apa yang didengar ibuku sembilan belas hari lalu di teras rumah—
yang membuat beliau awalnya menggoda menjadi keheranan melihatku nangis sejadi-jadinya
Kami berjalan lewat pinggiran karena masih gerimis. Tapi sampai di ruang terbuka—maksudku, kalau kalian tahu jalan di samping Gedung A dan kau di posisi menghadap selatan, kau akan bisa melihat gedung-gedung lainnya. Nah, tapi yang kulihat dengan dirinya setelah melewati Kandang Antro adalah : Gedung Soegondo yang kena pancaran sinar matahari padahal hujan masih gerimis.Â
Berdua kami bersamaan takjub dan melihat ke arah itu, menunjuk pada gedung yang cantik sekali,Â
“padahal sedang hujan—”
yang kusaut, “namanya hujan tekek”
“memang begitu sebutannya?”
“iya. Hujan saat matahari bersinar” ujarku.Â
Kami sampai di Kantin Sastra setelah lewat lorong Gedung Soegondo. Aku bergegas menarik kursi terdekat dari arah kami karena hendak bersuara lagi—saat itu, beberapa anak tetap ingin aku jadi ketua dan aku sudah tidak konsen lagi mengikuti musyawarah. Aku tidak bisa berpikir jernih jadi kujawab seadanya. Ia bertanya apakah aku tidak akan pesan kopi, aku jawab “tidak” karena aku tidak mau lebih berdegup dan sakit perut lagi setelah melihatmu. WoOops, itu hanya narasi tambahan, sebenarnya memang tidak ingin saja.Â
Setahun tidak bersua, setengah tahun lebih tidak mengobrol ternyata tidak membuat kami berdua canggung—setidaknya itu pikirku. Kami mengalir berbagi cerita satu sama lain, “berkabar” kan? Namun ia tidak bertanya bagaimana kabarku melainkan, sekarang sedang baca buku apa? Dan kebetulan aku sedang tidak membaca apa pun.Â
Mungkin, sampai di situ saja ya ceritanya? Intinya seperti itu.Â
Ia bilang habis kecelakaan, kali ini bahunya yang kena. Sepertinya orang-orang selain aku sudah tahu ia habis jatuh? Tapi aku jadi ingat, tahun lalu ia juga jatuh dari motor. Tahun sebelumnya, ia juga sudah jatuh. Aku tidak tahu apakah itu event tahunannya karena selalu di awal tahun. Tapi kalau begitu, sebagai kawan kudoakan tidak ada event-event selanjutnya.Â
Setelah satu setengah jam mengobrol dan rapatku pun usai. Aku bilang akan pulang. Seperti yang ia bilang, ia akan ke pinggiran Sungai Code untuk, kupikir suatu mata kuliah. HAHAHAHAH yang aku barusan hendak keceplosan bilang mata kuliah apa karena kalian barangkali langsung akan gencar menebak-nebak.Â
Saat ia bilang butuh “saksi—” em em begitulah, aku ingin menyarankan seseorang yang kukenal. Seseorang yang kuwawancarai empat tahun lalu. Seorang kakek tua yang lahir pada tahun-tahun lawas dan membawaku pada akhirnya bertemu denganmu untuk kedua kalinya di bawah hujan. Aku ingin menyarankan kakek itu sekalian memintamu memastikan,Â
Bagaimana sekarang keadaannya? Apakah sehat,Â
Apakah masih bekerja di McDonald sebagai tukang kebun paruh waktu
dan sesekali mengayuh becak? “Apakah masih di dunia ini?”Â
Tapi aku akhirnya tidak bilang. Kau pasti bisa menyelesaikan urusanmu sendiri dan aku tidak terlalu ingin ikut campur lagi. Meski saat kau menyebutkan tempatnya, aku jadi ingat bahwa di daerah sana pertama kali kita bertemu, dan itu adalah tempat topik-topik kita dulu diambil.Â
Kita berjalan masing-masing. Aku memarkirkan motorku di belakang Gedung Margono dan kau berjalan ke arah kompleks perumahan dosen. Aku hanya menatap atap gedung di sebelah kiriku dan berjalan ringan. Sampai di motorku baru kusadari kau baru hendak menyeberang dari titik yang sama tempatku berhenti.Â
Aku yang biasanya suka berkeliling lewat pusat-pusat studi sore itu memilih untuk lewat jalan yang lebih ringkas. Keputusan yang kupikir bagus untuk diriku.Â
Tapi sepanjang jalan kurasa wajar bila masih tersisa rasa terkejut. Aku berusaha mencerna kejadian dramatis yang baru saja menimpaku—dan rasanya selalu seperti itu. Apa Tuhan menyuruhku untuk menulis atau bagaimana? Tuhan mau aku bagaimana?Â
Lain-lainnya aku juga memikirkan,Â
Bagaimana bila tadi pagi aku langsung terbangun pukul 06.00? Barangkali itu berarti aku akan tahu lebih awal aku sempat pulang dan ikut rapat di rumah.Â
Bagaimana bila aku menemukan jeans-ku dan jadi memakai baju putih? Berarti aku tidak akan seseragam dengannya yang saat itu memakai sweater navy.Â
Bagaimana bila aku membawa headset? Bukankah berarti ia sepertinya tidak akan menunggu headset-nya kembali dan aku sendirian seperti biasanya?
Dan sampai rumah air mati, aku tidak cukup membersihkan diriku dari dirimu siang itu. Setelah hari itu, hari-hari di Kasongan menjadi selalu hujan. Sepertinya hujan memang berniat menjahili dan terus-terusan mengangguku agar memikirkan tiap momen pertama kali bertemu denganmu.Â
—s e l e s a i. Karena kemudian sebatas itu saja, termasuk kesedihanku yang ternyata tidak berlarut-larut dan aku mudah teralihkan oleh pekerjaan-pekerjaan lainnya. Tuhan tersenyum melihat bagaimana aku merespons skenarionya.