SPONTAN; UHUYYY
Tulisan di bawah ini mengandung pengalaman saya bertemu dengan idola saya, Vincent Ryan Rompies dan Deddy Mahendra Desta.
BAB I PENDAHULUAN
Dari hari saya membeli tiket Saysmantra sekitar Oktober lalu, saya sudah deg-degan akan bertemu vindes. Dan inilah puncaknya.
Perjalanan saya dari Solo ke Semarang diiringi dengan lagu yang saya yakin sebagian besar orang tahu lagu ini. JKT48 Heavy Rotation berdendang di telinga saya lewat headset berwarna merah muda. Entah mengapa hari itu perasaan saya sangat terwakili lewat lirik lagu tersebut.
Oh senangnya miliki perasaan ini ku sangat merasa beruntung~~
Di sepanjang perjalanan tak henti-hentinya ujung bibir kiri dan kanan saya membuat lengkungan.
BAB III PERJUMPAAN
Hari-H [17.12.2022]
Sedari empat jam sebelum penampilan #vakingsyit berkaraoke. Saya sudah berdiri di depan panggung, tapi sayangnya posisi saya berada agak jauh dari panggung. Walaupun begitu, arah pandang mata lumayan jelas melihat apa yang ada di atas panggung. Syukurnya, malam itu hujan tak ada rencana menguyur kota Semarang. Langit gelap namun juga cerah. “semesta merestui”, begitu kata orang-orang. Tunggu punya tunggu, tibalah giliran mereka untuk tampil. Saat itu, tangan saya sudah dingin, hati deg-degan, mual, yah ciri-ciri biasanya kalau saya sedang berdebar. Setelah proses siap-siap yang cukup lama, keluarlah mereka dari belakang panggung.penonton sudah pada teriak-teriak menyerukan nama mereka. Di detik pertama kemunculan mereka, hati langsung mak deg mak tratap. “Dua sosok pria dewasa di atas panggung itu, sosok yang sama seperti di lockscreen ponsel saya??”. Seketika, langsung starstruck di tempat saya.
Om Vincent dengan stylenya yang keren memakai kaos hitam dengan dilapisi jaket bercorak leopard dan sepatunya pun tidak mau kalah, leopard juga. Agaknya beliau memang sedang tergila-gila dengan leopard. Ah tapi malah saya yang tergila-gila dengan beliau. Om-om keren satu ini, pembawaannya sungguh menawan dan tak heran penampilannya from head to toe selalu on point dan tampak uapik pol. Bahkan, beliau sekadar memakai celana pendek dan kaos polos pun akan tetap tampak menarik, saya berani jamin.
Pak Desta tidak mau kalah, dengan baju ala-ala baseball berwarna biru tua berhasil membuat beliau terlihat lebih muda dari umur sebenarnya. Ditambah nomor punggung “15” di belakang baju tersebut, yang kemungkinan melambangkan tanggal lahir beliau, 15 Maret 1977. Bagi saya, wajah beliau amat sangat tidak membosankan, serius. Kalau masalah style tidak usah diragukan lagi, mereka tahu cara meracik penampilan yang padu dan tentu saja sedap dipandang.
Kemuculan mereka spontan (uhuyy) membuat saya berdecak kagum. Kok iso yo enek uwong guanteng pol ngene ki. Penampakan mereka seribu kali lebih bening dibandingkan ketika saya menonton mereka di youtube dengan resolusi 1080p sekalipun. Ya tidak heran, karena bagaimanapun mata manusia memiliki resolusi paling tinggi. Mereka ada, nyata, di depan mata. Mulai saat itu, saya iri dengan orang-orang yang bisa bertemu dengan mereka setiap hari.
Seperti biasa mereka mulai menyapa para penonton. Pak Desta menyapa kami dengan bahasa Jawa, “Piye kabare?”, “Wes mangan durung?”. Sebagai warga tetangga kota kelahiran Pak Desta, saya senang walaupun beliau sudah lama tinggal di Jakarta beliau tidak lupa akan bahasa ibunya. Setiap nonton Tonight Show dan bintang tamunya asal Jawa, lalu ngobrol dengan Pak Desta dengan bahasa Jawa pun saya senang sekali. Terharu.
Setelah tek-tok an dengan penonton, mulailah terdengar intro sebuah lagu yang mengawali kegiatan karaoke kita pada malam yang cerah itu. Naif Air dan Api mulai mengudara. Para penonton dengan suara seadanya pun sangat bersemangat bernyanyi bersama. Maksudku, kapan lagi kau bisa bernyanyi dengan idolamu?
Karaoke berlanjut, dari satu lagu ke lagu lain. Sekitar sebelas lagu berhasil kita nyanyikan bersama. Di tengah-tengah karaoke tetiba ponsel saya error saat saya gunakan untuk mengabadikan momen. Agaknya ponsel saya pun grogi dan salting apabila harus merekam kharisma vindes full selama 60 menit penampilan mereka. Hanya sedikit momen yang berhasil saya rekam. Ya sudahlah, mata dan hati saya saja yang mengambil alih. Kapan lagi melihat idola secara langsung, kalau rekaman di youtube mah ada banyak.
Dari sebelas lagu yang diputar saat itu, sembilan diantaranya saya tahu dan bisa bernyanyi bersama. Lagu andalan dan mungkin ini yang ditunggu-tunggu para vivin dedes adalah lagu milik Oasis yang berjudul Don’t Look Back in Anger, yang kalua menurut saya lagu tersebut lebih cocok dengan judul So Sally Can Wait. Entah mengapa lagu ini seakan memiliki daya magis bagi pertemuan kami. Suara kami bertemu, beradu, lalu melahirkan harmonisasi yang indah. Kami bernyanyi bersama, pada tempat dan waktu serta udara yang sama. Sulit dipercaya.
Namun, saya kecewa mengapa lagu Coldplay tidak masuk playlist padahal sudah siap sekali bernyanyi Viva La Vida. Lagu andalan yang entah sudah berapa kali mereka mainkan chord gitarnya, Sweet Child O’ Mine-nya Guns n Roses juga tidak ada di sana. Terakhir, yang membuat saya benar-benar sedih, kecewa, dan murka adalah kenapa perjumpaan ini harus berakhir. Secepat ini. I’ve missed them already since the first second they left the stage.
BAB III SEMOGA JUMPA DI LAIN WAKTU
Malam itu Om Es mengatakan bahwa ini merupakan penampilan terakhir dari Vakingsyit ft Vindes. Karena selepas ini, mereka akan bubar. Sedikit tidak percaya, saya pikir itu hanya guyonan belaka. Namun, apabila itu benar betapa beruntungnya saya berkesempatan bertemu dan bernyanyi bersama mereka untuk pertama dan (semoga tidak) terakhir kalinya. Sedih pastilah, karena kalau bukan karena Vakingsyit alasan apalagi yang bisa membuat saya bertemu mereka? Tapi ini bukan yang terakhir. Semoga.
Saya percaya, pasti suatu saat nanti kami dapat bertemu lagi. Aamiin.
Tidak apa, saya ahli dalam hal menunggu.
Thanks to God,
Thanks to Saysmantra, Oom Leo, Om Betmen, and
Thanks to VINDES.
Dan terima kasih juga karena sudah meninggalkan jejak berupa suara serak ini. Nice to meet you. Sampai jumpa di liga yang lain.
















