Seorang sahabat pernah berkata "ujian nikmat itu lebih berat daripada musibah, karena banyak yang lulus ketika ditimpa musibah, namun tak banyak yang selamat ketika diberi nikmat"
Sungguh kita terutama aku udh terkecoh dengan banyak nikmat selama ini. Aku ambil contoh aja satu yaitu Handphone . Bukankah Allah yang menciptakan teknologi ini melalui akal seorang manusia (sedangkan manusia itu sendiri Allah pula yang menciptakannya). Lalu Allah memberi rejeki berupa HP tersebut hingga sampai ke tangan kita? Melengkapinya dengan quota/pulsa. Lantas mengaruniai para pengguna dengan indera yang ada pada dirinya? Sehingga mereka bisa melihat , mendengar melauinya. Dia pula yang memberi fungsi hati nurani sehingga kita bisa merasa bahagia, tertawa, menerima banyak manfaat darinya
Bila Asal muasalnya dari Allah lantas kenapa kita lebih dekat ke Hp daripada ke Allah, lebih sering bersama HP, dibanding bersama Allah? Atau setidaknya kenapa HP tidak lebih banyak digunakan untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah (tadabbur, kajian, silaturahmi, membantu sesama dll) malah lebih banyak dihabiskan utk sesuatu yang sia2/dosa... main sosmed, nonton film, denger musik, ngepoin org lain, belanja2, bahkan naudzubillah HP dipakai utk menipu orang lain, utk ghibah, juga ajang curhat, kalau ada masalah lebih dulu lari ke hp bukan ke Allah. Jangan2 perihal HP ini bakal jadi hisab yang berat di akhirat.
Itulah yang harus kita renungi dan jadikan bahan intropeksi ... Dari satu hal sekecil itu saja kita udh sering ga bijak pada diri sendiri. Sementara karunia dari Allah itu banyak banget.... Simak ayat berikut:
"Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali" (QS. An-Nisa' Ayat 142)
Renungkan.... Mudah mudahan ciri2 orang dalam ayat tersebut tidak mirip dengan kita.
Pada segala sesuatu yang disebut nikmat, hati2 bila kita lebih sibuk dengannya daripada Allah yang menciptakannya? Diantara kita bahkan masih banyak yang menggunakan nikmat dari Allah untuk berbuat maksiat dan durhaka kepadaNya. Astaghfirullah
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi." (Surat Al Hud ayat 47).