Ada beragam jejak yang tertinggal dari mereka yang pernah tinggal. Seperti harum ketenangan dari sebungkus kopi yang belum diseduh. Tumpukan kaus kaki kotor yang selalu terbengkalai. Dan tanaman yang masih tegak berdiri walaupun berhari-hari belum disiram.
Aku bisa melihatnya. Melihat lengkungan senyum bahagia Ayah di setiap tegukan kopi yang dibuatnya sendiri. Ia akan selalu menuangkan kopi itu dari cangkir ke piring kecil lalu menyesapnya penuh nikmat.
Aku masih bisa mendengarnya. Suaranya yang terkekeh-kekeh setiap kali ia absen mencuci tumpukan kaus kakinya. Semua itu dilengkapi dengan bau tak sedap yang menguar ke seisi rumah lengkap dan sebaris kalimat yang kerap diucapkannya. “Coba saja kalau kaus kaki itu bisa mencuci diri mereka sendiri, pasti semuanya akan lebih mudah.”
Dan tanaman itu, aku tak tahu apa namanya. Ayah pernah bilang, tanaman itu adalah obat kangennya padaku. Ia membelinya sehari setelah aku diterima kuliah di Jogja. “Biar ada yang bisa diurusin dan diajak ngobrol,” begitu katanya.
Ah, Ayah...ketika orang-orang pergi dari rumah ini, hanya ia yang bersikeras tinggal. Rumah ini adalah adikaryanya yang pertama sebelum aku. Ia membangunnya dengan bahan baku istimewa. Keringatnya sendiri. Rumah ini rampung tepat dua minggu sebelum ia melamar Ibu. Orang paling terakhir yang ia harapkan mampu menjaga rumah ini, namun justru jadi orang pertama yang meninggalkannya.
Ayah selalu tinggal dan tak pernah ingin meninggalkan siapapun. Bahkan setiap ia bertengkar dengan Ibu dan Ibu membentaknya untuk keluar dari kamar, ia tetap tinggal dan memeluk Ibu. Membelai Ibu yang terus terisak hingga lelap tertidur. Lalu keesokan harinya Ibu akan ceria kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Ayah tetap tinggal saat Ibu divonis mengidap penyakit kronis. Ia tidak pergi ke kantor berhari-hari hingga selamanya. Saat itu aku bertanya, “Bukankah itu artinya Ayah meninggalkan pekerjaan Ayah?”
Dengan santainya ia menjawab, “Kalau Ayah keluar dari pekerjaan Ayah, pasti secepatnya akan ada orang yang menggantikan Ayah. Tapi bagi Ibumu, Ayah cuma satu-satunya.”
Hanya sebulan setelah itu, Ibu kembali sehat. Berkat cinta Ayah dan diagnosis ulang yang lebih akurat. Ternyata selama sebulan kemarin kami semua hidup dalam kekhawatiran hanya karena dokter Ibu sebelumnya salah mendiagnosis.
Ayah yang sudah kadung keluar dari pekerjaannya berusaha merintis wirausaha. Ia melakukannya dengan senang hati walau harus dicerca Ibu setiap hari. Sementara itu, aku berusaha mendukung Ayah walau uang jajanku harus dipotong.
Hanya setahun Ibu bertahan, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Ayah. Aku marah setengah mati pada Ayah yang merelakan Ibu pergi. Katanya, kali ini ia ingin berhenti saling menyakiti. Satu kata yang aku ingat benar malam itu, “Tolong kamu jangan berhenti sayang sama ibumu, ya.”
Aku lemah lumpuh dalam pelukan Ayah. Kami ngopi berdua sepanjang malam. Beberapa cangkir tandas dihabiskannya tanpa senyum. Aku yang tak kuat menahan kantuk pergi tidur lebih awal. Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, kulihat punggung Ayah bergetar. Ia menyesap kopi ditemani suara lagu dari piringan hitam. Lagu yang pernah dinyanyikan teman-teman SMAnya di hari pernikahannya.
Dua tahun setelahnya aku lulus SMA. Pagi-pagi sekali, Ayah membangunkanku untuk mengecek pengumuman ujian masuk universitas di internet. Dengan gaya mengetik 11 jarinya ia memasukkan nomor ujianku lalu melejit gembira ketika tahu aku diterima di sebuah kampus di Jogja. Sementara aku hanya menangis tersedu sambil memeluk kakinya.
“Bukankah itu berarti aku akan segera meninggalkan Ayah?”
Ayah hanya menjawab,”Ayah selalu tunggu kamu pulang.”
Aku berjanji untuk pulang setiap akhir pekan di setiap awal bulan. Namun janji itu tak pernah terlaksana mengingat aku selalu disibukkan dengan urusan kuliah dan rapat organisasi di sana-sini.
Kini akhirnya aku pulang. Bukan di akhir pekan. Bukan pula di awal bulan. Tetapi di hari kematian Ayah.
Sulit dipercaya bahwa orang yang bersikeras ingin tinggal kini harus rela meninggalkan.
Kini kusesap kopi hangat favorit Ayah langsung dari piring kecil. Samar tercium bau tak sedap dari tumpukan kaus kaki kotor Ayah. Sengaja tak buru-buru kucuci, aku ingin membiarkan aroma lelaki cinta pertamaku itu tetap lekat dalam ingatan.
Kusiram tanaman obat kangen Ayah padaku yang kini jadi obat kangenku pada Ayah. Ah, begini rasanya ditinggalkan. Aku ingin menangis sejadi-jadinya tapi kemudian merasa tak pantas.
Dibanding aku, Ayah pasti jauh lebih paham rasanya ditinggalkan.