PDKT itu tak seindah yang dibayangkan
Ini adalah cerita tentang masa paling indah (sekaligus berbahaya) dalam sebuah hubungan. Iya, masa pendekatan. Minimal sekali dalam hidupmu, kamu pernah merasakannya. Ketika sesuatu yang kamu yakini itu cinta--membuatmu kalang kabut menyerahkan segala yang kamu miliki padanya.
Lalu, satu hari, kamu akan merasakan perasaanmu yang mulai bertumbuh subur ini dibingungkan dengan perasaannya yang malah bertambah kabur. Kamu yang telah telanjur merotasikan kebahagiaan padanya, marah besar, sebab ternyata hanya hatimu sendiri yang terlibat. Masa indah itu memudar dan menjadi sama saja. Ujungnya, kamu bahkan sudah tahu--dia berhenti dan kamu menyerah.
Tapi, nanti, setelah berbulan-bulan kamu berhasil terlepas dari perihnya gagal pendekatan, kamu akan tahu bahwa yang kamu gadang-gadangkan selama ini, bukanlah cinta. Lebih dangkalnya, dia hanya orang paling ideal untuk memenuhi kekosonganmu. Kebetulan, dia cukup beruntung mampu meluluhkan hatimu dibandingkan dengan kandidat yang lainnya.
Dan, kamu menerimanya. Kamu mengizinkannya untuk menjadi bagian dari orang-orang yang kamu pedulikan...sekali lagi. Hingga akhirnya, kamu mengamini segalanya secara berlebihan. Kamu pelan-pelan kehilangan makna bahagia dan dirinya. Karena, mungkin bisa saja, bukan itu tujuannya masuk ke dalam hidupmu.
Aku menulis ini sebagai orang yang pernah terlalu cepat mengglorifikasikan cinta. Lalu, aku belajar, bahwa: masa pendekatan memang masa paling indah, namun juga paling melelahkan. Karena, dua orang harus mengeluarkan energi ekstra untuk memberi kesan baik terhadap satu sama lain.
Sampai mereka lupa, energi itu bisa habis, dan salah satunya akan kehilangan euforia.
Sementara, satunya lagi, terluka sebelum waktunya.

















