Aku sangat pemarah. Sejak usia 4 tahun, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, kuliah, kerja. Rate pemarahnya aja yang perlahan turun. Tapi, sampai sekarang pun, kalau ada hal sensitif yang berkaitan dengan cara my dad bersikap ke aku, suamiku, ibuku, dan anakku, yang menurutku kurang tepat, aku mudah sekali marah. Aku mulai sadar bahwa aku harus terus memulihkan diri sejak menikah. Untungnya juga suamiku baru tau masalah hidupku yang satu ini setelah kami menikah. Untungnya kami gak sempat pacaran dan aku gak sempat oversharing sama dia, untungnya setelah menikah dan tau soal ini dia hanya berpikir bahwa dia melihat aku aja. Tp pasti lain cerita kalau dia tau koper koper psikologisku ini sejak sebelum menikah.
Ayahku tidak jahat seperti di drama indosiar. Dia adalah seorang provider dengan bahasa cinta act of service. Tp caranya mengatur hidup ibuku, overprotektif kepadaku, dan trauma lain di masa kecil yang aku lihat sendiri, dsb yang tidak bisa diceritakan di sini, membuatku jadi pemarah. Karena ternyata, banyak anak perempuan yang berpikir bahwa ayahnya adalah sandaran, pahlawan, role model, dan semua kombinasi gentleman dan kebaikan seperti pria di drakor, dan aku salah satunya.
Dan itu tidak aneh, bahwa aku merasa kecewa karena sosok role model itu tidak sebaik nilai nilai kehidupan yang kuanut. Dan itu tidak aneh, jika aku punya kemarahan yang tidak kunjung selesai, bahkan jika aku mengetahui semuanya di usia 30an, bukan 30 tahun lalu. Tapi, aku terlalu kecil saat itu, aku masih 4 tahun, dan hanya merasa aneh sendirian. Orang orang hanya mengenalku sebagai sosok pemarah, mercon banting, dll yang sepadan.
Dan ternyata, menjadi seorang ayah adalah sangat sulit, karena ayah sepertinya dituntut harus punya semuanya. Tapi, ada hal hal yang bisa dimaklumi sebagai ketidaksempurnaan. Ada juga hal hal yang harus dihilangkan, dan ada nilai nilai yang harus terus dipegang agar seorang ayah menjadi baik dan kesempurnaan tidak lagi penting.