya.
Sang Ibu terkekeh. “Iya, Nak. Yang kamu rasain itu memang betul. Tapi Ibu sama Ayah juga tau kalau kita terus mikirin itu, ngga akan ada selesainya. Jadinya Ibu sama Ayah memilih untuk ngelakuin yang bisa kita lakuin. Untuk meeting itu, nanti kita pikirin agendanya sebelum meeting, kita siapin meetingnya pas pagi sebelum meeting dimulai. Tapi ngga sekarang, sekarang kan masih hari Minggu. Nanti aja pas kita udah masuk kerja. Ya kan, Yah?”
“Iya bener, Bu. Kalau mikirinnya dari sekarang, hmmm, kayaknya ngga deh. Kita mau menikmati libur dulu aja. Nanti pas udah masuk kerja, baru deh kita atur lagi prioritasnya. Kan di pagi hari itu kita bisa pilih, prioritas apa aja yang mau kita kerjakan di hari itu.” Jawab Sang Ayah.
Sang Ibu pun tertawa karena teringat sesuatu. “Walaupun itu juga kita masih belajar ya, Yah, untuk nentuin prioritas dan target setiap harinya.”
“Hahaha iya bener, Bu. Tapi ngga apa-apa, kita kan tahu itu yang betul mau kita lakuin. Kita masih sambil belajar juga, Nak.” Kata Sang Ayah sambil membelai kepala putranya.
Mendengar penjelasan Sang Ibu dan Sang Ayah yang mulai menyebut-nyebut meeting, Si Cemas kembali mulai merasakan perasaan cemasnya. Sekujur tubuhnya perlahan menegang dan tidak tenang kembali.
“Tapi, Bu, tapi, Bu. Jadi takut banget nih!”
Sang Ibu dan Sang Ayah terkekeh pelan.
“Iya, ngga apa-apa, Nak. Kamu mau lanjut lari-lari lagi?” Tanya Sang Ibu lembut.
Dengan muka cemas dan takutnya, Si Cemas mengangguk pada Sang Ibu.
“Gih, sana.” Sahut Sang Ibu sambil menggosok-gosok punggung anaknya dengan lembut.
Si Cemas kembali berlarian di pekarangan rumah.
“Aaaaaaaaaaah, gimana iniiii”
Si Cemas mulai kembali teriak-teriak di pekarangan rumah, menumpahkan isi hatinya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Perspective
Put things in perspective.
Knowingly or unknowingly, we see through a certain perspective, a certain lense.
"It's not what you look that matters. It's what you see" -Henry David Thoreau
How we see, how we think, how we perceive are built upon anything we've been through—our background, our families, our schools, neighborhood, books we read, movies we watch, conversations we listen, experiences. We shape what we receive through our senses into what we think, hence what we believe, and eventually what we aim and what we act.
There's a perspective of death. We will die, one day. There's certainly no doubt about it. But that information isn't always something we use as our lenses. Once we use it, though, we know that what we thought was a matter actually is not a matter anymore. On the other hand, what we were ignorant of becomes something crucial.
"We will die anyway, why does it matter?" "We will die one day, that's why it matters"
There's also a cosmic perspective. When we are aware of where we're standing, we're aware that it is indeed a planet that we're living in. A blue planet, the Earth. We know that Earth is one of the planet in the Solar System. The other planet is Jupiter, and we know that Jupiter is thousand times bigger than our Earth. Yet, the Sun is thousand times bigger than Jupiter. It doesn't stop there. There are other stars, blackholes, with massive gigantic vast huge mega size. While we are just a pale blue dot.
"A mote of dust suspended in a sunbeam" -Carl Sagan
There are many other perspectives we can use (and are using). And we're blessed with the power to choose, consciously.
How would you see?
Appreciative
Actually I've ever told you here.
There was once someone who ever did something that verily made me speechless. When I showed him my drawing, he gave a positive response and months later, he gave me one of the t-shirts he made with my drawing printed on it.
It was last year. Until now, I'm still very touched with his gesture. I think it is the best kind of appreciaton I've ever got. A kind of appreciation that's very honest and sincere, and of course, subjectively, that's very on my favor.
The word appreciation becomes the highlight. It reminds me of one of the Asmaul Husna: Ash-Shakur.
Ash-Shakur Meaning: The Grateful, The Appreciative, The Rewarder of Thankfulness.
Alhamdulillah.
Today, I get to experience the meaning of Ash-Shakuur. As I'm coming back to the dear memory of that t-shirt, I notice the immense feeling of being appreciated. Then, I face that feeling to Ash-Shakuur.
How million, billion, quadrilion times more appreciative Ash-Shakuur is, than that appreciation I get from receiving the t-shirt.
How all of my good deeds (insyaAllah, aamiin) will be rewarded by Ash-Shakuur. How not a single atom of good deed He will miss. How perfect His reward will be. Allah is Ash-Shakuur.
