“Ditunggu ya Undangan (Nikah)-nya...”
Selain pertanyaan “habis lulus mau kemana?” atau “sekarang lagi sibuk apa?”, ada satu pertanyaan lagi yang tak kalah elektabilitas-nya. Pertanyaan ini seringkali dilontarkan oleh beberapa kerabat setelah masa studi s1 kepada saya, yaitu “kapan undangan (nikah)-nya?” atau pernyataan “ditunggu ya undangannya”. Entah hal ini hanya dirasakan saya saja, atau mungkin yang lain juga begitu?
Jawabannya, "Tunggu aja ya!".
Sebenarnya, untuk menjawab pertayaan tersebut tidak sesederhana itu. Sederhana jika substansi dari pertanyaan bersifat senda gurau atau candaan. Tapi menjadi tidak sederhana, jika substansinya menjadi serius. Mungkin lebih tepatnya basa-basi. Namun, terlepas dari basa-basi itu, paling tidak pertanyaan tersebut membuat saya berpikir. Apa iya hidup ini hanya tentang menunggu undangan saja?
Hasil diskusi saya bersama Fajar menyimpulkan bahwa pertanyaan itu bukanlah hal biasa. Ia juga berpendapat bahwa sebaiknya kita menghindari pertanyaan tersebut kepada siapapun. Sebab perkara menikah tidak sebercanda itu.
Pernikahan adalah salah satu bentuk rezeki dari sekian banyak bentuk rezeki lainnya yang Allah berikan kepada seluruh hamba-Nya. Tahu kan bahwa rezeki tiap orang berbeda-beda. Si A menikah setelah lulus, kemudian si B masih harus membantu dan menemani orang tuanya. Bukan berarti Allah pilih kasih. Rezeki si A menikah rezeki si B justru mendapatkan pahala dan berkah sebab diberikan waktu oleh Allah untuk lebih dekat kepada orang tuanya. Ya, rezeki tidak melulu tentang pernikahan. Sebab Allah sudah mengaturnya. Mengatur pasangan, pun mengatur waktu untuk mempertemukannya.
Saya jadi teringat lelucon Fajar. "Tenang... Hidup itu cuma 2 perkara. Perkara menyebarkan undangan dan mempersiapkan undangan. Kalau undangannya belum disebar, berarti ia sedang mempersiapkannya. Simple!", guyon si Fajar.
Guyon sih, tapi ada benarnya juga. Karena hidup bukan hanya tentang menunggu. Menunggu traktiran, menunggu kelulusan, menunggu kelahiran, apalagi hanya sekedar menunggu undangan. Hmm. Tapi hidup juga tentang mempersiapkan. Ya, mempersiapkan segalanya, mempersiapkan diri untuk lebih kuat melawan hawa nafsu, mempersiapkan diri untuk menghabiskan ego, mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin keluarga, dan segala bentuk persiapan lainnya. Oh ya, satu lagi dan ini banyak sekali orang lupa, yaitu mempersiapkan kematian.
Terdengar sedikit horor. Tapi paling tidak, menurut saya itu pesan paling penting yang Fajar sampaikan kala senja itu.
Jadi, masih ada yang bertanya tentang undangan? Ga salah sih, tapi ya dipikir lagi deh. Hehe
_______________________________________
Cc: Mba @jagungrebus yang minta di tag. Request done ya mba. Maaf tulisan ini agak lama, sebab akhir-akhir ini saya kesulitan menemukan Fajar. Katanya sedang sibuk dengan pekerjaan barunya. Kita do'akan saja. Hehe. By the way, salam kenal mba :)
Btw, kalau ada yang mau ide bikin undangan yang cemerlang. Bisa cek ke sini deh.
Undangan tuh bukan sesuatu yang akan dimakan tamu, jarang juga disimpan. Jadi kudu hati - hati bikinnya. Kalo mau yang mahal, sebisa mungkin












