Aku Bukan Perempuan Pada Umumnya
Aku adalah perempuan yang lahir bersama derasnya hujan Januari. Aku tumbuh bersama keluarga yang timpang, namun meski begitu kasih sayang tak berkesudahan dari mereka. Aku perempuan yang manusia namun tak memanusia. Aku memiliki banyak masalah yang tidak sepele. Aku perempuan yang menyedihkan.
Apa kau percaya?
Kau tahu, Kak? Aku benci makhluk Tuhan yang bila ia berkempompong menjadi kupu-kupu yang indah. Aku takut keramaian. Aku takut dilupakan. Aku pelupa. Aku takut ditinggalkan. Sebab itu aku suka mengakrabi sendiri. Agar aku tak kaget bila ditinggalkan atau dilupakan.
Kak, kuberitahu agar kau tak menyesal.
Aku bukan pesolek, karena aku tak suka bersolek. Maka jangan kaget saat mendapati keadaanku yang kumal tanpa bedak. Atau bibirku yang pucat tanpa gincu. Atau alisku yang tipis tanpa pensil alis. Sebab aku bukan pesolek.
Jariku tak lentik. Mataku penuh lingkaran hitam. Hidungku? Ah, aku bersyukur Tuhan memberiku jatah yang menurut orang lain tak sebagus jambu air. Rambutku? Tidak ikal pun sepekat arang. Kau tahu itu?
Aku pun tak pandai meracik makanan. Aku tak rajin menghadiahi diri sengan segala printilan ala perempuan sesungguhnya. Aku lebih suka menghabiskannya untuk membuatku merasa berguna.
Aku juga pemalu. Tak usahlah heran bila kau temukan aku nanti sering menolak ajakanmu untuk berkumpul. Karena aku benci keramaian, Kak. Keramaian yang membuatku merasa sendiri di antara orang banyak.
Ini aku. Perempuan dengan segudang harapan. Yang terlalu muluk memenuhi kepalanya. Yang terlalu lihai mengkhayali fana. Karena aku bukan perempuan pada umumnya, Kak. Karena aku adalah aku.
Entah kau sedang sial atau beruntung menemukan aku dan menitipkan hatimu padaku. Ah, semoga kau tidak menyesal menghitung bersama perempuan ini. Terima kasih, Kak.