Yaa Shakuur. That is the appreciation I most want.
May Ash-Shakuur accept every each one of our intentions, attempts, and actions of goodness we've ever done, and we'll do. Aamiin.
The Intentionality
"There's nothing wrong in art, as long as they're intentional."
Salah satu hal yang aku suka sekali dari menyukai seni adalah bahwa ngga ada standar yang baku, mana karya seni yang bagus dan tidak bagus. Semua karya seni yang dibuat orang tuh bisa sah-sah aja, bisa boleh-boleh aja, bisa bener aja semua. Toh memang senimannya ingin bikin seperti itu kok. Jadilah aku berpikir, bahwa selama karya seni tuh intentional, maka ngga ada yang salah, mau se"aneh" apa pun karyanya. (Sungguh melegakan juga bukan? Bisa bebas menyampaikan dan berekspresi? MasyaAllah).
Aku jadi mengaitkannya ke apa pun yang kita lakukan di kehidupan sehari-hari. Sebenernya, apa pun yang kita lakukan itu pada akhirnya berdasarkan niat dan tujuan bukan? Mungkin ada yang disadari, ada juga yang ngga disadari. Tapi aku rasa ngga bisa kalau ngga ada niat atau tujuan. Bahkan kegiatan seperti scrolling, atau mager dan rebahan pun didorong oleh suatu hal. Sebagai pengamat, kita bisa aja menilai orang lain dan kehidupannya tuh sebagai a, b, c, dan lain-lain. Tapi pada akhirnya, orang itu punya niat dan tujuannya sendiri. Punya dorongan, motivasi, dan latar belakangnya sendiri. Kita bisa menilai berdasarkan sudut pandang kita lalu berhenti sampai di situ. Atau kita bisa juga menilai, lalu penasaran cari tau hal dibaliknya, lalu kita memahami kenapa dia sampai menjadi apa yang kita nilai itu, lalu kita bisa membiarkan atau mengambil tindakan.
Contohnya, misalnya ada orang yang kayaknya misuh-misuh tentang rekan kerjanya. Aku jadi penasaran kenapa dia sampai harus misuh-misuh kayak gitu ya. Aku bisa aja tanya ke dia langsung, tapi aku memilih menjabarkan dulu berbagai kemungkinan: mungkin dia merasa harus melindungi pekerjaan dia karena latar belakang yang aku ngga tau, mungkin cara dia berpikir dan mengelola emosinya seperti itu, mungkin dia lagi ada di situasi yang bikin dia harus meluapkan emosinya, mungkin dia memang ngga suka sama rekan kerjanya, atau mungkin ada hal lain yang aku ngga tau. Lalu tindakan yang aku pilih adalah tetap menjadi orang yang ngga tau apa-apa. Pada akhirnya juga, apa pun yang dia lakukan tuh tergantung niat dan tujuan dia, tergantung latar belakang yang dia punya.
Dan aku ngga tau itu secara sempurna.
Seringkali aku bertanya, "Gimana cara mendefinisikan seseorang?". Apakah lewat hasil produktivitasnya? Lewat hasil kerjanya, studinya, travellingnya? Lewat berapa banyak dan dekatnya dia dengan teman-teman atau keluarga? Lewat jenis hobinya? Aku rasa, salah satu jawaban yang bisa dipertimbangkan untuk pertanyaan ini adalah,
lewat niat dan tujuannya.
Dan itu hanya bisa diketahui dengan berusaha memahami, dan bahkan mengobrol langsung dengan orang yang bersangkutan.
Selain cara itu, yang aku adalah nge-judge.
Untuk semua kemudahan yang aku rasakan, ada tangan-tangan pekerja keras dan benar di sana.
Untuk semua kesulitan yang aku rasakan, ada tangan-tangan pekerja asal dan malas di sana.
How did I do that?
Thinking back, I can't believe what I've ever done. Being one of the SPAs (Single Person Authority) for a group of equipment? Managing the jobs to be done with the team? Had meetings with vendors and asked them to do several tasks?
How could I do that?
And how can I do that again?
I can't believe I've ever done such things that seem so tough if I have to do them again right now. But that exactly is. Just like how it turned out to be true that I did all of those once unimaginable things, by Allah Swt wills, I will be able to do it again. Maybe differently, maybe in the same way, maybe better, maybe something new, I don't know.
But Allah Swt knows, and He is already there in my future.
He waits for me, and He'll see, how I will act.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Someone ever told me, "Untung dia ngga ikut."
Now I'm so scared that someone will say things like that, when I'm not around.
No but really.
I think, (some) caffeine works the same as alcohol for me. Sometimes I got that "kicks" that I suddenly feel not like myself.
(and sometimes it's kind of fun, when it is fun).