Memberhentikan obsesi pada X(Twitter)!
Terobsesi pada suatu hal hingga mendewakan memang bener-bener gak baik. Ini sikapku sejak memulai punya X(Twitter) dan menganggap itu sebagai safe zone tempat dimana aku bisa mengekspresikan diri dengan bebas. Di saat semua platform terasa tidak lagi aman untuk kerentananku terhadap realitas, aku selalu berlari-lari ke X(Twitter). Disitu aku bisa mengatakan apa saja tanpa takut dihakimi karena terasa terjebak dalam sangkar senasib.
Mengapa kata "terjebak" pantas menggambarkan situasi itu? Karena dunia X(Twitter) itu fana yang dinyatakan, orang-orangnya hidup dalam gelembung mereka sendiri. Tapi sepertinya memang begitulah media sosial beroperasi. Kinerjanya membuat candu, berlomba-lomba membuat algorithm segala jenis kemungkinan hal-hal yang membuat kita lupa kenyataan.
Sejenak itu terasa nyaman dan indah, mengabaikan akar masalah karena terlena pada asik atau bisa juga sarana validasi rasa yang masih abu-abu menjadi terang. Terang yang teduh atau menyilaukan tergantung mata setiap kelopak. Konsekuensi setelah menjadi terang menciptakan kebergantungan untuk mencari lebih, padahal puas tidak pernah memberikan titik.
Ini bisa jadi cerita subjektif karena penerimaan setiap orang terhadap gejolak baru dihidupnya berbeda-beda. Bagiku kecanduan untuk bergantung mengeluarkan rasa tanpa batas di X(Twitter) tidak lagi terasa aman. Ada berbagai kemungkinan yang terpikirkan:
Aku mulai belajar batas dan platform itu terasa sangat oversharing
Aku belum bisa menghadapi emosiku sendiri ketika macam-macam username secara random dan berdesakan memuntahkan cerita dengan seluruh embel-embel emosi yang menyertai
Aku tidak merasa aman terhadap orang-orang dalam lingkup mutual (bisa disebut sebagai usaha menarik diri)
Aku yang bukan belajar menghadapi malah memilih lari dari tanggung jawab mengolah mindset.
Diriuhnya kebingungan itu timbangan terasa berat pada ujung keputusan berhenti. Aku tinggalkan satu ruang maya ini untuk memaksimalkan ikhtiar dalam belajar mengolah diri. Mengenali emosi bisa dilakukan di dunia nyata, dengan orang yang hadirnya dapat dirasakan, dengan alat yang menyehatkan. Mengusir penat bisa dilakukan tanpa oversharing impulsif. Personal branding untuk berbagi ilmu bisa dikembangkan di sisi lain yang lebih profesional tanpa melibatkan ke-akuan pada saat itu dengan tetap menjunjung privasi.
Terkadang meninggalkan sesuatu sejenak membuka mata dibelakang kepala kita untuk melihat sisi lain. Banjir informasi bisa sangat menyesakkan apalagi yang pentingnya setengah-setengah sedangkan opini publiknya membludak. Ketidaktahuan terkadang baik. Merasa bodoh yang berangkat dari tidak tahu apa-apa bisa merawat penasaran untuk mencari kebenaran menyeluruh.
Pilihanku untuk menyerah dari keramaian X(Twitter) murni dilatar belakangi perspektif baruku terhadap privasi. Ini juga bukan kampanye untuk meninggalkan/boycott. Yang jelas ini pov lainya dihidupku yang bisa dibagikan. Entah ini tindakan yang benar atau pelarian kita lihat besok setelah beberapa waktu.