Bu, Kalau Waktu Bisa diputar, Jadilah Perempuan yang Bahagia
Aku sangat menyayangi ibuku, lebih dari apapun. Perempuan tersayang itu meninggal lima tahun yang lalu, karena sakit yang dideritanya. Sungguh, aku merindukannya sampai saat ini. Di perjalanan hidupnya, dia menempuh langkah berat. Kakinya seperti diikat oleh rantai dengan karung karung berisi batu bata. Sangat berat kehidupan yang dijalaninya.
Perempuan terkasih, sampai saat ini aku menangisi kepergianmu, menangisi seluruh jalan hidupmu. Aku ingat sore itu, ibu dan aku dipulangkan oleh ayahku. Dipulangkan ke rumah nenek kakek di desa. Ibuku terus mengatakan kepadaku "Tidak apa apa, di desa banyak ayam dan bebek yang akan menemani keseharianmu." Bibirnya tersenyum, tapi matanya penuh air yang akan tumpah ke pipinya.
Umurku waktu itu masih 10 tahun, yang kutangisi saat itu, aku akan berpisah dengan ayahku dan teman temanku di kota. Dewasa ini aku sadar, yang layak kutangisi adalah ibuku. Perempuan yang berusaha menahan air matanya agar tidak dilihat oleh anaknya. Ibu, kau harus tahu aku sangat menyayangimu sampai detik ini.
Sampai saat ini aku tidak bisa ikhlas jika seseorang membicarakan gadis pirang yang membuat ibuku menderita. Dua tahun diselingkuhi ayahku, dan ibuku bisa berakting di depanku seperti tidak terjadi apa apa. Setelah perceraian itu, beberapa tahun kemudian ibu dipanggil Tuhan. Meninggalkanku sendiri menjadi seseorang yang rapuh di dunia ini.
Bu, di umur 21 tahun ini aku selalu memanjatkan doa untukmu. Kepergianmu adalah hal paling memukul raga dan jiwaku. Kalau bisa kembali ke masa lalu, kuharap kau bisa menikah dengan orang lain. Meskipun aku tidak akan pernah hadir di dunia ini, aku akan selalu bahagia jika engkau bahagia juga. Atau jika dikehidupan selanjutnya, di alam barzah atau di surga, kuharap kau tenang dan menemukan kebahagiaanmu disana.














