Yup! Hai semuanya, apa kabar?
Ohiya, bagaimana kehidupanmu? Apakah baik-baik saja? Kalau baik-baik saja tentu aku sangat bersyukur dengan mengetahuinya. Mungkin ada yang kepo nih, kira-kira aku selama ini kemana saja dan sedang apa akhir-akhir ini. Yup, aku sedang sibuk dengan kehidupan nyataku yang sekiranya membuatku sangat penat dan lelah dengan banyaknya ekspektasi yang gagal. Dan akhir-akhir ini aku juga sedang berusaha menata hati yang dulu pernah hancur lalu berusaha belajar kembali dengan personality diri yang baru. Waduh! Jawabanku terdengar sangat pahit ya? Itu kenapa sebetulnya aku juga ingin sembari curhat lewat tulisan ini. Aku sadar aku hanya makhluk yang tak mampu di segala realita yang memaksa mampu. Ini sudah menjadi tabiatku untuk menulis di kala hati mulai merasa penat, patah, dan resah.
Panggil saja aku Jeje. Aku memulai segala tulisanku di sini karena ada banyak hal yang mengusik hatiku di kala itu. Namun, yang kurasa lebih tepat melantangkan rasa terusik itu adalah tulisanku ini. Tulisanku ini tidak hanya menjadi sebuah karya tulis di mata orang lain tetapi bagiku semuanya merupakan bentang waktu yang tulisannya menjadi bukti akan perkembanganku dalam memahami rasa sakitnya cinta dari seorang wanita. Jadi dari sini, kamu mungkin baru saja mengetahuinya bahwa ini semua semata-mata hanya untuk menjadi tempat lelahku, sedihku, kecewaku akan cinta.
Bolehkah aku memberitahu kamu mengenai apa yang kurasa saat ini? Aku merasa sangat lelah dengannya, aku terkadang kecewa dengan segala kondisinya, bahkan aku sering sekali menyalahkan diriku sendiri entah karenanya atau situasi yang telah terjadi. Dia tidak tahu betapa terusiknya hati ini dikala dia tak senyum denganku, dikala dia membentak diriku, dikala dia berbohong di saat aku tak tahu, dikala dia mengulangi segala kebiasaan buruknya. Itu membuatku sangat-sangat terusik. Aku rasa dia tak terlalu memikirkanku di saat senang, dia hanya membutuhkanku di saat dia merasa sendiri. Di saat dia merasa butuh aku pun selalu berusaha hadir namun jika aku yang membutuhkannya, dia terkadang nampak dan terkadang tidak. Ingin rasanya aku berdoa dengan hebat untuk memutar takdir, ingin sekali rasanya diri ini bersaksi di hadapan Tuhan untuk tak mau menjalani hidup ini. Ingin sekali rasanya ku berdoa hebat agar dia bisa merasakan jadi diriku. Ingin sekali rasanya aku menghilang tanpa sebab dan hanya Tuhanku yang menyayangiku. Terkadang ia tak sadar dengan segala sifatnya yang mungkin bagiku itu dingin, yang mungkin bagiku itu bisa menyinggung, tapi layaknya seorang yang masih pemula dalam hal percintaan, aku hanya bisa menahan sakitnya dan berusaha menjauhinya. Kamu mau tahu apa yang aku pikirkan saat ini? Aku rasa kamu merasa sudah dekat denganku namun nyatanya kau menjauh dariku dengan segala perkiraanmu.
Kita lihat, takdir apa yang akan kita pikul setelah ini. Aku ingin tetap bertahan namun semestakah yang nanti bisa memberi isyarat kita harus pisah? Aku mohon Tuhan, jangan!














