Bagian 2: Rindu-Rindu yang Tak Tersampaikan
Hari ini melelahkan rasanya, walaupun harusnya kerja setengah hari namun kenyataannya baru ba'da isya aku benar-benar merasakan kenyamanan kasur di kamar. Lelah karena bablas PP ke kediri untuk menghadiri acara salah satu karyawan di kantor, namun menyenangkan karena bisa bercengkrama kembali dengan Bapak Manajerku yang lama; Pak Arens si penggemar Linkin Park 🤟🤟
Di tengah ramainya tawa (serta kebulan asap rokok Pak Manajer), selalu kusempatkan melihat surel masuk di Twitter ku. Tiap interval 20 menit, 30 menit, secara kontinyu kulakukan aktivitas itu. Hanya untuk mengecek adakah balasan pesan darimu.
Aku hanya bisa merenung sembari menanggapi obrolan yang ditujukan padaku. Tak ada yang dapat kuperbuat dengan kondisi yang ada saat ini.
Aku sudah tau kalau memang semua ini yang kamu kehendaki. PPKM level 300 dari komunikasi kita. Pembatasan yang memang harus aku hargai. Memang hanya DM Twitter itu yang kamu sisakan dari ruang komunikasi (yang harus dibuka via website), sedang selebihnya nihil. Untuk sekedar menelponmu saja aku sudah tak tau bagaimana caranya..
Sometime I've just wanna call for a minute.
Ada perasaan rindu yang besar untuk bertanya bagaimana hari dan perasanmu, atau saling menceritakan hari yang telah dilewati. Sakjane aku selalu menunggu hadirnya feedback itu. Tapi apa daya, yang dapat kulakukan hanya menunggu dan bersabar untuk berinteraksi denganmu.
Menyadari kondisi yang ada, aku paham kalau memang saat ini kondisinya tidak memungkinkanmu berinteraksi seperti itu. Ada perasaan yang tidak dapat dipaksakan yang mengetukmu untuk lebih peduli dengan hadirku. Tapi selalu kuupayakan berpikir positif, mungkin memang kamu sedang kelelahan dan beristirahat total setelah sibuknya hari-harimu.
Kini aku hanya dapat menunggu sembari terus memupuk perasaan sayang itu. Yang seharusnya sudah tidak perlu kutanyakan padamu apakah kamu memiliki perasaan itu, dengan keadaan dan kondisi saat ini..
18/12/21, 20:14 PM












