Waktu itu umurku sekitaran 4-5 tahun, kata orang-orang "Tawwa maumi sekolah". Aku hanya bisa senyum-senyum kala itu. Tapi ketika malamnya, sebelum mimpi "Susana"ku dimulai, aku terus berpikir "Tidak lama lagi tidak akan maka puas main-main" "Tidak mau jka jadi besar" "Mauka jadi anak-anak terus saja, biar puaska main-main". Hal-hal seperti itulah yang ada dalam pikiranku .
Ketika masuk SD (6th), ketika masuk pagi pukul 07:00-10:00, masuk siang 10:00-12:00. Mau tidak mau aku harus ikhlas kehilangan waktu bermainku. "Kalau bisa, aku tidak ingin tumbuh menjadi dewasa" pintaku.
Mungkin umur 5-6 tahun itu aku memulai kebiasaanku menangis sebelum tidur, Alasannya? AKU TIDAK INGIN MENJADI DEWASA!
Kelas 4 SD (9th), Jam masuk sekolah bertambah masuk Pagi (07:00-12:00), masuk Siang (12:00-15:00). Sangat-sangat menyebalkan. Waktu bermain pagi cuma bisa beberapa jam, Waktu bermain sore juga. Permainan kurang lebih tinggal 1 jam lagi. "Aku tidak mau menjadi orang dewasa"
Memasuki Masa Pubertas, di masa ini, menangisi diri tiap malam telah menjadi sebuah ritual sebelum tidur. Walaupun aku berusaha keras menyembunyikannya, mama dan keluargaku yang lain tetap tahu, Dan sekaligus bertanya-tanya, yaa walaupun mereka pura-pura tidak tahu dan berat untuk bertanya. Tapi pernah mama dan kakak perempuanku bertanya dan aku hanya menjawab "Tidakji, mau jka saja menangis, dan mungkin kayak na kasih cepatka tidur karena capek".
Saat pertama kali datang bulan, selain kaget aku takut sekali. Saking takutnya, aku menangis sekencang-kencangnya. Sepupuh dan kakak-kakakku tertawa, senyum-senyum, malah mengucapkan selamat padaku. Aku terus menangis. "Kenapa diberi selamat?, Kemungkinanku hamil diluar nikah makin besar. Bagaimana kalau nanti kukasih malu-malu mama sama bapak?. Bagaimana kalau karena merasa sudah besar tidak mau mka mendengar sama mama dan bapak?. Bagaimana kalau melawanka?. Bagaimana kalau kukecewakan keluargaku?. Tidak mau jka jadi besar, tidak mau jka jadi orang dewasa, tidak kusuka, mauka jadi anak kecil saja terus, main terus saja, tidak mau jka pusing cari uang, Bagaimana kalau nanti obat-obatanka, pergaulan bebas, seks bebas, atau melawan sama orang tua, tidak mau jka, tidak kusuka, tidak bagus dewasa, tidak mauka, Tidak mau". Gerutu-gerutu pikiranku.
Hingga mama bilang "Diammi, tidak apa-apaji, Bersyukurki, Berdoaki". mata Mama seperti ingin menangis juga kala itu.
Kebiasaanku menangis tiap malam makin panjang. Tidak hanya karena aku kehilangan waktu bermainku, tapi karena ketakutan-ketakutanku akan Dunia orang Dewasa, dunia kejam, dunia yang penuh kemunafikan dan kebodohan, dunia yang melelahkan, dunia yang ribet.
Aku masuk SMP. Ketika baru masuk, ehh ternyata cinta monyetku di masjid, sekolah disitu juga "ciee ciee" pun membuatku senyum-senyum sendiri tapi aku tetap teguh pada pendirianku "Aku tidak akan pacaran! kalaupun pacaran, yaa nanti ketika aku dewasa, sudah kerja, dan siap untuk menikah, Pacar pertamaku harus menjadi suamiku". Hingga cinta monyetku itu pindah sekolah "Aku tidak mau pacar-pacaran" adalah jawabanku untuknya.
Aku harus bisa menjaga diriku. Aku akan fokus belajar dan mendalami hobi-hobi yang baik. Aku tidak boleh tergoda untuk pacaran, mungkin awalnya cuma pegangan tangan tapi lama-lama akan lebih dan terus seperti itu, aku tidak boleh mencobanya. Dunia itu seperti lumpur hisap, ketika terlanjur jatuh kau akan makin terhisap kedalamnya dan walaupun berhasil kembali, kau akan kotor dan tidak akan menjadi orang yang sama. Aku ingin menjadi seperti bunga lotus. Tidak boleh qa lakukan sesuatu yang bisa menjerumuskanku ke hal yang tidak baik. Pikiran-pikiran seperti itu terus berputar dipikiranku sepanjang SMP. Aku kursus Bahasa Inggris, Memenangkan piala Pertamaku (Juara 2 Lomba Baca dan Cipta puisi). Sampai kepalaku akan sakit ketika tidak membaca atau belajar.
Oia, waktu itu demam korea telah melanda. Boy's Before Flowers, Super Junior uhh. Tidak apa-apakan jatuh cinta sama mereka yang jauh, toh aku tidak akan bisa kenapa-kenapa, kan mereka artis Hohoho saat itu aku jatuh cinta dengan Kim Sang Bum.
Masa SMA hingga saat ini . Aku telah pasrah. Permintaanku itu mana mungkin bisa terwujud, seberapa banyak pun malam yang kuhabiskan dengan menangis dan meminta, Dunia kecilku itu tidak akan pernah kembali. Tidak akan bisa.
Moni kecil hanya akan menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang membuat Jene akan terus iri dengan Moni. Iri karena keteguhan Gadis kecil itu sangat kuat, ia juga sangat pandai menjaga dirinya. Jene Iri dengan kedewasaan pikiran yang dimiliki Moni.
Dan apapun yang ada dalam pikiran-pikiran Moni kala itu adalah benar. Gadis kecil itu sangat benar tentang Dunia orang dewasa.
Tapi jene pun berhasil menemukan sepenggal dunia baik orang dewasa
Writing Project edisi ke 2
~~~~~~~~~~~Selasa, 09 Juni 2020~~~~~~~~~~
Semoga dengan membaca ini, kamu bisa menemukan makna kedewasaan.