"Bercerita"
Sesuatu yang tidak terduga datang ketika saya menceritakan isi buku "The Little Prince" kepada anak didik saya di sekolah. Kebetulan, materi yang sedang dibahas adalah mengenai permasalahan dalam tokoh. Secara tidak sengaja juga saya tiba-tiba bercerita buku yang sedang saya baca tersebut.
"The Little Prince" ini terdiri dari banyak bab, dengan jumlah halaman yang tidak begitu banyak di tiap babnya. Saya belum menyelesaikan seluruh isi buku tersebut, jadi yang saya ceritakan hanya 3 bab awal. Beruntungnya, setiap bagian memiliki permasalahannya sendiri jadi hanya dengan menceritakan beberapa bab saja saya sudah bisa mendapatkan permasalahan yang dialami tokoh tersebut untuk kemudian saya sampaikan kepada anak didik saya.
Dari keseluruhan yang saya ceritakan, ada satu bab yang membuat saya kagum dengan cara berfikir anak-anak. Yaitu ada di bab 2. Secara singkat bab 2 ini bercerita tentang seorang pilot yang bertemu dengan 'pangeran kecil-little prince', dan pangeran kecil tersebut meminta untuk dibuatkan gambar domba. Beberapa kali si pilot membuat gambar domba sesuai permintaan pangeran kecil, sebanyak itu pula pangeran kecil menolak gambar tersebut. Dengan putus asa si pilot hanya menggambar sebuah kotak kardus dengan 3 lubang kecil disampingnya. Dan secara ajaib pangeran kecil justru menerima gambar tersebut. Pangeran kecil itu menganggap domba yang ia maksud ada di dalam kotak tersebut. (Alasan mengapa pangeran kecil beranggapan demikian, bisa teman-teman ketahui dengan membaca novelnya).
Berulang kali saya baca bab tersebut tapi tidak menemukan hikmah maupun pesan yang bisa kita dapatkan (sebagai pembaca dewasa). Namun ketika saya ceritakan dan secara spontan saya tanyakan ke anak didik saya, dengan ringannya mereka menjawab apa yang selama iini berusaha saya cari.
Selesai saya ceritakan bab 2 ini, iseng saya bertanya "kira-kira kenapa yaa kok salah terus, giliran cuma dibuatkan gambar kotak malah disetujui?" Jujur, saya tidak berharap ada yang menjawab, cuma pengen tanya doang. Tetapi tiba-tiba salah satu anak didik saya menjawab, "Perintahnya gak jelas, ustadzah. Mana tau si pilotnya harus bikin apa. Harusnya bilangnya gini, "Tolong buatkan aku gambar domba yang ada di dalam kotak" gitu baru jelas".
Saya terdiam beberapa detik, mencerna apa yang baru saja saya dengar dari anak berusia 8 tahun. Selama ini saya berfikir cukup keras untuk mendapatkan pesan dari bab tersebut, tetapi anak didik saya hanya butuh beberapa menit untuk bisa menyampaikan apa yang selama ini saya cari.
Benar! Orang dewasa seringkali salah paham karna apa yang ia maksud tidak ia sampaikan secara jelas. Sehingga yang ada hanyalah prasangka, harapan tak berujung, atau lebih parah lagi kesalahpahaman. Barangkali orang dewasa perlu kembali berbenah diri, untuk tetap menyampaikan apa yang ia maksud tetapi tentu saja dengan cara yang baik supaya tidak menyinggung perasaan lawan bicaranya.
"Terimakasih pelajaran berharganya hari ini, Nak"











