ah halo, selamat lebaran 1441 H untuk lebaran entah kapan di masa depan.
boleh cerita disini kan? maaf, kali ini bukan fiksi kilat. ini murni curhatanku sendiri.
kau tahu, tahun ini adalah tahun pertama lebaran yang rasanya sangat berbeda. semua karena pandemi COVID-19. lebaran yang tidak ada open house, tidak ada salam-salaman, tidak ada sungkeman secara langsung, tidak ada mudik. respect untuk teman-temanku yang rela tidak mudik demi memutus rantai wabah ini.
nyaman? jujur kalau boleh dibilang, aku senang karena aku tidak harus membuang energiku banyak-banyak untuk bertemu banyak orang, memasang topeng tersenyum setiap hari, apalagi banyak pertanyaan yang tidak enak, "kapan nikah?" misalnya. ah, yang terakhir ini mungkin akunya saja yang sedang fragile, haha. tetapi aku jadi rindu berinteraksi dengan orang-orang secara langsung.
Thank God it's Technology. semua silaturrahim masih bisa dilakukan via online. satu-persatu message permohonan maaf dan greetings selamat hari raya bertubi-tubi masuk ke notifikasi. i feel ok untuk messages via chat. namun aku merasa tidak kuat untuk video call.
ternyata, aku masih belum berdamai dengan diri sendiri.
tahun ini, aku merayakan hari pertama lebaran bersama abahku dan kedua adikku di Solo. ibuku dan nenekku merayakan di Pati. iya, memang dari dulu keluarga kami terbiasa dengan jarak jauh. namun, seakan-akan jarak tersebut membuat "jarak" antara kami.
aku merasa, dulu aku yang membuat "jarak" ini semakin lebar. waktu SD dulu, Abah masih dinas pindah-pindah. waktu pindah dinas ke Kudus lagi aku tidak mau diajak kembali ke Kudus. aku masih merasa bersalah hingga sekarang.
aku tidak merasakan kehangatan sebuah keluarga di keluargaku. apalagi kalau mengingat aku adalah anak pertama. Ibuku selalu menekankan kepadaku, anak pertama harus bisa jadi contoh untuk adik-adiknya. aku seharusnya bangga, adik-adikku tumbuh membanggakan Abah dan Ibu; bahkan mereka bisa kuat tahfidz, sedangkan aku susah untuk menghafal. namun aku hanya melihat kekecewaan di dalam diriku. apalagi rasanya Ibuku tidak bangga setiap melihatku.
banyak yang mencoba menghiburku everyone's born gifted, so do you. tetapi masih saja, aku merutuki diri sendiri.
aku tidak bisa masuk ke PTN yang kuidamkan dari MTs, perundungan dan toxic friendship waktu kuliah, lulus dengan IPK yang pas-pasan, aku berkali-kali kena reject dari project-projectku, i considered myself as a anxiety-depression survivor tanpa sepengetahuan keluargaku (oke, masih survive), aku putus dengan pacarku yang sebenarnya sudah sangat disayang oleh Mbahku dan sebenarnya sudah sangat kupercaya, mantanku tahun ini akan menikah, lalu rejection.
mungkin ada yang terlewat.
aku tidak tahu bagaimana kehidupanku sebelumnya, namun rasanya aku benar-benar mengutuk diri sendiri karena banyak kegagalan yang kudapat, terlebih 3 tahun terakhir ini. rasanya tidak ada yang bisa dibanggakan dari diriku.
aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk keluargaku, dan dari sanalah aku belum bisa benar-benar berdamai dengan diri sendiri. aku benar-benar tidak kuat untuk menatap wajah keluargaku via video call, kau tahu kan kalau video call jarak pandang antar wajah jadi sangat dekat--faktor pengguna sih, tapi kurasa kebanyakan orang menggunakannya demikian. aku benar-benar tidak kuat melihat guratan emosi keluargaku, walaupun itu emosi bahagia. rasanya dari balik emosi bahagia itu, aku melihat emosi kekecewaan. aku rasanya tidak kuat untuk berkata-kata, karena rasanya ingin menangis saja.
aku anak pertama. kata mereka, anak pertama harus kuat, harus siap untuk menjadi tulang punggung keluarga di kemudian hari. namun kurasa, aku lemah sekali dari alasan yang kutulis di atas.
dan akhirnya, aku hanya bisa mojok sendirian di kamar, menenangkan diri. bodoh.
berkali-kali aku berpikiran untuk mengakhiri hidup saja.
aku pernah melakukan self-harm sesekali, pakai silet. lega? sedikit. paranoidnya tetap ada, tidak hilang dari kepalaku.
sampai sekarang ini, aku masih suka membayangkan diriku jatuh dari ketinggian setiap melihat gedung tinggi, dan masih suka sedikit gemetar tiap memegang pisau. rasanya aku ingin menghunuskan ke anggota badanku, tapi selalu tertahan dan takut.
jangankan memegang pisau, mencuci piring banyak saja aku takut, aku takut memecahkannya. oke itu tidak relevan, tapi paranoid itu benar adanya.
bingung, kan? padahal aku suka komik dan film genre thriller-gore dan musik metal, haha.
tetapi, rasanya masih ada cahaya yang menahanku dari mengakhiri hidup. apakah itu bisa disebut cahaya optimisme? aku tidak tahu. aku tidak merasa optimis. bahkan makin hari makin pesimis.
tetapi dalam lubuk hati yang paling dalam, aku ingin bangkit untuk bahagia.
terimakasih sudah membaca tulisanku yang tidak jelas ini. mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahanku. semoga kita semua selalu bahagia.