Pernah waktu lalu aku merenungkan keikhlasan yang harus ada setiap saat, bukan hanya saat sedang kehilangan. Karena ikhlas itu dibentuk, dilatih dari tempaan yang tak hanya sekali. Semua yang aku miliki hanya titipan, benar benar titipan. Aku pun harus amanah dalam menjaga semua titipan dan melakukan yang terbaik pastinya.
Saat aku melahirkan Aray, bahagia terlalu meluap. Hingga tiba disaat Aray sakit, aku diingatkan bahwa Aray adalah titipan yang bisa kapanpun kembali pada pemiliknya. Ku lihat lekat wajah Aray, menetes air mata. Seharusnya sejak ia dalam kandunganpun aku ikhlas menerima apapun yang akan terjadi padanya dengan usaha terbaikku dan doa yang selalu mengiringi. Bukan lantas karena titipan aku tidak mengusahakan yang terbaik. Justru inilah titipan yang sangat berharga.
Ketika titipan itu nanti diambil, as a ibu.. Pasti aku sangat sedih. Teringat kembali perjalanan menjaga Aray dalam perut hingga melahirkannya dan merawatnya. Namun tidak pantas jika aku mengkaitkan apa yang telah aku usahakan selama ini dengan kehilangan yang terjadi, itu tidak ikhlas. Memang tidak mudah menerima.. Ketika kehilangan suatu barang kesayangan saja kita bisa putus asa. Tidak bisa dibayangkan ketika kehilangan orang tersayang yang sebenarnya kembali kepada pemilik aslinya. Disitulah.. Ikhlas.. Keluarga kecilku, semua apapun yang ku miliki, kapanpun bisa pergi. Selalu aku usahakan yang terbaik, doa selalu mengiringi, semoga kita saling kuat dalam menghadapi apapun yang terjadi ya Ayah Aray.. Aray.. Ibu sayang kalian β‘