βBoleh kita ketemu? Aku kangen.β
Kau tak menjawab. Ada jeda lama namun bisa kudengar helaan napasmu di telepon itu. Aku sengaja tak mengulangnya, mencoba memberikanmu waktu untuk berpikir atas ajakanku barusan.
βAku nggak bisa.β Akhirnya kau angkat bicara.
Dan kini aku yang terdiam.
βAku bisa meramal. Tapi bukan garis tangan, melainkan garis pipi. Mau kuramal?β
βEnggak ah! Nggak perlu diramal juga aku bisa bahagia.β
βNggak bahagia kalau kamu nggak mau diramal.β Kataku.
Lagi-lagi kau tak menjawab. Kau hanya sesekali mengeluarkan napas lebih banyak seperti sedang menahan tawa di sana.
βAku kangen. Tapi aku bisa sulap.β Aku melanjutkan.
βSulap apa?β Kau penasaran.
βAku bisa mempersingkat waktu.β
βAh aku nggak percaya.β
βCoba lihat ke luar jendela. Aku sudah ada di sana.β
Tiba-tiba telepon itu kau tutup sepihak dan kau keluar dari pintu lalu terkejut melihat ternyata aku sudah ada di sana dari lama. Mukamu memperlihatkan mimik penuh tanya, seakan sedang menghitung kenekatanku untuk menjemputmu pergi yang padahal kau sendiri belum mengiyakan.
βMau apa ke sini?β Tanyamu sambil berdiri di sebrang pagar.
βMau meramal garis pipi.β
βGimana? Aku berhasil sulap kan?β Tanyaku.
βOke oke, untuk kali ini kamu berhasil.β
βAku bisa sulap lagi.β
βApaan?β Kau penasaran dan memajukan satu langkah lebih dekat.
βAku bisa membuatmu mengiyakan ajakanku pergi malam ini.β
βHahahaha! Coba saja!β
Aku ketawa lalu menurunkan standar motorku dan beranjak pergi dari situ. Kau terheran melihatku dari jauh. Aku mengeluarkan teleponku sekali lagi. Ada lebih dariΒ 3 menit aku berdiam di sana melihatmu dari jauh. Sebelum kemudian aku kembali mendekat ke arahmu.
βSulap!β Jawabku tegas.
βApaan sih? Aku nggak ngerti.β
Tiba-tiba setelah kalimat itu berakhir, ibumu keluar dari dalam rumah dan menyapa kita berdua.Β
βLoh ndak jadi pergi?β Kata ibumu. Kau terkejut.
βPergi kemana ai ibu?β Kau bertanya.
βLoh, tadi kan sudah izin sama ibu, lewat telepon pula. Sana keluar, kasihan katanya sudah nunggu lebih dari tiga jam di depan pintu tapi kamu nggak keluar-keluar. Dia juga bilang katanya kalian harus ada survey buat tugas kampus. Gih cepetan, jangan malam-malam tapi ya.β Kata Ibumu seraya berlalu kembali ke dalam rumah.
Kau masih terkejut lalu memalingkan wajahmu ke arahku. Sedangkan aku cuma bisa tersenyum lebar.
βAku bisa sulap.β Kataku.
Dan kau tertawa sambil bersiap-siap menaiki motorku.